Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 6 ~ Perubahan Raka


__ADS_3

Sepanjang malam, Resti tak bisa menutup matanya. Ia bahkan tak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, akibat rasa sedih. Ucapan Raka yang menyatakan, ingin memiliki anak jika mereka sudah saling mencintai, terus terngiang di telinganya. Tidak ada yang salah dengan alasan itu. Resti kembali duduk dari posisi rebah.


Mas Raka benar. Di antara kami belum ada rasa cinta. Seandainya Tuhan mengaruniakan kami anak dalam waktu singkat, akan sangat tidak adil baginya. Dia akan terluka, jika seandainya kami berpisah nanti. Lagi pula, usiaku masih muda. Masih banyak yang ingin kucapai dalam hidup ini.


Akhirnya, Resti meyakinkan dirinya sendiri. Ia pun menerima alasan yang Raka berikan dengan lapang dada. Tak lama, matanya mulai terpejam dan membawanya ke dalam mimpi.


Raka kembali ke kamar setelah lewat tengah malam. Ia menatap wajah Resti yang terlelap dalam damai. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.


"Maaf. Ini jalan terbaik untuk kita. Sejujurnya, aku belum yakin dengan hatiku sendiri. Semoga kau bisa menerima keputusanku ini," gumam Raka.


Pria itu membaringkan tubuhnya yang lelah di samping Resti. Setelah mencium kening sang istri lembut, ia mulai memejamkan matanya.


***


Pagi hari, Resti terbangun saat matahari menyelinap masuk. Ia menatap sekelilingnya. Kemudian, mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Astaga, udah siang," gumam Resti.


Saat turun dari ranjang, ada rasa perih yang Resti rasakan di bagian inti tubuhnya. Malam tadi, ia tak merasakan apa pun, selain rasa sakit di hatinya. Ia pun berjalan perlahan menuju kamar mandi. Resti terkejut, melihat bath up yang sudah terisi air hangat.


Siapa yang mengisi bath up? batin Resti.


Resti kembali keluar dan melihat seisi kamar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Raka di sana. Apa mungkin, Mas Raka, yang mengisinya untukku?


Senyum Resti sedikit terkembang membayangkan Raka menyiapkan air untuknya mandi. Terasa ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Resti pun berendam di dalam bath up berisi air hangat.


Nyamannya, gumam Resti.


Setelah berendam dan membersihkan tubuh selama setengah jam, Resti merasa lebih baik. Tubuhnya tak lagi sesakit tadi. Saat keluar dari kamar, ia tak melihat keberadaan Raka. Entah kemana pria itu pergi. Resti pun memutuskan membuatkan sarapan untuk dirinya.


Sayangnya, tidak ada bahan makanan di sana. "Sepertinya aku harus belanja dulu," gumamnya.


Raka kembali dengan tubuh penuh keringat. Resti yang baru keluar dari kamar, bertatapan muka dengan Raka.


"Mau kemana?" tanya Raka.


"Belanja kebutuhan dapur, Mas," jawab Resti jujur.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, biar aku mandi. Nanti kita pergi bersama." Raka berlalu masuk ke dalam kamar.


Resti tak sempat menolak. Ia pun mendudukkan diri di sofa. Memainkan ponselnya dengan bosan, sambil menunggu Raka kembali. Tak lama kemudian, Raka terlihat sudah rapi. Mereka pun menuju pasar swalayan terdekat dari sana.


"Apa gak sebaiknya kita ke pasar tradisional saja, Mas?" tanya Resti.


Melihat harga yang tertera di sana, seketika membuat Resti sakit kepala. Raka terkekeh mendengar ucapan istrinya. Sesederhana itulah Resti.


"Tidak masalah. Pakai ini." Raka menyodorkan sebuah kartu padanya. "PINnya tanggal pernikahan kita," imbuhnya.


Resti terdiam menatap kartu di tangannya. Melihat sang istri yang hanya terdiam, Raka turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri. Resti tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami. Awal pernikahan mereka, cukup manis bagi Resti.


***


Tidak terasa, dua bulan sudah pernikahan Resti dan Raka berjalan. Setiap hari, ia selalu merasa sang suami semakin menyayanginya. Resti sadar, bila ia sudah jatuh hati pada suaminya. Sepulang bekerja, Resti ingin memasak sesuatu yang istimewa untuk Raka.


Butuh waktu sekitar dua jam bagi Resti menyiapkan hidangan istimewa untuk suaminya. Setelah terhidang, ia bergegas membersihkan diri. Ia terlihat cantik dengan gaun berwarna salem, setinggi lutut.


Resti menyapukan sedikit make up di wajahnya. Kemudian, mengambil ponsel. Ia mengirimkan pesan pada Raka. Mengatakan bila ia sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk sang suami. Namun, tidak ada balasan dari Raka.


Resti menyambut kedatangan Raka dengan senyum ceria. Sayangnya, Raka menunjukkan wajah datar. Resti mengikuti langkah sang suami ke kamar mereka.


"Kok, tumben, pulang malam gak kasih kabar?" tanya Resti.


"Maaf. Terlalu banyak rapat, sampai aku lupa mengabari," jawab Raka lemah.


"Sudah makan?" tanya Resti lagi.


"Sudah. Aku mandi dulu," pamit Raka.


Pria itu segera masuk ke kamar mandi, tanpa melihat perubahan di wajah sang istri. Ada rasa kecewa yang menggelayut di hati wanita itu. Namun, ia berusaha mengerti dengan pekerjaan Raka.


Sayangnya, hal seperti itu semakin sering terjadi. Bahkan, semakin parah. Kini, Raka jarang pulang ke rumah. Ia bahkan tak lagi menyentuh Resti. Semua itu mendatangkan banyak pertanyaan dalam benak Resti. Ia merasa ada yang salah.


Resti pun hanya bisa menelan kesedihannya sendiri. Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa. Ingin bicara pada kedua mertuanya, ia merasa tak enak hati. Mendatangi Raka ke perusahaan, ia semakin tak enak hati. Pada akhirnya, Resti hanya menyembunyikan luka itu sendiri. Menikmati rasa sakitnya pun sendiri.


Pagi itu, lagi-lagi Resti tak mendapati Raka di sisinya. Dengan lunglai, ia membersihkan diri. Sambil mandi, Resti memikirkan kesalahan yang mungkin telah ia lakukan tanpa sadar. Sayangnya, ia tidak menemukannya.

__ADS_1


Mungkin, aku harus minta maaf pada, Mas Raka, gumamnya.


Selesai mandi, Resti berniat mengajak Raka makan siang bersama. Kebetulan, itu adalah hari Sabtu. Ia pun mencoba mengirim pesan. Lagi-lagi, Resti harus menelan kekecewaannya. Raka menolak ajakannya mentah-mentah.


Suara ketukan pintu terdengar. Membuat Resti segera melangkah cepat. Ia berharap, bila Raka hanya mengerjainya. Sayang, harapan tinggal harapan. Yang datang adalah ibu mertuanya.


"Hai, Sayang. Gimana kabar kamu?" tanya Dewi, ibu dari Raka.


"Baik, Ma. Mama, kenapa gak bilang, kalau mau ke sini?" tanya Resti balik.


"Oh, mama pengen ajak kamu jalan. Raka mana?" Dewi mencari keberadaan putra semata wayangnya.


"Mas Raka, di kantor, Ma," jawab Resti.


"Kantor?"


Resti menganggukkan kepala menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


"Ya sudah. Kamu ikut mama saja ke mall. Kita belanja," ajak Dewi.


"Boleh, Ma. Sebentar, Resti ambil tas dulu." Resti pun ke kamar mengambil apa yang dibutuhkannya. "Ayo, Ma," ajaknya setelah siap.


Mereka pun menuju mall terbesar di kota Jakarta. Butuh waktu satu jam, untuk tiba di sana. Setelah tiba, Dewi dan Resti segera mencari beberapa barang yang ia butuhkan. Hampir satu jam mereka habiskan untuk berburu. Kemudian, mereka memutuskan makan siang bersama.


"Kamu mau makan apa, Nak?" tanya Dewi.


"Apa aja, Ma," jawab Resti.


Dewi pun memesan makanan untuk mereka tak butuh waktu lama, makanan sudah tersedia. Mereka pun menikmati makan siang bersama. Resti sedikit melupakan masalah yang menimpanya.


Pandangan Dewi teralihkan, melihat pasangan yang baru saja masuk ke dalam restoran itu. Ada kemarahan yang tak bisa ia jelaskan. Tak ingin menyakiti hati menantunya, Dewi segera mengajak Resti pulang.


"Sudah selesai makannya, Sayang?" tanya Dewi.


"Sudah, Ma."


"Ayo, kita pulang!" ajak Dewi. Ia merangkul Resti agar tak melihat ke arah Raka. Sayangnya, Resti terlanjur melihat kemesraan Raka bersama wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2