
Entah berapa lama Raka sudah terpejam. Wajahnya terlihat lelah. Ia melihat ponsel yang tergeletak di atas meja. Kemudian, memejamkan mata sesaat.
"Rupanya, aku baru tidur selama setengah jam," gumamnya.
Raka segera bersiap untuk berangkat bekerja. Saat keluar dari kamar, Bayu sudah menunggunya di ruang tamu.
"Kau sudah datang?" tanya Raka.
"Sudah, Pak," jawab Bayu formal.
Sikap Bayu berubah 180 derajat, sejak Raka kembali dekat dengan Riska. Terlebih, kini pria yang menjadi atasan sekaligus sahabatnya itu telah bercerai dari Resti. Meski belum resmi. Dewi lah yang meminta Bayu memperhatikan Raka.
Sebagai ibu, meski ia kecewa, Raka tetaplah anak semata wayangnya. Karena itu, Dewi meminta bantuan pada Bayu.
"Anda, tidak sarapan dulu?" tanya Bayu saat menyadari, bila Raka tak menuju ruang makan.
"Aku tidak selera. Lebih baik kita berangkat," jawab Raka lirih.
__ADS_1
Bayu pun menuruti keinginan Raka. Ia segera menjalankan mobil menuju perusahaan. Dalam perjalanan, Raka meminta Bayu mencari asisten rumah tangga untuk dirinya. Tanpa membuang waktu, Bayu menghubungi bagian penyalur jasa asisten dan meminta mereka untuk mengirim asisten ke rumah Raka.
***
Dalam pekerjaannya, Raka kehilangan fokus. Pikirannya terus saja terbayang pada Resti. Senyum manis, tutur kata yang lembut, serta perhatiannya. Ia tak menyadari, bila Riska sudah memasuki ruangannya. Wanita itu bahkan menatap heran pada Raka.
"Kamu kenapa, Sayang?" Riska bergelayut manja.
Saat itulah, Raka tersentak kaget. Rasa risih, mulai menjalari hatinya. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Riska merengut sebal. Ia menatap Raka kesal. Sementara pria itu, tak peduli dengan perubahan raut wajah Riska.
Resti ... kenapa aku sangat merindukan dia? Ingat Raka! Kau yang sudah menyakiti hatinya! Raka menggelengkan kepala, sekedar mengusir bayangan Resti dari sana.
Raka mengangkat pandangannya, lalu menelan saliva dengan susah payah. Aku pikir dia sudah pergi, gumamnya dalam hati.
"Seperti biasa, hanya pekerjaan," jawabnya acuh.
"Kau tidak berbohong padaku, 'kan?" Kedua mata Riska memicing.
__ADS_1
"Terserah kau ingin percaya atau tidak!" Raka kembali memfokuskan diri pada pekerjaan.
Melihat respon Raka yang acuh, membuat Riska pergi dengan menghentakkan kaki. Ia bahkan membanting pintu ruangan Raka keras. Bayu yang duduk di depan sana, sampai terkejut. Ia bahkan melompat dari kursi kerjanya.
"Tampangnya keruh," gumam Bayu. Beberapa detik kemudian, ia mengendikkan bahu tak peduli dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari-hari yang Resti lalui terasa amat kosong. Hatinya merindukan Raka, tetapi logikanya menolak.
"Jangan pikirkan pria yang menyakitimu! Kau masih memiliki masa depan yang cerah. Ayo, bangkit, Resti!" Resti menyemangati dirinya.
Tak ingin terbelenggu masa lalu, Resti mencoba melamar pekerjaan dengan situs online. Resti berharap, ia bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Setelah ketuk palu nanti, ia tidak mungkin mengandalkan orang tua mantan suaminya. Sore menjelang, Resti menghentikan kegiatannya. Ia mengambil ponsel yang ada di meja. Saat lock screen terlihat, ada foto kebersamaan antara dirinya dan Raka.
Tangannya mulai mengusap lembut wajah yang tertera di sana. "Aku kangen, Mas. Apa kamu juga merindukanku?" tanya Resti.
__ADS_1
Dua hati yang terpisah jarak, nyatanya saling merindukan satu sama lain. Sayang, Raka lebih mengedepankan rasa semu yang pernah ia alami bersama Riska. Meski sejujurnya, hati Raka menyesali semua yang telah terjadi.