
Resti menghela napas perlahan, melihat keakraban Raka dan Riska dari jendela. Senyum sedih, terlihat di wajahnya. Dengan tertatih, Resti mencoba menguatkan langkah, memasuki kamar. Baru saja ia mendudukkan diri, Raka dan Riska sudah membuka pintu. Keduanya tersenyum menatap Resti. Ia pun memilih mengabaikan mereka.
"Sayang, Riska datang menjenguk kamu," ucap Raka.
Resti mengangkat pandangan. Menatap kedua orang di hadapannya bergantian. Terdengar, Resti menghela napas sesaat.
"Aku sedang tidak ingin diganggu. Lain kali saja," tolak Resti lirih. Ia segera menarik selimut dan menutup dirinya. Resti pun, berpura-pura memejamkan mata.
Raka sudah ingin bergerak mencegah sang istri bertindak tidak sopan. Namun, Riska menahannya. Ia juga menggelengkan kepala pada Raka. Saat itu, Resti bisa melihat seberapa dalam cinta sang suami, pada mantan kekasihnya.
Kau masih sangat mencintainya, ucapnya dalam hati. Resti memiringkan tubuh ke arah sebaliknya. Meloloskan air mata yang sejak tadi ingin melesak keluar.
Terdengar suara pintu yang tertutup. Ia yakin, bila suami dan mantan kekasihnya itu, sudah keluar. Ia pun tak menahan getaran tubuhnya. Bulir bening semakin mengalir deras dari kedua mata itu. Perlahan, Resti jatuh tertidur.
***
Beberapa hari berlalu. Hubungan antara Resti dan Raka terasa semakin dingin. Resti pun memilih tak peduli. Kali ini, ia lebih memprioritaskan pertumbuhan janin dalam kandungannya.
__ADS_1
Aku tidak boleh terpengaruh oleh perbuatan mereka. Kesehatan anakku, jauh lebih penting. Tenang saja, aku akan pergi setelah anakku lahir. Tapi, kau akan kehilangan hakmu sebagai ayah, Mas, gumam Resti dalam hati.
Saat ini, Raka sedang berada di ruang kerjanya. Entah apa yang ia perbuat di dalam sana. Resti pun berlalu dari depan ruangan itu. Ia mulai berpikir untuk mencari pekerjaan secara online. Bagaimana pun, ia harus bisa membuktikan, bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan hak asuh anak.
Aku harus segera mencari pekerjaan. Paling tidak, yang bisa kulakukan secara online. Kondisiku tidak memungkinkan, untuk bekerja di kantor. Resti menghela napas kasar.
Wanita itu kembali memfokuskan tatapan pada laptopnya. Mencari pekerjaan yang memungkinkan, tanpa menyita banyak waktu dan tenaga. Senyum di wajahnya terbit, melihat sebuah pekerjaan yang bisa ia dapatkan sesuai dengan kemampuan.
"Aku harus mencobanya!" putus Resti.
Suara ketukan pintu, membuyarkan fokusnya. Ia segera melangkah dan membukakan pintu. Sedikit terkejut, melihat kehadiran Riska. Untuk sesaat, mereka saling menatap.
"Pintu depan terbuka. Jelas saja, aku bisa masuk," jawabnya.
Resti melihat ke arah Riska menunjuk. "Tetap saja aneh. Bukankah pagar terkunci?"
"Ah, aku sudah menghubungi Raka sebelumnya."
__ADS_1
Wajah Resti berubah kaku, mendengar hal itu. Ia mengepalkan tangan erat. Namun, ia berusaha untuk tetap mengontrol emosinya.
"Mas Raka tidak ada di kamar. Dia ada di ruang kerja. Cari saja ke sana!" Resti menjawab dengan ketus.
Ia pun mendorong pintu kamar. Namun, Riska menghalanginya. Resti menoleh pada wanita itu.
"Aku hanya ingin memperingatkan mu segera tinggalkan Raka, sebelum kau semakin terluka," ucap Riska di telinga Resti.
Resti diam terpaku. Matanya menatap Riska yang berjalan ke ruang kerja sang suami. Pintu itu terbuka, menampakkan Raka.
"Loh, kamu udah sampe? Udah lama?" tanya Raka ramah.
"Gak, kok. Baru aja." Riska tersenyum manis pada Raka.
Tatapan tak suka, terlihat jelas dari mata Resti. Raka dan Riska menyadari hal itu. Riska merubah raut wajahnya. Ia tersenyum ramah pada Resti.
"Kamu jangan salah paham, ya, Res. Aku cuma mau nyapa Raka sebentar, kok. Sekalian mau pamit sama kalian. Soalnya, aku ada kerjaan keluar kota."
__ADS_1
Ah ... kau bertingkah seolah tak bersalah!