Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 90 ~ Rindu?


__ADS_3

Sudah satu minggu Raka tidak datang mengganggu Resti. Entah mengapa, ia merindukan kehadiran sosok Raka. Semangat Resti pun menguap bersama hilangnya sosok pria yang masih bertahta di hati wanita itu.


"Lagi, lagi kamu melamun seperti ini!" tegur Dimas.


Sejak dua hari yang lalu, Dimas selalu datang menemui Resti. Ia ingin membahas masalah kedatangan Haris uang meminta Resti kembali bekerja. Wanita itu, ingin meminta pendapat dari Dimas. Namun, Resti justru tengah mengalami kegalauan tingkat dewa.


"Kalau kangen, kenapa gak kamu temui?" Dimas terlihat semakin kesal melihat Resti yang galau seperti itu.


"Tapi ...." Ucapan Resti terhenti, saat Dimas menarik dirinya.


"Cepat bangun! Biar aku antar!" seru Dimas. "Kalau masih cinta, ya terima lagi aja. Kenapa harus sok jual mahal begitu," gerutu Dimas.


Resti menatap sengit pada Dimas. Sedikit kesal dengan apa yang pria itu katakan. Namun, ia tak bisa membantah ucapan tersebut karena semua itu benar.


"Bukan sok jual mahal, ...." Lagi, ucapannya terpotong.


"Tapi hanya memberi dia sedikit pelajaran, agar bisa menghargai perasaanmu!" Dimas menghela napas dalam. "Aku sudah terlalu hapal dengan kalimat mu selanjutnya," ujar Dimas.


Resti memilih diam, tak membalas semua ucapan Dimas. Keheningan pun tercipta. Sesekali, Dimas masih melirik Resti dengan sudut matanya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, mobil Dimas berhenti di depan lobi perusahaan milik Raka. Namun, Resti tak juga berniat turun dan masuk. Wanita itu hanya menatap gedung itu kosong.


"Sana, temui dia!" titah Dimas.


Melihat Resti yang tak juga mengambil langkah, Dimas semakin gemas. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Resti.


"Cepat turun!" titah Dimas.


Bukannya melakukan apa yang Dimas katakan, Resti justru membuang pandangan ke depan. Gemas dengan tingkah Resti, Dimas melepas seat belt dan menarik Resti keluar.


"Eh!" seru Resti terkejut.


"Kalau dia nolak aku gimana?" tanya Resti lirih.


"Dia gak akan nolak kamu! Sudah, jangan banyak mikir, sana masuk!" Dimas mendorong Resti masuk.


Wanita itu menahan langkahnya, meski Dimas mendorong dia. Seketika keduanya berhenti, saat sebuah suara menyapa telinga mereka.


"Sedang apa kalian di sini?" tanya suara itu.

__ADS_1


Dimas segera menoleh dan mendapati Raka dan asistennya di sana. Belum sempat ia menjawab, Resti lebih dulu menyela.


"Gak ada. Tadinya, mau cari mama. Tapi, ternyata mama gak di sini," bohong Resti.


Dahi Raka mengerut dalam. Sementara Dimas menghela napas lelah seraya menggelengkan kepala. Entah sampai kapan mereka seperti ini, gumam Dimas dalam hati.


Bayu yang berdiri di belakang Raka, menahan senyum gelinya sekuat tenaga. Mungkin, pria itu bisa melihat gelagat yang berbeda dari mantan istri sang atasan.


"Ayo, Dim!" ajak Resti.


Tanpa berpamitan, Resti segera masuk ke mobil Dimas. Ketiga pria itu hanya menatap Resti dengan tatapan yang berbeda. Dimas dengan kecemasannya, Raka dengan rasa heran, dan Bayu dengan senyum yang hanya dia yang mengerti artinya.


"Dasar wanita!" gerutu Dimas lirih. "Kami pergi dulu," pamit Dimas pada Raka dan Bayu.


Hanya anggukkan kepala yang Raka berikan sebagai jawaban. Dimas pun segera masuk ke mobil. Tak lama, mobilnya meninggalkan pelataran lobi dan semakin menjauh.


"Dia sedang bohongkan?" tanya Raka entah pada siapa.


"Sepertinya begitu. Karena Nyonya memang ada di dalam bersama Tuan," jawab Bayu tanpa diminta.

__ADS_1


__ADS_2