Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 28 ~ Kemarahan Raka


__ADS_3

Malam semakin larut. Raka belum bisa pulang saat ini. Ia kembali memeriksa suhu tubuh Riska. Sudah mulai turun, meski terbilang masih cukup tinggi. Raka pun melanjutkan mengompres tubuh mantan kekasihnya itu. Matanya tak lagi mampu diajak berkompromi. Sampai akhirnya, ia benar-benar terpejam.


Sementara itu, Resti tak mampu memejamkan mata barang sebentar. Hatinya gelisah tak karuan. Sejak kemunculan Riska dan kehamilannya, ada rasa takut kehilangan Raka. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan bayi dalam kandungan yang tidak bersalah itu.


Rasa cemas semakin menggelayuti Resti. Lagi, ia mencoba menghubungi Raka. Namun, tak satu pun panggilannya terjawab. Pesan yang ia kirim pun, terabaikan. Hormon kehamilan, semakin membuat emosinya tak stabil.


Bila dulu, Resti tak perlu menangis karena Raka tak pulang, maka kali ini ia menangis. Apa kamu bersama Riska, Mas? Kenapa tidak mengabari aku? Aku hanya ingin tahu di mana kamu, gumam Resti dalam hatinya.


Perlahan, fajar mulai merangkak naik. Rasa lelah, membuat Resti semakin lemas. Mbak Sumi yang baru saja keluar dari kamar, terkejut melihat keberadaan Resti di ruang tamu. Matanya sembab, dan terlihat lingkaran hitam menghiasi. Belum lagi, pucat di wajahnya.


"Bu, kenapa ada di sini?" tanyanya.


Melihat Resti yang hanya duduk diam, membuat Mbak Sumi menarik kesimpulan, jika suami dari majikannya ini tidak pulang semalam. Ia juga melihat, makanan yang sejak semalam disediakan Resti, masih terlihat utuh.


"Ibu, makan dulu, ya. Si mbak buatin," bujuknya.


Gegas Mbak Sumi menuju dapur. Membuatkan sarapan untuk sang majikan. Rasa iba, membuatnya tak tega bila harus menutup mata. Selesai membuat sarapan sederhana, Mbak Sumi kembali menghampiri Resti.


"Ayo, Bu, makan dulu," ucap Mbak Sumi.


"Saya gak lapar, Mbak," tolak Resti.

__ADS_1


Sejak semalam, ia tak bernapsu untuk makan. Selera makannya lenyap ditelan rasa khawatir. Mbak Sumi pun terus membujuk Resti. Mengingatkan sang majikan, bahwa ada kehidupan yang harus ia jaga di dalam tubuhnya. Sayang, Resti terlalu larut dalam pikiran, hingga ia tak menggubris setiap ucapan asistennya.


Mbak Sumi semakin tak tega. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa.


***


Perlahan, Riska membuka matanya. Ia merasa ada sesuatu di dahi. Tangannya menyentuh handuk yang menempel di sana. Saat menoleh, ia tersenyum melihat Raka. Tangannya terulur menyentuh wajah pria itu.


Raka pun tersentak. Ia segera membuka matanya. "Kau sudah sadar?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


Pria itu segera merenggangkan otot tubuhnya yang terlalu kaku. Kemudian, kembali memeriksa suhu tubuh Riska.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Raka.


"Kau yang menghubungiku," jawab Raka datar.


Raka bisa melihat kerutan di dahi Riska. Ia pun menghela napas berat. Dia ini pura-pura lupa, atau lupa beneran? tanya Raka dalam hati.


"Kapan aku memanggilmu?"


"Cek sendiri ponselmu!" Raka mengulurkan ponsel milik Riska yang ada di atas nakas.

__ADS_1


Riska segera membuka ponselnya, lalu melihat panggilan keluar. "Astaga, aku pasti melakukan panggilan cepat. Semalam, aku tidak bisa melihat dengan baik karena rasa sakit kepala. Pandanganku juga kabur. Maaf, ya," ucap Riska.


Tidak ada yang bisa Raka katakan lagi. Sejak dulu, Riska memang selalu menggunakan panggilan cepat. Pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kalau begitu, hubungi asistenmu. Aku harus pulang sekarang!" titah Raka.


Ia segera bergegas meninggalkan apartemen Riska. Namun, Riska menahannya. Membuat Raka menghentikan langkah.


"Raka, tunggu!" panggil Riska cepat.


"Apa kau tidak bisa merawatku? Dulu, saat aku sakit seperti ini, kau selalu menemaniku. Apa sekarang, kau sudah benar-benar tidak mencintaiku lagi?"


"Kau tidak lupa, 'kan kalau aku sudah menikah? Lalu, apa aku harus mengabaikan istriku?" tanyanya.


"Aku tahu kau tidak mencintai dia. Kau masih sangat mencintaiku. Kau hanya ingin membalasku, 'kan?"


Raka terdiam. Ia tidak membalas setiap ucapan Riska. Wanita itu pun mendekati Raka dengan tertatih.


"Tidak apa. Aku akan menunggumu, sampai kau menceraikan dia. Setelah bayi itu lahir, aku bersedia merawatnya untukmu. Ayo, kita wujudkan mimpi kita untuk hidup bersama."


Mendengar ucapan Riska, kemarahan mulai menguasai hati Raka. Ia tidak bisa menerima setiap ucapan Riska. Ia pun menatap tajam pada mantannya.

__ADS_1


"Apa kau bodoh? Ibu mana yang tega membiarkan anaknya dirawat orang lain? Kau yang sudah memilih meninggalkanku. Maka, nikmati hasil dari pilihanmu," desis Raka.


__ADS_2