Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 92 ~ Menyadari


__ADS_3

"Aku tidak peka? Benarkah?" gumam Raka.


Pria itu mengerutkan kening beberapa kali, menghela napas pun beberapa kali. Terus seperti itu hingga hampir tiga puluh menit. Raka bahkan tak menyadari kehadiran Bayu di ruangannya.


"Bos!" panggil Bayu untuk yang kesekian kali.


"Astaga, Bay!" Raka terjingkat kaget. "Sejak kapan Lo masuk?" tanya Raka.


Bayu menggelengkan kepala seraya menghela napas kasar. Tidak tahukah Raka, bila Bayu sudah berdiri di depannya sejak sepuluh menit yang lalu?


"Gue butuh tanda tangan Lo sekarang!" Bukannya menjawab pertanyaan Raka, Bayu justru memerintahkan Raka untuk menandatangani dokumen yang ia bawa.


"Kenapa jadi Lo yang galak? Bukannya di sini, gue bosnya?" Kening Raka berkerut dalam.


Namun, pria itu tetap menarik dokumen yang diserahkan Bayu, lalu menandatanganinya. Raka pun kembali menyerahkan dokumen tersebut. Dengan santainya, Bayu segera melenggang keluar dari ruangan Raka.


"Siapa yang nyuruh Lo keluar?" teriak Raka.


Seketika langkah Bayu terhenti. Pria itu menoleh dan menatap heran pada sang sahabat.


"Emangnya, masih ada yang harus dibahas?" tanya Bayu.

__ADS_1


"Duduk!" titah Raka. Ia menunjukkan sofa dengan dagunya.


Mereka pun duduk bersama di sofa. Raka sedikit berdeham, sebelum memberitahu Bayu.


"Kayanya berat, nih," gumam Bayu pada dirinya sendiri.


"Apa gue orang yang gak peka?" tanya Raka lirih.


Bayu menoleh cepat. Ia bingung dengan arah pembicaraan Raka. Kalau soal cinta, Lo emang gak peka. Apa masalah ini berhubungan dengan kejadian di lobi tadi, ya? tanya Bayu dalam hati.


"Tunggu! Ini tentang apa, ya?" Bayu memutuskan bertanya. Ia takut, jika apa yang dipikirkannya salah.


"Ah!" seru Bayu. "Ternyata memang tentang Resti," gumam Bayu sambil menahan senyum. "Lo mau gue jujur?"


Ada sedikit keraguan dalam diri Raka. Pada akhirnya pria itu pun mengangguk pelan.


"Ya, Lo emang gak peka sama sekali!" jawab Bayu dengan raut wajah serius.


Seketika, Raka terlihat terkejut. Bayu pun menjabarkan ketidakpekaan Raka. Mulai sejak ia menjalin hubungan dengan almarhum Riska, sampai pertemuan dengan Resti di lobi tadi.


"Lo benar! Gue sadar sekarang. Thank you, Bro!" Raka menepuk pundak Bayu, kemudian berlari keluar.

__ADS_1


"Mau ke mana Lo?" teriak Bayu yang heran melihat Raka terburu-buru.


Tak ada jawaban dari Raka. Pria itu seakan tak mendengar teriakan sahabat sekaligus asistennya.


***


Raka menarik napas dalam, ketika tiba di depan rumah Resti. Ia menatap bangunan itu sebentar. Kemudian, ia keluar dan membuka bagasi mobil. Raka mengambil sebuah paper bag.


"Semoga Resti suka," gumamnya.


Sekali lagi, Raka menarik napas dalam, sebelum melangkah maju. Dalam hati ia merapatkan doa agar Resti tak menolak kehadirannya kali ini.


"Mas," sapa Resti sedikit terkejut.


Wanita itu mungkin tak menyangka bila Raka akan menemuinya secepat ini. Raka tersenyum pada Resti. Kemudian, mengulurkan paper bag yang ia bawa tadi.


"Ini dari mama?" tanya Resti. Biasanya Raka datang dengan membawa titipan dari sang ibu. Karena itu, Resti menebak barang pemberian Raka adalah titipan Dewi, ibunya.


"Bukan! Itu oleh-oleh untuk kamu," jawab Raka.


Tatapan Resti terangkat, saat mendengar jawaban dari pria di depannya. Kedua netra itu saling menatap. Jantung keduanya pun berdegup lebih cepat. Getar yang pernah tercipta, kini kembali hadir memenuhi relung jiwa mereka.

__ADS_1


__ADS_2