Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 54 ~ Permintaan maaf


__ADS_3

"Terus, kenapa Lo belain dia? Gue rasa, di sini letak kebodohan Lo. Pantes aja istri Lo minta cerai." Sudut bibir Chintya terangkat, membentuk senyum sinis.


Raka tak mendebatnya. Ia sadar, apa yang Chintya katakan memang benar. Ya, aku terlalu memihak Riska, hingga Resti memilih pergi.


"Saran gue, jauhi Riska. Dia bukan wanita baik-baik. Setelah itu, baru Lo cari mantan istri Lo itu." Nada suara Chintya terdengar sungguh-sungguh.


"Hmm." Raka menganggukkan kepala.


Adam yang mulai bosan, sudah merengek minta pulang. Mau tak mau, Chintya dan Raka pun berpisah. Setelah kepergian temannya, Raka juga meninggalkan restoran itu.


Selama di perjalanan, Raka merenungi ucapan Chintya. Ia pun memutuskan untuk tidak memberitahukan rencananya pada Riska.


***


Satu minggu kemudian, Raka kembali ke restoran tersebut. Selama beberapa hari kebelakang, ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor cabang. Baru hari ini, ia memiliki waktu luang.


Pria itu kembali melayangkan pandangan ke setiap sudut restoran. Namun, bayang Resti benar-benar tak nampak. Ia pun menunggu hingga waktu makan siang berakhir.


***

__ADS_1


Resti dan rekan kerjanya memutuskan makan siang di restoran yang tak jauh dari kantor mereka. Restoran itu adalah tempat ia bertemu dengan Dimas pertama kali.


Ia dan rekan-rekannya menatap sekeliling restoran, mencari tempat yang masih tersisa. Di jam makan siang, hampir seluruh tempat dipenuhi pelanggan. Beruntung, masih ada satu tempat yang tersisa.


Tanpa membuang waktu, mereka menuju meja tersebut. Seorang rekannya menyenggol lengan Resti. Membuat wanita itu menoleh.


"Cowok itu ganteng deh. Mana sendirian," bisik rekannya itu.


Resti pun menoleh ke arah tatapan temannya. Raut wajah Resti berubah 100%. Ia segera membuang muka. Mas Raka! Bagaimana bisa dia ada di sini? tanya Resti dalam hati.


"Kamu kenapa? Kok muka kamu pucat gitu?" tanya rekannya yang melihat perubahan di wajah Resti.


Tanpa menunggu persetujuan teman-temannya, Resti meninggalkan tempat itu segera. Ia tidak ingin Raka menyadari kehadirannya. Sebisa mungkin, ia harus menghindari pria itu.


Sayangnya, Dewi Fortuna tak berpihak pada Resti. Langkahnya terhenti, kala menabrak seseorang. Aroma parfum itu menyeruak memenuhi indera penciuman Resti. Aroma, yang begitu Resti kenal.


Mas Raka, gumamnya.


"Kamu sudah melihat aku, 'kan?" tanya Raka pelan.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Resti. Ia hanya terpaku pada wajah, yang jujur saja masih sangat ia rindukan. Raka mengangkat tangannya dan menyampirkan anak rambut Resti ke belakang telinga.


"Aku merindukanmu," ucap Raka.


Pria itu tersenyum lembut. Senyum yang pernah Resti lihat saat mereka menikah dulu. Senyum, saat Raka memutuskan untuk menjalani rumah tangga mereka dengan normal. Namun, kenangan buruk itu kembali berputar dalam memori Resti.


"Aku tidak merindukanmu. Karena bagiku, kau sudah mati bersama anakku," balas Resti dengan tatapan penuh amarah.


"Kau masih marah atas kematian anak kita?"


"Anak kita?" Resti terkekeh. "Kau tidak pantas menjadi ayahnya. Karena, tidak ada ayah yang membunuh anaknya sendiri," desis Resti.


Raka menundukkan kepalanya. Pria itu bahkan berlutut di depan Resti. Hal itu menarik perhatian para pengunjung. Termasuk rekan sekantor Resti.


"Apa yang kau lakukan?" desis Resti dengan nada rendah.


"Aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan padamu. Aku tahu, aku sudah membunuh anak kita," ucap Raka dengan nada bergetar.


"Kau pikir, dengan berlutut aku akan memaafkanmu? Jangan mimpi!" Resti melewati Raka, lalu meninggalkan restoran.

__ADS_1


__ADS_2