
Beberapa hari berlalu. Resti masih belum membalas chat yang Dimas kirimkan. Ia sengaja menyibukkan diri di kantor. Bahkan, sengaja membeli mobil untuk keperluannya. Selama ini, ia selalu menggunakan ojek online.
Namun, demi menghindari pertemuan yang diciptakan Raka, ia rela merogoh koceknya hinggap puluhan juta. Tak masalah bagi Resti menggunakan mobil bekas. Yang terpenting, ia bisa menghindari Raka.
Pada akhirnya, apa yang Resti lakukan berimbas pada Dimas. Hubungan keduanya, kini mulai merenggang. Bahkan, Adam pun turut merasakannya. Entah sampai kapan Resti akan seperti ini.
Beruntung, klien yang ia tangani bisa melakukan pertemuan di kantor. Baik di tempatnya bekerja, atau langsung ke tempat klien tersebut.
Sore itu, Resti baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia bergegas menuju parkiran. Sayangnya, Dimas menghadang langkahnya. Pria itu sudah berdiri tepat di depan mobil yang Resti kendarai.
"Dari mana kamu tahu itu mobil aku?" tanya Resti heran. Pasalnya, wanita itu tak pernah memberitahu Dimas perihal mobil yang ia miliki sekarang.
"Beberapa kali aku melihat kamu menggunakan mobil ini," jawab Dimas tenang.
"Kapan?" Dahi Resti mengerut dalam.
"Terakhir ... kemarin."
__ADS_1
Resti menganggukkan kepala paham. Ia segera menuju kursi pengemudi. Namun, Dimas menutup pintu itu.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindar?" Melihat Resti yang tak menjawab, Dimas melanjutkan ucapannya. "Aku gak perlu tahu masa lalu kamu. Selama itu yang membuatmu nyaman, maka aku gak akan cari tahu. Siapa pun pria itu, kalau kamu tidak ingin memberitahunya, ya sudah," jelas Dimas.
Mata mereka bertemu. Resti melihat kesungguhan dari mata pria yang ada di depannya. Haruskah ia mempercayai Dimas?
"Tolong, jangan jauhi aku seperti ini! Aku tulus mencintai kamu. Kamu memang belum menerima aku sepenuhnya dan masih menganggap aku teman. Tapi, bukan berarti kita tak memiliki kesempatan bersama, 'kan?" Dimas menggenggam tangan Resti lembut.
"Maaf, Dim. Hatiku terlanjur mati. Sebaiknya, buang jauh-jauh harapanmu itu. Aku tidak mau kau terluka pada akhirnya." Tanpa berpikir, Resti langsung menolak Dimas.
Tak ada reaksi yang Dimas tunjukkan. Namun, Resti tahu pasti, bila Dimas terkejut. Melihat tatapan pria itu yang seolah kosong selama beberapa menit. Resti segera menarik tangannya. Ia pun masuk ke mobil.
***
Raka kembali mendatangi kantor Resti. Pria itu menunggu mantan istri yang kini ia cintai di depan kantornya. Raka bahkan tak memalingkan wajahnya dari pintu keluar.
Sayang hingga kantor sepi, barang hidung Resti tak juga terlihat. Raka mulai mendesah lelah. Dalam hati ia berpikir, mungkinkah Resti sudah pindah dari kantor itu?
__ADS_1
Ia pun segera mengambil ponselnya. Tak ingin putus asa, ia segera menghubungi nomor Resti. Namun, nomor tersebut tak lagi aktif.
"Ke mana kamu, Sayang? Apa kau masih tidak ingin bertemu aku?" Raka menenggelamkan wajahnya di roda kemudi.
Saat ia mengangkat wajahnya, sosok pria yang pernah bersama Resti muncul. Pria itu, berjalan dari arah parkir.
"Dia ...." Raka segera turun menghampiri pria itu. "Tunggu!"
Pria yang dimaksud Raka sempat menoleh ke kiri dan kanan. Sepertinya, ia mencari seseorang, hingga akhirnya menatap Raka.
"Kau bicara denganku?" tanya Dimas.
"Ya!"
"Kau ingin menemui Resti?"
Raka mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan pria di depannya. "Ya. Di mana Resti?"
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Dimas melayangkan tinjunya ke wajah Raka. Terkejut? Jelas Raka terkejut mendapat serangan tiba-tiba itu.
"Aku hanya ingin menanyakan Resti. Kenapa kau memukulku?"