
Raka tiba di rumah tepat pukul sepuluh pagi. Ia segera melangkah masuk. Namun, tidak ada seorang pun yang ia lihat. Raka segera menuju kamar utama. Ia merindukan sang istri. Lagi, lagi, ia harus menelan pil kekecewaan. Resti juga tak berada di sana.
"Kemana Resti dan Mbak Sumi?" tanya Raka lirih.
Raka segera mengambil ponselnya. Ia memilih untuk menghubungi Resti. Sayang, ponselnya ternyata mati. Raka mendengus kesal. Mau tidak mau, ia mengisi daya lebih dulu. Sambil menunggu, Raka memilih membersihkan diri. Tubuhnya terasa begitu lelah.
Sementara itu, Mbak Sumi mengantarkan Resti ke rumah sakit terdekat. Dua puluh menit yang lalu, majikannya itu merasakan keram hebat di bagian perut. Takut terjadi sesuatu, ia membawa Resti ke rumah sakit dengan taksi.
Saat ini, Dokter sedang memeriksanya. Dengan cemas, Mbak Sumi kembali menghubungi Raka, tuan rumah tempatnya bekerja. Entah sudah berapa puluh kali ia menghubungi pria itu, tetapi tidak juga diangkat.
"Bapak kemana, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Mbak Sumi berjalan mondar mandir, di depan ruang pemeriksaan. Berkali-kali ia menatap pintu ruangan yang tertutup rapat.
Kembali, ia melihat ponselnya dan menghubungi Raka. Kali ini sudah masuk. Namun, sampai nada sambung mati, Raka tak juga mengangkatnya. Akhirnya, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Mbak Sumi segera mendekati Dokter yang memeriksa Resti.
"Bagaimana kondisi ibu, Dok?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Ibu Resti, harus dirawat. Kandungannya cukup lemah saat ini. Ngomong-ngomong, di mana Raka?" Dokter mencari keberadaan Raka ke sekeliling ruang tunggu.
__ADS_1
"Ah, nanti bapak akan menyusul. Tadi, beliau terlanjur sampai di kantor. Sekarang, sedang dalam perjalanan," bohong Mbak Sumi.
Mbak Sumi terpaksa berbohong. Ia tidak ingin, menyebarkan permasalahan rumah tangga majikannya. Baginya, itu adalah masalah privasi antara Resti dan Raka.
"Ya, sudah. Kalau dia sudah datang, suruh temui saya di ruangan." Dokter itu, menepuk pundak Mbak Sumi, sebelum berlalu.
Mbak Sumi pun masuk ke tempat Resti diperiksa tadi. Saat masuk, terlihat beberapa perawat sedang mempersiapkan Resti, untuk pindah ke ruang rawat. Ia pun mengikuti langkah mereka.
Ia segera mengirim pesan pada Raka. Mengatakan bahwa Resti harus di rawat di rumah sakit.
Usai mandi, Raka merasa matanya sangat mengantuk. Ia tak lagi mengecek ponselnya. Pria itu segera membaringkan diri dan terlelap dengan cepat. Entah berapa lama ia tertidur, hingga selimut yang digunakan ditarik kasar.
Perlahan, Raka mulai membuka matanya. Ia melihat Ibra berdiri menantang di samping tempat tidurnya. Raka mulai menyadarkan diri dan duduk di pinggir ranjang. Namun, Ibra yang sudah menahan kekesalannya segera melayangkan tangan pada wajah Raka.
Raka terkejut dengan apa yang papanya lakukan. Ia menatap penuh tanya pada pria yang sangat dihormatinya itu.
"Penasaran kenapa aku memukulmu? Karena kau memang pantas mendapatkannya!" geram Ibra.
__ADS_1
"Apa aku melakukan suatu kesalahan?" Dari wajahnya, jelas Raka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kemana kau semalam?" Ibra bertanya dengan penuh penekanan.
"Aku ...." Kata-kata Raka terputus, karena Ibra yang menjawab.
"Kau sibuk merawat mantan kekasihmu, hingga mengabaikan istrimu yang sedang hamil!" Ibra sudah benar-benar berang.
Wajah Raka memucat mendengar teriakan sang ayah, yang jelas terdengar begitu marah. Ibra melempar ponsel yang tadi diambilnya di atas nakas, pada Raka. Ia menangkap dan melihat pesan masuk dari Riska. Wanita itu, mengucapkan terima kasih atas bantuan Raka padanya malam tadi.
"Apa kau tahu di mana Resti?"
Raka menggelengkan kepalanya. Ia sadar, sejak pagi tak melihat keberadaan sang istri. Dasar bodoh! makinya pada diri sendiri.
"Dia masuk rumah sakit. Tantemu bilang, dia hampir keguguran karena stress berat. Jika bukan kau penyebabnya, lalu siapa?"
Raka terkejut mendengar ucapan ayahnya. Tidak! Itu tidak mungkin!
__ADS_1