
Raka tersadar, saat kemejanya telah terbuka sempurna. Ia pun mendorong Riska kuat, hingga wanita itu jatuh terjengkang. Kondisi pakaiannya, bahkan sudah tak lagi rapi.
Segera, Raka mengancingkan kemeja kerjanya dan meninggalkan ruang sempit itu. Riska menatap kesal punggung Raka. Berkali-kali ia memukul lantai tempatnya mendarat tadi.
Berengsek! Untung tidak ada orang yang melihat. Aku tidak pernah dibuat semalu ini. Kalau bukan karena hartanya, aku gak sudih balikan sama dia. Cowok kuno dan kolot! umpat Riska dalam hati.
Sementara di luar, Raka sedang mengatur napasnya yang terengah-engah. Setelah berhasil, Raka memilih pergi dari tempat itu. Meninggalkan Riska tanpa berpamitan. Riska yang baru merapikan diri, mencari keberadaan sang kekasih. Namun, ia tak menemukan Raka.
"Ke mana Raka?" gumamnya.
Melihat sang asisten yang akan masuk ke ruang gantinya, Riska menahan gadis itu. "Lo, lihat Raka?" tanyanya.
"Ng-gak," jawab gadis itu terbata.
Riska mendengus kasar dan mendorongnya hingga menabrak pintu. Kemudian, Riska berjalan keluar. Matanya mencari keberadaan mobil Raka. Sayang, ia tak bisa menemukannya.
__ADS_1
"Ah! Sialan! Udah lepas dari Resti, malah semakin sulit untuk didekati!" Riska terlihat sangat kesal.
***
Resti menatap Dimas kesal. Bukan karena tersinggung dengan perbuatan pria itu tempo hari, tetapi karena Resti harus menunda pekerjaannya. Tidak tahukah Dimas bila Resti sedang dikejar waktu?
"Aku gak marah! Maaf, tapi ini bukan waktunya untuk kita mengobrol. Tolong mengerti!" tolak Resti tegas.
Ia segera berlalu dari hadapan Dimas. Pria itu tak berkutik mendapat penolakan dari Resti. Tidak, ia tidak tersinggung. Dimas bisa melihat, bila Resti memang sedang terburu-buru.
Ia pun meninggalkan restoran itu. Sementara Resti, sesekali menoleh ke belakang. Ia menghela napas lega, begitu tak melihat keberadaan Dimas.
Sorry, Dim. Aku terlalu malu untuk bertemu denganmu. Kamu adalah cowok pertama, yang menempati hatiku. Tapi, posisi itu terganti dengan mudah. Resti menghela napas dalam. Menatap langit biru yang terbentang luas di angkasa.
***
__ADS_1
Dua minggu berlalu, Raka tenggelam dalam pekerjaannya. Ia mengabaikan panggilan, pesan, bahkan kedatangan Riska ke kantor. Bayu yang melihat hal itu tersenyum miring.
"Kenapa? Sudah mulai bosan dengan mainan cantikmu?" tanyanya dengan nada ejekan.
Tidak ada sahutan dari sahabat sekaligus atasannya. Bayu yang melihat itu, terkekeh. "Apa yang Riska lakukan sama Lo, sampai Lo terlihat jijik saat melihat dia?" tanya Bayu.
"Tidak perlu tahu. Keluar, dan kerjakan tugasmu!" titah Raka.
"Wohoho ... santai. Tapi satu yang gue yakini, Lo udah sadar dan menyesal. Karena itu, Lo memilih kembali menjadi workaholic, dibanding dekat dengan mantan Lo!" Bayu meletakkan berkas dan meninggalkan Raka.
Saat pintu tertutup, Raka menatapnya sayu. "Menyesal? Ya, Bayu benar. Aku sangat menyesal," lirih Raka.
Ia terkejut, saat pintu ruangannya dibuka paksa. Riska memaksa masuk. Raka membuang pandangannya dari wanita itu. Ia berpura-pura tak melihat kedatangan Riska.
"Sayang, aku minta maaf udah melakukan hal itu sama kamu. Aku tahu, kamu hanya ingin menyentuhku, setelah kita resmi menikah. Maaf," ucap Riska dengan wajah memelas.
__ADS_1
Perlahan, Raka mengangkat pandangannya. Ia menatap dingin pada Riska. Hal itu, membuat Riska menelan salivanya dengan susah payah.