
"Bagaimana jika kukatakan 'ya'?" tanya Riska.
Untuk sesaat, keduanya terdiam. Raut wajah Riska, bahkan berubah serius. Meski sempat terkejut, Resti tetap berusaha menguasai diri. Sejak tadi, Resti menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Sekali saja ia berkedip, air mata itu akan jatuh menetes.
"Setiap orang berhak jatuh cinta. Aku, tidak bisa melarangmu, untuk mencintai suamiku. Yang seharusnya kau lakukan adalah, menahan diri untuk tidak menginginkan apa yang bukan hakmu."
"Maksudmu, kau ingin aku mundur?" desis Riska.
"Hem." Resti menganggukkan kepala.
"Demi bayimu?" Riska masih berdesis.
Lagi, Resti hanya menganggukkan kepala. Terlihat Riska menarik napas dalam. Wajahnya bahkan memerah.
"Sayangnya, aku menolak. Aku bisa menggantikan posisimu dengan lebih baik. Aku juga bisa menerima anakmu. Akan kurawat dia, seperti anakku sendiri," ucap Riska.
Tangan Resti mengepal erat. Dari ucapan Riska, ia menarik kesimpulan bahwa wanita itu, ingin Resti meninggalkan Raka dan anak yang ia kandung. Ia bahkan tak menyadari, bila Riska sudah meninggalkan rumah itu.
***
Sepanjang hari, Resti kehilangan moodnya. Rencananya memasak makanan istimewa untuk sang suami pun, tak jadi ia lakukan. Sampai Raka pulang, Resti masih berbaring di kamar.
"Resti kemana, Mbak?" tanya Raka saat tak melihat istrinya.
Ya, kebiasaan baru resti setelah resign adalah, menyambut kedatangan Raka. Namun, semua berubah sejak kedatangan Riska pagi tadi. Ia lebih suka mengurung diri di dalam kamar.
"Ibu ... ada di kamar, Pak," jawab Mbak Sumi lirih.
"Resti sakit?" tanyanya lagi dengan nada khawatir.
"Gak tahu, Pak. Dari siang, ibu gak keluar kamar," jujur Mbak Sumi.
__ADS_1
Mendengar jawaban asisten rumah tangganya, Raka pun mempercepat langkah menuju kamar. Perkahan, ia mendorong pintu. Terlihat, Resti yang bergelung di bawah selimut. Raka mendekati istrinya.
"Ada apa?" tanya Raka lembut.
"Gak ada, Mas. Aku cuma kehilangan mood aja," jawab Resti tak kalah lirih.
"Kok, bisa. Coba cerita sama, Mas," bujuk Raka. Pria itu membalik tubuh Resti, agar menghadapnya.
Resti pun menatap wajah sang suami dengan sendu. Melihat wajah Raka, ia terduduk dan memeluknya erat. Raka membalas pelukan sang istri.
"Sudah makan?" tanya Raka lagi.
"Belum. Aku pengen makan masakan, Mas," rajuk Resti.
"Kok, tiba-tiba?" Raka terkejut mendengar ucapan Resti.
"Gak tiba-tiba, kok," sanggah Resti.
"Ya sudah. Mas, mandi dulu, ya," ucap Raka.
Resti pun menganggukkan kepala setuju. Selama menunggu Raka mandi, ucapan Riska kembali terngiang di telinganya.
Satu-satunya cara, aku harus memastikan perasaan Mas Raka padaku. Aku harus berusaha membuat dia jatuh hati padaku. Aku tidak rela, menyerahkan anakku pada wanita lain, tekad Resti dalam hatinya.
Tak lama, Raka selesai membersihkan diri. Resti tersenyum dan memeluk lengannya. Raka ikut tersenyum melihat wajah ceria Resti. Mereka pun menuju dapur.
"Kamu mau dimasakin apa?" tanya Raka.
"Apa aja yang, Mas, bisa," jawabnya.
"Oke!"
__ADS_1
Raka pun mendudukkan Resti di ruang makan. Setelah itu, ia menyiapkan bahan makanan yang akan diolah. Resti menatap wajah suaminya dari meja makan. Sesekali, Raka tersenyum pada istrinya.
Setelah berusaha selama lima belas menit, Raka akhirnya menyelesaikan masakannya. Ia segera menghidangkan hasil karyanya di hadapan Resti.
"Wow, kelihatannya enak. Baunya juga menggugah selera," ucapnya, "liurku terasa ingin menetes."
Tawa Raka terdengar renyah. Resti pun segera meraih sendok. Menyendokkannya sedikit, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Raka menelan salivanya dengan sulit. Jantungnya berdegup cepat, menanti penilaian sang istri. Satu suapan berhasil lolos dari tenggorokan Resti.
"Enak," ucap Resti senang. Ia kembali menikmati masakan yang sudah Raka siapkan.
Raka pun mengambil sendok lain, dan mulai mencicipi hasil masakannya sendiri. Setelah mengunyah beberapa kali, ia segera mengambil tisu yang ada di atas meja.
"Sayang, jangan dimakan lagi! Kamu bisa sakit," larang Raka.
"Tapi, aku lapar, Mas," rajuk Resti lagi.
"Iya, Mas tahu. Kita pesan aja, ya. Atau, kita makan di luar aja. Oke!"
"Aku mau ini aja. Ini enak, kok," tolak Resti.
"Sayang, ini tuh rasanya terlalu asin. Kalau gak, biar Mbak Sumi aja yang masak, ya." Raka terus membujuk sang istri.
Tak peduli dengan bujukan Raka, Resti terus melahap makanan itu hingga habis. Raka hanya bisa menggelengkan kepala melihat Resti menghabiskan masakannya, yang menurut Raka, terlalu asin.
Apa seperti ini yang dinamakan 'ngidam'? tanya Raka dalam hati.
"Apa benar seenak itu?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Raka.
"Iya. Ini makanan paling enak yang aku makan. Di masak dengan penuh cinta." Resti terlihat bahagia.
Raka pun terkekeh mendengar ucapan sang istri. Kau benar-benar berbeda dari wanita lain.
__ADS_1