Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 46 ~ Mencari jejak


__ADS_3

Raka mulai mencari keberadaan Resti. Ia mendatangi kediaman orang tua Resti lebih dulu. Namun, tak ada jejak keberadaan wanita itu di sana.


Ia pun melanjutkan pencarian ke kantor, tempat Resti bekerja dahulu, sebagai tujuan berikutnya. Berharap, rekan kerja mantan istrinya, memiliki sedikit informasi yang Raka butuhkan.


Tiba di sana, Raka tak membuang waktu sedikit pun. Ia langsung menemui beberapa rekan Resti. Sayangnya, tak seorang pun yang mengetahui keberadaan mantan istri dari pria itu. Bahkan, atasannya sekali pun.


Sementara Riska, membayar detektif yang berpengalaman untuk mencari Resti. Menyerahkan foto dan memberi uang muka pada orang yang akan mencari wanita itu.


"Kau, 'kan model, lebih mudah bagimu mencari keberadaan wanita itu. Apalagi, ini jaman internet. Kau bisa menggunakan media sosial milikmu untuk," saran sang detektif.


"Gak penting!" jawab Riska ketus.


"Lalu, kenapa harus dicari kalau tidak penting?" Detektif itu terlihat penasaran.


"Udahlah, gak perlu tahu! Tugas kamu, cari dia. Setelah ketemu, langsung hubungi aku." Riska memperingatkan.


Detektif itu pun hanya mengendikkan bahunya acuh. Setelah urusan Riska selesai, ia meninggalkan tempat itu. Menggunakan kaca mata hitamnya, lalu segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Sialan! Kalau bukan untuk menarik simpati Raka, aku gak sudih mencari dia!" umpat Riska kesal, begitu ia memasuki mobilnya.


Mobil yang dikendarai Riska segera melaju meninggalkan tempat itu.


***


Raka kembali ke rumah orang tuanya. Sejak perceraiannya dengan Resti, ini kali pertama Raka menemui mereka. Saat ia tiba, Dewi dan Ibra bersikap acuh. Mereka melakukan kegiatan tanpa mempedulikan kehadiran sang putra. Melihat sikap kedua orang tuanya, Raka mendekati mereka.


Lirikan kecil terlihat dari sudut mata Dewi. Ia segera menoleh, saat mendapati Raka berlutut. Sebagai seorang ibu, ia tidak tega melihat sang anak berlutut di depan matanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dewi dingin.


"Maafin Raka, Ma," ucap Raka dengan suara bergetar.


Ibra yang sejak tadi terfokus pada Ipad-nya, mulai mengalihkan pandangan saat mendengar sang putra meminta maaf. Pria itu menatap sang istri bingung.


"Maaf?" ulang Ibra. Raka menganggukkan kepala. " Untuk apa?" tanya Ibra.

__ADS_1


"Raka tahu, Raka sudah mengecewakan, Mama dan Papa. Karena itu, tolong maafkan Raka." Ia mencium kaki kedua orang tuanya.


Hati orang tua mana yang tida luluh, saat melihat kesungguhan anak mereka? Begitu pun dengan Ibra dan Dewi. Mereka tahu, Raka sudah menyesali perbuatannya.


"Bangunlah, Nak." Dewi menepuk pundak Raka lembut.


Perlahan, Raka mulai mengangkat kepala. Ibra pun meminta Raka duduk di antara dirinya dan sang istri. Dewi memeluk putra semata wayangnya dan menangis haru. Ia sangat senang, melihat sang putra mulai menyadari kesalahannya.


"Maaf karena Raka sudah mengecewakan, Mama," ucap Raka dengan suara dan tubuh bergetar. Bisa dipastikan, bila pria itu tengah menangis saat ini.


Kemudian, ia beralih memeluk Ibra, sang ayah. Ia pun melakukan hal yang sama pada pria paruh baya itu. Ibra menepuk punggung putranya lembut.


"Apa dia kembali mengkhianatimu?" tanya Ibra. Raka menjawab dengan anggukan kepala. "Sekarang, kau tahu, 'kan siapa yang lebih mencintaimu?"


"Iya, Pa." Raka menundukkan pandangannya. Ia merasa malu pada sang ayah.


"Lalu, apa rencana mu?" tanya Ibra.

__ADS_1


"Aku akan mencari jejak keberadaan Resti. Doakan Raka, bisa membawa menantu, Papa dan Mama, kembali," pinta Raka.


__ADS_2