Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 43 ~ Takdir?


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Raka semakin melihat perbedaan antara Resti dan Riska. Resti, sangat tahu kapan ia harus bergantung padanya, kapan tidak. Sementara Riska, selalu bergantung padanya.


Seperti saat ini, Riska yang tengah melakukan pemotretan, meminta Raka hadir. Ia bahkan tak segan bermesraan di depan kru. Beberapa kali Raka merasa risih dengan tingkah sang kekasih. Ingin ia pergi dari sana, tetapi itu tidak mungkin.


Tanpa ia sadari, hatinya mulai membandingkan antara Resti dan Riska. Resti tidak akan mau mengumbar kemesraan di depan umum. Kecuali, saat ia melihat Riska.


Raka bahkan tak menyadari, bila Riska sudah memanggilnya beberapa kali. Kesal melihat Raka yang melamun, ia memukul bahu pria itu keras hingga mengaduh.


"Kamu apaan, sih!" bentak Raka terlihat marah.


Wajah Riska memerah menahan amarah. Ia menatap Raka tajam, lalu meninggalkan ruang studio. Raka hanya menatap kepergian Riska dengan dahi berkerut tajam.


Resti tidak akan pernah mempermalukanku di depan umum. Tuhan, kenapa dulu aku sebuta itu?


Raka mengusap wajahnya kasar. Ia bangkit berdiri dan mencari keberadaan Riska. Raka langsung menuju ruang ganti yang dikhususkan untuk Riska gunakan. Setelah mengetuk, ia segera masuk.


Terlihat wajah Riska cemberut bercampur kesal. Raka memeluknya dan mengecup puncak kepalanya. Riska masih belum bergeming. Ia masih memperlihatkan wajah yang sama.

__ADS_1


"Maaf, ya, aku udah bentak kamu tadi," ucap Raka tulus.


"Kamu tahu gak, berapa kali aku manggil kamu?" tanya Riska menatap Raka dari pantulan cermin.


Raka tak merespon. Ia hanya terus memeluk Riska. "Lima kali aku panggilin, loh. Sedikit pun kamu gak ngerespon. Yang ada, kamu tenggelam dalam lamunan!" Riska melepaskan amarahnya.


Tak ada sahutan dari Raka. Ia seakan menebalkan telinganya menerima kemarahan Riska. Entah apa yang wanita itu katakan, Raka sudah tak mendengarnya.


"Kamu ngerti, 'kan?" tanya Riska.


"Iya. Maaf, ya," pinta Raka lagi.


Kedua alis Raka bertaut. Ia juga melepaskan pelukan dan menatap Riska dari cermin. "Ngapain?" tanyanya.


Riska bangkit berdiri dan menghadap Raka. Ia juga mengalungkan lengannya di leher sang kekasih. Tersenyum semanis mungkin.


"Dua orang dewasa berada dalam satu ruangan. Kamu pikir, apa yang akan terjadi?" bisik Riska.

__ADS_1


Tubuh Raka diam membeku. Bahkan, saat Riska mencium dirinya.


***


Sejak pertemuan di taman, Dimas mulai memikirkan tentang Resti. Saat pertemuan pertama, Resti pergi secara tiba-tiba. Membuat Dimas bingung. Namun, mereka seakan ditakdirkan untuk bertemu kembali.


Klien yang akan Dimas tangani, rupanya perusahaan tempat Resti bekerja. Meski Resti terkejut, tetapi ia tak bisa menghindar. Kali ini, mereka bertemu dalam urusan bisnis.


"Ternyata, itu kamu," ucap Dimas mengawali.


Resti sedikit berdeham, untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. "Sebaiknya, kita bicarakan pekerjaan saja. Saya, merasa tidak nyaman dengan pembicaraan pribadi," jawab Resti.


Wanita itu lebih dulu menolak maksud tersirat dari ucapan rekannya. Dimas pun menganggukkan kepala mengerti. Bagaimana pun, itu adalah keinginan kliennya. Ia harus menghormati keputusan itu.


Hampir dua jam mereka membicarakan pekerjaan. Resti akan beranjak pergi, setelah pembicaraan mereka berakhir. Namun, Dimas menghalanginya.


"Apa kamu masih marah karena aku menuduhmu menculik keponakanku?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Tidak," jawab Resti dingin.


"Kalau begitu, tidak ada masalahkan, jika kita mengobrol sebentar?"


__ADS_2