
Raka meninggalkan tempat itu dengan lunglai. Ia mengendarai mobil tanpa memikirkan arah tujuan. Suara dering ponsel menyadarkan Raka. Tepat saat lampu lalu lintas berganti merah, Raka memasang headset ke telinganya.
"Halo," ucap Raka begitu panggilan tersambung. "Tidak. Aku akan mampir ke apartemenmu," lanjutnya.
Setelah lampu berubah hijau, Raka memutus panggilan sepihak. Ia segera melajukan mobil ke tempat tujuannya. Tidak butuh waktu lama, mobil yang ia kemudikan tiba di apartemen tujuannya.
Langkah Raka terhenti di depan unit 201. Ia membunyikan bel sekali. Tak lama, seorang wanita cantik yang menjadi penyebab keretakan rumah tangganya muncul. Ya, itu adalah tempat Riska tinggal.
"Masuklah!" ajak Riska.
Mereka menuju ruang tamu. Raka menyandarkan punggung serta kepalanya pada sofa. Memejamkan mata sesaat, berharap bisa mengusir lelahnya. Riska ikut bergabung, dengan membawakan segelas air untuk Raka.
"Jadi, hasilnya masih nihil?" tanya Riska mengawali.
"Ya. Mereka menduga, Resti sudah meninggalkan kota ini. Bisa jadi, ia pergi ke luar kota, atau ke luar negeri," jawab Raka dengan nada frustasi.
"Aku akan tetap membantumu. Asalkan kau tetap memegang teguh janjimu padaku."
Raka menganggukkan kepala. Riska pun membalas dengan senyuman.
***
__ADS_1
Di kota lain, tempat Resti tinggal saat ini, ia baru saja selesai makan siang dengan rekan kerjanya. Saat akan beranjak, seorang anak menghampiri dirinya.
"Hai, Tante," sapanya.
Resti pun menoleh dan mendapati anak yang pernah ia tolong berdiri di sampingnya. Sedikit rasa takut mulai menyergap. Jujur saja, ia belum siap bertemu dengan pria yang berstatus "om" dari anak itu.
"Hai! Kamu, tersesat lagi?" tanya Resti.
"Gak, kok. Aku lagi makan siang dengan keluarga," jawabnya.
"Oh." Resti menganggukkan kepala dengan senyum canggung di bibirnya.
"Kamu Resti?" tanya wanita itu lembut..
"Iya?" jawab Resti.
"Terima kasih, ya, sudah menolong anak kami beberapa waktu lalu," ucap wanita itu lagi.
"Ah, gak masalah."
"Maafkan sepupuku yang kurang ajar, ya," timpal pria yang mungkin, adalah ayah anak itu.
__ADS_1
"Kapan aku kurang ajar sama orang lain?" Sebuah suara mengintervensi mereka. Pada akhirnya, membuat mereka menoleh.
"Waktu, Om Dimas nuduh Tante cantik penculik!" seru anak itu.
Resti hanya terdiam tak berkutik. Nyatanya, seperti apa pun ia menghindari Dimas, takdir kembali mempertemukan mereka. Hah, kota ini terlalu kecil untuk bersembunyi. Tunggu! Kenapa juga aku harus menghindar dari dimas? Resti menggelengkan kepalanya.
"Ya, waktu itu, 'kan om gak tahu. Lagi pula, Tante ini teman om, loh!" elak Dimas.
Kedua orang tua anak itu terlihat terkejut. Mereka menatap Dimas dan Resti bergantian.
"Sejak kapan?" Resti mengerutkan dahinya. Ia merasa tidak pernah menjadi teman dari pria itu.
"Kita itu satu sekolah. Jelas kita teman."
"Sayangnya, aku gak merasa punya teman seperti kamu!" Resti menjawab dengan yakin.
Dimas tak lagi bisa menjawab kata-kata Resti. Apa yang Resti katakan memang benar. Mereka tidak pernah menjalin hubungan pertemanan.
"Kalau begitu, apa kau mau jadi temanku?"
Entah apa yang Dimas inginkan. Resti merasa, pria itu sengaja mendekati dirinya. Namun, ia tidak tahu alasannya. Apa hanya perasaanku saja?
__ADS_1