Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 94 ~ Di restoran


__ADS_3

Resti sedikit maju, menghadang pandangan seorang wanita yang menyapanya dan Raka. Dari tatapan wanita itu, Resti tahu dia tengah tertarik pada mantan suaminya.


"Siapa dia, kurasa itu bukan urusanmu," jawab Resti dengan menekan setiap kata-katanya.


Seakan tak peduli dengan jawaban yang Resti utarakan, wanita yang pernah menjadi tenan satu sekolahnya itu, justru semakin mendekati Raka. Ia bahkan memasang senyum semanis mungkin.


Melihat wanita yang datang mendekat padanya, membuat Raka memasang wajah dingin. Aura yang memancar dari Raka pun, seolah menjadi alarm tanda bahaya. Seketika, wanita itu menghentikan langkah dan meneguk salivanya susah payah.


Gila! Aura, nih, cowok kuat banget! gumamnya dalam hati. "Oh, ok! Kalau gitu ... gue pamit dulu, ya," pamit wanita itu.


Setelah mengatakan hal itu, ia segera berjalan cepat menjauhi Resti dan Raka. Melihat wanita—yang ia tahu penyuka pria tampan—itu pergi, Resti menoleh pada Raka.


Saat Resti menatapnya, raut wajah Raka terlihat lebih ramah. Mas Raka terlihat ramah. Kenapa dia larut ketakutan, kaya abis lihat hantu? tanya Resti dalam hati.


"Ayok!" ajak Raka.


Mereka pun melanjutkan rencana mereka menonton film. Selama hampir dua jam, Raka tidak fokus pada layar di depannya. Pria itu, lebih suka menatap wajah Resti.

__ADS_1


Sementara Resti, berusaha untuk tetap memfokuskan diri pada film yang sedang diputar. Ia sadar, jika Raka tengah mengamati dirinya. Sayangnya, Resti sana sekali tidak menyimak film tersebut.


"Bagus, ya, filmnya," ujar Raka begitu mereka keluar dari ruang teater. Tapi, lebih bagus wajah kamu, imbuhnya dalam hati.


Bagus apanya? Dia aja cuma liatin aku. Mana mungkin dia lihat filmnya? gerutu Resti dalam hatinya. "Iya," jawab Resti dengan berbohong.


"Gimana kalau kita makan?" Raka menawarkan.


"Boleh."


Restoran cukup ramai saat weekend seperti ini. Karena itu, mereka harus sabar menunggu antrian. Raka meminta Resti mencari kursi terlebih dulu. Wanita itu pun menyetujuinya.


Butuh waktu hampir sepuluh menit, agar Raka bisa memilih makanan. Kemudian, lima belas menit untuk menerima pesanannya. Ia pun menuju meja yang sudah ditempati Resti.


Tanpa membuang waktu, Resti dan Raka menyantap makanan itu. Sesekali, mereka mengobrol hal remeh temeh, untuk sekedar mengusir keheningan.


"Raka!" panggil seorang wanita yang menghampiri meja mereka.

__ADS_1


Raka menoleh dan menatap terkejut pada wanita tersebut. Keduanya bersalaman dengan akrab. Sejenak, mereka melupakan keberadaan Resti.


Raut wajah Resti berubah tak suka. Terlebih, saat Raka menggeser duduknya, untuk memberi ruang pada wanita itu. Dengan kesal, ia menyantap makanan di depannya.


Ya, ampun! Sial banget liat mereka ngobrol santai di depanku! Ih, jadi nyesal, ikut ke sini! gerutu Resti.


"Eh, ngomong-ngomong ... calon istri Lo gak dikenalin ke gue, nih!" ucap wanita itu seraya menatap Resti.


Mendengar kata-kata itu, seketika membuat Resti tersedak. Raka segera menyodorkan minumannya pada Resti. Tanpa pikir panjang, ia pun meminumnya.


Wanita yang ada di antara mereka itu pun terbahak. "Lo lucu banget, deh!" ucapnya lagi.


"Aku ... bukan calon istri Mas Raka, Mbak," jawab Resti terbata.


"Oh, iya?" Wanita itu membelalakkan matanya terkejut. "Tapi, Raka keliatan cinta banget sama Lo," lanjutnya.


Resti pun menatap pada Raka, yang kini menunduk malu. Benarkah yang dia katakan?

__ADS_1


__ADS_2