Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 8 ~ Terluka lagi


__ADS_3

Hubungan Raka dan Resti terasa semakin dingin. Resti tahu, Raka tengah menghindarinya saat ini. Sekuat hati dia mencoba untuk tidak peduli, dengan apa yang Raka lakukan padanya. Berkali-kali pula Resti mengatakan pada diri sendiri, bila ia tidak boleh lemah.


Namun, apa daya hati yang semakin terluka, membuat wanita itu hanya bisa menelan kesedihannya sendiri. Menangis dalam sepi, tanpa ingin membuat orang lain merasa kasihan padanya.


Resti tak lagi banyak bicara. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Meski Raka seakan tak menganggapnya ada. Pagi itu, Resti akan menyiapkan sarapan. Sayangnya, tidak ada bahan makanan di dalam kulkas. Terlalu larut dalam kesedihannya, membuat Resti tak menyadari ketersediaan bahan makanan.


"Aku harus belanja sore ini," gumamnya. Ia kembali menutup kulkas dan hanya meminum susu.


Resti pun mengambil tas kerjanya. Setelah memastikan mengunci pintu dengan rapat, wanita itu masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya sejak tadi. Taksi melaju meninggalkan perumahan dengan kecepatan sedang. Dalam waktu satu jam, mereka tiba di lobby tempat Resti bekerja.


Segera, Resti menuju ruang divisinya. Saat bertemu seorang office girl, ia meminta tolong padanya, untuk membelikan sarapan. Sambil menunggu, Resti menghidupkan komputernya.


Tak lama, office girl tersebut kembali membawa pesanan Resti. Ia memberikan sedikit uang tips pada gadis itu. Resti menikmati sarapannya lebih dulu, sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaan.


***


Tak terasa, delapan jam berlalu. Saatnya Resti kembali ke rumah. Sebelum itu, ia akan mampir ke swalayan terdekat dari perumahan tempatnya tinggal. Ia membeli cukup banyak bahan makanan. Tidak hanya itu, kebutuhan sehari-hari pun ia beli.


"Daging, telur, ayam, ikan, udah semua. Sabun mandi, cuci piring, baju dan kebutuhan lainnya juga udah. Apalagi, ya?" gumam Resti.


Ia masih menjelajahi lorong demi lorong. Ia mampir ke bagian makanan ringan. Memilih camilan yang disukai Raka dan dirinya. Saat melewati lorong kecantikan, langkahnya terhenti.


Ia merasa mengenal pasangan yang berada di sana. Jantung Resti berdegup cepat, saat melihat dengan jelas, siapa pasangan itu. Waktu seakan terhenti. Resti menggenggam erat pegangan troli.


"Mas Raka, kau semakin keterlaluan. Siap lagi wanita itu?" gumamnya.


Pasangan itu berbalik. Raut wajah Raka terlihat terkejut. Sementara wanita yang bersamanya, tidak memperhatikan perubahan wajah Raka. Terlihat Raka berbisik pada wanita di sampingnya. Kemudian, menghampiri Resti diam-diam.

__ADS_1


Mata pria itu menoleh kiri dan kanan. Mencari tempat yang tidak akan diketahui wanita tadi. Kemudian, melepas genggaman tangannya dari Resti.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Raka lebih dulu.


"A-aku belanja, Mas," jawabnya terbata.


"Kalau kita berpapasan, jangan katakan kamu istriku! Mengerti?"


"Kenapa? Apa dia kekasihmu?" Suara Resti terdengar bergetar.


"Kau tidak perlu tahu! Lakukan saja keinginanku!" Raka berbalik meninggalkan tempat itu lebih dulu.


Resti merasa tak sanggup menahan air matanya lagi. Tanpa bisa ia tahan, genangan itu meluncur bebas dari kedua bola matanya. Resti tak ingin menarik perhatian orang lain. Karena itu, ia segera menghapus air matanya.


Setelah memastikan air matanya tak lagi terlihat, Resti menuju trolinya tadi. Tak ada lagi niat baginya belanja barang lainnya. Ia segera menarik trolinya dan menuju kasir. Sialnya, mereka kembali bertemu di dekat kasir.


"Hai, Mas," sapa Resti ramah.


Sekuat tenaga Resti menahan diri, agar kedua matanya tak menunjukkan kesedihan. Bahkan, Resti menahan suaranya dengan mencengkeram troli kuat-kuat.


"Dia siapa, Beb?" tanya wanita itu manja.


Mendengar panggilan sayang dari wanita yang berdiri di samping suaminya, membuat Resti terkekeh. Ia tak menyangka, bila Raka benar-benar menjalin kasih dengan wanita lain. Jadi benar, dia kekasihmu? Lalu, untuk apa kau menikahiku? Tidakkah kau tahu seberapa menyakitkannya hal ini?


"Kenalkan, saya sepupunya, Mas Raka." Resti mengulurkan tangannya. Terus menahan diri, agar tak meledakkan tangisnya.


"Oh ... hai. Aku pacarnya, Mas Raka. Nanti, kita jadi ipar, dong, ya, kalau aku udah nikah sama Mas Raka." Ia tersenyum manis.

__ADS_1


Wanita itu menyapa Resti dengan ramah. Mengaku sebagai kekasih dari suaminya. Mendengar pengakuan itu secara langsung, Resti merasa sesuatu menghimpit dadanya. Membuat Resti merasa sulit bernapas.


"Hai, salam kenal." Resti melirik Raka sesaat. Ia menahan diri untuk tidak meledakkan tangisnya.


Pria itu membuang pandangan dari sang istri. "Sudah malam. Langsung pulang!" titah Raka.


"Aku pasti pulang, Mas. Memangnya aku mau kemana? Aku, 'kan gak punya siapa-siapa lagi," tekan Resti pada setiap ucapannya.


Raka tertegun mendengar jawab Resti. Rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya. Tak mendapat respon lanjutan dari sang suami, Resti segera berpamitan. Setelah menjauh dari pasangan itu, wajah Resti berubah sendu. Namun, ia tetap berusaha tegar di hadapan orang lain.


***


Resti menangis sesenggukan di ujung ranjang. Ia melepas semua emosinya melalui air mata, yang sejak tadi ia tahan. Patah hati, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hancurnya hati Resti saat ini.


Ingin rasanya ia bertanya ada Raka akan kesalahan yang membuat pria itu berubah. Namun, ia tak pernah punya kesempatan. Raka seakan selalu menghindari dirinya.


Kenapa kau selalu menghindariku? Apa salahnya, kau beritahu kesalahan yang aku perbuat? Paling tidak, aku bisa memperbaiki diriku. Kalau seperti ini, bukankah kau sengaja menyakitiku? batin Resti.


Resti bangkit dari duduknya. Ia berpikir, tidak ada gunanya bersedih, sementara pria yang ia tangisi bersenang-senang dengan wanita lain. Ia menarik napas dalam dan menghelanya perlahan.


Wanita itu pun memilih menyalurkan emosinya pada pekerjaan rumah tangga. Ia membersihkan setiap sudut rumah, hingga bersih tak berdebu. Saat tengah malam, semua pekerjaan itu akhirnya selesai. Ia tak merasakan lapar sedikit pun.


Resti pun melewati jadwal makan malam begitu saja. Selesai membereskan rumah, Resti memilih mandi, lalu pergi tidur. Sampai Resti terlelap, Raka tak jua kembali. Entah di mana pria itu bermalam.


Sejak pertemuan itu, Raka semakin berani menunjukkan kemesraan dengan gadis lainnya. Resti hanya bisa menelan kesedihannya sendiri. Bukan satu atau dua kali Dewi dan Ibra, mertuanya, menasihati Raka. Bagas, sekretaris sekaligus sahabat Raka pun, sudah melakukan hal yang sama.


Namun, Raka tak pernah mendengarkannya. Ia terus menerus menyakiti Resti. Ingin bicara pun, Raka selalu menghindar. Rasa lelah mulai membuat Resti frustasi. Terbersit sebuah rencana, yang seharusnya tidak pernah ia pikirkan. Sayangnya, melihat sikap Raka pada Resti, membuat wanita itu seakan tak memiliki pilihan.

__ADS_1


Haruskah Resti bertahan dengan luka yang Raka torehkan terus menerus, atau mengakhiri pernikahan mereka dengan perceraian, meski hati kecilnya masih ingin mempertahankan Raka?


__ADS_2