
Sudah lebih dari dua bulan Raka berpisah dari Resti. Setiap malam, ia selalu memimpikan mantan istrinya itu. Ia juga tak pernah lagi tidur nyenyak. Bayang Resti, selalu menghantui dirinya.
Bayu yang melihat kondisi Raka, ikut prihatin. Seperti siang ini, pria yang menjadi atasan sekaligus sahabatnya itu, baru saja terbangun.
"Lo udah bangun?" tanya Bayu.
Raka tak menjawab. Pria itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. Bayu pun menghela napas lelah.
"Kenapa? Kangen Resti?" tebak Bayu. Pria itu terkekeh melihat ekspresi terkejut di wajah Raka. Ia sengaja berhenti menggoda Raka. Menanti reaksi pria itu selanjutnya.
"Dari mana Lo tahu?" Raka balik bertanya.
Bayu hanya tersenyum tipis, tanpa berniat menjawab pertanyaan itu. Kembali ia berkutat dengan pekerjaan. Setelah beres, Bayu segera meninggalkan ruangan Raka. Namun, langkahnya terhenti.
"Lo tahu di mana Resti?" tanya Raka lagi.
Helaan napas terdengar dari Bayu. "Sekali pun tahu, gue gak akan kasih tahu Lo!" tegas Bayu. Ia kembali berbalik.
Lagi-lagi, Raka menghadang jalannya. "Apa alasan Lo?" cecar Raka.
__ADS_1
"Cukup Lo menyakiti dia. Dia bukan barang pengganti yang bisa Lo pake saat butuh, kemudian buang setelah menemukan yang memang Lo butuhkan!" Bayu mendorong bahu Raka. Menggeser pria itu, agar memberinya jalan.
"Please, Bay."
"Lo udah balikan sama Riska! Jadi lupakan Resti!" Bayu pun berlalu meninggalkan Raka.
Aku memang merindukan Resti. Aku kehilangan sosok wanita yang selalu bersikap lembut. Tuhan, ijinkan aku bertemu dengannya. Meski hanya sekali. Aku ingin meminta maaf padanya.
***
Melupakan, adalah hal tersulit yang dijalani manusia. Hal yang sama, juga dialami Resti. Namun, ia bertekad untuk tetap melangkah maju. Masa lalu hanyalah sebuah kenangan yang tak mungkin terulang.
Wanita berparas cantik itu, mulai kembali menata hidupnya. Mengais rejeki dengan bekerja keras. Meski Dewi dan Ibra—mantan mertuanya—telah memenuhi semua kebutuhannya, Resti tidak serta merta menerima dana tersebut.
Selesai mentransfer uang tersebut, Resti pun keluar dari bilik ATM. Ia berjalan menyusuri jalan di kota yang tidak terlalu besar di negara ini. Meski begitu, ia merasakan suasana yang lebih baik.
Langkahnya terhenti, kala melihat seorang anak menangis di kursi taman. Menunggu beberapa menit tanpa menghampiri. Tak ada seorang pun yang mendekatinya. Perlahan, ia mulai melangkah maju.
"Apa kamu tersesat?" tanyanya. Resti mensejajarkan dirinya dengan anak itu.
__ADS_1
Tangis anak itu berhenti. Bola mata mereka bertemu. Senyum pun terbit di wajah Resti. Perlahan, anak itu menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya tadi.
Resti menatap sekeliling, tetapi tak mendapati apa pun. Kemudian, ia duduk di samping anak tersebut. Wanita itu mengeluarkan botol minum yang ada di dalam tasnya.
"Minum dulu." Ia menyodorkan air itu.
Terlihat, bila anak itu ragu untuk mengambil botol itu. Resti tersenyum dan menyerahkan botol tersebut. Lagi, wanita itu merogoh tas, lalu mengambil ponsel.
"Apa kamu ingat nomor telepon orang tuamu?" tanyanya.
Pandangan anak itu terlihat tengah berpikir keras. Setelah beberapa menit, ia pun menyebutkan sederetan angka pada Resti. Tanpa membuang waktu, Resti menghubungi nomor itu.
"Siapa namamu?" tanya Resti sambil menunggu.
"Adam, Tante," jawabnya dengan sopan.
Resti mengusap lembut rambut anak itu. Tak lama, panggilan pun tersambung. "Halo," sapanya.
"Halo, siapa ini?"
__ADS_1
"Apa, Anda, orang tua dari Adam?" tanya Resti.
"Jadi kamu yang menculik anak saya!"