Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 61 ~ Kecewa


__ADS_3

Dimas menarik Resti pergi dari sana. Melihat hal itu, Raka mengikuti keduanya. Dimas membawa Resti ke sebuah ruangan yang jauh lebih privat. Tidak ada kamera pengawas atau pun orang yang bisa menonton mereka.


"Kalian bisa lanjutkan," ucap Dimas melepaskan pegangannya.


Dahi Resti berkerut dalam mendengar hal itu. "Dasar aneh!" maki Resti.


Dimas tak menggubris makian Resti. Wanita itu pun menggelengkan kepala dan berniat pergi dari sana. Namun, Raka menahan lengannya.


"Lepas!" ucap Resti dengan nada pelan, tetapi penuh dengan amarah.


Di luar dugaan, Raka justru bersimpuh di kaki Resti. Ia bahkan sampai memundurkan langkahnya saat Raka melakukan itu. Dimas hanya menonton apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Maaf. Aku benar-benar minta maaf," ucap Raka dengan wajah yang ditundukkan.


Terdengar isakan tangis dari Raka. Resti pun bisa melihat tubuh pria itu yang gemetar menahan tangisnya. Namun, bukan rasa iba yang Resti tunjukkan, melain rasa jengah.

__ADS_1


"Setelah berulang kali kau menyakitiku, sekarang dengan mudahnya kau meminta maaf?" Resti menarik napas dalam. "Kembalilah pada Riska. Bukankah dia wanita yang kau cintai? Lagipula, hubungan kita tidak berlangsung lama. Satu lagi, aku tidak bisa kembali pada orang yang sudah membunuh darah dagingnya sendiri!" desis Resti. Ia segera berjalan melewati Raka.


Lagi, lagi, langkah Resti terhenti. Kali ini, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Tidak! Aku tidak mencintai dia! Kamu adalah wanita yang aku cintai. Aku yakin itu! Masalah anak kita, aku benar-benar tidak punya pilihan saat itu. Nyawamu, jauh lebih penting!" teriak Raka.


Tawa getir terdengar dari Resti. Ia tak bisa membohongi diri, bila sudut hatinya merasa bahagia mendengar pernyataan Raka. Namun, ia tak ingin terbuai pada ucapan pria itu.


Bagi Resti, Raka adalah pria paling tidak berpendirian. Hatinya begitu mudah goyah. Pria itu, tak bisa memantapkan hatinya untuk satu orang.


"Aku tidak akan percaya. Aku pernah terbuai oleh ucapanmu. Tapi kali ini, aku tidak mau lagi terbuai. Sebaiknya, jalani hidupmu dengan Riska. Bukankah kalian senang melihatku pergi? Ah, anakku bukanlah prioritasnya. Itu maksudmu, 'kan?" sindir Resti.


"Jadi, hubungan kalian sudah berakhir? Bagus. Kalau begitu, tidak masalah kalau aku mengejarnya." Dimas berlalu.


Tubuh Raka berguncang hebat setelah tak ada siapa pun di sana. Raka berteriak sekencang mungkin, menyalurkan rasa bersalahnya.

__ADS_1


***


Resti menyandarkan tubuhnya pada dinding. Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Sebuah genggaman membuat Resti membuka mata, lalu menoleh. melihat Dimas di sana, Resti segera menghempaskan tangannya dari genggaman pria itu.


"Aku minta maaf."


"Kenapa hari ini aku selalu menerima permintaan maaf?" gumam Resti. Ia pun melanjutkan langkahnya menjauh dari sana.


"Maaf karena aku tidak menunggu penjelasan mu. Maaf karena tidak mempercayaimu. Maaf karena sempat menjauhimu."


"Hentikan! Aku bosan mendengar permintaan maaf. Kau dan dia sama saja! Aku muak dengan kalian berdua!"


"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?" Wajah Dimas terlihat memelas.


"Saat aku ingin menjelaskan, apa kau memberiku kesempatan? Tidak sama sekali." Resti menarik napas dalam. "Tadinya aku pikir kau berbeda dari dia. Nyatanya, kalian sama! Semua memang salahku karena tidak menjelaskannya sejak awal."

__ADS_1


Resti menghapus air mata yang membasahi pipinya. "Sudahlah. Mulai sekarang, sebaiknya kau tidak perlu menemuiku lagi. Aku terlanjur kecewa padamu."


Resti berbalik dan pergi tanpa menoleh kembali. Hatinya terlanjur sakit, mendapat penolakan dari Dimas sebelumnya. Ia tak bohong, saat berpikir Dimas berbeda. Sayangnya, semua itu salah.


__ADS_2