
Riska tiba di hotel. Ia segera menuju kamarnya yang ada di lantai sepuluh. Setelah tiba, ia melempar tasnya asal. Wajahnya terlihat kesal, napasnya pun ikut memburu.
"Brengsek! Kenapa dia masih hidup, sih! Udah gitu, kenapa juga ingatan terakhirnya berhenti di situ?" gumamnya.
Setelah mendapat telepon dari orang tua Raka, yang meminta dia untuk menemui pria itu, Riska sempat menolak. Namun, ketika mendengar Raka mengalami amnesia, Riska pun menyetujui untuk bertemu raka.
Sayangnya, ingatan Raka terhenti pada kejadian setengah tahun lalu. Riska mengepalkan tangannya erat. Beberapa detik kemudian, senyum licik terlihat di wajahnya.
"Paling tidak, dia tidak akan mengingat Resti. Meski sesaat, aku harus bisa mendapatkan Raka lagi. Jika kami menikah sebelum ingatannya pulih, Resti atau pun Raka tak akan bisa kembali." Riska tertawa bahagia memikirkan kata-kata itu.
***
Resti yang tak lagi bisa berbuat apa-apa pun memilih pulang. Ia merasa, takdir memang menentang hubungan mereka. Meski tak rela, Resti berusaha menerima kenyataan.
Sementara itu, di ruang rawat Raka, pria itu terlihat menatap kosong dinding di hadapannya. Dewi yang melihat itu menghela napasnya perlahan. Kemudian, menyentuh lembut punggung tangan Raka.
"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Ma, bukannya saat kecelakaan aku menabrak orang?" tanyanya.
Dewi terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang putra. "Apa saja yang kamu ingat? Coba beritahu mama," pinta Dewi.
Raka pun memberitahu sang ibu, bila ia ingat pergi dari apartemen Riska dengan perasaan yang hancur. Saat itu, hujan deras tengah mengguyur kota Jakarta. Raka yang memang tak fokus, menabrak pembatas jalan hingga mobilnya meluncur ke arah halte bus. Kemudian, menabrak beberapa orang yang ada di sana.
"Tapi, kejadian itu di Jakarta. Kenapa sekarang Raka ada di Yogya?" tanya Raka lagi.
"Sebenarnya, ada beberapa kejadian yang hilang dari ingatan kamu. Termasuk, alasan kamu berada di Yogya."
"Jangan dipaksa, Sayang. Dokter bilang, ingatanmu akan pulih dengan sendirinya," ujar Dewi.
"Bukan itu, Ma. Raka merasa ada sesuatu yang harus aku lakukan. Tapi ... aku benar-benar tidak bisa mengingatnya." Raka memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Dewi menatap iba pada sang putra. Ia tak bisa mengatakan apa pun saat ini. Pikirannya seketika tertuju pada Resti. Haruskah ia memberitahukan hal ini pada mantan menantunya itu?
"Ma," panggil Raka.
__ADS_1
"Iya." Dewi duduk di samping sang putra.
"Kenapa hari Raka rasanya sakit banget? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang?"
Dewi menitikkan air mata melihat kondisi sang putra. Ingin rasanya ia memberi tahu semua yang Raka lupakan. Termasuk rencana Raka untuk memberikan harta yang dimilikinya pada Resti. Sayangnya, lidahnya tak mampu berucap.
***
Raka menatap galeri di ponselnya. Ia terkejut melihat foto wanita yang pernah menungguinya di rumah sakit. Berkali-kali jemarinya bergulir di layar ponsel.
"Siapa dia? Kenapa aku melupakan dia? Apa yang terjadi sebenarnya?" Raka mencoba kembali memulihkan ingatannya.
Rasa sakit itu kembali. Kali ini, bahkan semakin terasa sakit, hingga membuat Bayu yang kebetulan datang panik. Segera, Bayu memanggil Dokter. Dokter pun menyuntikkan obat penenang. Perlahan, Raka mulai tenang. Ia pun jatuh tertidur.
"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Bayu.
"Sepertinya, pasien mencoba menggali ingatannya. Saya sarankan, untuk membantunya perlahan." Dokter menepuk pundak Bayu lembut.
__ADS_1