
Devan akhirnya kembali. Ia menghampiri sang istri dan mengecup puncak kepalanya. Chyntia tersenyum pada sang suami. Resti sendiri, masih menatap Dimas yang kini memiringkan tubuhnya ke arah jendela.
Resti merasa ada yang salah dari sikap Dimas. Namun, ia tak tahu apa masalahnya. Apa mungkin karena aku menolaknya? batin Resti.
Di tengah banyaknya pertanyaan itu, hanya satu alasan yang Resti temukan. Tak ingin berlarut dalam asumsinya, 8a pun beranjak mendekati Dimas.
"Dim, kenapa kamu bersikap seperti ini? Apa ini karena masalah tempo hari?" tanya Resti.
Devan dan Chyntia yang mendengar hal itu, saling bertukar pandang. Merasa tak seharusnya ikut campur, keduanya memilih keluar diam-diam.
"Tidak, kok," jawab Dimas tanpa menatap Resti. Pria itu, bahkan menjawab dengan nada lemah.
"Lalu, kenapa kamu mendiamkan aku begini? Gak ada alasan lain selain karena aku sudah menolak kamu," cecar Resti.
Mendapat cecaran seperti itu, akhirnya Dimas menatap Resti. "Bukan penolakan mu yang membuatku seperti ini. Tapi, ketidaktahuanku yang menjadi penyebabnya!"
__ADS_1
Kerutan di dahi Resti, menandakan bila ia tidak mengerti dengan ucapan Dimas. "Ketidaktahuan? Maksudnya?"
Dimas menatap Resti dalam. "Kau sudah memiliki suami. Karena itu, kau memilih menolakku."
Lidah Resti terasa kelu untuk sekedar menjelaskan. Namun, satu yang dia tahu. Dimas sudah bertemu Raka secara pribadi. Mungkin, alasan lebam di wajah Dimas adalah perkelahiannya dengan Raka.
"Kau tidak perlu menjelaskannya. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Jadi, mulai sekarang, mari kita jaga jarak seaman mungkin," ucap Dimas dengan yakin.
"Jadi, kalian sudah bertemu? Baiklah. Satu yang perlu kamu tahu, aku hanya belum siap menceritakan segalanya. Bukan berarti, aku sengaja menutupi tentang dia. Seandainya kamu bisa beri aku satu kesempatan, akan aku ceritakan semua." Resti segera melangkah pergi.
***
Selama satu minggu ini, kegiatan Resti hanya berpusat pada tempatnya bekerja dan rumah. Selain itu, ia tidak melakukan apa-apa.
Beberapa kali, Resti mendapati Raka menunggunya. Beruntung pria itu tidak tahu, bila Resti kini memiliki mobil sendiri. Karena itu, Raka tak bisa menemukan dia dengan mudah.
__ADS_1
Namun, takdir kembali mempertemukan mereka. Kali ini, Dimas pun berada di sana. Raka tersenyum senang bertemu Resti. Akan tetapi, Resti berwajah datar. Sementara Dimas, hanya duduk mengawasi.
Resti lebih dulu mendekat pada Raka. Kemudian, melayangkan tangan mungilnya ke pipi pria yang pernah menjadi bagian hidup Resti. Raka menatap wanita itu tak percaya.
"Kenapa kau menamparku?" tanya Raka.
"Sakit?" Resti berbalik tanya.
Lagi, tangan wanita itu melayang pada pipi Raka yang lain. Dimas yang sejak tadi memperhatikan, semakin tertegun melihat kejadian itu.
"Kau boleh melampiaskan amarahmu padaku. Asalkan, setelah ini kau bisa memaafkan aku," ucap Raka. Ia sadar, tatapan Resti tidak menunjukkan cinta seperti dulu. Kali ini, ada kilat amarah terpancar di mata wanita cantik, yang pernah menjadi istrinya.
"Maaf? Hanya dengan dua tamparan, kau sudah meminta aku untuk memaafkanmu? Semudah itu?"
Melihat Resti yang hampir meledak, Dimas segera mendekati wanita itu. Ia menahan lengan Resti dari belakang.
__ADS_1
"Jangan permalukan dirimu di tempat umum," bisik Dimas.