Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 7 ~ Interogasi


__ADS_3

Resti menatap nanar kemesraan sang suami bersama wanita lain. Hatinya terasa sangat sakit melihat itu. Beberapa waktu ini, Raka terkesan menghindarinya. Namun, kenyataan kini terpampang di depannya. Raka, memiliki wanita lain.


Dewi menyadari kesedihan yang terlihat jelas di wajah menantunya. Ia mengusap lembut bahu Resti. Wanita itu memaksakan senyumnya.


"Kamu tenang saja. Mama kenal dengan wanita itu. Dia, salah satu model yang selalu mengejar Raka. Mungkin, mereka tidak sengaja bertemu tadi," ucap Dewi menenangkan.


Ingin Resti mempercayai ucapan sang mertua. Namun, entah mengapa hati kecilnya tak bisa percaya begitu saja. Resti berusaha menunjukkan, bila ia percaya pada ucapan sang mertua.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki rumah yang Raka dan Resti tempati. "Istirahatlah. Jangan terlalu memikirkan masalah tadi. Biar mama yang urus," ucap Dewi.


"Iya, Ma," jawab Resti lirih.


Resti pun masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu, air matanya jatuh tak tertahan. Sesak menghimpit dadanya. Resti memukulnya terus menerus. Mencoba meredam sesak itu. Namun, air mata terus mengalir.


Ia pun berlari menuju kamar. Menelungkupkan wajahnya ke bantal. Kemudian menangis sekeras-kerasnya. Setelah puas, Resti merasa kepalanya sangat sakit. Ia pun memutuskan untuk membersihkan diri. Memaksa dirinya untuk makan.


Aku harus tetap kuat. Ibu dan bapak pasti sedih kalau melihatku hancur. Ayo, Resti! Jangan tenggelam dalam kesedihan! batinnya.


"Mama Dewi gak mungkin bohong. Aku harus percaya padanya. Ya, itu benar!" Resti berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


***


Di kediaman orang tua Raka, Dewi menghubungi Bagas dan memintanya untuk datang. Setelah menunggu hampir satu jam, Bagas tiba di sana. Dewi dan Ibra mengajaknya bicara di taman belakang.


"Bagaimana pekerjaan di kantor?" tanya Ibra basa-basi.


"Semua bisa diatasi dengan baik, Pak," jawab Bagas.


"Apa Raka bekerja dengan baik?" tanya Ibra lagi.


"Iya, Pak," jawabnya lagi.


"Apa kau tahu, tentang gadis ini?" Dewi menyodorkan ponselnya.


Ia sempat mencari tahu tentang gadis yang terlihat bersama Raka tadi. Tidak ada pemberitaan tentang hubungan antara Raka dan wanita itu.


"Dia beberapa kali datang ke kantor. Raka bilang, mereka sudah membuat janji temu. Saya tidak tahu urusan apa. Tapi, mereka cukup intens bertemu sekitar dua minggu ini." Bagas memberitahu semua informasi yang ia ketahui.

__ADS_1


"Tidak ada yang lain? Hubungan spesial antara mereka, misalnya," ujar Dewi.


"Tidak, Bu. Hanya itu."


Dewi menarik napas dan menganggukkan kepala. Ibra pun tak banyak berkomentar. Setelah berbincang masalah perkembangan perusahaan, Bagas berpamitan. Ibra dan Dewi mempersilakan.


Setelah kepergian Bagas, Dewi menghubungi Raka. Meminta putranya untuk pulang sebentar. Ibra hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang istri.


"Sepertinya, Mama, belum puas dengan jawaban Bagas, ya?" tanya Ibra.


"Papa, gak lihat sendiri gimana cewek itu bergelayut manja ke Raka. Makanya, mama mau dengar langsung dari Raka. M


Resti juga tadi lihat yang Raka lakukan." Dewi menghela napas kasar.


Kepalanya terasa sakit, melihat tingkah putranya. Sesakit itukah hati Raka ditinggal Riska? Bukankah wanita itu yang meninggalkan Raka? batin Dewi.


Satu jam kemudian, terdengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah mereka. Dewi melihat dari jendela ruang tamu, yang menghadap ke halaman. Melihat Raka yang datang, Dewi segera menyambutnya.


Raka mencium punggung tangan orang tuanya, begitu mereka bertatap muka. Ketiganya menuju ruang tamu. Seperti kebiasaannya, Raka merebahkan kepala di pangkuan sang ibu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Resti?" Dewi memulai pembicaraan.


"Seperti itu bagaimana?" tanya Dewi.


Pasalnya, jawaban Raka terdengar ambigu bagi Dewi. Entah itu baik, atau memburuk.


"Kalau baik, katakan baik. Kalau buruk, ya katakan buruk. Kenapa jawabanmu terdengar ambigu?" Ibra menimpali.


Raka mendudukkan dirinya. Menghela napas sesaat. "Raka tidak tahu, Ma, Pa," jawabnya jujur.


"Maksud kamu?" cecar Dewi.


Ibra yang sejak tadi fokus pada tablet di tangannya pun, mulai menghentikan kegiatan. Ia meletakkan tablet itu ke atas meja. Kemudian, menatap putra semata wayangnya serius.


"Raka ... tidak bisa mencintai Resti. Ada bagian dari diri Raka yang menolaknya," jawabnya.


Dewi terkejut mendengar penuturan putranya. Terlebih Ibra, ia mengeraskan rahangnya mendengar jawaban itu.

__ADS_1


"Jangan bercanda kamu Raka! Resti sudah mengorbankan masa mudanya untukmu. Apa begini balasanku?" berang Ibra.


"Raka juga ingin mencoba membalas cinta Resti, Pa. Tapi, rasa bersalah ini membuat Raka takut," ucapnya lirih.


Dewi menatap iba pada sang putra. "Mama tahu, kalian menikah tanpa cinta. Tapi, jangan pernah kau lukai hatinya. Siapa wanita yang bergelayut manja padamu tadi, Nak?" tanya Dewi lembut.


"Bukan siapa-siapa Raka."


"Kalau dia tidak punya hubungan denganmu, kenapa dia bertingkah seperti itu?" Dewi bertanya lagi.


"Memang sikapnya seperti itu. Tidak cuma sama Raka," jawab Raka.


"Jauhi dia!" titah Ibra.


Raka hanya menganggukkan kepala. Dewi mengusap rambut putranya lembut.


"Pulanglah. Resti pasti sedang menunggumu. Tadi, dia tidak sengaja melihat kau bersama wanita itu. Sekarang, dia pasti sedang menangis," pinta Dewi.


Lagi-lagi, Raka hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ia pun berpamitan pada orang tuanya. Kemudian, meninggalkan rumah mereka.


***


Resti tertidur cukup lama setelah meminum obat tadi. Terdengar suara mobil memasuki rumah. Ia melihat jam yang terpajang di dalam kamar. Waktu menunjukkan tepat pukul sebelas malam.


"Mas, baru pulang?" tanya Resti.


Raka hanya menjawab dengan dehaman. Kemudian, ia melangkah menuju kamar. Resti mengikuti langkah suaminya. Menyiapkan pakaian ganti untuk Raka. Bahkan, menyiapkan makan malam untuk sang suami.


Saat keluar, Raka menatap Resti dalam. Mendapat tatapan seperti itu, membuat Resti salah tingkah. Wajahnya memerah malu. Raka mendekat dan mengecup kening Resti.


Kemudian, memakan makan malam yang sudah Resti sediakan. Tidak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulutnya. Hanya keheningan yang menguasai. Selesai makan, Raka segera beranjak.


"Tidurlah lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Raka tanpa berbalik.


Resti tertegun sesaat. Dari nada bicaranya, ia tahu Raka tengah menghindar. Resti tidak mengerti penyebabnya. Namun, ia berusaha untuk tidak menangis lagi.


Tidak Resti, jangan menangis! Kau tidak melakukan kesalahan apa pun! Resti memejamkan matanya sesaat. Menghalau rasa sakit yang kembali ditorehkan oleh Raka.

__ADS_1


Meski Resti sudah meyakinkan dirinya untuk tidak menangis, tetapi air mata itu kembali mengalir tanpa sebab. Resti meredam suaranya agar tak terdengar oleh Raka.


__ADS_2