Perjalanan Cinta Nanda

Perjalanan Cinta Nanda
bab 114


__ADS_3

"cie yang udh mulai terang-terangan nih, pakai di antar ke kelas lagi"ucap Nanda meledek Vivi


"apaan sih Vi, kayak kamu ngk aja lagi"ucap Vivi malu.


"lah aku kan beda Vi"ucap Nanda membela diri


"iyh iyh tau situ sudh menikah"ucap Vivi mengalah karna berdebat dengan Nanda tidak ada habis menurut Vivi.


Selang beberapa menit dosen yang mengajar pagi ini pun masuk, dan siapa sangka dosen itu adalah Denis.


"kita lanjut materi kemarin, dan saya tunggu tugas sampai jm 12 diruangan saya"ucap Denis.


Denis langsung mulai mengajar tanpa embel-embel menyapa seluruh mahasiswa.


Denis mengajarkan materi kelanjutan kemarin tapi tatapan tidak lepas dari Nanda, mulutnys membicarakan apa tapi matanya menatap ke arah Nanda. Nanda yang merasa di tatap oleh Denis hanya bisa menunduk sesekali ia juga memperhatikan Denis yang sedang menerangkan materi.


"materi hari ini sampai disini jangan lupa tugas saya Minggu depan dan saya tidak terima alasan apapun itu"ucap Denis.


"Nanda temui syaa diruangan syaa sekrng juga, saya ingin berbicara empat mata sama kamu"ucap Denis langsung meninggalkan kelas tanpa menunggu persetujuan dari Nanda.


"nan kenapa dah itu dosen satu, kurang asupan gizi apa ngimna dari tadi marah-marah terus"ucap Vivi


"ngk tau gue Vi, iyh udah gue mau nyamperin pak Denis duluh, sebenarnya gue malas sih tapi ngk mungkin juga masalah gini gini aja"ucap Nanda meninggalkan kelas.


tokk...tokk...tok....


"permisi pak, saya Nanda izin masuk"teriak Nanda


"masuk"sahut Denis


"mau bicara apa"ucap Nanda dingin.


"duduk"perintah denis


"saya ngk nyangka iyh kalau kita ternyata saudara, pantasan muka mu sangat mirip kepada ayah saya"ucap Denis


"langsung saja pada intinya ada apa bapak memanggil syaa kesini, saya pikir tidak ada lagi yang perlu dijelaskan semua sudh jelaskan..?"ucap Nanda malas.


"bagi kamu sudh jelas, tapi bagi saya ini belm jelas Nanda"ucap Denis dingin.


"terus bapak mau minta kejelasan apa lagi"ucap Nanda tak kalah dingin

__ADS_1


"saya mau kamu meminta Riko mencabut tuntutan nya kepada Arni"ucap Denis


"wah kenapa harus Riko yang mencabut saya sendiri juga bisa mencabut tuntutan nya"ucap Nanda


"terus tunggu apa lagi kenapa kamu tidak mencabutnya, ingat Nanda Arni itu saudara kamu, kalian satu bapak otomatis ditubuh kalian mengalir darah yang sama"ucap Denis


"satu bapak..? yakin saya sama Arni satu bapak ..?yakin ditubuh saya sama Arni mengalir darah yang sama..?"tanya Nanda


"bukti hasil tes darahnya sudh bisa membuktikan itu semua" ucap Denis


"kalian sudah cek darahnya Arni sama pak Hendra..?belm kan, trus dari mana keyakinan kalian kalau saya dan Arni saudara"ucap Nanda


"bukan kah tuan Hendra tidak mengakui saya sebagai anaknya..?bukan kah Arni tidak mau memiliki saudara seperti saya ank dari seorang j*l*ng..?"ucap Nanda


"asal kalian tau iyh, saya tidak pernh dirugikan jika tuan Hendra tidak mengakui sya sebagai anaknyA karna mulai sekarang saya tidak membutuhkan sosok itu, tapi yang saya salahkan adalah kenapa pihak bapak masih bisa menghina orang tua saya padahal saya dan ibu syaa yang menjadi korban keserakahan pihak bapak"ucap Nanda


"harta yang kalian nikmati selama ini adalah hak ibu sya kalau kalian lupa akan hal itu, jadi mulai sekarang tidak ada lagi embel-embel saudara"ucap Nanda hendak berdiri.


"Nanda saya mohon ini pertama dan terakhir kalinya syaa memohon kepada kamu, tolong cabut tuntutan kamu sama Arni"ucap Denis melemah.


"kalian pernah ngk sih mikirin perasaan saya..? kalian pernah mikirin kondisi kami ketika orang tua bapak mengambil alih perusahaan keluarga kami..?kalian pernah mikirin capeknya ibu saya berjuang menjadi tukang cuci keliling hanya untuk membiayai syaa..?tidak kan, yang kalian pikirin itu cuma harta dan kedudukan saja"teriak Nanda.


"bapak pernh mikir ngk..?Arni yang mencemarkan nama baik syaa sehingga membuat saya di skors dari kampus, bapak pernh mikir ngk hancurnya syaa pada saat itu dan bapak mikir ngk ngimna rasanya ketika saya harus berbohong kepada orang tau saya..?sakit pak. Saya harus berpura-pura tidak ada masalah ketika bersama orang tua saya,padahal otak saya ini udh capek pak"teriak Nanda ia tidak memandang Denis dosennya lagi.


"bahkan untuk mencabut tuntutan syaa kepada Arni tidak pernh terlintas sedikit pun dalam pemikiran saya, kalian orang berada dan orang berkuasa kenapa kalian yang menggunakan kekuasaan kalian untuk membebaskan Arni, ahh iyh kalian ngk mau rugi iyh"ucap Nanda tersenyum getir.


"yang berkuasa itu suami kamu Nanda Riko Wijaya, bukan keluarga kita"ucap Denis


"kita..?kalian kali, jangan pernah bapak masukkan saya dalam kata kita, karna keluarga kalian iyh keluarga kalian karna sya sudh punya keluarga sendiri, permisi"ucap Nanda meninggalkan ruangan itu, ia membanting pintu dengan sangat keras.


Melihat sikap Nanda sekarang ini Denis dapat gambarkan kalau Nanda mempunyai sikap keras kepala sama seperti ayahnya yang tidak mau kalah.


"aaaaaaaaaaaa"teriak Denis menarik rambutnya frustasi, sangat membutuhkan tenaga yang kuat untuk menghadapi Nanda, selain keras kepala ada seseorang yang siap berdiri dibelakang Nanda.


"jalan satu-satunya syaa langsung berbicara sama Riko, dimana lagi itu anak kok batang hidungnya belm kelihatan"guman Denis sambil berpikir keras.


#####


Setelah melakukan perdebatan dengan Denis Nanda langsung berlari ke arah kamar mandi, disana ia menangis sejadi-jadinya.


"kenapa setelah saya mengetahui fakta itu saya juga harus disulitkan pilihan ini lagi"guman Nanda

__ADS_1


"Nanda harus bagaimana lagi Bu, Nanda benar-benar bingung"batin Nanda menatap dirinya di depan cermin.


Entah kepikiran dari mana Nanda berniat ingin menelepon ibunya meminta pendapat kepada beliau.


"hallo Bu"


"hallo sayang"


"gimana kabar ibu"


"sehat, kalau kalian ngimna kabarnya, nak Riko ngimna kabarnya..?"


"baik Bu, kak Riko sehat kok, sekrng dia lagi dikantor sedangkan Nanda dikampus"


"Nanda kamu lagi baru nangis nak..?


"Bu Nanda mau nanya boleh..?"


"boleh"


"menurut ibu ketika kita meminta keadilan kepada kita bagaimana Bu..?


"Nanda dengar ibu nak, di dunia itu kita tidak perlu yang namanya keadilan Karna keadilan itu tidak menjadi pedoman dalm kita menjalankan hidup, lagian ketika kamu di surga nanti tidak ada pertanyaan keadilan apa yang kamu dapat ketika DIBUMI, tidak ada saya"


"manusia memang tidak memberikan kita keadilan, tapi Tuhanlah yang akan memberikan kita keadilan sejati dan abadi, ingat syaa keadilan dari Tuhan itu tidak pernh merugikan siapapun"


"tumben anak ibu bertanya soal itu, ada masalah kah..?


"ngak kok Bu, semua baik-baik aja..?


"ingat sayang jangan pernh coba-coba hidup bahagia diatas penderitaan orang lain, dan jika kamu punya masalah jangan pernah merasa menjadi orang yang disalahkan tapi merasalah menjadi orang yang menyalahkan, karna ketika kamu merasakan hal itu maka kamu akan dengan mudah meminta maaf, dan masalah selesai"


"apa yang kita cari di dunia ini, seperti apa kita di lahirkan ke dunia ini makan akan seperti itu juga kita di larikan dari dunia ini"


"iyh sudh Bu, obrolan kita sampai dsini iyh, sepertinya kak Riko sudh menjemput Nanda"


"iyh syang, cepat selesaikan masalahnya, ngk ada ibadah yang di dapat ketika kita mengingat masalah"


Sedangkan Nanda hanya mengangguk walaupun ia tau kalau ibunya tidak akan melihat anggukan.


Setelah dirasa tenang akhirnya Nanda keluar dari kamar mandi, yang ia butuhkan saat ini adalah minuman dingin untuk mendinginkan otaknya.

__ADS_1


__ADS_2