Perjalanan Cinta Nanda

Perjalanan Cinta Nanda
bab 96


__ADS_3

sementara disebuah taman yang sedang sepi, di taman itu di tanami beberpa pohon Rindang ditambah di suguhkan dengan danau kecil yang membuat udara disana segar dan sejuk.


Disana terdapat seorng wanita cantik yang sedang duduk disebuah gazebo yang disiapkan oleh pengelola taman,


Dia adalah Vivi, si gadis cantik yang selalu periang di setiap situasi, tapi itu duluh, semenjak ia mengetahui ayah selingkuh dan meninggalkan ibunya seketika keceriaan itu hilang begitu saja di ganti dengan kemurungan di setiap saat.


Sudah hampir tiga jam Vivi disana terhanyut dengan lamunan dan pikirannya, sesekali ia melempar batu2 kecil ke arah danau, tak jarang ia juga tersenyum getir kadang diganti dengan tersenyum kecuk.


Karna terlalu sibuk dengan pemikirannya, ia tidak sadar seseorang telah duduk disampingnya sambil menatap dia lekat.


"dilarang melempar batu kedalam danau"ucap Riyan


"itu batu bukan sampah"ucap Vivi tanpa menatap lawan bicaranya


"nanti danaunya berubah jadi pengunungan bukan perairan lagi.."ucap Riyan


"ngk papa, supaya aku bisa menaiki gunung itu"ucap Vivi.


"Lo suka mendaki gunung,kalau mau Minggu depan kita bisa mendaki"ucap Riyan


"ngk gue cuma iseng aja tadi, gue lebih suka ngepantai, karna di pantai gue bisa melepas rasa sesak yang ada di otak gue"ucap Vivi menatap sosok yang menjadi lawan bicaranya


"ehh kak Riyan, udh lama disini, kok aku baru sadar iyh"ucap Vivi


"sudh, kamu nya aja yang sibuk dengan pemikiranmu sendiri, mikirin apa sih..?"tanya Riyan


"aku juga ngk tau apa yang aku pikirin, tapi otakku berjalan begitu saja, sampai aku tidak sadar, terkadang otak berpikir diluar batas wajarnya.."ucap Vivi tersenyum getir

__ADS_1


"ngk usah terlalu dipikirin, jalani hidup yang sudh disediakan"ucap Riyan


"Tuhan tidak pernah salah meletakkan takdir seseorang"ucap Riyan


"kakak mau ngk bertugas posisi sama aku, kamu jadi aku, dan aku jadi kamu, aku pengeng banget hidup tanpa di hantui oleh sikap ayahku sendiri"ucap Vivi


"jangan sembarangan kalau ngomong, jangn pernah lari dari kenyataan, roda itu berputar Vi.."ucap Riyan


"kakak tau ngk rasanya ketika sosok ayah yang kita anggap sebagai superhero buat kita tiba2 datang kerumah membawa wanita lain dalam keadaan hamil"ucap Vivi sambil bersandar dibahu Riyan


"tidak"jawab Riyan singkat


"biar kayak gini duluh kak, aku butuh pundak untuk menenangkan pikiranku"ucap vivi, sedangkan Riyan mengangguk


"kakak pernah lihat, sosok kalau sedang bersama kita selalu bahagia, tertawa lepas, selalu tersenyum manis, tapi ketika dia sedang sendiri, dia selalu menangis di pojok ruangan, bahkan di depan cermin sekali pun ia bisa menangis."tanya Vivi


"pernah, bahkan sering, hampir setiap hari malah"jawab Vivi tersenyum getir sambil menahan air matanya


"siapa..?"tanya Riyan penasaran


"ibu, sebuah senyuman yang dilapisi kepalsuan pertama kalinya kulihat ada di wajah ibu, senyum untuk menutup luka dan penderitaan pertama kalinya aku lihat situ, diwajah ibu"ucap Vivi, tangisnya pecah ketika senyuman luka ibunya terlintas dikepalanya begitu saja.


"itu alasan kenapa aku selalu menutup diri kepada laki-laki, aku ngk mau kejadian yang dialami ibuku terjadi sama aku, karna dasarnya aku ngk akan kuat menerima, aku ngk bisa menjadi sosok yang paling kuat seperti ibu"ucap Vivi terisak dibahunya riyan.


"aku capek pura-pura bahagia kak, bahkan aku capek harus terlihat baik-baik saja di setiap situasi, aku butuh pelepasan"ucap Vivi lirih


"kamu jangan terlalu sering bersedih dan menangis, ayahmu akan bahagia melihat kamu bersedih diatas kebahagiaanya, sedangkan ibumu akan semakin sedih melihat anak semata wayang bersedih, usaha ibumu akan terbuang sia2 kalau kamu selalu bersedih terus"ucap Riyan

__ADS_1


"justru kamu harus bahagia, supaya ayahmu tidak berhasil membuat kalian terpuruk, kamu haru selalu berusaha, belajar dan berdoa, buktikan kepada ayahmu kalau kamu bisa bahagia tanpa sosok ayah"ucap Riyan lagi.


"kamu juga harus bisa menghilangkan trauma kamu Vi, yang benci sama laki2, karna kalau kita hidup di lingkupi masa lalu dan trauma, hidup ini ngk akan maju sayang, kita hidup untuk masa depan,membentuk masa depan melupakan masa lalu, jangan terlalu jauh tenggelam dimasa lalu,boleh saja masa lalu di ingat tapi jangan sampai larut"ucap Riyan mengelus rambut Vivi


"maksih iyh, aku akan mencoba melupakan segalanya"ucap vivi, sedangkan Riyan hanya mengangguk


Karna terlalu nyaman bersender dibahu Riyan membuat Vivi tertidur dengan nyaman disana, mungkin dia terlalu lemah membuat dia dengan mudah terlelap.


Mendapati Vivi telah tertidur dibahunya, Riyan hanya tersenyum, tangannya terangkat untuk mengelus wajah Vivi dengan lembut.


"gue akan membantu Lo melupakan masalalu Lo, saya minta kerja samanya"batin Riyan


Tanpa terasa hari pun mulai sore, matahari mulai turun dan menimbulkan senja yang sangat indah, Dan selama itu juga riyan dan Vivi berada di pinggir danau itu.


"emmmm"Vivi terbangun dari tidurnya, ia sesekali melirik ke kanan dan ke kiri sembari mengumpulkan kesadarannya, lalu ia mengangkat wajah menatap ke arah lagi yang cerah,meskipun hari mulai sore tapi langit tetap cerah.


"maaf kak, aku tertidur dan maaf juga aku jadi curhat sama kakak, dan makasih sudh mau mendengarkan keluhan"ucap Vivi menatap Riyan sekilas.


"ngk papa, santai aja, saya senang jika seseorang berbagi beban kenapa saya, dan lebih senang lagi kalau saya bisa membantunya"ucap Riyan


"kalau begitu saya langsung pamit iyh, duluan kak"ucap vivi hendak berdiri tapi ditahan oleh Riyan, karna tidak ada keseimbangan tubuh Vivi terjatuh dipangkuan Riyan, untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu, Vivi menatap Riyan dengan gugup dan malu, berbeda dengan Riyan, Riyan menatap Vivi dengan tatapan sendu, dapat ia melihat dari pancaran mata Vivi terdapat luka yang sangat dalam disimpan secara rapat.


Vivi lebih duluh memutuskan kontak tatapan mereka,


"jangan menatap aku begitu kak, karna terkadang jantung ku ngk bisa di ajak kerja sama"ucap Vivi gugup sambil berdiri dari pangkuan Riyan, sedangkan Riyan yang tersenyum menyaksikan kegugupan Vivi.


"aku antar pulang, dan tidak ada penolakan"ucap Riyan sambil menarik tangan Vivi berjalan menuju parkiran taman, sedangkan Vivi hanya menurut saja.

__ADS_1


__ADS_2