
waktu terus berlalu, setelah pulang dari kampus, Nanda langsung menemani Riko bekerja di kantor, seluruh karyawan dikantor menganggap Nanda dan Riko hanya sebatas kekasih bukan suami istri, karna pada dasarnya Nanda mau pun Riko masih setia menyembunyikan pernikahannya, karna terlalu nyaman dengan status mereka di tambah lagi menurut mereka tidak perlu seluruh dunia tau tentang hubungan mereka.
Belum lagi Nanda tidak menuntut Riko untuk membeberkan pernikahan mereka, karna pada awal pernikahan nanda-lah yang ingin pernikahannya di sembunyikan, bukan berarti ia malu mempunyai suami seperti Riko, tapi ia lebih memilih aman dari fans2 fanatik Riko.
Setelah pulang dari kantor Nanda langsung membersihkan diri bergantian dengan Riko untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Riko keluar kamar mandi sambil membawa handuk kecil ditangannya guna mengeringkan rambutnya, sesaat ia memperhatikan Nanda yang sedang terhanyut dalam pikirannya, sampai-sampai ia tidak menyadari Riko telah duduk disampingnya.
"sayang."
"sayang"panggil Riko sambil mengerikan rambut
"ahhh iyh kak, knp..?"tanya nanda tersadar dari lamunannya
"knp kok kamu melamun hmm.?"tanya Riko menatap Nanda
"Nanda ngk papa kak,"ucap Nanda gugup, lalu ia berdiri dan mengambil alih handuk yang ada ditangan Riko, sedangkan Riko hanya tersenyum dan membiarkan Nanda mengerikan rambutnya.
"aku perhatikan akhir2 ini kamu sering melamun, bahkan dikantor pun kau sering melamun"tanya Riko
"ngk papa kak, mungkin hanya kebetulan aja kali"jawab Nanda gugup
"aku tau kamu Nanda, disaat kamu berkata bohong dan disaat kamu berkata jujur"ucap Riko
"kita tuh suami istri sayang, jangan ada yang kamu tutupin, kamu anggap aku dirimu, dan aku menganggap kamu diriku"ucap Riko lagi
"kami mikirin apa sayang, ayo ceritakan, siapa tau aku bisa bantu"tanya Riko menuntun Nanda untuk duduk disampingnya.
"aku...aku..aku..aku"ucap Nanda dilanda kegugupan
"aku..aku apa sayang, masalahnya kata aku ini ngk bakal habis2, ayo dong cerita.."ucap Riko membujuk Nanda
Sebentar Nanda memejamkan matanya menarik napas panjang lalu mengeluarkan dengan kasar.
"aku memikirkan hakmu"jawab Nanda cepat lalu memalingkan wajah ke sembarang arah.
"aku takut kamu akan mencari pelepasan ke wanita lain, aku ngk sanggup membayangkan itu semua kak, padahal nyatanya kakak sudh punya istri"ucap Nanda lirih menatap Riko
"setelah aku pikirin beberapa hari ini, aku sudh siap memberikannya kapan pun kakak minta, karna itu adalah kewajiban ku, dan aku ngk mau menumpuk dosa dengan tidak menafkahi suamiku secara biologis"ucap Nanda lirih dengan mata berkaca-kaca tanpa berani menatap riko
__ADS_1
"maaf kak, aku belm bisa menjadi istri seutuh buat kakak, tapi untuk saat ini aku benar-benar sudh siap untuk menjadi istri kakak yang seutuhnya"ucap Nanda.
Mendengar curahan hati nanda, Riko langsung menarik Nanda kedalam pelukkannya, ia memeluk gadis itu dengan sangat erat, sesekali ia mencium pucuk kepala Nanda dengan sangat dalam.
Jawaban dari pertanyaannya beberapa hari ini terjawab, ia sudh mengetahui mengapa Nanda beberapa hari ini sering melamun dan tiba2 mengelengkan kepalanya, ia juga tidak sampai kepikiran bahwa Nanda akan berpikir keras tentang hak yang belm ia dapatkan seutuhnya, dan ketika mendengar jawabannya hatinya sedikit tersentil, dibalik sikap cueknya Nanda ternyata Nanda juga selalu memikirkan kebutuhan biologisnya.
"kan aku sudah pernh bilang, jangan pernah kamu pikirkan semua ini, aku bakal menunggu kamu sampai benar2 siap"ucap Riko lembut, "bahkan aku tidak pernh berniatan untuk mencari pelepasan ke wanita lain, karna aku hanya ingin cuma kamu wanita satu2nya yang bisa menerima benih dari ku"ucap Riko tulus
"jadi aku sangat memohon supaya kamu tidak membuat hal itu menjadi beban pikiranmu, aku tidak ingin kau jatuh sakit bahkan stres karna memikirkan hal itu"ucap Riko menatap Nanda
Mendengar pernyataan Riko,Nanda semakin terisak di pelukkan Riko, rasa bersalah itu kembali muncul dibenak Nanda,bahkan ia merasa istri tidak bencus buat Riko, disaat pengantin lain menikmati malam pertama diawal pernikahan, tapi bagi mereka tidak ada istilah seperti itu, bahkan pernikahan mereka sudah memasuki usia beberapa bulan, mereka belm buka segel, lebih tepat Riko belm membuka segel istrinya karna ia masih setia menunggu kesiapan Nanda.
"miris"
Itulah yang dia pikirkan tentang pernikahan mereka, lebih tepatnya kata miris lebih cocok disamakan dengan dirinya, sangat miris melihat dirinya yang belm bisa menjalan kewajibannya sebagai istri, bahkan belm bisa dikatakan sebagai istri, lebih tepat ia masih bisa dikatakan sebagai gadis, statusnya istri tapi keadaannya masih gadis.
****ยข$$$
Setelah mengeluarkan semua ada di dalam pikiran Nanda masih terus terisak dalam diamnya di pelukkan riko, Riko yang mendapati menangis tapi tidak mengeluarkan suaranya, ia juga sakit melihatnya, ia berusaha menahan air matanya yang sedari tadi hendak terjatuh, ia tidak boleh menangis dihadapan istrinya.
Setelah beberapa saat hanya terjadi keheningan dan dirasa Nanda sudh mulai tenang, perlahan Riko melepas pelukkannya ia menatap wajah Nanda dengan seksama.
"aku mau menjalankan kewajiban ku sebagai istri malam ini"cicit Nanda.
Mendengar suara nanda, sejenak Riko menatap setiap inci wajah Nanda, sementara yang di tatap sudh setia aja menutup matanya.
"kalau kamu belm siap jangan di paksa, aku akan selalu setia menunggu kamu, jangan karna kamu dihantui dengan kebutuhan biologisku membuat kamu menjadi terpaksa melakukannya syang, aku ngk mau kamu tertekan dengan semua ini"ucap Riko lembut takut menyakiti hati Nanda, lalu ia mencium kening Nanda.
"kak please, justru dengan aku menunda2 akan membuat beban pikiran aku tidak berkurang, setidaknya dengan aku menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milik kakak, beban akan menjadi berkurang"ucap Nanda tulus dan gugup
"aku tidak mau menambah dosa lagi,"ucap Nanda tanpa menatap Riko.
"baiklah, jika dengan kita melakukannya beban pikiran kamu bisa berkurang barang sedikit, tapi sebelmnya kita berdoa duluh"ucap Riko lembut, lalu menyatukan tangan mereka, Riko memimpin doa.
Setelah selesai berdoa Riko langsung menyatukan kening mereka, sejenak ia memandang mata Nanda yang masih tertutup, lalu ia mencium pucuk kepala Nanda, mencium kening lalu beralih ke mata nanda secara bergantian.
"apakah kamu sudh siap, aku akan berusaha pelan2, kalau kamu merasa sakit, kamu bisa menarik rambutku"ucap Riko lembut, sedangkan Nanda hanya mengangguk tanda mengerti.
"tapi aku takut kak, pasti sakit kan, soalnya aku sudh baca di artikel katanya malam pertama itu sakit"cicit Nanda malu.
__ADS_1
Sementara Riko berusaha menahan tawanya, melihat wajah Nanda saat ini sangat mengemas, seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan mainan, Tapi untuk sepersekian detiknya wajah Riko berubah menjadi sendu, ia tidak menyangka kalau Nanda mempersiapkan ini jauh2 hari, sampai harus membaca artikel tentang malam pertama.
"awalnya pasti sakit sayang, tapi nanti sakitnya bakal hilang sendiri, aku akan berusaha selembut mungkin"ucap Riko mengelus pipi Nanda lembut, sedangkan Nanda mengangguk sambil menutup matanya.
Sebelum memulai aksinya sebentar Riko menutup mata, tidak dapat di pungkiri ia juga merasakan kegugupan, karna ini pengalaman pertamanya melakukan hubungan suami istri, perlahan ia menarik napas dalam lalu membuang secara kasar.
Lalu ia mencium bibir Nanda dengan lembut dan menuntun, perlahan Nanda membalas ciuman Riko tanpa sadar Nanda sudah mengalungkan tangganya dileher Riko, Dirasa Nanda sudah kehabisan napas Riko melepas ciumannya lalu mengusap bibir Nanda yang sudah basah.
"bernapas sayang"ucap Riko sambil menatap wajah Nanda.
"jangan menatap wajahmu seperti itu kak"cicit Nanda malu, sedangkan Riko hanya tersenyum melihat tingkah Nanda.
perlahan Riko mencium leher jenjang milik Nanda, tak jarang ia juga meninggalkan jejak kepemilikan disana, sementara Nanda mengigit bibir bawahnya guna menahan ******* yang keluar dari bibir mungilnya.
"jangan ditahan sayang, keluarkan aja"ucap Riko melihat Nanda mengigit bibir bawahnya.
Secara perlahan ******* demi ******* pun keluar dari mulut Nanda, dia tidak bisa tahan dengan kelembutan yang diberikan oleh Riko.
Tanpa sadar saat ini mereka sudah lama keadaan polos, entah sejak kapan Riko membuka semua pakaian nanda, Riko mencium setiap inci tubuh Nanda tanpa terlewatkan.
"aku akan melakukannya, aku akan berusaha secara lembut, kalau kamu kesakitan kamu tarik aja rambutku"bisik Riko ditelinga nanda, sedangkan Nanda hanya mengangguk.
perlahan Riko melakukan penyatuan mereka, walaupun agak sulit tetap Riko berusaha melakukannya selembut mungkin, ketika nanda merasa daerah sensitifnya sakit, ia dapat pahami kalau Riko telah melakukannya,
"arahkan aku Tuhan untuk menjadi istri yang baik kepada suamiku, tuntun dan ajarin aku untuk selalu taat kepada suamiku"batin nanda, tanpa terasa air mata Nanda keluar begitu saja, ia mengeluarkan air matanya bukan karna sakit, tapi ia mengeluarkan air matanya karna bahagian telah melakukan kewajibannya sebagai istri seutuhnya.
Melihat Nanda menangis Riko langsung mencium kedua mata Nanda bergantian.
"maaf aku menyakitimu"bisik Riko ditelinga nanda
Setelah beberapa jam melakukan penyatuan kini Riko menjatuhkan dirinya di samping Nanda, sejenak ia memandangi wajah Nanda yang sudh terlelap, tangan terangkan untuk menghapus keringat yang ada di kening Nanda,
"maksih kamu sudh menjaganya buat aku, dan maksih sudah mau menjadi istriku, maaf aku belm bisa menjadi suami terbaik buat kamu"bisik Riko ditelinga nanda lalu mencium kening Nanda dengan sangat dalam dan lama, lalu ia memperbaiki selimut yang menutup tubuh polos Nanda.
Lalu Riko berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri, ia tidak membangunkan Nanda untuk membersihkan diri, karna ia tau kalau Nanda pasti sangat kelelahan
Setelah selesai membersihkan diri tanpa menunggu lama Riko pun menyusul Nanda ke alam mimpi, tak lupa ia memeluk tubuh Nanda sebagai pengganti gulingnya.
terimakasih atas kunjungan dan dukungan sya minta saran dan kritik yang membangun ๐๐ jangan lupa like
__ADS_1