
Setelah berhasil menyelamatkan Nanda, Riko langsung membawa Nanda kerumah sakit salah di kota Yogyakarta, disana juga sudh ada bunda dan ayah yang baru pulang dari Jakarta dinas luar kota.
"ko, duduk syaang, kita bantu dalam doa"ucap bund Tika karna melihat Riko mondar mandir di depan pintu UGD
"ngimna aku bisa duduk bund, Nanda di dalam sedang tidak baik2 aja"ucap Riko tanpa menatap bunda
"sambil menunggu dokter, kamu bisa ceritakan ngimna kejadian itu semua,"ucap ayah, mendengar suara Farhan, Riko langsung berjalan mendekatin ayahnya.
Lalu Riko menceritakan semua kejadian yang menimpah nanda, mulai dari ia di culik sampa dengan ia dilecekan oleh si pelaku.
"pokoknya Riko ngk akan beri ampun sama pelakunya nyah"ucap Riko dengan wajah emosi
"kamu tau siapa pelaku..? biar ayah laporkan ke polisi, ini tidak bisa dimaafkan." ucap ayah menata Riko, sedangkan Riko hanya mengangguk.
"jangan duluh yah, aku ingin bermain-main dengannya duluh, aku ingin membalaskan semua perbuatannya yang sudah ia lakukan buat Nanda"ucap Riko tanpa menatap ayah
"serahkan ke pihak yang berwajib ko"ucap bunda
"ngk bunda, aku ngk mau dia duduk tenang di penjara, tapi Nanda menderita dirumah sakit menghadapi traumanya, aku ngk terima"ucap Riko membayakan wajah ridho si manusia bejat itu sambil mengepal tanganya.
sedangkan ayah dan bunda hanya diam, mereka tau Riko, jika ada yang mengusik miliknya maka dia tidak akan memberi ampun, apalagi yang di usik sekrang adalah istrinya sendiri.
**
"keluarga Nanda"teriak dokter yang baru keluar dari ruang UGD
"saya dok, ngimna keadaan istri saya"tanya Riko
__ADS_1
"istri anda baik-baik saja, dia hanya syok, dia hanya kelelahan mengakibatkan dia pingsang, di tambah dia belm ada asupan makannan dan cairan bebrapa hari ini, nanti kalau dia sudh sadar bisa di kasih minum sedikit-sedikit,"ucap dokter
"tapi...."ucap dokter dengan wajah cemas
"tapi apa dok?"tanya Riko tak kalah cemas, ia berpikir kalau dokter ngomng tapi berarti Nanda dalam bahaya
"tapi luka di leher dan di lengannya lumayan bahaya, mungkin luka itu sudh beberapa hari tidak di obatin, mengakibatkan lukanya infeksi parah"ucap dokter menatap mereka bergantian
"trus tindakan selanjutnya apa dok"tanya ayah Farhan
"kami sudh membersihkan luka, dan kami juga sudah memberikan obat penghilang infeksi secara pelahan"ucap dokter
"bisa saya masuk dok"tanya Riko
"bisa, selagi tidak menganggu istirahat pasien, karna pasien harus benar-benar istirahat, pasien benar2 lemah pak, kalau begitu saya permisi"ucap dokter, sedangkan mereka hanya mengangguk tanda mengerti.
****
Lalu ia mendekati tempat tidur Nanda, ia memandang lekat wajah Nanda, pipi yang merah dan sudut bibir yang membengkak, ia tau Nanda pasti sudh di tampar dengan sangat keras, lalu matanya menatap mata Nanda yang sedang tertutup, mata itu sekrng dalam keadaan bengkak, melihat kondisi Nanda saat ini lagi2 hatinya ikut terilis tanpa sadar ia mengeluarkan air yang sedari tadi ditahakan
"kamu pasti ketakutan selama disana kan"ucap Riko sambil menatap wajah Nanda.
"maaf iyh aku belm bisa jagain kamu, tapi aku janji ini yang terakhir kalinya terjadi sama kamu"ucap Riko memengang tangan Nanda.
"kalau kamu udh bangun, ngk papa kalau kamu mau marah, tapi marahnya jangan lama-lama iyh"ucap Riko "aku kangen banget sama kamu, kangen semua yang ada di kamu"ucap Riko sambil mencium tangan Nanda.
"cepat sembuh syaang, I love you"ucap Riko sambil mencium kening Nanda dengan hanngat dan dalam
__ADS_1
Sudah hampir beberapa jam Nanda belm membuka matanya, ia masih setia menutup mata, mungkin terlalu malu untuk menatap kembali dunia setelah apa yang terjadi padanya, bahkan mungkin ia marah kepada dunia karna membuat takdirnya sekejam itu.
"jangan aku mohon....jangan lakukan itu hik hik hik"teriak Nanda histeris tapi tidak membuka matanya
"tolong...tolong.....siapapun tolongin gue..."teriak Nanda lagi lebih histeris
Mendengar suara teriak Nanda Riko, bunda dan ayah langsung berlari masuk kedalam kamar inap Nanda, mereka melihat Nanda yang terus berteriak tapi tidak mau membuka mata
"heiii...sayang bangun..kamu sudh aman sayang, aku disini, kamu sudh ditempat aman sekrng"ucap Riko mencoba menenangkan Nanda sambil menepuk2 pipi Nanda pelan.
"tolong...jangan mendekat, tolong jangan lakukan itu,..please aku takutt"teriak Nanda, bukan semakin tenang, tapi Nanda semakin teriak histeris.
Dengan sigap bunda langsung menekan tombol yang ada di dekat ranjang Nanda.
Tak lama dokter dan suster pun datang keruangan itu dengan keadaan panik.
"keluarga pasien tolong keluar, biar dokter leluasan memeriksa pasien"ucap salah satu suster yang mendampingin dokter.
lalu keluarga Riko langsung keluar dari ruangan itu, membiarkan tim medis memeriksa dan menenangkan Nanda.
bunkkkk bunkkkk
aaaahhhhkkkkkkkk
Riko memukul tembok dirumah sakit sambil teriak, ia meluapkan kesedihan dan emosinya dengan memukul tembok sampai tangannya terluka parah.
"jangan menyakiti diri kamu sayang, Nanda butuh kamu sekrng, kalau kamu terluka siapa yang akan mendukung Nanda, dengan kondisinya sekrng dia butuh dukungan dari kamu nak, suaminya"ucap bunda Tika menenangkan Riko, ia juga menangis melihat kondisi menantunya yang sangat berantakan, ia tidak menyangka kejadian naas ini akan menimpah menantunya.
__ADS_1
"aku suami yang tidak berguna bund, aku sakit melihat Nanda seperti itu, aku ngk kuat bund, kalau boleh aku yang akan mengantikan Nanda untuk merasakan sakitnya"ucap Riko menangis di pelukkan bundanya, untuk pertama kalinya ia sangat2 lemah dihadapan keluarganya, biarlah ia dikatai lelaki cengeng, yang pastinya dia tidak kuat melihat kondisi wanitanya sekarng ini, wanita yang baru dia temui bebrapa bulan yang lalu dan mempersuntingnya beberapa bulan yang lalu juga.
"kamu bukan suami yang tidak berguna sayang, di umur kamu yang sekrng kami termasuk suami hebat, Nanda bangga punya suami hebat kayak kamu, kita tidak pernah tau musibah apa yang akan datang dalam hidup kita, justru sekrang ini kamu harus selalu berada di dekat istri kamu, kami doakan dia, kamu dukung dia dan kamu jaga dia"ucap bunda sambil mengelus rambut Riko lembut, sedangkan Riko mengeleng sambil menangis di dekapan bunda