
Tiga hari kemudian...
Cerahnya langit pagi di Padepokan Pancanaka membuat semua penduduknya mwrasakan semangat baru.
Suara burung yang saling bersautan menambah suasana semakin asri dan juga damai.
Terlihat seorang anak manusia dengan tampilan sederhananya didepan gubuk kesayangannya.
Guntur, itulah orangnya yang tengah merasakan hangatnya sinar mentari pagi yang menerpa wajah beserta tubuhnya.
" Andai akan seperti ini terus maka kehidupan menjadi lebih baik tanpa adanya sebuah peperangan apapun, " gumamnya dalam hati.
Lalu terdengar suara seseorang yang sangat dia kenal dari belakangnya.
" Mas Gun, " ucap orang itu.
Guntur pun segera untuk menoleh kearah kebelakang.
Nampak 7 orang yang tengah menatap Guntur dengan senyum tulusnya.
" Kalian..., " ucap Guntur lalu tersenyum.
" Mas Gun... Kami siap untuk latih tanding secara tim untuk yang terakhir kalinya sebelum turnamen..., " ucap salah seorang diantaranya yaitu Julian.
" Hmm... Baiklah, " ucap Guntur lalu Guntur kembali menjentikkan jarinya seperti biasa untuk membuat dimensi cermin.
Setelah itu Guntur pun kembali menatap semua muridnya dengan tajam.
" Mas Gun... Siapa lawan kami? " ucap Umar penasaran.
Entah kenapa perasaan salah satu dari mereka yaitu Ridwan sangat tidak enak mengenai latih tanding tim terakhir ini.
Dirinya nampak sangat gusar dan juga hatinya terasa sangat sakit.
" Kenapa aku merasakan sakit dan juga khawatir? Seolah-olah setelah semua ini aku tidak lagi bertemu dengan mas Gun, " ucapnya dalam hati.
Insting dan juga perasaan Ridwan memang sudah sangat teruji lebih tajam dari pada yang lainnya setelah berlatih dengan Guntur selama ini.
Maka dari itu Ridwan sangat percaya dengan itu karena tidak pernah meleset dan pasti akan terjadi kenyataan.
" Bro... Fokuslah karena kali ini aku tidak akan bermain-main lagi dengan kalian, "
Alangkah terkejutnya Ridwan karena mendapatkan pesan dari Guntur melalui telepati.
Namun setelah itu Ridwan mencoba untuk fokus dengan apa yang akan terjadi sekarang ini.
" Jika kalian dapat mengambil sebuah lonceng ini dari pinggangku maka kalian menang, " ucap Guntur dengan serius.
" Ehh... Itu berarti lawan kami adalah...? " ucap Julian tidak percaya.
" Benar... Lawan kalian adalah... AKU! " ucap Guntur yang langsung menghilang dari pandangan mereka.
Seketika itu juga mereka semua terkejut karena tiba-tiba saja Umar terlempar beberapa puluh meter kebelakang dan berhenti saat tubuhnya menabrak sebuah pohon yang cukup besar.
Tidak ada yang tahu pasti Umar terlempar dengan cara apa, entah itu terkena pukulan, tendangan atau hanya lambaian tangan.
" Uuaaagghhhh...., " ucap Umar yang terlempar.
" Fokus! " teriak Guntur menggunakan telepati kepada semua muridnya.
Langsung saja mereka semua kembali fokus terhadap apapun disekitarnya.
Guntur pun kembali muncul beberapa meter didepan mereka dengan membuka pintu jawara ke 2 nya namun dapat dirasakan oleh semuanya bahwa aura Guntur sangat berbeda dari mereka semua karena jauh lebih kuat walaupun mereka sendiri sangat abnormal.
Setelah itu, Guntur mengeluarkan Toya Aksara miliknya dari cincin dimensinya lalu mengarahkan ke arah mereka.
" Gelandang Buta : Sang Aji Pambubar! " ucap Guntur yang langsung mengarahkan tusukan toya miliknya kepada semua muridnya.
Srugh...
" Cepat menghindar! " teriak Julian lalu dengan cepat mengeluarkan benangnya untuk menjerat semua teman2nya untuk membantu mereka semua menghindar ke samping kanan.
Namun...
Wussss.....
Seketika gelombang kejut dari toya aksara Guntur melesat dengan cepat melewati semua muridnya.
" UMAR! " teriak Ridwan panik.
" Sialan! " ucap Julian yang langsung melesatkan benangnya untuk menangkap Umar namun terlambat.
Boom...
Ledakan besar terjadi sampai-sampai pohon yang menahan Umar pun langsung menjadi abu.
" Aaaaarrrgghhhh TIDAK!...., " teriak Ridwan frustasi.
Hanya dalam beberapa detik saja mereka semua melihat betapa mengerikannya guru mereka yaitu Guntur.
" Mas Gun memang sangat mengerikan, " pikir Julian yang tidak berbeda dengan Ridwan.
Disaat debu ledakan itu menghilang, nampak seperti tumbukan bulu yang tengah menggunung.
Namun setelah mereka melihat dengan teliti lagi ternyata tumpukan bulu itu adalah sepasang sayap yang tengah melindungi seseorang yaitu Umar.
" Astaga..., " ucap Julian dan yang lainnya melihat Umar yang baik-baik saja. Padahal beberapa detik sebelumnya nampak dengan jelas di mata mereka kalau Umar terkena jurus Guntur dengan telak.
Lalu, Umar pun membuka sayapnya hinga nampak memekarkan kedua sayapnya dan membuka kedua matanya memperlihatkan kedua pupil matanya yang sudah berwarna oren dengan titik hitam bagaikan mata burung elang.
" Jika hanya segini kau tidak akan bisa mengalahkanku, mas Gun, " ucap Umar.
__ADS_1
" Hahahaha... Kau memang seorang petarung Umar, tapi tidak untuk sekarang! " ucap Guntur yang langsung melesat kearah Umar dengan sangat cepat, begitu juga dengan Umar yang juga melesat kearah Guntur dengan sangat cepat.
Booomm...
Terjadilah bentrokan antara pertarungan Guntur melawan Umar yang nampak sangat sengit.
Sedangkan yang lainnya merasa tertegun melihat pertarungan mereka terlebih melihat Umar yang kini nampak jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ridwan yang merasa jiwanya tentantang itu tubuhnya bergetar hebat.
" Sialan kau Bro Umar.... Kalau mau bersenang-senang ajak-ajak aku dan yang lainnya, jangan sendirian begitu! " teriak Ridwan.
Lalu dengan segera Ridwan berlari ke arah pertarungan mereka dan juga Ridwan langsung mengaktifkan mode api nya untuk segera membantu rivalnya itu.
Julian dan yang lainnya juga merasa tertantang setelah mendengar teriakan Ridwan lalu dengan cepat mereka menyusul Ridwan dan Umar dengan kekuatan mereka masing-masing.
Julian langsung mengaktifkan mata emasnya dengan Langkah Netranya untuk dapat melihat hal apa saja yang akan terjadi untuk kedepannya supaya dirinya bisa untuk membuat sebuah strategi untuk bisa mengambil lonceng yang terikat di sabuk lusuh milik Guntur.
Begitu juga dengan yang lainnya yang hanya merubah mata mereka menjadi ciri khas mereka sekarang ini.
Tetapi walaupun hanya mata mereka saja, namun kekuatan mereka akan bertambah berkali-kali lipat.
Dengan kebersamaan mereka, mereka dengan tekat yang kuat mulai menyerang Guntur sebagai tim.
Julian sebagai otak dari tim tersebut dengan cepat melakukan intruksi strategi untuk dapat mengalahkan Guntur dengan cara mengambil sebuah lonceng dari pinggang Guntur.
***
Krincing...
Krincing...
Krincing...
" Hahaha... Akhirnya kita bisa menang... Hah.. Hah... Hah..., " ucap Umar yang sedang terbaring lemah diatas tanah sambil mengenggam tali lonceng dan diacungkannya keatas.
" Hahhahaha... Hah... Hah... Tapi kita babak belur, " ucap Ridwan yang juga terbaring lemah diatas tanah.
" Hahahaha... Kita menang! " ucap Alisa kegirangan sambil terduduk lemas.
Begitu juga dengan yang lainnya, mereka semua merasa sangat bahagia atas keberhasilan mereka.
Seketika Roro langsung mrnggunakan kekuatan uniknya untuk menyembuhkan teman-temannya yang babak belur.
Dalam pelatihan latih tanding untuk menyerang Guntur, mereka selalu kalah dengan telak selama ini, maka dari itu kemenangan mereka untuk yang pertama kalinya, mereka merasakan kepuasan tersendiri pada diri mereka.
Guntur yang berdiri beberapa meter didepan mereka juga tersenyum puas.
Walaupun mereka babak belur namun mereka telah berhasil menang dengan usaha mereka sendiri sebagai tim.
" Kalian sudah jauh lebih kuat dan aku sebagai pelatih kalian merasa puas, " ucap Guntur sambil tersenyum senang.
Seketika mereka semua langsung berdiri walau keadaan mereka yang lemah dan babak belur.
" Baik mas Gun... Tanpa mas Gun, kami tidak akan berkembang sejauh ini, " ucap Julian tersenyum.
" Semua ini dari usaha kalian sendiri, aku hanya pelantara untuk menjadikan kalian lebih kuat, " ucap Guntur.
" Diluar sana banyak sekali orang yang jaih lebih kuat dari kalian, maka teruslah berlatih untuk lebih menjadi kuat lagi, " ucap Guntur kembali.
" Baik mas Gun..., " ucap mereka serempak.
" Hmm.. Baiklah, sekarang kalian keluarkan semua gaman kalian lalu taruh didepan kalian, " ucap Guntur.
Sontak saja semuanya merasa bingung dengan ucapan Guntur, namun mereka semua patuh untuk melakukannya.
" Sebagai rasa terima kasihku, ini hadiah untuk kalian dariku dan Srikandi Bercadar, " ucap Guntur sambil menggerakkan tangan kanannya.
Seketika muncul tujuh pola aksara dengan pola jawa yang sangat rumit terlihat dengan jelas.
Berbagai warna tujuh pola aksara itu muncul dengan pola yang berbeda.
- Hitam kemerahan
- Biru keputihan
- Emas polos
- Ungu kehitaman
- Hijau kebiruan
- kuning kehitaman
- Putih polos
Lalu ketuju pola dengan beragam warna itu dengan berlahan memunculkan sebuah gaman dengan warna yang sama sesuai warna pola tersebut.
Gaman-gaman itu memiliki aura yang begitu kuatnya bahkan sanggup menekan para jawara dan aksara sempurna dan juga praktisi bela diri lainnya.
" Kuat sekali, " ucap Julian terkejut melihat dan merasakan semua gaman itu.
" Lebih kuat dari pada tombak milikku, " ucap Ridwan.
Begitu juga yang lainnya yang juga kagum sekaligus ngeri terhadap gaman-gaman itu.
Warna Hitam kemerahan memunculkan sebuah tombak yang jauh lebih modis dengan gagang berwarna hitam kemerahan dengan ukiran aksara jawa yang sangat rumit namun terlihat indah dipandang, lalu disusul dengan sebuah pedang bermata dua cukup besar dan nampak sangat tajam dan kuat sebagai ujung tombaknya berwarna hitam legam. Juga terdapat sebuah kalimat pada tengah pedang tersebut menggunakan aksara jawa berwarna merah yang bertuliskan ' Sang Api Pandawa '.
Warna biru keputihan memunculkan sebilah pedang bermata satu dengan panjang satu setengah meter berwarna putih kebiruan. Pedang itu memiliki gagang berwarna biru dengan ukiran aksara jawa berwarna emas. Lalu pada bilah pedangnya terdapat tulisan dengan aksara jawa yang bertuliskan ' Sang Maruta Alam '.
Warna emas polos memunculkan sepasang gelang berwarna emas polos dan terdapat sebuah ukiran aksara jawa bernarna ungu serta terdapat tulisan dengan aksara jawa berwarna hitam yang bertuliskan ' Sang Netra Emas '.
__ADS_1
Warna Ungu kehitaman memunculkan sebuah cakar dengan tiga pisau bermata dua yang sangat tajam dan kuat berwarna hitam dengan sebuah seperti sarung tangan berwarna ungu yang dihiasi dengan pola aksara jawa berwarna emas dan terdapat sebuah tulisan aksara jawa pada tengah sarung tangan itu berwarna putih kebiruan yang bertuliskan ' Sang Betari Ayu '.
Warna hijau kebiruan memunculkan sebuah nunchaku yang nampak sangat berbeda dari biasanya. Nunchaku tersebut memiliki warna hijau polos sebagai dasarannya lalu pola aksara jawa berwarna hitam. Pada kedua bagian ujungnya terdapat sebuah benjolan bulat berwarna hitam dengan garis-garis hitam melingkar. Terdapat juga sebuah pola dengan aksara jawa berwarna emas yang bertuliskan ' Sang Sawering Ratu '.
Warna kuning kehitaman memunculkan sebuah cambuk yang tergulung berwarna kuning dengan garis-garis hitam yang melingkar. Ditengah lingkaran garis hitam tersebut terdapat pola-pola aksara jawa yang begitu rumit. Panjang cambuk itu hanyalah dua meter saja namun cambuk itu bisa memanjang atau memendek sesuai keinginan tuannya. Dibagian gagang cambuk yang hampir mirip dengan gagang pedang berwarna hitam tersebut terdapat sebuah tulisan dengan pola aksara jawa yang bertuliskan ' Sang Sarining Madu '.
Warna putih polos memunculkan sebuah yang sangat berbeda dari yang lainnya karena senjata itu hanyalah berupa sebuah bambu berwarna kuning emas dengan ruas berwarna putih namun pada tengah ruas bambu tersebut memiliki pola-pola aksara jawa berwarna hijau lumut yang sangatlah kecil yang tersusun rapi. Pada ujung ruas atas terdapat sebuah aksara jawa berwarna hitam yang bertuliskan ' Sang Cahya Pangarep '.
Setelah semua gaman keluar dari pola aksara jawa yang Guntur buat, semua gaman yang mereka miliki langsung tertarik lalu masuk kedalam gaman yang telah keluar dari dalam pola tersebut.
Setelah masuknya gaman lama mereka seketika semua gaman itu bersinar sesuai dengan warna mereka dengan terang, lalu dengan cepat gaman-gaman itu melesat ke arah tuan mereka dan merubah wujud mereka untuk berkamuflase.
Ridwan dengan tombaknya yang baru langsung melingkar pada lehernya menjadi sebuah kalung.
Umar dengan pedangnya yang baru langsung melingkar di jari manis di tangan kanannya.
Julian dengan gelangnya yang langsung menjadi sepasang gelang di kedua tangannya.
Yuni dengan nunchakunya yang baru langsung menjadi gantungan anting sebelah telinga kanannya.
Alisa dengan cakarnya yang baru yang cakarnya dapat masuk kedalam wadahnya yang berupa sarung tangan itu langsung menjadi sarung tangan pada tangan kanannya.
Putri dengan cambuknya yang baru langsung menjadi ikat pinggangnya.
Roro dengan senjata barunya yang memang sebelumnya Roro adalah pengguna tongkat sama seperti Guntur, senjata itu langsung menancap pada sisi kiri kerudungnya menjadi sebuah bros yang terlihat sangat cocok untuk Roro dan menambah kecantikkannya kala bros bambu itu terpasang pada kerudungnya.
" I-ini..., " ucap Umar yang kebingungan dengan semua kejadian yang baru saja dia lihat dan alami.
Begitu juga dengan yang lainnya kecuali Ridwan yang memang sudah pernah mengalami hal serupa.
" Itu adalah gaman kalian yang baru yang sengaja aku buat untuk kalian, aku juga sudah menambahkan pola aksara pada senjata kalian jadi gaman kalian memiliki opsi tambahan dan hanya kalian sendiri yang bisa menggunakan gaman kalian sekarang ini, " jelas Guntur sambil tersenyum.
" Ehh... Se-serius mas? " tanya Umar terkejut tidak percaya.
" Jika kalian tidak percaya coba saja kalian saling tukar gaman kalian, mungkin kalian akan langsung merasakan efeknya tapi jika kalian ingin tidur di rumah sakit sih, hehehe, " ucap Guntur sambil terkekeh.
" Eh..., " ucap mereka dengan saling pandang satu sama lain.
" Lalu, bagaimana cara menggunakan gaman kami mas? " tanya Julian penasaran.
" Kalian hanya cukup memikirkannya saja untuk menjadi gaman kalian dan untuk mengembalikannya seperti semula kalian juga harus memikirkannya juga, " ucap Guntur.
Setelah itu mereka mencoba mempraktekkan apa yang diucapkan oleh Guntur.
Setelah mereka berhasil, betapa senangnya mereka seperti mendapatkan mainan baru.
" Sudah-sudah... Kita keluar dari sini karena di luar sudah malam, " ucap Guntur.
" Baik mas, " ucap mereka serempak.
Guntur pun segera menjentikkan jarinya untuk kembali ke dunia nyata dan seperti apa yang diucapkan oleh Guntur jika sudah malam.
" Mas Gun... Terima kasih atas gaman yang kau berikan kepada kami dan juga bimbingan serta pelatihan selama ini, " ucap Julian sambil membungkukkan badannya.
Begitu juga dengan yang lainnya, mengikuti apa yang julian lakukan.
" Sama-sama... Mulai sekarang kalian aku bebaskan sampai satu minggu sebelum turnamen, itu berarti kalian ada waktu dua minggu lagi untuk kalian bebas, " ucap Guntur.
Namun mereka hanya terdiam saja mendengar ucapan Guntur karena sejatinya mereka semua tidak mau berpisah dengan Guntur dan mereka juga sudah bertekat untuk selalu mengikuti kemanapun Guntur menginjakkan kakinya.
" Hais kalian ini, begini... Aku sarankan kepada kalian untuk pulang ke kediaman kalian, temuilah keluarga kalian apalagi orang tua kalian, "
" Basuhlah kedua kaki kedua orang tua kalian menggunakan air hangat, setelah itu usaplah dengan handuk sampai kering lalu ciumlah kedua kaki orang tua kalian... Mintalah restu kepada mereka dan juga mintalah doa kepada mereka untuk kalian melangkah untuk masa depan kalian, " jelas Guntur.
Begitu mereka mendengar alasan Guntur membebaskan mereka, sontak saja mereka semua meneteskan air mata mereka.
Perasaan rindu kepada orang tua dan juga kehangatan pelukan dan kasih sayang orang tua mereka yang mungkin sudah lama mereka tidak rasakan karena menuntut ilmu di padepokan.
" Pulanglah... Buang semua nafsu angkara kalian kepada mereka untuk masa depan kalian yang lebih baik lagi, " ucap Guntur sambil tersenyum tulus.
" Mas... Bagaimana denganku? Hiks... Hiks..., " ucap Yuni yang menahan tangisnya dan teringat akan kedua orang tuanya yang telah wafat.
" Pulanglah ke panti asuhan, bagaimanapun suster kepala panti asuhan sudah merawatmu dari kecil sampai kau bisa mandiri seperti ini... Lalu berziarahlah ke makam kedua orang tuamu..., " ucap Guntur yang juga teringat dengan keluarganya di puncak bukit.
" Baik mas Gun, " ucap Yuni sambil menghapus ait matanya.
" Pulanglah kalian, " ucap Guntur lalu membalikan badannya dan menatap langit malam yang nampak dihiasi bintang-bintang yang cerah.
" Kami pamit, assalamualaikum..., " ucap mereka semya secara serempak lalu melesat menuju asrama mereka masing-masing untuk bersiap akan kembali ke kediaman mereka.
" Waalaikum salam... Semoga setelah ini jalan mereka semakin terang, " gumam Guntur pelan.
Hening...
Guntur pun terus menatap langit malam dengan tenang yang hanya ditemani oleh suara-suara hewan malam sampai seseorang datang kepadanya tepat dibelakangnya.
" Mas, " ucap orang itu.
" Hmm..., " ucap Guntur singkat.
" Bagaimana tadi latih tanding terakhirnya? " tanya orang itu penasaran.
Guntur pun membalikan badannya menghadap orang itu lalu tersenyum.
" Yang jelas, mereka adalah calon pamong yang sangat luar biasa... Aku sendiri tidak menyangka jika mereka akan sejauh itu, " ucap Guntur lalu berjalan mendekati orang itu.
" Usaha kita untuk membuat mereka menjadi pamong terkuat di Bumi Nusantara di masa depan tidak sia-sia, bakat mereka jauh melebihi ekspetasiku dan mereka juga bisa untuk jauh berkembang lagi kedepannya, entah dari individu ataupun secara tim, mereka sangatlah luar biasa, " ucap Guntur kembali sambil tersenyum penuh optimis.
" Syukurlah jika seperti itu, " ucap orang itu.
" Terima kasih sudah sudi membantuku, istriku, " ucap Guntur dengan tulus.
__ADS_1
" Sudah menjadi tugas seorang istri untuk selalu membantu suami, " ucap orang itu yang ternyata adalah Anisa, istri Guntur.
Setelah itu, mereka pun membuat api unggun di depan gubuk lalu mereka mengobrol dengan penuh kebahagiaan hingga larut malam.