Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Penglihatan Julian


__ADS_3

Diatas bangunan kosong tiga lantai seperti bekas ruko tidak jauh dari padepokan, Gea menatap padepokan pancanaka dengan tatapan penuh arti.


Sebagai seorang boneka yang tercipta dari bagian tubuh tuannya, tentu tuannya ikut melihat, merasakan dan mendengar apapun yang Gea lakukan.


Tanpa terasa, kedua mata Gea mengeluarkan air matanya yang mana itu semua adalah emosional yang dirasakan oleh tuannya. Perasaan rindu, senang, sedih, sakit semua Gea ikut merasakannya.


" Nona pasti sangat mencintainya..., " gumamnya dengan pelan.


Gea ingin sekali untuk segera meninggalkan bangunan itu tapi entah kenapa dirinya terpaku sambil masih menatap padepokan pancanaka dimana calon suaminya itu berada.


Didalam benaknya Gea sangat kasihan dengan tuannya tapi dia tidak bisa untuk berbuat banyak.


***


Disebuah puncak bukit...


Husna yang mengetahui semua yang Gea lakukan itu hanya bisa menangis dalam diamnya. Air matanya mengalir deras akan kerinduan kepada pujaan hatinya.


Sampai-sampai Anjani yang tengah duduk disebelah kanannya itu pun Husna tidak menyadarinya.


" Husna... Ibu yakin jika tidak lama lagi Guntur akan menjemputmu, " ucap Anjani sambil memeluk calon menantu keduanya itu dengan penuh kasih sayang.


Bagi Anjani, Husna sudah seperti anaknya sendiri yang selalu ada buatnya. Membantu segala macam pekerjaannya dan juga menemaninya walaupun tidak sepanjang waktu tapi Anjani sangat bersyukur dengan kehadiran Husna.


" Ibu..., " ucap Husna yang masih menangis.


" Sabar ya sayang..., " ucap Anjani dengan lembut.


" Iya ibu, " ucao Husna dengan singkat.


Mbah Pahing yang baru saja datang dari ladang itu melihat keduanya saling memeluk dan juga melihat jika Husna sedang menangis itu sangat mengerti akan situasi yang dialami oleh Husna.


Terlebih, Husna juga sudah menceritakan tentang Gea yang menjadi matanya untuk dirinya bisa melihat Guntur dan juga Anisa diluar sana.


" Hahhhh.... Hanya tinggal membuka 3 pintu lagi tapi itu tidaklah mudah, kuatkan hatimu nak, " ucap Mbah Pahing yang langsung duduk di samping kiri Husna.


" Iya nek, " ucap Husna singkat.


***


Disebuah bangunan yang mana menjadi pusat dari usaha keluarga Samudra, Samudra Group. Aji dan juga Lastri yang sedang melakukan meeting dengan para petinggi anak perusahaan dari Samudra Group, tiba-tiba terdengar nada dering dari hapenya yang berada di sebelah kanannya.


Seketika itu juga Aji meminta ijin kepada semua orang yang ada di sana untuk mengangkat panggikan telephone itu yang mana tertera nama guru Taufik.


" Assalamu'alaikum... Ada apa? "


" APA!!! "


" Baik aku segera kesana! "


Aji yang saat itu menutup telephone dengan raut muka merah padam.

__ADS_1


Lastri yang mengetahui jika ada yang tidak beres itu pun langsung mengakhiri meeting tersebut.


Setelah semua orang meninggalkan ruangan itu dan hanya Aji dan juga Lastri yang masih tinggal disana, Lastri segera bertanya kepada suaminya itu.


" Ada apa kangmas? " tanyanya sambil menatap suaminya itu dengan penasaran.


" Kita harus segera kembali ke padepokan, padepokan dalam bahaya, " ucap Aji yang langsung berjalan keluar ruangan meeting.


" Apa!!! " ucap Lastri terkejut lalu menyusul suaminya itu.


Aji juga langsung menelphone Ragil yang menunggunya dibawah.


" Ragil segera siapkan mobil untuk kita kembali ke padepokan karena padepokan dalam bahaya! " ucap Aji yang langsung menutup telponnya.


Waktu terus berjalan dan akhirnya Aji tengah sampai di padepokan pancanaka. Nampak sangat ramai dengan kerumunan murid dan juga guru.


Begitu mengetahui guru besar mereka datang, mereka segera untuk menyambutnya.


" Ada apa ini? Kenapa bisa padepokan menjadi kacau? " tanya Aji yang berjalan ke arah mereka dengan sedikit berlari.


Guntur yang saat ini duduk di sebuah bangku itu pun segera menemui kakeknya.


" Kakek, " ucap Guntur yang sudah berada di samping kanannya.


" Guntur... Apa yang terjadi? " tanya Aji penasaran.


" Pak Gondo...., " ucap Guntur.


" Hah... Ada apa dengan Gondo? " tanya Aji.


" APA!!!! " teriak Aji, begitu juga dengan Lastri dan Ragil yang berada di belakang Aji.


Lalu, Guntur pun menjelaskan semuanya termasuk ada pihak lain yang membantu untuk mengalahkan Gondo tapi disini Guntur mengatakan jika yang telah membunuh Gondo adalah dirinya dan memang benar jika yang membunuh Gondo itu Guntur.


Setelah Aji, Lastri dan juga Ragil mendengar semuanya dari Guntur, mereka semua terdiam beberapa saat.


" Aku tidak percaya jika Gondo berkhianat dan menjadi iblis aksara tapi kenapa aku merasakan jika pelindung padepokan non aktif? " tanya Aji.


" Itulah yang ingin aku tanyakan kepada kakek? Bukannya kakek yang memiliki batu pelindung dari Sang Pepet? " tanya Guntur.


" Jangan bilang kalau.... Ragil, coba kau cek batu itu apakah masih berada di tempatnya atau tidak? " ucap Aji dengan geram.


Nampak jelas kemarahan guru besar padepokan pancanaka. Dia disamping tidak percaya akan hal itu, dia juga sangat menyesal mempercayai Gondo untuk menjaga padepokannya.


" Baik pak..., " ucap Ragil dan segera untuk mengecek


Beberapa saat kemudian, Ragil kembali dengan raut wajah yang pucat serta ketakutan.


" Bagaimana? " tanya Aji yang menatap Ragil dengan tajam.


" Ha-hancur..., " ucap Ragil yang sangat ketakutan.

__ADS_1


Sontak saja padepokan pancanaka diselimuti aura yang sangat mencekam. Aura seorang legenda yang dimiliki oleh Aji dan juga Lastri merembes keluar dengan sangat hebat.


Entah kenapa Lastri sangat marah dengan itu. Lastri yang terkenal akan kesabaran itu dibuat murka dengan hancurnya batu pelindung yang diberikan oleh sahabatnya itu.


" Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini kepada Pahing? " tanya Aji dan Lastri dalam hati.


Bukannya mereka takut dengan Sang Pepet tapi mereka merasa gagal untuk menjaga amanah darinya untuk menjaga batu itu yang mana inti dari pelindung padepokan pancanaka. Terlebih, mereka sedikit memaksa Sang Pepet agar mau untuk membuatkan pelindung tingkat Maha Guru yang mana itu adalah tingkat tertinggi dari sebuah pelindung.


Tentu kejadian itu membuat semua orang sangat ketakutan. Para murid dan guru, mereka semua menjauh dari sana bahkan ada yang berlari menyelamatkan diri.


Guntur yang melihat itu tentu tidak tinggal diam. Guntur segera untuk menenangkan kakek dan neneknya itu namun mereka tidak menggubris apa yang Guntur katakan dan malah menatap Guntur


Disitulah Guntur merasakan adanya suatu ancaman yang sangat kuat. Dengan segera, Guntur menggunakan mata aksaranya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


disisi lain, nampak Julian yang sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat ketakutan. Dirinya mendapatkan penglihatan jika sebentar lagi akan terjadi sebuah pertarungan hebat dimana padepokan sendiri akan mengalami kehancuran yang cukup parah dan juga banyaknya korban yang akan tewas.


Anisa yang menyadari jika Julian sangat ketakutan dan juga tubuhnya bergetar hebat itu segera untuk menghampiri Guntur lalu mengatakan jika Julian mendapatkan sebuah penglihatan yang membuat dirinya menjadi seperti itu.


Sontak saja Guntur langsung mengalihkan pandangannya ke arah Julian. Benar saja Guntur melihat semua itu pada diri Julian.


Dengan cepat, Guntur menghampiri Julian lalu memegang kening Julian beberapa saat.


Begitu Guntur melepas kening Julian, Guntur dapat melihat apa yang Julian lihat pada Langkah Netranya.


Dengan cepat, Guntur langsung membuat sebuah pelindung tingkat Maha Guru, namun siapa sangka jika terdengar sebuah ledakan hebat yang sangat hebat tidak jauh dari mereka semua yang menghancurkan sebuah bangunan dimana bangunan tersebut adalah bangunan tempat penyimpanan senjata padepokan sebelum Guntur menyelesaikan pembuatan pelindung tingkat Maha Guru.


" BOOOM "


***


Beberapa saat sebelumnya...


Tidak jauh dari padepokan pancanaka ada sepasang mata berwarna merah menyala dan terdapat suatu garis hitam tipis di tengah pupil matanya seperti pupil mata kucing yang sedang menatap tajam padepokan pancanaka.


Dirinya tersenyum melihat padepokan pancanaka yang sedang mencekam.


" Sebentar lagi kita akan membalaskan dendam kita kepada mereka berdua.... Hahahaha... "


Begitu dia berhenti tertawa, nampak puluhan pasang mata menyala dengan berbagai warna mata aksara kecuali hitam dan putih.


Namun dalam menyalanya mata mereka, terdapat satu titik hitam kecil yang berada pada tengah pupil mereka yang menunjukkan


" Sang Dom Menik dan Sang Macan Merapi "


" Semuanya dengar... Sekaranglah waktunya... Hancurkan padepokan itu dan bunuh siapapun yang berada disana! " Teriak pemimpin mereka yang memiliki mata kucing tersebut.


Sontak saja puluhan aksara itu berhamburan keluar dari sebuah bangunan kosong tidak jauh dari padepokan.


Mereka melesat dengan cepat menuju padepokan itu untuk menghancurkan padepokan.


Salah satu diantara mereka langsung membuat pola aksara berelemen api untuk membuat sebuah bola api yang cukup besar lalu melemparkannya ke arah sebuah bangunan yang berada di padepokan.

__ADS_1


Dirinya mengincar bangunan tempat penyimpanan senjata supaya semua orang yang berada disana kesusahan untuk mendapatkan senjata untuk melawan kelompoknya.


" BOOOM "


__ADS_2