Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Pembantaian Masal


__ADS_3

Malam yang cerah dengan dihiasi banyaknya keindahan bintang yang berkelip dan juga rembulan yang bersinar terang.


Suasana kota Batavia yang sangat terkenal dengan keramaian dan kepadatan akan penduduknya itu entah kenapa pada malam ini nampak sepi.


Bahkan juga cuaca kali ini sangat terasa cukup dingin, keterbalikkan dengan keadaan cuaca pada biasanya yang panas.


Nampak seorang gadis bercadar yang sedang terduduk di sebuah bangku umum di pinggir jalan.


Gadis itu bernama Anisa atau dkenal dengan nama Srikandi Bercadar.


Terduduk diam sambil menatap sebuah gedung yang tinggi di seberang jalan didepannya itu dengan tatapan menyelidik.


Mata indah namun tajamnya itu menyapu semua apa yang bisa dia lihat.


Setelah dirinya mendapatkan panggilan misi dari kakak seperguruannya, dirinya yang kebetulan sedang berada tidak jauh dari lokasi misi langsung menuju ke lokasi.


" Hm... Aku harus cepat sebelum mereka datang, " gumamnya.


Langsung saja Anisa berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju hotel dengan pelan.


Disaat dirinya sampai di depan lobby, dua orang penjaga atau satpam langsung menghampiri Anisa.


Namun ketika mereka berdua ingin mengeluarkan suara mereka, tiba-tiba tenggorokan mereka tercekat lalu dari hidung mereka mengeluarkan darah dan terus mengalir.


Beberapa detik berikutnya, giliran mulut lalu telinga mereka juga mengalir darah mereka dengan deras.


Sontak saja mereka berdua terkejut dan panik namun semakin mereka panik semakin deras darah mereka mengalir keluar.


Sampai pada akhirnya mereka terjatuh ambruk dengan keadaan tewas karena semua darah mereka mengalir keluar dari dalam tubuh mereka.


Setelah itu, Anisa kembali berjalan dengan pelan masuk ke dalam hotel Arjawinangun.


Lagi...


Setiap orang yang bertemu dengan Anisa di hotel tersebut pasti akan mengalami hal yang sama dengan kedua satpam itu hingga tewas.


Hal itu dikarenakan salah satu kekuatan unik dari seorang srikandi bercadar yang hanya diketahui oleh gurunya seorang yaitu Aji Samudra.


Kekuatan unik itu bernama Dawuhing Rudira atau bisa disebut dengan pengendali darah.


Setiap kali Anisa bertemu seseorang yang berada di dalam hotel itu, Anisa langsung memerintahkan darah dari orang itu untuk segera keluar dari tubuhnya dan itu sangatlah mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.


Dari semua jawara yang berada di Bumi Nusantara bahkan dunia, hanya Anisa saja yang memiliki kekuatan unik itu walaupun dirinya bukanlah seorang aksara.


30 menit Anisa berjalan dan menjelajahi setiap lantai dan juga kamar di hotel tersebut yang kini sudah berada di lantai 13.


Hingga dalam waktu tersebut, terlihat sudah puluhan orang yang sudah tewas di tangan Anisa dengan menggunakan Dawuhing Rudiranya.


Merasa waktu semakin singkat karena Anisa sudah bisa merasakan aura dari Panca Soka, maka dari itu Anisa langsung saja mengeluarkan senjatanya yang berupa sabit besar itu lalu melesat dengan cepat untuk mengeksekusi semua orang yang berada di hotel Arjawinangun tersebut.


Namun, hal itu yang membuat kegaduhan pada hotel itu karena mereka tidak mengira jika ada seorang gadis bercadar melesat ke arah mereka sambil membawa sabit besar.


Sontak saja orang-orang langsung berlari kocar-kacir menjauh dari gadis itu.


Akan tetapi, sebagian besar dari mereka langsung mengeluarkan senjata mereka yang berupa pistol yang selalu terselip pada jas, pinggang, bahkan lengan baju mereka.


Dari lantai 13 itulah acara pembantaian paling sadis yang pernah dilakukan oleh seorang gadis bercadar.


" Dorr... Dorrr "


" Siapa kau... "


" Bangsat... "


Ratusan peluru terlontar dan melesat dengan cepat ke arah Anisa, namun bukan Anisa namanya jika tidak bisa lepas dari rentetan peluru itu.


" Rangsang Bulan : Langkah Sabit "


Seketika itu juga, Anisa yang sudah bergumam nama jurusnya tersebut menghilang dengan sangat cepat didepan semua orang.


" Slash "


" Dukkk "


" Slash "


" Dukkk "


" Srett "

__ADS_1


" Slash "


" Dukk "


Satu persatu kepala orang-orang terjatuh dari badannya.


Tentu hal itu membuat semuanya menjadi terkejut, merinding dan juga panas dingin.


Bagaimana mungkin saat melihat kepala seorang teman terpisah lalu terjatuh dari badannya tidak membuat terkena serangan mental? Apalagi melihat bagaimana kondisi ketika darah segar menyembur dengan deras dari leher mereka.


Itulah yang terjadi pada malam itu dan diselingi suara-suara teriakan dan rasa frustasi dari orang-orang.


Sedangkan untuk Anisa sendiri yang sudah terbiasa dengan itu terus saja melakukan pembantaian dengan cepat.


Selesai pada lantai itu maka Anisa akan langsung naik ke lantai selanjutnya dan terus seperti itu sampai pada atas hotel Arjawinangun dimana disana adalah sebuah tempat parkir helikopter.


Anisa tidak menyisakan satu orang pun didalam hotel tersebut.


Entah itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, Anisa libas dengan rata.


Anisa juga tidak mengeksekusi dari leher mereka, bahkan Anisa juga mengeksekusi mereka dengan membelah tubuh mereka menjadi tiga bagian atau dua bagian memisahkan antara kepala, dada dan juga perut mereka.


Tentu hal itu membuat sebuah trauma ataupun tekanan mental pada orang yang melihatnya terutama orang awam.


Setelah Anisa sampai diatas hotel, Anisa melihat seorang laki-laki paruh baya yang cukup tampan, tersenyum sambil menatap Anisa dengan tajam.


" Aku tidak menyangka jika kau akan mengeksekusi mereka secepat ini dan tidak menyisakan satu orang pun dibawah... "


" Rumor tentangmu berarti tidaklah hanya isapan jempol semata... Srikandi Bercadar, " ucap laki-laki itu sambil tersenyum.


Anisa hanya menatap laki-laki itu dengan tajam.


" Ahh, maaf-maaf... Perkenalkan namaku Lee Sung Jie... Aku pemilik hotel ini sekaligus... " ucap laki-laki itu menggantung yang ternyata bernama Lee Sung Jie


" Hm... Kau tahu sendiri lah, hehehe... " ucap Lee Sung Jie sambil cengengesan.


Namun, setelah beberapa detik berikutnya, Lee Sung Jie dibuat geram oleh Anisa karena Anisa sama sekali tidak bersuara.


Sebenarnya Lee Sung Jie sudah menyelidiki tentang Anisa namun yang di dapat hanyalah informasi biasa-biasa saja tentangnya seperti tidak pernah mengeluarkan suaranya, penyendiri, kutu buku dan hal-hal biasa lainnya kecuali jawara.


Dalam informasinya, hanyalah seorang jawara saja tanpa tahu kekuatannya, keabnormalannya, jurus-jurusnya.


Di dalam dunia bawah, nama Srikandi Bercadar dari Bumi Nusantara tertulis dalam buku catatan orang paling berbahaya yang masuk dalam peringkat 10 besar, lebih tepatnya peringkat ke 7 dari 10 besar.


Tentu di dalam dunia bawah juga Anisa sebenarnya sangat terkenal bahkan ada juga pemberitahuan jika siapapun yang bisa membawa kepalanya saja maka akan mendapatkan uang sebesar 7 triliun rupiah.


Maka dari itu, Lee Sung Jie merasa senang sekaligus khawatir bertemu dengan Anisa walaupun dirinya adalah salah satu bos dari mafia asia tenggara.


Senang akan hadiahnya yang bernilai fantastis namun juga khawatir jika akan kalah dengannya mengingat statistik Anisa belum jelas.


" Baiklah, aku akan bermain denganmu sebentar sebelum aku membawa kepalamu pulang, " ucap Lee Sung Jie.


Dengan segera, Lee Sung Jie memadatkan semua otot tubuhnya terutama terletak pada kedua kakinya.


Setelah selesai, Lee Sung Jie melesat dengan sangat cepat ke arah Anisa yang masih terdiam.


Ketika jarak hanya tinggal satu meter, Lee Sung Jie segera mencondongkan kaki kanannya ke depan sambil di ayunkannya ke samping kiri.


Maksud Lee Sung Jie adalah memberikan tendangan pembuka dalam awal pertarungan mereka yang tertuju pada leher Anisa.


Namun, siapa sangka ketika kaki kanannya kurang dari satu jengkal lagi, Anisa dengan cepat mundur satu langkah lalu merendahkan tubuhnya.


Sontak saja tendangan kaki Lee Sung Jie hanya menendang angin kosong saja, sedangkan Anisa yang tubuhnya sedang merendah itu lebih memiliki kesempatan untuk membalasnya.


Dengan cepat Anisa menendang ke arah samping kiri kaki kiri Lee Sung Jie dan mengenainya.


Lee Sung Jie yang langsung oleng tersebut ingin segera menyeimbangkan tubuhnya kembali dengan cara melompat kesamping.


Namun sebelum hal itu terjadi, Anisa dengan cepat bangkit lalu segera menendang kembali tubuh Lee Sung Jie dan langsung mengenai perut sisi kanannya dengan keras.


" Bukk "


Tidak sampai disitu, Anisa kembali memberikan sebuah tendangan kembali yang langsung mengenai leher sisi samping kanan Lee Sung Jie.


" Bukkk "


Dengan cepat pula, tubuh Lee Sung Jie terpental 5 meter ke belakang lalu berhenti setelah menabrak sebuah bangku.


" Brruaaakkk "

__ADS_1


Anisa hanya terdiam sambil terus menatap Lee Sung Jie dengan tajam.


Anisa yakin jika Lee Sung Jie tidak mengalami luka sedikitpun karena Anisa bisa merasakan dan melihat jika sebelum kakinya menyentuh tubuh Lee Sung Jie, tiba-tiba dengan sangat cepat tubuhnya terlapisi oleh logam yang sangat keras.


Anisa sendiri juga merasakan sedikit nyeri pada kaki kanannya namun hal itu segera sembuh karena Anisa dengan cepat mengaliri kakinya dengan aura jawaranya.


Tidak lama setelah itu, nampak Lee Sung Jie bangun dengan berlahan sambil tersenyum dan menatap Anisa.


" Hmm.... Lumayan untuk ukuran gadis belia seusiamu... Tapi, tidak untuk sekarang, " ucapnya yang langsung kembali menghilang dari pandangan.


Anisa yang melihat itu hanya tersenyum tipis dibalik cadarnya karena bagi Anisa, lesatan Lee Sung Jie sangatlah lambat.


" Aku sebenarnya ingin meladeni orang itu, tapi mereka sudah berada di lantai 15 dan sebentar lagi akan sampai kemari... Aku harus cepat, " gumamnya dalam hati.


Tanpa membuang waktu lagi, Anisa juga langsung menghilang dari pandangan.


Dengan segera, Anisa memutus jalur lesatan Lee Sung Jie, jadi Lee Sung Jie yang sedang melesat ke arah Anisa itu terkejut saat tiba-tiba Anisa berada di depannya.


Dengan cepat Anisa merapatkan semua jari tangan kanannya sehingga membentuk runcing dan mengaliri itu semua dengan aura jawaranya hingga pintu terakhirnya.


Dengan secepat kilat, Anisa mengayunkan tangan kanannya itu ke dada kiri Lee Sung Jie, lalu...


" Bruuuaakkkk "


" Eehhh "


" Jlebb "


" Uhuk... "


Seketika itu juga, tangan kanan Anisa berhasil menembus dada kiri Lee Sung Jie hingga tembus kebelakang.


Yang lebih mengerikan lagi, Anisa yang sengaja untuk melakukan itu langsung mencengkram jantung milik Lee Sung Jie.


Pada akhirnya, ketika tangan Anisa menembus dada kiri Lee Sung Jie, juga mencengkram jantungnya hingga keluar kebelakang.


" Dukduk.... Dukduk.... Dukduk... "


Ditangan Anisa, jantung itu masih berdetak kencang sampai lima detik berikutnya barulah jantung itu berhenti berdetak.


Dengan segera, Anisa menarik tangan kanannya itu sambil terus mencengkram jantung itu.


Setelah tangan Anisa keluar, Anisa segera memotong otot syaraf pada jantung itu sehingga terlepas bebas dari tubuh Lee Sung Jie.


Bertepatan dengan menusuknya tangan Anisa ke tubuh Lee Sung Jie, Panca Soka yang beru saja sampai di lokasi Anisa itu melebarkan kedua mata mereka.


Mereka sangat terkejut dan juga tertekan oleh apa yang sudah Anisa lakukan.


" Di-dia... " ucap salah satu dari mereka yaitu Ria Sang Penggoda.


Mereka hanya terdiam melihat semua kejadian dari awal mereka masuk ke dalam hotel sampai saat ini.


Setelah itu, Anisa yang menyadari mereka sudah berada dibelakangnya itu langsung membalikkan badannya.


Menatap tajam kelima orang tersebut dengan tatapan membunuh yang sangat kuat.


Sambil masih mencengkram sebuah jantung dari Lee Sung Jie, Anisa dengan berlahan berjalan menghampiri mereka yang terdiam mematung melihatnya.


Setelah jarak sekitar tiga meter, Anisa langsung melemparkan jantung itu didepan mereka berlima.


Sontak saja apa yang Anisa lakukan membuat kelima orang itu terkena serangan mental dan ketakutan.


Setelah melempar jantung itu, Anisa langsung melesat pergi seolah-olah menghilang dengan sangat cepat bahkan kelima orang itu tidak tahu kemana Anisa menghilang.


Beberapa detik berikutnya barulah kelima orang itu ambruk dengan posisi tubuh mereka yang lemas.


Keringat mereka keluar sebesar biji jagung, tangan mereka yang bergetar serta nafas mereka yang sudah tidak beraturan.


" Su-sungguh aku tidak mau lagi melihat orang itu, " ucap Ria dengan tubuh yang bergetar.


" A-aku ti-tidak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas aku hanya ingin segera pulang dan melupakan kejadian ini, " ucap Imam dengan gugup.


" Jika satu atau dua orang saja aku tidak masalah tapi ini ratusan orang tewas dengan termutilasi dan apa yang di dalam perut mereka berceceran kemana-mana, " ucap Warok sambil menenangkan diri.


" Tapi aku heran dengan orang-orang di lantai 13 kebawah... Mereka tidak ada luka tapi kenapa semuanya tewas dengan darah yang keluar semua? " tanya Amir yang sudah bisa mengontrol dirinya.


" Aku ingin pulang, " ucap Mawar sambil menangis.


" Hahh.... Sudahlah segera kita mengatur diri kita dan keluar dari tempat ini sebelum ada orang yang tahu.... Kita juga harus melaporkannya kepada pak presiden tentang hal ini, " ucap Amir sambil berdiri.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka yang sudah bisa menguasai kesadaran dan diri mereka itu dengan segera pergi dari hotel itu untuk kembali ke istana negara guna melaporkan tentang misi mereka.


__ADS_2