Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Turnamen : Umar vs Dimas


__ADS_3

Disaat waktu jeda untuk melanjutkan turnamen yang hanya diberi waktu 5 menit. Guntur yang mengemban tugas sebagai pelindung bayangan itu terus mengawasi padepokan dan jalannya turnamen.


Guntur tidak mau jika ada hal-hal yang dapat merugikan semua orang seperti kejadian beberapa waktu yang lalu. Dengan begitu, Guntur seperti bekerja secara terus menerus. Bukan secara fisik melainkan pikirannya. Beberapa hari ini Guntur tidak bisa tidur dengan nyenyak walaupun sebentar. Itu dikarenakan Guntur harus membuat rencana agar semua terkendali.


Rasa lelah dan juga mengantuk Guntur rasakan. Akan tetapi Guntur tetap mempertahankan semua itu demi keselamatan semua orang.


Duduk tribun penonton yang padat dan juga riuh ramai akan sorak-sorakan, membuat Guntur tetap terjaga dalam kesadarannya. Bahkan sesekali dirinya juga mengobrol dengan penonton disampingnya.


" Bro... Menurutmu siapa yang akan memenangkan turnamen kali ini? " tanya seseorang di samping Guntur.


Guntur yang mendengar itu langsung menoleh kepada orang tersebut.


" Hm... Aku tidak tau pasti tapi yang jelas bukan yang bernama Umar atau Ridwan, " ucap Guntur dengan santai.


Orang yang bertanya kepada Guntur itu pun terkejut " Ehh... Kenapa bisa? Bukankah Umar itu juara bertahan dan sangat kuat? Bahkan sampai menjadi peringkat pertama disemua murid di padepokan ini? " tanyanya.


Guntur pun tersenyum " Itu karena, aku merasa jika Umar dan Ridwan akan bertemu di semi final... Kau tahu jika aku lihat dan amati kalau Ridwan itu sebenarnya sama kuatnya dengan Umar dan mereka akan bertarung habis-habisan, " ucapnya.


" Ehh... Se-serius??? " tanya orang itu terkejut.


Guntur langsung mengangguk " Benar... Tapi itu hanya tebakanku saja kalau nyatanya kita tidak tahu dan kita lihat saja nanti jika mereka bertemu, hehehe, " ucap Guntur sambil cengengesan.


Sementara itu, Ridwan yang telah sampai di ruangan para peserta itu langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Nampak para peserta lain melihat Ridwan dengan tatapan tidak percaya.


Salah satu diantara mereka segera bertanya kepada Ridwan " Ridwan... Kami tahu jika kau sekarang kuat tapi aku tidak menyangka jika kau bisa mengalahkan si kilat kuning dengan cepat, " ucap salah satu peserta yang bernama Wawan, peringkat 5 teratas.


Ridwan yang mendengar itu pun tersenyum " Ahh... I-itu... Hanya kebetulan saja... Heehee, " ucap Ridwan mengelak.


" Haha... Kebetulan ya, tapi aku tidak percaya jika itu kebetulan... Ridwan, aku sangat ingin bertarung denganmu... Semoga kita dipertemukan di arena, " ucap seseorang dipojok ruangan yang bernama Rudi, peringkat 7 teratas.


Ridwan pun hanya mengangguk. Sekilas terlihat para peserta yang berkumpul satu ruangan itu tampak biasa saja dan rukun, tapi sebenarnya mereka perang dingin satu sama lain. Itu dikarenakan dalam pertandingan pasti akan terjadi seperti itu, menunjukkan siapa yang terkuat diantara mereka. Berbeda jika diluar turnamen, mereka sangat dekat bahkan berteman dekat satu sama lain.


Contoh, saat Umar ditegur oleh Singgih yang mana singgih adalah peringkat 2 teratas, karena Singgih takut jika Umar akan babak belur dihajar oleh srikandi bercadar yaitu Anisa saat membicarakan Anisa dibelakangnya.


Mereka semua tahu walaupun mereka mempunyai peringkat tapi jika mereka bertarung melawan Anisa, maka mereka akan kalah dengan telak walaupun keroyokan. Bagi Anisa, mereka hanyalah segerombolan semut yang menganggu. Itulah kenapa mereka sangat takut dengan Anisa, Sang Srikandi Bercadar.


Beberapa saat kemudian turnamen pun dilanjutkan. Layar besar itu terus mengacak nama peserta dengan cepat, lalu berhenti. Menampilkan dua nama yang akan bertarung selanjutnya dan nama itu adalah...


UMAR VS DIMAS


Sontak para penonton berteriak histeris karena jagoan mereka yaitu Umar akan segera bertarung.


Seketika keduanya berdiri dari posisi mereka lalu berjalan keluar dari ruang istirahat peserta. Namun disaat Umar akan melewati Ridwan yang tengah duduk, Umar mengatakan sesuatu kepada Ridwan.


" Jangan sampai kalah sebelum kita bertarung... Ridwan, " gumam Umar lirih tapi bisa didengar oleh Ridwan.


Setelah mengatakan itu, Umar pun kembali berjalan untuk ke arena pertandingan.


Sedangkan Ridwan yang mendengar itu tersenyum " Aku tidak akan kalah, " gumamnya dalam hati.


Kini tengah terlihat di arena, Umar yang akan melawan Dimas dimana Dimas adalah peringkat 4 teratas. Dimas tidak gentar berhadapan dengan Umar, karena Dimas memiliki jurus pertahanan yang cukup kuat untuk menahan serangan Umar.


Wasit pun mengatakan peraturan pertandingannya sama seperti mengatakan kepada Ridwan saat melawan Rahmat.


Setelah itu wasit kembali melompat ke tempat dimana wasit itu berada dan pertandingan telah dimulai.


Nampak Umar sangat tenang berhadapan dengan Dimas. Suara penonton yang riuh serta meneriaki mereka tidak mereka hiraukan dan tetap berkonsentrasi dengan pertarungan.


Kali ini Dimas memulai pertarungan terlebih dahulu dengan memasang kuda-kuda lalu mengeluarkan jurusnya dan juga senjatanya yang berupa kapak yang cukup besar.


" Kapak Api Penghancur Gunung "


Seketika kapak itu langsung diayunkannya secara horizontal. Gelombang kejut tercipta dari jurus itu dan langsung mengarah ke arah Umar. Sampai-sampai jejak gelombang kejut itu menciptakan garis lurus diatas arena.

__ADS_1


Namun Umar hanya tersenyum lalu segera dia mencabut pedangnya dari sarungnya yang dia bawa di punggungnya. Secara cepat, Umar melakukan hal yang sama bahkan tidak memakai jurus apapun, tapi ayunan pedang Umar mampu membuat gelombang kejut yang sama dengan Dimas.


Seketika disaat gelombang kejut itu bertabrakan tercipta ledakan ditengah mereka yang berjarak 5 meter antara keduanya.


" Boom... "


Debu-debu mulai beterbangan menutupi mereka berdua. Para penonton pun seketika tegang dan terdiam. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi kepada Umar dan Dimas.


Setelah beberapa saat, debu yang menutupi mereka pun hilang tertiup angin. Tapi, betapa terkejutnya mereka para penonton dengan apa yang mereka lihat.


Diatas arena terlihat jika Dimas sudah terkapar tidak sadarkan dan juga, kapak yang cukup besar yang mana itu adalah senjatanya sudah terbelah menjadi dua bagian.


Tidak ada luka yang dialami oleh Dimas hanya saja terkapar yang mereka para penonton tidak tau karena apa dan bagaimana.


Sedangkan Umar masih berdiri ditempat semula dan pedang yang dia gunakan pun sudah berada dalam sarungnya.


Lalu wasit pun segera turun dan mengumumkan pemenangnya.


" Pemenangnya.... Umar.... Turnamen akan dilanjutkan 5 menit dari sekarang! " teriak wasit dengan tegas.


Segera Umar berbalik badan lalu berjalan keluar arena sambil menoleh kearah Ridwan yang melihat pertarungannya dengan Dimas sambil tersenyum dan bergumam.


" Aku juga bisa menang dengan cepat, " gumam Umar sambil berjalan keluar arena.


Ridwan pun tau apa yang digumamkan oleh Umar, lalu Ridwan pun juga begumam.


" Astaghfirullah... Entah kenapa aku merasa seperti seekor rusa yang menjadi incaran seekor harimau yang sedang lapar.... Apa salahku? " tanyanya dalam hati.


Sedangkan mereka para penonton tidak tau kenapa Dimas bisa tumbang, padahal Dimas itu cukup kuat dimata mereka. Lalu salah seorang disamping Guntur pun bertanya kepadanya.


" Bro... Kenapa Dimas bisa tumbang dan debu itu sangat menghalangi jadi aku tidak tau apa yang terjadi saat debu itu menutupi mereka? " tanyanya penasaran.


Guntur yang mendengar itu tersenyum. Guntur tahu apa yang terjadi didalam kumpulan debu itu karena Guntur dapat melihat walaupun hanya bayangan tipis saja diantara mereka. Lalu Guntur pun menjelaskan kepada orang yang bertanya kepadanya itu.


Saat gelombang kejut mereka berbenturan dan tercipta ledakan sampai-sampai debu-debu itu beterbangan menutupi mereka. Umar sengaja menekan ayunan pedangnya sedikit keras dan menghentakkannya, tujuan Umar adalah membelah kapak Dimas menjadi dua bagian supaya pertahanan Dimas berkurang dan goyah. Dimas juga memiliki pertahanan yang lumayan kuat dengan kapak besarnya itu. Kapak itu juga sangat kuat tapi tidak sekuat pedang milik Umar dimana kualitas pedang milik Umar adalah kualitas tinggi dan juga memiliki elemen angin yang mana itu sama dengan pemiliknya yaitu Umar.


Setelah kapak itu terbelah menjadi dua bagian, dengan cepat Umar melesat kearah Dimas. Sedangkan Dimas yang terkejut dan juga panik karena kapaknya terbelah menjadi dua bagian, dia juga sangat sulit mengatur pandangannya yang mana tertutupi oleh debu yang tebal.


Momen itu dimanfaatkan dengan sangat oleh Umar. Umar yang melesat cepat ke arah Dimas itu langsung memukul tengkuk belakang lehernya dengan pegangan pedangnya, tujuannya supaya Dimas tidak sadarkan diri karena pukulan dari pegangan pedang miliknya yang sangat keras dan kuat.


Setelah Dimas tidak sadarkan diri, Umar langsung kembali ke posisi semula dengan sangat cepat. Tujuannya untuk mengelabuhi kita semua yang mana tidak bisa melihat gerakan Umar.


Sengaja Umar melakukan itu karena momen yang sangat tepat untuk melakukan itu. Jadi setelah setelah debu-debu itu menghilang tertiup angin maka terlihatlah apa yang kita lihat barusan.


Guntur menjelaskan panjang lebar kepada orang itu. Orang itu pun akhirnya mengerti apa yang terjadi didalam kumpulan debu itu.


" Oohhh.... Jadi begitu ya... Pantas saja aku tidak bisa melihat itu... Umar memang sangat kuat dan juga cerdik.... Dengan begitu, Umar telah masuk ke seperempat final bro... Kira-kira lawannya siapa ya... Hehehe, eh tapi kenapa kau bisa tahu? " tanyanya penasaran.


Guntur pun langsung menjawab sekenanya " Aku hanya menebak saja hehehe... Lagipula itu adalah suatu strategi yang masuk akal kan bro... Hehehe, " ucapnya sambil cengengesan.


Tidak mungkin Guntur menjelaskan semuanya. Itu sama saja Guntur menceburkan dirinya sendiri kedalam lumpur. Padahal Guntur ingin semua orang tidak tahu akan kebenaran tentangnya.


" Hm.. Begitu ya... Benar juga kau bro, " ucap orang itu dengan mengangguk faham.


Sedangkan di tribun khusus, mereka tersenyum dengan strategi yang dilakukan oleh Umar.


" Umar memang cerdik... Dengan begitu dia telah masuk ke seperempat final, " ucap sesepuh Werang.


" Benar kakang Werang... Disamping dia itu cerdik dan kuat, dia juga selalu bisa memanfaatkan sebuah momen... Dia murid peringkat pertama... Jadi tidak heran jika dirinya bisa melakukan itu, " ucap Aji sambil tersenyum.


" Hm... Tapi aku lebih tertarik dengan Ridwan... Umar memang kuat dan cerdik tapi jika dibandingkan dengan Ridwan dia bukan apa-apa... Kalian juga menyadarinya kan, " ucap sesepuh Tamrin.


Sesepuh Tamrin adalah yang tertua dari mereka para murid padepokan pertama di bumi nusantara, padepokan alam jagat. Sesepuh Tamrin juga sangat terkenal sebagai seorang pemikir, pengalaman dan wawasannya sangat luas. Bahkan lebih luas dari pada yang lainnya termasuk Aji dan Lastri sendiri.

__ADS_1


Jika sesepuh Tamrin sudah serius dan mengatakan sesuatu yang membuatnya tertarik, maka itu adalah kebenaran dan belum pernah meleset. Mereka para adik seperguruan mengetahui hal itu.


Orang paling bijak diantara orang bijak. Itulah yang bisa digambarkan terhadap sesepuh Tamrin.


" Semi final.... Mereka akan bertemu di semi final... Saat itu terjadi mereka akan bertarung habis-habisan, " ucap sesepuh Tamrin.


Jika Werang, Aji dan Lastri yang mendengar itu akan sangat setuju dan menerimanya walaupun mereka kebingungan dengan apa yang dipikirkan oleh Tamrin.


Berbeda dengan mereka yang tidak tahu akan siapa sesepuh Tamrin. Para tamu undangan yang lainnya pun tidak percaya dengan sesepuh Tamrin ucapkan, bahkan mereka tidak setuju dengan itu. Mereka tahu jika Umar adalah juara bertahan dan sangat kuat, berbeda dengan pendatang baru, Ridwan. Mereka pun juga tahu Ridwan adalah murid terlemah.


" Dan kau Srikandi Bercadar... Kau pastinya juga tahu akan hal itu kan? " tanya sesepuh Tamrin sambil tersenyum.


Anisa terkejut mendengar itu, lalu Anisa pun juga mengangguk dan mengatakan hal singkat.


" 200kg " ucapnya.


Siapa yang tidak tahu dan tidak kenal dengan srikandi bercadar. Bahkan, hampir semua perguruan atau padepokan di bumi nusantara tahu siapa srikandi bercadar. Bahkan ada beberapa padepokan sangat ketakutan dengannya dikarenakan pernah berurusan dengannya. Jangan tanya hasilnya bagaimana, yang pasti srikandi bercadar telah mengobrak abrik padepokan mereka.


Tamrin, Werang, Aji dan Lastri terkejut mendengar apa yang dikata oleh Anisa.


" Apa? 200kg? " ucap Lastri.


Tentu mereka tahu dan menyadari jika Ridwan memakai pemberat tubuh karena nampak besi-besi yang yang dikenakan oleh Ridwan tapi mereka tidak menyangka jika berat beban itu mencapai 200kg.


Anisa pun mengangguk " Saat diperjalanan kembali ke padepokan kemarin, dia telah menceritakan semuanya tentang Ridwan termasuk 200kg itu yang selalu dia angkat disetiap detiknya, " ucapnya.


" Masya Allah... Pantas saja dia seperti sebuah tembok beton yang sangat kuat dan kokoh, " ucap Lastri.


" 200kg ya... Kita akan melihat jika 200kg itu sudah dia lepas... Yang pasti dia akan menjadi segumpal kapas yang cukup mengerikan untuk sebayanya, aaahhhhh aku benar-benar tidak sabar! " ucap sesepuh Tamrin dengan berbinar binar.


" Tapi, kita juga tidak bisa meremehkan Umar... Umar yang sejatinya mempunyai elemen angin itu akan menjadi counter untuk Ridwan nantinya... Entah siapa yang tercepat diantara keduanya walaupun Ridwan mempunyai elemen api tapi aku merasa elemen api milik Ridwan itu berbeda dengan elemen api pada umumnya, " ucap Aji.


" Benar... Aku juga menyadari itu... Mungkin mereka akan sangat menyesal telah menyianyiakan Ridwan... Hehee, " ucap Werang mengejek keluarga Ridwan.


Sedangkan keluarga Ridwan yang mendengarkan obrolan mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka katakan.


Mereka, keluarga Ridwan tidak tahu apa maksud dari obrolan mereka. Keluarga Ridwan hanya bisa terdiam walaupun didalam hati mereka mengumpat dan menyumpahi mereka tapi tidak berani untuk mengutarakannya.


" Apa maksudnya? " Gumam Gani dalam hati.


" Sialan... Apa spesialnya si anak tidak berguna itu? " gumam sesepuh Dalu dalam hati.


Sedangkan sesepuh Daeng hanya terdiam. Dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakan didalam hatinya " Setelah ini mungkin aku akan pensiun dari dunia persilatan dan memilih hidup sebagai orang biasa... Sudah cukup bagiku untuk bergulat di dunia itu... Hahhh... Mungkin sedikit terlambat tapi Ridwan.... Maafkan kakek, " gumamnya dalam hati.


Sesepuh Daeng telah menyadari kesalahannya kepada cucunya itu tapi apakah Ridwan mau memaafkannya? Tentu berat dalam pikiran sesepuh Daeng mengingat apa saja kesalahannya terhadap cucunya itu.


*


*


*


*


*


Hai manteman.... mungkin dalam bab turnamen, ane akan fokus ke Ridwan dan Umar saja untuk mempersingkat waktu karena akan sangat panjang bila menjelaskan dari perkarakternya... Didalam turnamen Ridwan dan Umar lah yang menjadi pemeran utamanya...


Terima kasih karena sudah membaca coret-coretan antah berantah ane ini yang tidak seberapa....


Hmm.... Jangan lupa like dan komennya ya...


Terima Kasih (°∆°)

__ADS_1


__ADS_2