
Sehari sebelumnya...
Ridwan, seorang anak yang baru berumur 16 tahun, masih terbaring lemah diatas kasur busa suatu bangsal rumah sakit padepokan pancanaka.
Tiga hari sudah dia tertidur akibat rasa lelah yang luar biasa akibat pertarungan terakhirnya saat melawan Umar si Pedang Angin lah yang membuat dirinya seperti ini.
Pertarungan yang menunjukkan siapa yang terkuat diantara mereka berdua, yang menjadikan pertarungan itu memporak-porandakan arena dan berakhir terbujur diatas ranjang rumah sakit. Namun pertarungan itu menunjukan jati dirinya yang sebenarnya. Keluar dari penjara kelemahan dan menjadi seekor burung yang terbang ke angkasa dengan bebas.
Dengan berlahan kesaradannya mulai kembali secara bertahap. Walaupun begitu kedua matanya masihlah enggan untuk terbuka.
Dalam gelapnya mata terpejam, semua memori yang sudah dia alami kembali pada ingatannya secara bertahap.
Setelah semua memori itu kembali dengan sempurna, Ridwan secara berlahan membuka kedua matanya itu.
Dalam penglihatan awal setelah dia membuka mata adalah suatu ruangan yang nampak sepi. Dia langsung mengetahui jika dirinya telah berada di dalam bangsal rumah sakit akibat parahnya luka akibat sebuah pertarungan.
Tidak ada orang lain kecuali dirinya. Mencoba untuk bangun dari tidurnya. Lemas, tentu saja. Namun, Ridwan memaksakan dirinya untuk duduk.
Setelah dirinya terduduk. Pandangannya menyapu ruangan tempat dirinya dirawat.
" Alhamdulillah..., " gumamnya.
Lalu dia melihat kedua tangannya, setahu dirinya sebelum pingsan dia mendapatkan luka yang cukup banyak diseluruh tubuhnya bahkan sampai ke bagian wajahnya. Luka sayatan dan juga bakat menghiasi kulitnya. Namun setelah dia melihat kedua tangannya, tidak nampak suatu luka sekecil apapun.
Semua luka yang dia alami telah menghilang dengan sempurna. Dia mengerutkan keningnya karena heran. Setahu dia, luka-luka seperti itu akan membekas apalagi luka bakar. Untuk sembuh pun membutuhkan waktu yang cukup lama, namun tidak dengan keadaannya sekarang. Bahkan di rumah sakit padepokan sendiri belum bisa untuk menghilangkan suatu luka secara cepat dan juga sempurna.
Disaat Ridwan sedang termenung memikirkan itu, tiba-tiba pintu bangsal tempat dia dirawat itu terbuka. Menampilkan sesosok yang dia sangat kenal.
" Umar... "
Umar yang mendengar suara yang memanggil namanya itu terkejut lalu tertawa.
" Hahahaha.... Akhirnya kau hidup juga bro... Aku khawatir kalau mati terlalu lama, " ucapnya sambil berjalan mendekati Ridwan.
Ridwan yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
" Apa tidak ada kata-kata lain selain itu? " tanya Ridwan sambil tersenyum kecut.
" Wahahaha... Santai saja bro... Bagaimana keadaanmu... Apa kau sudah lebih baik? " tanya Umar sambil duduk di kursi samping ranjang Ridwan.
" Jauh lebih baik walaupun masih sedikit lemas tapi tidak mengapa... Umar, bagaimana kondisimu? Kau terlihat jauh lebih baik daripada aku..., " tanya Ridwan.
" Yah mau bagaimana lagi aku kan lebih kuat darimu hahaha... Kau tahu aku hanya pingsan selama 2 hari dan kau 3 hari, hehehe..., " ucap Umar sedikit sombong.
Ridwan tersenyum " Bro... Apa kau tahu siapa yang menyempuhkan kita? Bahkan semua luka-luka kita menghilang dengan sempurna, " tanya Ridwan sambil menunduk.
Umar yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak tahu... Aku kemarin sudah bertanya kepada dokter yang menangani kita namun dokter bilang yang menyembuhkan kita itu mereka... Mereka menggunakan metode baru untuk menyembuhkan luka-luka kita dengan sempurna...., " ucap Umar dengan serius.
" Tapi entah kenapa aku merasa bukan mereka yang menyembuhkan kita... Lihatlah semua luka yang aku alami... Hilang dengan sempurna..., " ucap Ridwan.
Umar pun setuju dengan Ridwan. Bagaimana mungkin luka-luka yang mereka alami sembuh dengan cepat bahkan membekas pun tidak.
__ADS_1
" Entahlah bro... Aku juga tidak tahu... Tapi yang terpenting sekarang bagaimana caranya kita menjadi semakin kuat lagi... Hehehe, " ucap Umar sambil cengengesan.
Ridwan hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar ucapan Umar.
Tidak lama setelah itu, dokter pun masuk untuk mengecek kondisi Ridwan. Setelah kondisi Ridwan diperiksa oleh dokter, dokter menyatakan jika Ridwan telah baik-baik saja dan diperbolehkan untuk melakukan aktifitasnya kembali walaupun hanya ringan saja.
Ridwan yang mendengar itu pun sangat senang dan bersyukur atas kesembuhannya. Tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter itu karena sudah merawatnya selama dia tidak sadarkan diri.
Setelah itu Ridwan pun keluar dari rumah sakit bersama Umar. Berjalan dengan berlahan kearah taman padepokan.
Sore itu nampak di taman padepokan sangatlah ramai dipenuhi oleh ribuan orang yang akan mendaftar sebagai murid padepokan pancanaka.
Entah itu tua ataupun muda, mereka mendaftarkan diri. Padepokan sendiri tidak mempermasalahkan umur jadi siapapun diperbolehkan mendaftar untuk menjadi murid. Tentunya jika mereka lolos pada ujian masuk yang sangat ketat dan sangat sulit.
Ridwan dan Umar mengobrol sepanjang perjalanan mereka. Banyak hal yang mereka bicarakan. Bahkan ada beberapa murid yang menyapa mereka dengan rasa kagum dan juga bersyukur atas kesembuhan mereka.
Sekarang nama Ridwan sudah sejajar dengan Umar karena pertarungan mereka di turnamen. Maka dari itu, mereka semua tidak ada lagi yang memandang rendah Ridwan.
" Bro... Sekarang kau mau kemana? " tanya Umar penasaran.
" Hm... Sepertinya aku akan ke gubuk belakang padepokan..., " ucap Ridwan sambik tersenyum.
" Eh... Maksudmu, gubuk angker itu? Bukannya gubuk itu ditempati oleh cucu guru besar ya? Mau apa kau kesana? " tanya Umar kebingungan.
Umar sendiri tidak pernah melangkahkan kakinya di gubuk itu walau hanya sekali saja. Itu dikarenakan Umar tidak tertarik dengan gubuk itu, apalagi dulu sangat angker.
Ridwan hanya tersenyum saja sambil menatap Umar yang kebingungan. Lalu, dengan segera Ridwan melangkah meninggalkan Umar yang kebingungan.
Lalu, mereka pun berjalan berdampingan untuk menuju suatu gubuk di samping belakang padepokan. Gubuk milik seseorang yang sudah Ridwan anggap sebagai keluarga sekaligus guru.
Sesampainya digubuk, mereka melihat jika gubuk itu sangat sepi dan tidak ada penghuninya. Ridwan yang sudah ingin bertemu dengan Guntur hanya menghela nafas panjang.
" Kenapa? " tanya Umar yang penasaran.
" Sepertinya dia tidak ada di gubuk, " ucap Ridwan dengan serius.
" Tu-tunggu... Maksudmu cucu guru besar? " tanya Umar
Ridwan mengangguk " Kau masih ingat saat kita bertarung aku mengatakan seseorang? " tanya Ridwan.
Umar yang langsung memahami maksud Ridwan itu terkejut dan melebarkan matanya " Ma-maksudmu dia? " tanyanya dengan terkejut.
Ridwan kembali mengangguk " Jika bukan karena dia yang melatihku, mungkin aku masihlah seorang sampah... Kau tahu, bahkan aku telah bersumpah kalau aku akan terus mengikutinya, " jelas Ridwan dengan penuh tekad.
Umar yang melihat dan mendengar ucapan Ridwan, Umar seperti melihat sisi lain dari seorang Ridwan. Semangat, tekat, wibawa, kekuatan serta ketegasan yang sangat besar.
" Entah kenapa, aku merasa jika dimasa depan kelak dia akan menjadi orang besar.... Hahhh... Ridwan aku sangat kagum denganmu, " gumam Umar dalam hati.
" Lalu, apa yang akan kau lakukan, " tanya Umar.
" Aku akan menunggunya disini... Kau bagaimana bro? " tanya Ridwan.
Umar terdiam beberapa saat, lalu dia mengangguk dan memutuskan untuk menemani Ridwan disini sampai dia kembali " Aku temani kau disini bro," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
" Hmm... Baiklah... Tapi kita tidur diluar, " ucap Ridwan dengan santai.
" Ehh... Diluar? Kau serius? " tanya Umar terkejut.
Ridwan mengangguk " Mana berani aku tidur didalam bro, apalagi dikamarnya... Aku masuk ke gubuk ini hanya untuk bersih-bersih saja, kecuali dia yang mengajakku untuk tidur di dalam baru aku lakukan tapi jika tidak ya diluar, " ucap Ridwan sambil tersenyum.
" Sudah yukk kelihatannya hujan akan turun..., " imbuh Ridwan mengajak Umar ke teras gubuk milik Guntur.
Lalu keduanya pun menginap di gubuk milik Guntur sambil menunggu tuan rumah kembali entah dari mana.
***
Sore harinya, setelah langit berhenti menghujani bumi nusantara, Ridwan dan juga Umar yang sedang duduk mengobrol sembarang arah.
Saat mereka sedang larut dalam obrolan mereka, mereka dikejutkan oleh suara orang yang Ridwan sangat kenal.
" Assalamualaikum...., " salam orang itu.
Mereka seketika berhenti mengobrol dan melihat orang yang tengah berdiri beberapa meter samping mereka.
" Ma-mas Gun..., " ucap Ridwan yang langsung bangkit lalu mendatangi Guntur.
Disaat Ridwan ingin memeluknya tiba-tiba Guntur menjitak kepalanya sampai-sampai Ridwan terjongkok dan memegangi kepalanya.
" Ctakkkk "
" Uuuaaddoohhh.... Sakit.... "
Teriak Ridwan membahana. Sedangkan Guntur bergidik ngeri sambil memegangi tubuhnya sendiri.
" Woe... Aku normal.... Jangan peluk-peluk, " ucap Guntur.
" Hahhhh... Aku cari-cari di rumah sakit katanya sudah keluar dan sekarang malah nongkrong di gubuk orang..., " ucap Guntur sambil melangkahkan kakinya ke lincak lalu duduk disebelah Umar.
" Ya mau gimana lagi mas..., " ucap Ridwan yang menyusul duduk di lincak.
" Gimana keadaan kalian? Aku lihat kalian sehat-sehat saja... Bahkan aku juga tidak melihat kalian terluka, " tanya Guntur senang melihat keduanya terlihat sangat baik-baik saja.
Lalu, Ridwan pun menjelaskan semuanya begitu juga dengan Umar.
" Jadi... Para dokter di rumah sakit ini hebat-hebat... Lihat aku tidak melihat bekas luka kalian... Ajaib memang, hahaha..., " ucap Guntur sambil tertawa.
" Bukan begitu mas Gun... Aku rasa bukan mereka yang menyembuhkan kita, entahlah aku tidak tahu, " ucap Ridwan.
Guntur hanya tersenyum saja mendengar pernyataan Ridwan yang seperti itu.
" Syukurlah... Yang penting kalian baik-baik saja aku sudah sangat senang... Oh iya Umar, kau tidak pulang kampung? " tanya Guntur.
Umar menggelengkan kepalanya " Tidak mas... Aku ingin dipadepokan saja lagipula aku masih harus berlatih supaya bisa lebih kuat lagi..., " ucap Umar.
Sebenarnya Guntur dan Umar sudah saling kenal namun tidak akrab seperti Ridwan. Dulu sewaktu Guntur masih menjadi tukang sapu, Umar selalu menyapanya dan juga mengobrol walau hanya sebentar. Namun, semenjak idenititasnya terbongkar, mereka jarang untuk mengobrol lagi seperi dulu.
Setelah itu mereka bertiga saling mengobrol dan menceritakan kenapa mereka sampai berambisi untuk saling bertarung habis-habisan.
__ADS_1