
Turnamen antar murid padepokan pancanaka berlangsung sengit pada babak pertama yaitu babak eliminasi. Babak itu adalah babak yang menjadi penentu akan berlangsungnya turnamen pada tahun ini. 16 peserta yang tersisa itulah yang akan menjadi inti turnamen itu sendiri.
Padepokan pancanaka sendiri sudah termasuk padepokan paling modern dari semua padepokan yang ada di bumi nusantara ini. Dimana arena pertandingan sendiri memiliki sebuah layar yang sangat besar terpasang di atas tribun khusus untuk para tamu. Layar itu menampilkan siapa saja yang mempunyai peringkat di atas arena. Juga, pada turnamen kali ini menampilkan semua nama peserta yang telah lolos pada babak berikutnya.
Guntur yang saat ini tengah melihat semua nama yang tengah lolos pada babak berikutnya pada layar yang besar itu.
" Semua yang lolos adalah murid-murid yang mempunyai peringkat atas... Hanya Ridwan sendiri yang tidak mempunyai peringkat... Hehehe... Ini akan menjadi pertandingan yang sangat berat bagi Ridwan... Hmm... Umar ya... Entah kenapa aku merasa kalau Ridwan dan Umar akan bertemu sebelum final... Semifinal.... Yaa... Semifinal... Mereka mungkin akan bertemu dan bertarung habis-habisan, " gumam Guntur.
Setelah itu Guntur melihat ke tribun khusus, Guntur melihat semua orang yang ada di sana. Nampak Aji dan Lastri sedang berbincang dengan para tamu yang lainnya.
Saat Guntur fokus kepada orang tua Ridwan, Guntur tersenyum dan segera untuk menghubungi kakeknya melalui telepati.
***
Aji dan Lastri sedang berbincang kepada para tamu undangan. Saat mereka sedang mengobrol mengenai turnamen kali ini Aji melirik ke arah sesepuh Daeng, sesepuh Dalu dan Gani yang hanya terdiam menatap arena. Hanya mereka saja yang terdiam. Lalu Aji melihat mereka bertiga saling memandang satu sama lain dan mengangguk. Setelah itu Gani segera menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Aji yang melihat itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba suara Guntur terdengar di otaknya.
" Kakek, mereka akan memulainya, ijinkan aku mengaktifkan kubah ilusinya, " ucap Guntur melalui telepati kepada Aji.
Aji pun langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton, menyapu pandangannya untuk mencari keberadaan cucunya itu.
Setelah Aji menemukan Guntur yang tengah duduk di antara penonton yang lain dan memandangnya dengan serius, Aji langsung mengangguk dan di dalam hatinya berkata " Baiklah, tapi jangan sampai membunuh mereka, aku ada rencana lain untuk mereka, " gumam Aji dalam hati.
Dengan segera Guntur yang mendengar itu langsung memejamkan matanya. Setelah itu Guntur menjentikkan jarinya " Kubah pelindung ilusi empat elemen, aktif, " gumamnya.
Seketika semua orang langsung terdiam. Mereka terdiam karena melihat kubah pelindung itu lagi. Mereka terkejut sekaligus terpesona dengan kubah itu yang mana warna pelangi yang dimunculkan oleh kubah itu.
" Kubah pelindung empat elemen... " ucap salah satu tamu undangan yang bernama sesepuh Tamrin, padepokan Tongkat emas.
Seketika itu semua orang yang ada di dalam tribun khusus itu menoleh ke arah Aji. Aji sendiri tersenyum melihat semua orang melirik kepadanya.
" Ini adalah salah satu pelindung padepokanku... Entah kenapa aku merasakan akan terjadi kekacauan di padepokanku ini, maka aku aktifkan pelindung ini, apakah aku salah mengaktifkan pelindung demi keamanan padepokan dan kita semua? " tanya Aji sambil tersenyum.
" Aahh.... Tidak... Tidak salah... " ucap salah satu tamu undangan yang bernama sesepuh Werang, padepokan Maruto Landhep.
Mereka pun mengangguk. Akan tetapi dalam kenyataannya mereka keheranan, bagaimana bisa padepokan pancanaka ini memiliki pelindung ini yang setahu mereka pelindung ini sudah lama menghilang atau bisa dikatakan punah pada zaman ini.
Para sesepuh itu hanya pernah melihat sekali dalam hidup mereka yaitu pada masa remaja mereka yang mana hanya ada satu padepokan di bumi nusantara ini. Padepokan itu bernama Padepokan Alam Jagat. Di padepokan itu Aji dan Lastri adalah junior mereka sebelum Aji dan Lastri bertemu dengan Mugiman dan Mbah Pahing yang menjadi tim mereka dan menjadi legenda. Hanya padepokan itu yang mempunyai pelindung ini.
Padepokan Alam Jagat hanya memiliki 7 orang murid. Murid-murid dari padepokan itu adalah Tamrin, Mawar, Sentot, Werang, Mariam, Aji dan Lastri. Sedangkan guru mereka bernama Fatimah. Fatimah adalah Jawara yang terkenal dan mashur pada masanya yang sudah menembus batasan seorang jawara dan mendirikan suatu padepokan untuk pertama kalinya di Bumi Nusantara ini.
__ADS_1
Sebelum Fatimah berpulang, beliau sempat memberikan ilmu terakhirnya kepada semua muridnya termasuk Aji dan Lastri. Ilmu itu adalah ilmu dimana mereka sanggup menembus batasan dari seorang jawara yang disebut dengan Kanuragan. Hanya saja dari semua murid Fatimah hanya Aji saja yang sanggup menembus batasan itu karena Aji memiliki darah murni dari keluarga Samudra yang sejatinya leluhur pertama keluarga Samudra adalah seorang panglima perang dari raja yang menjadi leluhurnya Fatimah.
Tidak ada rasa kecemburuan dari semua murid beliau karena hanya Aji saja yang berhasil menembus batasan itu karena didikan dari gurunya itulah yang menjadikan mereka berjalan di jalan kebenaran. Bahkan sampai Aji dan Lastri menjadi legenda pun mereka tidak iri atau cemburu, yang ada hanya rasa kagum dan hormat kepada mereka berdua walaupun mereka berdua adalah junior mereka.
***
Sesepuh Daeng dan sesepuh dalu menyadari jika Aji dan Lastri menyadari akan maksud mereka datang ke padepokan ini dan mengetahui pelindung apa itu.
" Gawat... Aku tidak menyangka jika mereka mengetahui rencana kita... Kakang, apa yang harus kita lakukan? " ucap sesepuh Daeng panik.
" Kurang ajar... Apa yang kau lakukan Aji? " tanya sesepuh Dalu dengan teriak.
Seketika semua orang yang berada di sana menoleh ke arah sesepuh Dalu.
" Huh? Kau bicara apa sesepuh Dalu? Kenapa kau tampak sangat marah? " tanya sesepuh Werang yang terkenal dengan ketegasannya.
" Apa maksudmu... Gara-gara dia semua anak buahku tewas karena pelindung sialan itu... Dan... Ehh... " ucap sesepuh Dalu tanpa sadar.
Seketika wajah sesepuh Daeng dan Gani langsung pucat. Mereka bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan tubuh Gani bergetar hebat melihat tatapan semua tamu undangan apalagi ada empat sosok yang sangat ditakutinya yaitu Aji, Lastri, Tamrin dan Werang.
Tiba-tiba Werang berdiri dari duduknya lalu berjalan kearah mereka bertiga. Ditempat itu dimana tribun khusus itu dilanda aura intimidasi yang begitu mencekam yang dikeluarkan oleh Werang.
Namun tiba-tiba Werang mendengar suara didalam otaknya " Biarkan saja mereka, kami sudah tahu semuanya dan saat ini kami sudah membereskan mereka yang ingin membuat kekacauan di padepokan ini, " ucap seseorang didalam otaknya.
Sontak, Werang langsung terkejut sampai-sampai mengeluarkan aura jawaranya dan tombak miliknya karena waspada.
" Tidak usah terkejut dan waspada seperti itu kakek... Tenang saja, " ucapnya menggunakan telepati.
" Si-siapa kau? " teriak Werang yang mengejutkan semua orang yang ada disana.
Aji yang menyadari semua yang terjadi pada kakak seperguruannya itu langsung menghampirinya " Kakang Werang... Tidak usah terkejut seperti itu... Setelah turnamen ini selesai, aku akan menjelaskan semuanya, " ucap Aji yang menenangkan Werang.
Lalu, Aji menoleh ke arah keluarganya Ridwan " Untuk kalian bertiga, setelah turnamen ini berakhir, ikut aku ke suatu tempat yang sudah aku siapkan untuk kalian, jangan mencoba untuk kabur karena kalian tidak bisa kabur dari sini, hehehe, " ucap Aji sambil tersenyum misterius kepada mereka bertiga.
Setelah itu Aji merangkul Werang agar duduk kembali ke tempatnya. Namun begitu mereka duduk, terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga semua orang dan saat mereka lihat, mereka semua terkejut bukan main melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
" Booommm...... "
***
Sebelumnya....
__ADS_1
Dipadepokan pancanaka terdapat 470 orang asing. Mereka adalah para murid padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam yang mempunyai misi menghancurkan padepokan pancanaka.
Mereka semua terdiri dari para jawara pintu ke 5 keatas, bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah membuka pintu terakhir mereka dan menjadi jawara sempurna.
Salah satu dari mereka mendapatkan pesan dari pemimpin mereka yaitu Gani untuk melancarkan serangan sekarang juga dan mencari harta pusaka mereka yang telah diambil oleh Aji dan Ragil 10 tahun silam. Harta pusaka itu berupa sebuah senjata yang menjadi kebanggaan mereka yaitu sepasang kerampit hitam yang mana kerambit itu adalah kerambit pertama yang diciptakan di negeri ini dan mempunyai kekuatan tambahan untuk penggunanya.
Disaat mereka bersiap untuk melaksanakan misi mereka tiba-tiba semua murid-murid itu terdiam terpaku dengan wajah mereka yang sangat pucat.
Mereka melihat jika mereka berada ditempat yang sangat mengerikan dimana mereka melihat teman-teman mereka disiksa habis-habisan oleh diri mereka sendiri.
Mereka merasakan sakit yang luar biasa pada diri mereka sendiri. Ada yang disiksa dengan dibakar hidup-hidup, dikubur hidup-hidup dan ditusuk-tusuk oleh besi panas, di tenggelamkan dalam kolam yang air nya mendidih, diterjang oleh angin yang sangat kuat sampai-sampai tubuh mereka tersayat-sayat. Semua itu dapat dilihat satu sama lain dari mereka.
Teriakan, tangisan, jeritan akan rasa sakit yang sangat menyakitkan dapat mereka rasakan. Bahkan diantara mereka ada yang pingsan karena tidak kuat dengan siksaan itu.
Hanya beberapa menit kejadian tersebut, Guntur menghentikan ilusi tersebut. Akan tetapi membuat mereka semua tidak sadarkan diri bahkan ada juga yang gila karena tidak kuat menahan tekanan mental yang mereka terima akan siksaan itu.
Setelah kejadian itu, Guntur yang sedang duduk di tribun penonton sambil mengawasi semua orang yang ada di arena maupun diluar arena dengan kekuatan mata aksaranya, tiba-tiba mengerutkan keningnya lalu tersenyum " Sepertinya pertunjukkannya sudah dimulai... Aku akan membuat dimensi cermin itu transparan, supaya semua orang bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi disana... Hehehe, " gumamnya dalam hati.
Guntur yang dapat merasakan kalau para kajinan itu masuk kedalam dimensi cermin miliknya langsung menjentikkan jarinya. Seketika dimensi cermin miliknya dapat dilihat dari dunia nyata.
Belum terjadi apa-apa di dunia cerminnya itu karena para kajinan itu masih berada di parkiran padepokan dan akan segera ke arena karena di sanalah tempat dimana semua orang berkumpul untuk melihat turnamen itu diselenggarakan.
Setelah melakukan itu Guntur merasakan aura intimidasi dari tribun khusus, Guntur pun langsung melihat bahwa sesepuh Werang berjalan ke arah keluarganya Ridwan yang sebelumnya semua muridnya terkena ilusi dari kubah pelindung empat elemen miliknya. Segera Guntur melakukan telepati dengan Werang.
Namun setelah Guntur melakukan itu tiba-tiba terlihat dari arah taman padepokan sebuah bola energi yang besar dan cukup kuat melesat kuat menghantam tepat ditengah-tengah arena yang membuat semua orang terkejut dan gemetar karena ketakutan dengan kejadian yang sangat mengerikan bagi mereka.
" Booooommm.... "
Lalu, segera Guntur menghubungi Aji dengan telepati " Kakek... Pertunjukkannya sudah dimulai jadi tenanglah... Aku sudah membuat dimensi cermin yang aku buat sebelumnya diluar kubah ilusi itu menjadi transparan... Jadi semua orang bisa melihat dan mendengar kejadian yang ada di dalam dunia cermin itu... Cukup melihat sambil duduk tenang saja dan segera umumkan kepada semua orang untuk tetap tenang supaya mereka tidak panik, " jelasnya melalui telepati.
Aji yang mendengar suara Guntur di dalam otaknya itu pun langsung bangkit dari duduknya lalu segera mengumumkan akan kejadian ini.
" SEMUANYA DENGAAAARRRRRR.....!!!! KALIAN SEMUA JANGAN PANIK DAN TAKUT KARENA KITA SUDAH TERLINDUNGI OLEH PELINDUNG YANG SANGAT KUAT.... MEREKA TIDAK AKAN BISA MENGHANCURKAN PELINDUNG ITU.... KALIAN TETAPLAH BERADA DI TEMPAT KALIAN... JADIKAN KEJADIAN INI SEBAGAI SEMANGAT KALIAN UNTUK MENJADI KUAT DAN TERUS MELANGKAH DEMI CITA-CITA KALIAN.... AMBIL HIKMAH DARI KEJADIAN INI DAN AMBIL PEMBELAJARANNYA.... SEKIAN!!! " ucap Aji menggunakan tenaga dalamnya supaya dapat didengar oleh semua orang yang ada di arena maupun diluar arena.
Dengan mendengar pengumuman yang di umumkan oleh guru besar mereka, mereka langsung merasa tenang dan percaya apa yang dikatakan oleh guru besar mereka. Kembali pada posisi mereka yang sebelumnya mereka panik dan berlarian untuk melarikan diri.
Guntur yang merasa tenang karena semua sudah terkendali langsung menghubungi Alisa yang mana saat ini dirinya sedang bertarung sendirian melawan para kajinan itu.
" Alisa... Apa kau baik-baik saja? "
...
__ADS_1