Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
IDENTITAS GEA


__ADS_3

" BOOM "


Terdengar suara yang memekakkan telinga bahkan sampai ke seluruh penjuru padepokan.


Semua orang langsung menatap sumber ledakan itu lalu alangkah terkejutnya jika gudang senjata mereka hancur dan rata dengan tanah.


Tidak lama setelah itu, tamu yang tidak di undang itu memadati padepokan dengan wajah-wajah penuh dengan nafsu angkara.


Aura membunuh dan juga kebencian menyelimuti padepokan pancanaka. Ketua mereka yang bernama Gino dengan mata merah kucingnya itu menatap Aji Samudra dan juga Lastri dengan tatapan penuh akan dendam.


" Sudah lama kita tidak bertemu, bapak... Ibu, " ucap Gino sambil tersenyum.


Aji dan juga Lastri masih terdiam sambil menatap puluhan orang yang datang tanpa diundang.


Guntur melihat Gino dan yang lainnya itu langsung memegangi perutnya yang tiba-tiba mual.


" Sialan... Sebenarnya siapa mereka? Kenapa mereka semua menjadi iblis aksara? Ahhhh aku sangat mual, ingin sekali muntah melihat mereka..., " gumam Guntur dalam hati.


" Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak merindukan ku? Atau kalian lupa denganku? Ahhh adik Ragil juga disini ternyata..., " ucap Gino yang melirik ke arah Ragil sambil tersenyum.


Ragil yang mendengar itu pun langsung mengeluarkan aura jawaranya karena dia tidak menyangka jika akan melihat orang yang sangat dia benci dalam hidupnya.


" Jangan panggil aku adik... Kau sudah bukan bagian dari kami lagi, " ucap Ragil yang menatap Gino dengan tajam.


" Ahh... Kau tega sekali, apa kau lupa dulu kau selalu merengek padaku untuk mengajakku berlatih? Hehehe, " ucap Gino sambil tersenyum.


" Gino... Apa tujuanmu datang kemari? " ucap Aji tiba-tiba.


" Tidak ada, aku hanya merindukan kalian saja, " ucap Gino dengan santai.


" Merindukan kami? Apa kau bercanda? Setelah apa yang kau lakukan terhadap kami semua terlebih kepada kakek dan juga kau hampir saja membunuh mas Panji? " ucap Ragil dengan sedikit berteriak karena emosi yang dia rasakan.


Guntur yang mendengar itu terlebih mendengar nama ayahnya disebutkan oleh Ragil pun terkejut dan juga penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu? Kenapa nama ayahnya juga disebut dan juga kakek? Apa maksudnya?


" Tu-tunggu... Sebenarnya apa yang terjadi? Dan juga om-om dan tante-tante ini siapa? Kenapa--" ucap Guntur yang terpotong oleh salah satu wanita dari mereka.


" Tante? Hei bocah, siapa yang kau panggil tante? " ucapnya dengan amarah yang meningkat.


Tentu saja Guntur yang melihat itu langsung menunjuk mereka semua sambil berkata.


" Kalianlah lalu siapa lagi? " ucap Guntur dengan santai.


" Kurang ajar! Akan ku bunuh kau bocah! " ucap wanita itu sambil membuat pola aksara berwarna hijau di depannya.


Setelah pola itu jadi, sebuah bola api berwarna merah yang cukup besar keluar dengan kobaran api yang berkobar dari pola aksara itu.


Tidak mau membuang waktu lagi, wanita yang diketahui bernama Nami itu melempar bola api itu ke arah Guntur.


Guntur yang melihat bola api yang cukup besar itu melesat cepat kearahnya itu tersenyum. Lalu dengan segera Guntur memanggil toya akrasa tiruannya yang berada di dalam gubuknya.


Dengan cepat, toya aksara itu melesat dengan sangat cepat.


" 50 ton " gumam Guntur dengan pelan.


Toya aksara yang melesat dengan kecepatan tinggi itu langsung memiliki berat seberat 50 ton yang langsung membentur bola api itu dari atas dengan keras.


" Blaarrrrr "


Sontak saja,bola api itu meledak dengan hebat saat tertimpa sebuah toya yang terlihat biasa saja tapi memiliki berat seberat 50 ton.


Setelah ledakan itu hilang, nampak sebuah toya berwarna hitam dengan dipenuhi pola aksara berwarna putih kebiruan yang berdiri kokoh tanpa adanya lecet sedikitpun.


Kejadian itu membuat Guno dan kelompoknya sangat terkejut, apalagi mereka semua tahu pola aksara yang sangat rumit terlukis dengan indah yang menandakan jika toya itu bukanlah toya sembarangan. Akan tetapi mereka tidak tahu jika sebenarnya toya itu hanyalah toya tiruan yang memiliki kekuatan 50% dari toya aksara asli yang melingkar di tangan Guntur.


" To-toya i-itu.... "


Salah satu dari mereka langsung saja melesat cepat untuk mengambil toya yang tertancap di atas tanah itu. Namun, saat dirinya ingin menarik toya itu betapa terkejutnya dia karena toya tersebut sangatlah berat.


" A-apa-apaan toya ini? Kenapa sangat berat? " ucap orang itu sambil mengangkat toya itu namun tidak kuat.


Sudah berapa kali orang itu mengangkat toya tersebut namun tidak juga kuat walaupun hanya menggesernya saja.


Guntur yang melihat itu langsung saja tersenyum dan menyuruh toya miliknya itu untuk menyengat orang itu dengan tegangan listrik lebih dari 1000 volt.


Tentu saja orang itu langsung terkejut dan terpental ke belakang dimana Gino dan komplotannya berdiri.


Dengan tubuh hangus bahkan terlihat kepulan asap tipis pada dirinya. Orang itu telah sekarat dengan dipenuhi lika bakar akan sengatan listrik 1000 volt.


Siapapun orangnya pasti akan sekarat bahkan tewas jika tersengat listrik yang berkekuatan 1000 volt.


Gino dan kompkotannya sangat terkejut melihat kejadian itu, lalu Gino dengan tatapan tajamnya menatap Guntur dan juga yang lainnya.


" Siapa? Siapa pemilik toya itu.... Tunjukkan dirimu jangan menjadi seorang pengecut! " ucao Gino dengan berteriak dan juga penuh amarah.

__ADS_1


Gino sangat yakin jika toya yang menancap beberapa meter didepannya itu memiliki seorang tuan namun dirinya belum tahu jika sebenarnya tuan dari toya itu sedari tadi berdiri didepannya sambil cengengesan.


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya Gino yang sudah menjadi iblis aksara itu langsung saja murka apalagi melihat Guntur yang cengengesan tidak jelas.


" Kurang ajar.... Kau..., " ucap Gino sambil menunjuk Guntur.


Guntur yang melihat bahwasanya ditunjuk oleh Gino itu langsung celingukan lalu menunjuk dirinya sendiri.


" Huh... Aku? " tanya Guntur.


" Jangan mempermainkanku... Abel, habisi bocah tidak jelas itu! " ucap Gino.


Tanpa bersuara lagi, orang yang bernama abel itu langsung saja menyerang Guntur dengan kekuatan iblis aksaranya.


Dirinya membuat banyak sekali pola aksara diatas mereka lalu dengan serempak bongkahan es yang cukup besar dan runcing itu muncul lalu langsung melesat dengan cepat kearah Guntur.


Guntur yang melihat itu hanya tersenyum saja. Berbeda dengan Aji, Lastri dan juga yang lainnya. Mereka sangat terkejut dengan hal itu pasalnya itu adalah pola aksara tipe menyerang dengan level tinggi. Tentunya akan merepotkan jika harus berhadapan itu.


Lagi. Toya aksara itu langsung kembali melayang lalu berputar dengan sangat cepat melesat ke arah bongkahan-bongkahan itu dan menghancurkannya. Tidak hanya itu, setelah semua bongkahan es yang runcing itu hancur, toya itu langsung melesat untuk menghancurkan semua pola-pola aksara itu dengan sangat mudah.


Betapa terkejutnya semua orang melihat kejadian itu. Bahkan, Aji dan juga Lastri pun ikut terkejut melihat pola-pola aksara itu hancur karena sebuah toya.


" A-apa yang terjadi? Kenapa semua pola aksaraku hancur? " tanya Abel yang bahkan sangat terkejut sekaligus heran dengan itu.


Gino yang melihat itu langsung menatap Guntur dengan tajam.


" Apakah kau tuan dari toya itu? " tanya Gino dengan penuh nafsu amarah.


" Heheehe... Om hebat bisa mengetahuinya, " ucap Guntur yang masih cengengesan dengan itu.


" Semuanya, ratakan padepokan ini dan bunuh siapapun yang berada disini, " ucap Gino memberi perintah kepada semua pengikutnya.


Sontak saja semua orang dibuat panik dengan hal itu. Pasalnya, seorang aksara yang telah menjadi ilbis aksara akan bertambah kuat dua kali lipat karena mereka menyerap hawa negatif yang ada di sekitarnya yang mana lebih banyak dari pada hawa positif.


Disaat semua orang panik kecuali Guntur, Anisa, Aji, Lastri, Ragil dan juga kelompok yang dibuat oleh Guntur semua tetap tenang. Bahkan, Ridwan dan juga yang lainnya tersenyum penuh dengan semangat.


Dalam hati mereka, kapan lagi akan mendapatkan momen seperti ini? Untuk bisa bertarung dengan semua kekuatan yang meteka miliki.


Lantas, Guntur menatap Ridwan dan yang lainnya. Aji dan semuanya mengangguk dengan mantap.


" Lindungi padepokan dan juga semua orang, jangan sampai ada satu korban pun yang ada diantara kita, saling melindungi dan juga jangan berpencar..., " ucap Guntur sambil sedikit berteriak.


Semua orang mendengar suara Guntur, lalu tiba-tiba Ridwan dan juga Umar langsung menyerang Gino dan komplotannya tanpa memberikan aba-aba.


" Hiiiyyaaaaa....., " ucap Ridwan dan juga Umar sambil berlari lalu masuk ke dalam pertarungan.


***


Disisi lain di atas rumah berlantai 3. Gea yang masih berada di sana menatap pertarungan itu dengan kemarahan yang memuncak.


Gea tahu jika kemarahannya ini bukan dari dirinya melainkan dari tuannya. Kemarahan yang sangat memuncak, namun tiba-tiba kemarahan itu mereda karena kedatangan seseorang yang auranya sangat dia kenali.


" Siapa kau? " tanya Gea yang sangat penasaran dengan sosok yang masih dalam bayangan itu walaupun dia dapat mengetahui jika aura itu dama dengan Guntur.


" Aku bukanlah siapa-siapa tapi kita itu sama, sebagai seorang boneka kita diharuskan untuk menjadi tameng tuan kita, tapi tuanku menyuruhku untuk menahanmu agar kau tidak langsung ikut menyerang, " ucap sosok itu yang dengan berlahan menampakkan dirinya.


Betapa terkejutnya Gea melihat sosok itu. Seorang gadis dengan pakaian khusus serba hitam yang khas dengan seorang jawara khusus mata-mata itu terlihat.


Pakaian itu sendiri seperti pakaian seorang assasin namun bedanya gadis itu tidak memakai masker atau penutup kepala yang menutupi wajah cantiknya.


Aura yang sangat mendominasi dan juga jauh lebih kuat dari pada dirinya.


Yang lebih membuat Gea itu terkejut adalah wajah dari gadis itu sangatlah mirip dengan Guntur. Namun dengan versi seorang gadis.


" Jangan heran bahkan kau pun juga sama hanya saja, hanya saja kita diciptakan dengan bahan yang berbeda... "


" Namaku Yanci... Salah satu dari 9 boneka tuanku yaitu Guntur Samudra..., " ucap Yanci yang masih menatap dingin pertarungan tuannya dengan para iblis aksara.


Tentu hal itu membuat Gea sangat terkejut, pasalnya dirinya tidak menyangka jika gadis di sampingnya itu adalah seorang boneka dari Guntur. Karena memiliki hawa kehidupan tapi dirinya tidak menyadari jika hawa kehidupan itu adalah sebuah batu yang menjadi jantung, tempat dimana sumber kekuatan milik Yanci.


" Tidak usah khawatir, tuanku sudah tahu siapa dirimu... Sebaik-baiknya kau menyembunyikan identitasmu, tuanku akan langsung tahu siapa dirimu, " ucap Yanci.


" Eh.... Se-sejak kapan? " tanya Gea terkejut.


" Aku tidak tahu, tapi... Dengarkan aku baik-baik... Tuanku baru saja berpesan kepadaku jika kau tidak perlu untuk melakukan semua ini, cepat atau lambat tuanku akan segera menjemputmu... Apalagi kau adalah bagian dari tuanku... Namun, tuanku juga tidak melarangmu untuk melakukan semua ini tapi kau juga harus tahu bahwa tuanku tidak akan pernah mengkhianatimu, bahkan selalu merindukanmu dan mencintaimu walaupun tuanku sama sekali belum pernah melihatmu secara langsung, " jelas Yanci dengan tegas sesuai apa yang tuannya ucapkan melalui telepati kepada Yanci.


Gea, yang mematung itu tidak bisa lagi untuk mengelak. Bahkan air matanya pun kembali mengalir dengan deras. Dirinya tidak percaya jika Guntur akan mengetahui identitasnya secepat ini.


Dia juga menyadari jika Yanci sedang berbicara dengan tuannya yaitu Husna yang mana Husna dapat mengetahui semua apa yang Gea lakukan.


***


Di sebuah gubuk puncak bukit...

__ADS_1


Husna yang mana sedang membantu Anjani menanam bibit singkong itu tiba-tiba mengeluarkan aura aksaranya bahkan sampai pada puncaknya.


Anjani yang merasakan tekanan dari aura itu langsung tertekan dan segera untuk menenangkan Husna yang tiba-tiba murka.


" Hu-Husnaaa... Astaghfirullah... Istighfar nak..., " teriak Anjani.


Namun, Husna tidak mendengarkan teriakan dari Anjani dan terus untuk meluapkan auranya.


Mbah Pahing yang saat itu berada di air terjun semanggi oun langsung melesat dengan cepat untuk segera kembali ke gubuknya setelah merasakan aura Husna yang meledak sampai maksimalnya.


Saat sampai, Mbah Pahing segera untuk menyelamatkan Anjani untuk menjauh dari lokasi tempat Husna meledakkan auranya.


Setelah itu, Mbah Pahing segera kembali.


" Astaghfirullah... Husna, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba meledakkan auramu? Apakah ada masalah? " tanya Mbah Pahing dengan lembut.


Jika itu bukan Husna, Mbah Pahing tidak akan merasa tertekan oleh tekanan dari aura ini tapi berbeda dengan Husna yang mana bagian dari Guntur apalagi memiliki tanda aksara di dada kirinya itu.


Beberapa saat kemudian, Husna pun menarik auranya kembali lalu terdiam mematung. Lalu, tiba-tiba ait matanya mengalir dengan deras.


Sekujur tubuhnya mendadak lemas lalu jatuh terduduknya Husna didepan Mbah Pahing.


Mbah Pahing pun segera untuk menenangkan Husna.


" Husna, sebenarnya ada apa? " tanya Mbah Pahing sambil memeluk Husna.


" Pa-padepokan sedang berada dalam bahaya... Gu-Guntur dan juga semua penduduk padepokan sedang bertarung melawan mereka, " ucap Husna sambil terisak.


" APA!!? " teriak Mbah Pahing.


Dirinya sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dari Husna.


" Bagaimana mungkin? Bukankah aku sudah memberi pelindung tingkat Maha Guru 7 lapis? " gumamnya dalam hati.


" Lalu bagaimana sekarang? Siapa mereka yang menyerang padepokan? " tanya Mbah Pahing.


" Para iblis aksara, " ucap Husna yang sudah berhenti menangis.


" Hahhhh... Kau tenang saja mereka pasti bisa untuk mengatasi para aksara laknat itu.... Lalu, kenapa kau menangis? " tanya Mbah Pahing.


Husna yang mendengar itu langsung menceritakan semuanya keoada Mbah Pahing. Bahwasanya penyamaran Gea sudah diketahui oleh Guntur.


Mbah Pahing yang mendengar itu tersenyum. Mbah Pahing tahu jika Guntur pasti akan mengetahui siapa Gea yang sebenarnya karena walaupun Guntur tidak memakai mata aksaranya tapi Guntur bisa untuk mengetahuinya dari auranya saja.


Guntur, Anisa dan juga Husna sebenatnya memiliki aura yang sama satu sama lain katrna mereka adalah satu bagian. Apalagi Anisa dan juga Husna memiliki tanda dati jawara dan juga aksara.


Di Bumi Nusantara, hanya mereka saja yang memiliki tanda itu. Entah sejak kapan awak mula tanda itu terbentuk tapi yang jelas mereka bertiga tidak akan pernah bisa terpisahkan.


" Husna, lebih baik kau percayakan semuanya pada Guntur dan lainnya, untuk urusan asmara kalian lebih baik kau banyak berdoa untuk Guntur agar segera menjadi seorang jawara yang sempurna, " ucap Mbah Pahing.


" Nek... Sebenarnya aku belum mengerti kenapa harus menunggu sampai dia membuka semua pintu jawaranya untuk bisa menjemput dan menikahiku? " tanya Husna.


" Itu karena jika Guntur tidak menjadi semourna maka Guntur bisa hilang kendali atas kekuatannya bahkan kau dan juga saudarimu juga.... Tanda aksaramu itu bukanlah tanda sembarangan, melainkan tanda yang bahkan menjadi pusat dari kekuatan jawara dan juga aksara... "


" Ibarat jika kau itu adalah pemimpin dari semua aksara maka saudarimu Anisa adalah pemimpin dari semua jawara yang ada... Sedangkan Guntur sebenarnya adalah sumber dari semua itu yang menjadi seorang pemimpin dari semua pemimpin mereka, maka dari itu Guntur memiliki gelar Sang Hyang Aksara itu bukanlah sembarang gelar... "


" Disisi lain Guntur juga akan menjadi pengayom yang akan merangkul semua orang untuk menjadi lebih baik dan juga berjalan di jalan yang seharusnya mereka berjalan... "


" Sekarang, coba kau bayangkan jika kau sudah sempurna sedangkan Guntur belum? Tanda yang berada dalam diri Guntur akan tidak seimbang karena salah satu dari kalian belum sempurna dan itu pasti akan membuat kekacauan pada semua orang karena kalian akan hilang kendali... "


Husna yang mendengar itu langsung mengerti. Terjawab sudah pertanyaan yang selama ini berada dalam benaknya. Dengan menunduk malu pada dirinya sendiri, Husna terdiam.


" Yasudah jangan kau khawatirkan penduduk padepokan dan juga Guntur, apa kau lupa jika padepokan itu bukanlah padepokan sembarangan? "


" Husna lebih baik kita segera untuk makan siang, lihat nenek sudah mendapatkan banyak ikan untuk kita makan.... Yuk, " ucap Mbah Pahing sambil membantu Husna untuk berdiri.


Husna pun mengangguk, lalu segera untuk memasak dan menyiapkan makan siang bersama.


" Guntur.... Anisa.... "


*


*


*


*


*


Assalamu'alaikum...


Hai manteman pembaca, maaf jika mungkin novel ini akan jarang update untuk beberapa bab kedepan karena ane lagi mudik dan sibuk...

__ADS_1


Jadi ane mohon maaf yang sebesar besarnya kepada manteman semua atas ketidak nyamanannya....


Salam Jawara...!


__ADS_2