Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Jangan Kau Kira Wanita Itu Lemah!


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu begitu cepat. Dalam satu bulan ini Guntur terus menerus menggembleng Ridwan dan yang lainnya dengan serius.


Ridwan yang bahkan sekarang sudah mampu menggunakan pemperat tubuh seberat 300kg itu membuat tubuhnya menjadi lebih kekar dan juga lebih berotot. Kekuatannya juga berkembang jauh lebih kuat.


Umar yang mana saat ini memakai pemberat tubuh seberat 50 kg itu juga tampak lebih kuat dan berotot. Kecepatan dan juga instingnya pun jauh lebih berkembang ajam dari pada yang lainnya. Hal itu menjadikan dirinya semakin dekat dengan rivalnya yaitu Ridwan dalam hal kecepatan.


Julian sendiri disamping mengikuti pelatihan fisik dirinya juga mendapatkan pelatihan khusus dari Guntur untuk mempertajam insting dan juga nalurinya bahkan pelatihan batin pun Guntur berikan kepada Julian. Hal itu dikarenakan Julian memiliki potensi untuk menjadi seorang ahli strategi didalam tim mereka.


Tidak hanya itu, Julian bahkan diberikan banyak sekali buku dan juga pelatihan materi dari Guntur dengan cara bermain catur. Julian sangat senang dengan permainan itu yang mana itu menandakan jika Julian memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadi apa yang diharapkan oleh Guntur.


Alisa yang dasarnya seorang gadis manja pun semakin hari semakin nampak lebih mandiri dan juga sedikit lebih dewasa. Dirinya juga terus menerima pelatihan dari Anisa yang sangat keras.


Anisa sendiri bahkan tanpa pandang bulu untuk menghukum mereka dengan keras jika melakukan kesalahan.


Yuni juga semakin hari semakin bertambah kuat bahkan tubuhnya pun jauh lebih padat berisi dari sebelumnya. Kekuatan, insting dan juga refleknya pun berkembang pesat bahkan lebih peka dan juga sensitif dari sebelumnya.


Putri yang baru bergabung tiga minggu yang lalu pun juga mendapatkan pelatihan oleh Anisa, hanya saja Putri sedikit terkendala dengan fisiknya yang lemah maka dari itu Anisa memberikan pelatihan khusus untuknya dan dalam tiga minggu ini, Putri jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Hal itulah yang membuat semuanya menjadi senang namun yang membuat semua terkejut adalah senjata Putri yang sangat berbeda dari lainnya yaitu sebuah sebuah cambuk.


Senjata yang sangat susah untuk digunakan itu justru Putri dapat gunakan dengan sangat lihai dan terampil.


Mereka semua mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan porsi, kemampuan dan juga pegangan mereka. Hal itu membuat semuanya menjadi lebih berkarakter dengan karakter mereka masing-masing.


Disaat mereka sedang berkumpul didepan gubuk milik Guntur sambil membakar singkong, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya seseorang yang sangat asing bagi mereka bahkan Anisa sendiri langsung bersiap untuk menyerang orang itu. Namun Guntur segera menenangkan Anisa.


" Assalamualaikum..., "


Sontak saja semua orang langsung menjawab salam dari orang itu.


" Waalaikum salam warrohmatullah "


Guntur yang melihat orang itu mengerutkan keningnya lalu menggunakan kekuatan dari mata aksaranya. Hanya satu detik mata Guntur memutih dan melihat siapa sebenarnya orang itu.


" Maaf mengganggu kalian, nama saya Huang Du, saya adalah salah satu ajudan keluarga Jin untuk menjemput tuan Jin Bun karena tuan besar meminta untuk tuan Jin Bun segera ke kediaman keluarga Jin, " ucap Huang Du dengan sopan.


Huang Du adalah salah satu ajudan elit keluarga Jin dan seorang kultivator dengan ranah saint.


" Kenapa kakek buyut tidak menelponku saja? aku bisa kesana sendiri tanpa harus merepotkanmu paman Huang, " tanya Guntur.


" Kalau masalah itu mohon maaf tuan saya tidak tahu..., " ucap Huang Du.


" Baiklah aku akan kesana... Anisa, sepertinya ada sesuatu yang penting, kau mau ikut atau disini saja bersama mereka? " tanya Guntur sambil menatap Anisa.


Anisa pun menggelengkan kepalanya " Tidak mas, aku disini saja... Lagipula sebentar lagi mereka akan melanjutkan latihan mereka, jika aku tidak disini siapa yang akan membimbing mereka? Pergilah mas dan titipkan salamku kepada kakek buyut, " ucapnya.


" Baiklah... Untuk kalian setelah ini kalian akan berlatih bersama Anisa... Aku akan pergi sebentar, " ucap Guntur sambil berdiri.


Guntur sudah memberitahu semuanya nama asli dari srikandi bercadar jadi mereka tidak lagi memanggilnya dengan nama gelarnya tapi memanggiknya dengan sebutan kakak Nisa saja. Namun Guntur tidak memberitahu jika sebenarnya Anisa adalah istrinya, hanya Ridwan dan Alisa saja yang tahu.


" Baik mas..., " ucap Ridwan.


" Kak jangan lupa oleh-olehnya ya hihihi, " ucap Alisa sambil cengengesan.


" Haiyah... Yasudah aku tinggal dulu... Ayo paman Huang.... Assalamualaikum, " ucap Guntur lalu berjalan bersama Huang Du.


" Waalaikum salam warrohmatullah..., " ucap semuanya.


Beberpa saat kemudian, Guntur yang berada didalam mobik itu turun dari mobil itu karena sudah sampai pada tujuannya yaitu kediaman keluarga Jin.


Terlihat kakek Jin tengah menunggunya bersama dengan Jin Shu. Saat melihat Guntur turun dari mobil, Jin Shu langsung berlari lalu memeluk Guntur dengan erat.


" Kau tahu kakak sangat merindukanmu Bun'er, " ucap Jin Shu yang masih memeluk Guntur.


Namun siapa sangka jika hal itu membuat Guntur gelagapan sampai tidak bisa bernapas karena kepala Guntur tengah berada tepat di belahan dada Jin Shu yang cukup besar itu dan Jin Shu sendiri bukan memeluk tubuh Guntur melainkan kepala Guntur. Jin Shu menyadari hal itu setelah Guntur mencoba untuk melepaskan pelukan Jin Shu.


Setelah terlepas, nampak raut wajah Guntur yang sangat merah bagai tomat lalu tiba-tiba...


" Croottt "


Darah segar menyembur keluar dari hidungnya. Untung saja Guntur sigap untuk menutupi hidungnya sebelum menyembur kemana-mana.


" Uaaahhhh.... Apa yang kak Shu lakukan.... Aduuuuhhhh, " ucap Guntur sambil memegangi hidungnya yang meler mengeluarkan banyak darah.


Bukannya sedih Jin Shu malah tertawa terpingkal-pingkal.


" Lah ahahahahhaa, kau kenapa Bun'er, wahahahaha..., " ucapnya sambil tertawa.


" Eee... I-itu.... Emm, " ucap Guntur gelagapan.


" Wahahaha... Mau lagi? " tanya Jin Shu sambil menggoda cucunya itu.

__ADS_1


" Tidaaaaaaakkkkk, " Teriak Guntur membahana.


" Sudah-sudah ayo masuk kedalam.... Shu'er, jangan menggoda cucumu seenak udelmu, kau tahu Guntur walaupun sudah menikah tapi dia itu masih polos jika urusan begituan.... Wahahahaa, " ucap kakek Jin yang tertawa sambil masuk kedalam rumahnya.


***


Gea yang malam ini sedang berdiri di atas bangunan yang cukup tinggi itu menyapu pandangannya pada seluruh kota Batavia.


Dirinya sekarang sudah menguasai jurus loka jemparing dengan sangat sempurna bahkan dirinya juga berhasil menguasai beberapa jurus beladiri non jawara yaitu jurus-jurus silat.


Ada perbedaan dari seorang jawara dengan non jawara. Mereka para jawara memiliki kekuatan yang diluar nalar orang awam seperti elemen atau jurus-jurus mereka dapat menghancurkan apapun dan masih banyak lagi. Sedangkan non jawara, mereka tidak bisa untuk melakukan itu dan hanya mengandalkan kemampuan fisik mereka dan juga tenaga dalam saja.


Perbedaan itu terkadang orang awam tidak bisa untuk membedakan seorang jawara atau non jawara dan setahu mereka, semua itu sama saja.


Keberadaan jawara sendiri berada di sisi lain dari dunia modern itu sendiri. Maka dari itu mereka para jawara ataupun aksara tidak mau menunjukkan kekuatan mereka didepan umum kecuali dalam keadaan sangat terdesak.


Dalam pandangannya, Gea melihat sebuah mobil yang sedang melesat cepat menuju padepokan pancanaka. Gea dapat merasakan jika Guntur berada didalam mobil itu.


" Untuk sementara ini aku akan diam saja sambil mengawasinya... Tunggu waktu yang tepat untuk bisa bergabung dengannya, jika tidak Guntur dan nona Anisa akan tahu siapa sebenarnya aku, " gumamnya dalam hati.


Setelah itu, Gea segera melesat kembali ke tempatnya beristirahat yang mana sebuah rumah susun yang belasan tahun tidak berpenghuni.


***


Dua minggu kemudian Guntur dan Anisa sedang di perjalanan keluar dari padepokan menuju sebuah mall di kota Batavia.


Guntur sebenarnya malas untuk bepergian dari padepokan namun Anisa terus mengajaknya untuk jalan-jalan keluar dari padepokan hanya untuk sekedar reflesing saja.


Mereka naik bus untuk perjalanan mereka karena mereka tidak memiliki kendaraan sendiri di padepokan.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka berdua telah sampai disebuah mall yang nampak sangat besar dan juga sangat ramai.


" Wuuaaaahhh bueesaaarr, " ucap Guntur nampak kagum dengan apa yang dia lihat.


" Masya Allah... Mas, sudah yuk masuk... Malu dilihat orang, " tegur Anisa sambil melangkah masuk ke dalam mall tersebut.


Guntur pun segera menyusul Anisa dan mereka nampak sangat senang saat berada di sana.


Beberapa meter di samping kanan Guntur dan juga Anisa. Terlihat seorang gadis yang juga bercadar menatap keduanya, gadis itu adalah Gea.


Gea selalu mengawasi padepokan pancanaka dari kejauhan dan berharap Guntur keluar dari padepokan.


Mengetahui mereka keluar bersama, Gea segera membuntuti mereka. Dengan menutup semua aura dan hawa keberadaannya, Gea dengan bebas untuk mengawasi Guntur dan Anisa.


Anisa sendiri tidak menyurigai Gea karena tidak merasakan apa-apa dari gea dan menganggap Gea adalah orang biasa.


Setelah Guntur dan Anisa berkeliling, mereka segera untuk berjalan ke sebuah restoran fash food untuk makan siang karena Guntur sudah merasa lapar.


Saat mereka sampai, mereka langsung duduk di pojok sisi kanan restoran dan memesan menu makan siangnya.


" Mas, sebenarnya aku sangat penasaran saat mas ke kediaman kakek buyut, apa ada hal yang penting? " tanya Anisa memberanikan diri untuk bertanya walaupun sebenarnya dirinya sangat takut untuk bertanya kepada suaminya itu.


Guntur yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya " Tidak ada... Kakek hanya kangen saja karena cukup lama juga tidak bertemu dan kakek memberikan ini kepadaku, " ucap Guntur sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dalam tas miliknya.


Sontak saja Anisa ngat terkejut melihat itu " Subhanallah... Black card... Mas, i-ini beneran? " tanya Anisa tidak percaya.


" Benar... Aku sempat menolak dengan keras tapi kakek buyut terus memaksaku bahkan mengancamku akan dikeluarkan dari keluarga Jin... Dengan terpaksa aku menerimanya... Kartu ini juga atas namaku, aku tidak tahu bagaimana kakek membuat kartu ini, " ucap Guntur dengan lesu.


" Be-berapa isinya mas? " tanya Anisa penasaran.


" Aku belum tahu pasti soalnya aku belum mengecek secara langsung tapi kakek buyut mengatakan jika isinya lebih dari 5 triliun, " ucap Guntur sedikit berbisik saat mengatakan nominal dari isi kartu tersebut.


Seketika Anisa terdiam karena saking terkejutnya.


" Hahhh... Aku saja tidak tahu uang segitu banyaknya mau buat apa... Kau tahu, bahkan uang pemberian ibuku saja masih utuh sampai sekarang..., " ucap Guntur dengan lesu.


" Ma-mas, lebih baik simpan lagi kartu itu supaya tidak ada yang melihatnya, " ucap Anisa yang sedikit takut.


Guntur yang tahu maksud Anisa itu langsung memasukkan kartu hitam itu ke dalam tas kembali. Tidak lama setelah itu, makanan mereka pun datang lalu mereka segera untuk makan siang.


Setelah mereka selesai dengan makan siangnya, mereka kembali untuk berkeliling dan juga membeli sesutu seperti baju ataupun aksesoris, tidak lupa juga mereka membelikan oleh-oleh untuk Ridwan dan yang lainnya.


Disaat mereka mereka keluar dari mall, mereka melihat bahwa ada segerombolan orang yang berjumlah 5 orang sedang mengepung seorang gadis bercadar.


Tentu Guntur melihat itu ingin sekali untuk menolongnya namun Anisa segera untuk menghentikkan suaminya itu.


" Jangan mas, kita tidak tahu masalah apa sampai-sampai gadis itu dikepung seperti itu, " ucap Anisa.


Guntur pun hanya mengangguk saja. Lalu terlihat gadis itu berhasil lolos dan berlari untuk kabur dari mereka. Sontak saja mereka yang mengepung gadis itu mengejarnya.


" Kita awasi saja dari jauh, " ucap Anisa lalu berlari mengejar gadis itu yang diikuti oleh Guntur dibelakangnya.

__ADS_1


Gea, yang entah kenapa dikepung dan bahkan dikejar oleh beberapa orang itu terus berlari. Niatnya ingin menjauhkan mereka dari keramaian.


Setelah melewati gang sempit di samping mall, gea saat ini berada di sebuah kebun kosong yang tampak cukup rimbun.


Disana, Gea berhenti dan berbalik menatap ke lima orang tersebut yang mengejar Gea.


" Apa aku mempunyai kesalahan kepada kalian? " tanya Gea yang tetap tenang.


" Kau tidak mempunyai kesalahan hanya saja kami hanya ingin sedikit bermain kepadamu, hahahaha.... Cepat berikan ranselmu itu jika kau ingin selamat..., " ucap salah satu dari mereka.


Tiba-tiba, ransel yang Gea bawa itu dia lemparkan kepada mereka.


" Cepatlah kalian pergi, jangan ganggu aku..., " ucap Gea.


" Pergi? Jangan bercanda... Kami belum bermain denganmu... Hehehe, " ucap salah satu dari mereka sambil menjilati bibirnya dan tersenyum penuh misteri.


" Kalian semua tangkap gadis itu lalu bawa dia ke markas! " ucapnya.


" Bos... Apa kami juga boleh bermain dengannya? " tanya salah seorang dari komplotannya.


" Tentu tapi setelah aku bermain dengannya, hehehehe, " ucapnya kembali.


Sontak saja mereka berempat tampak sangat senang, kapan lagi bisa bermain dengan gadis bercadar? Tentu mereka memiliki fantasi liar dengan gadis bercadar itu.


Lalu, salah satu dari mereka yang memiliki tubuh kurus diantara semuanya itu melangkah maju mendekati Gea, saat jarak mereka kurang dari satu meter dan tangan laki-laki itu mengarah kepada Gea, Gea langsung meraih tangan itu lalu menariknya dengan kencang dengan tangan kirinya.


Setelah itu, tangan kanan Gea memukul pergelangan siku dari tangan laki-laki itu sampai berbunyi.


" Krakkk "


Sendi siku tangan kanan laki-laki itu langsung terlepas. Tidak hanya itu, Gea juga memukul ketiak laki-laki itu.


" Krakkk "


Kembali persendian terlepas dari tempatnya setelah itu, Gea memukul leher laki-laki itu.


" Bukkk "


Seketika, laki-laki itu langsung tidak sadarkan diri. Kejadian itu sungguh sangat cepat dan hanya beberapa detik saja.


Gea melakukan itu dengan cepat untuk menumbangkan laki-laki itu. Gea tidak menggunakan kekuatan jawara dan hanya menggunakan fisiknya saja.


Salah satu gerakan dasar dari jurus non jawara yaitu silat yang Gea gunakan berhasil menumbangkan laki-laki yang mencoba untuk menyentuhnya.


Kejadian itu tentu saja membuat semuanya terkejut termasuk Guntur yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.


" Ka-kau... Kurang ajar... Semuanya serang dia! " Perintah ketua dari komolotan preman itu.


Seketika ketiga orang bawahannya segera berlari untuk menghajar Gea, namun Gea tentu saja tidak tinggal diam.


Gea juga berlari ke arah ketiganya lalu berhasil membuat ketiga orang itu tumbang tidak sadarkan diri dan yang pasti dengan mematahkan tulang mereka.


Kejadian itu sangat cepat sampai-sampai ketua komplotan itu tercengang dan ketakutan.


" Ja-jangan mendekat..., " ucap ketua itu.


" Jangan kau kira wanita itu lemah... Sekarang hanya tinggal kau saja... Apa kau mau aku buat seperti mereka? " tanya Gea mengancam.


Ketua itu langsung saja melemparkan tas yang sebelumnya dia rampas dari Gea. Lalu segera kabur dengan berlari sangat kencang sambil terkencing-kencing.


" Astaghfirullah... Hahhhhhh... Biarlah dia lari yang penting aku selamat, " ucapnya sambil mengambil tas miliknya itu lalu berjalan pergi tanpa peduli dengan keempat orang yang terkapar tidak sadarkan diri itu.


Guntur dan Anisa yang melihat itu sedikit kagum dengan gadis bercadar itu. Mereka tengah berada di atas pohon beberapa meter dari lokasi kejadian.


" Wahh aku baru melihat jurus itu tapi kenapa aku tidak merasakan aura jawara pada gadis itu? " tanya Guntur kepada Anisa.


" Silat, " ucap Anisa singkat.


" Huh... Silat? " tanya Guntur.


" Benar.... Dia bukanlah seorang jawara dan jurus yang dia gunakan tadi adalah jurus silat.... Itu adalah salah satu beladiri non jawara yang ada di Bumi Nusantara bahkan beladiri itu sekarang sudah mendunia..., " ucap Anisa.


" Hm... Aku baru tahu jika ada beladiri non jawara... Tapi jerakan dan juga kecepatan dari gadis itu sangat halus namun sangat tajam dan juga sangat cepat..., " ucap Guntur kagum.


" Jika aku tebak gadis itu sudah berada di tingkatan tinggi bahkan mungkin salah satu guru di salah satu perguruan silat... "


" Mas... Lebih baik kita segera pulang, " ucap Anisa.


" Ahh... Benar juga... Baiklah kita pulang saja, " ucap Guntur lalu menghunakan teleportnya untuk pulang ke padepokan.


Tidak lama setelah itu, ada seorang pria patuh baya yang datang ke kebun itu dan mendapati empat orang yaang tengah pingsan.

__ADS_1


Segera pria itu berlari untuk mencari pertolongan warga untuk menolong empat orang itu.


__ADS_2