
Sore hari di sebuah ruangan yang tertutup di padepokan pancanaka, terdapat 6 orang yang sedang berkumpul untuk membahas sesuatu yang sangat penting untuk di bahas.
Mereka berenam adalah para jawara yang sangat kuat dan juga cukup ditakuti di bumi nusantara. Hidup mereka hanyalah untuk misi dan juga berlatih.
Ketika nama mereka disebutkan maka lawan-lawannya akan lari tunggang-langgang karena ketakutan.
Mereka adalah semua murid dari Ragil yang tengah duduk secara melingkar karena meja didepan mereka. Terdiam tanpa bersuara dan menunggu seseorang untuk memulai pembicaraan.
Ragil, Sang Seribu Bayangan memulai suatu pembicaraan langsung pada inti dari pertemuan itu.
" Bagaimana misi kalian? " tanya Ragil dengan menatap
Salah satu diantara mereka langsung menjawab.
" Guru... Misiku berjalan sesuai rencana dan belum ada sesuatu yang mencurigakan yang berarti..., " ucap salah satu dari mereka, yaitu Amir Sang Burung Hantu.
" Terus awasi mereka, aku tidak mau jika mereka membuat kekacauan... Jika mereka berbuat kekacauan... Habisi mereka, " ucap Ragil dengan tegas.
" Baik Guru, " ucap Amir mengangguk.
Amir diberikan misi untuk memata-matai kelompok ******* yang mengancam negara. Markas dari para ******* itu terletak di salah satu pulau terpencil di selatan pulau jawa. Dia juga dibantu oleh beberapa agen rahasia negara untuk melakukan misi itu.
Agen rahasia itu sendiri terdiri dari jawara dan juga aksara. Amir sebenarnya mendapat tawaran dari negara untuk menjadi agen rahasia negara namun Amir menolak karena dirinya hanya akan mengabdi pada padepokan pancanaka yang sudah membesarkan dan melatihnya menjadi seperti sekarang.
" Imam, bagaimana misimu? " tanya Ragil serius.
Imam dengan gelar Sang Djarum Rembulan, yang memang orang yang terlampau santai jadi dirinya menjawab dengan santai.
" Hahhh... Jangan tanya soal misiku, guru sendiri sudah tahu jawabannya, " ucap Imam.
Ragil yang mendengar jawaban dari Imam hanya mengangguk. Ragil sendiri yang memberikan misi untuk Imam. Misi yang terlihat mudah namun penuh dengan hal-hal yang membuat sakit kepala, ya... Misi untuk mengawasi seluruh murid dan guru di padepokan pancanaka.
Ragil juga meminta Imam untuk melaporkan kejadian apapun atau masalah apapun di padepokan jadi Ragil bisa untuk menanganinya dengan cepat.
" Ria..., " ucap Ragil dengan serius.
__ADS_1
Ria adalah murid ke terakhir dari Ragil, Ria memiliki gelar Sang Penggoda itu memiliki kecantikan diatas rata-rata serta tubuh yang sangat menggoda dan juga merangsang karena pakaian yang selalu ia kenakan.
Pakaian yang selalu menampilkan lekuk tubuhnya dan juga sangat terbuka. Saat ini pun dirinya hanya menggunakan celana hotpant hitam yang sangat pendek sehingga menampilkan kulit paha yang putih dan juga sangat mulus, kaos hitam pres body tanpa lengan yang juga terdapat sebuah lobang diatas dadanya yang besar. Sarung tangan hitam melekat di tangan kirinya dan juga gelang yang terbuat dari kain hitam di lengan kanannya, sepatu boot tinggi sampai di lututnya berwarna hitam juga.
Rambut hitam yang diikat kuncir kuda kebelakang serta terdapat poni menutupi keningnya.
" Hihihi.... Tenang saja, semalam aku sudah membunuh target dan aku juga sudah menghubungi pihak berwajib untuk mengurus mayat orang itu..., " ucap Ria dengan santai.
Misi yang diberikan Ragil untuk Ria adalah menjadi seorang wanita penghibur di suatu club malam untuk menghabisi seorang, seorang bandar narkoba yang sangat sulit untuk diburu.
Maka dari itu, pihak negara yang sudah kewalahan dengan orang itu pun akhirnya meminta bantuan padepokan pancanaka untuk melakukan misi itu.
Hanya dalam 2 hari saja orang itu berhasil untuk dibunuh. Negara tidak mempermasalahkan untuk membunuhnya karena hukum bagi seorang bandar narkoba di bumi nusantara adalah hukuman mati, entah itu didalam kurungan selamanya atau dibunuh ditempat.
Namun, walaupun Ria memiliki gelar Sang Penggoda, pada kenyataannya dia masihlah gadis yang masih bersegel. Gelar hanyalah gelar dan tidak bisa disandingkan dengan hakikat kesucian dari Ria.
" Bagus.... Yang pasti negara sudah sedikit tenang dalam masalah itu..., " ucap Ragil menganggukkan kepalanya.
" Warok..., " ucap Ragil.
Warok yang sedang menikmati secangkir kopi dan rokok itu segera melaporkan misinya.
Ragil yang mendengar itu langsung mengangguk.
" Baiklah... Tidak usah terburu-buru, jika ada sesuatu yang membahayakan mereka segera menghubungiku..., " ucap Ragil.
" Baik Guru..., " ucap Warok mengerti.
Lalu Ragil menatap murid pertamanya itu...
" Mawar...., " ucap Ragil.
Mawar yang mendengar itu langsung menatap gurunya. Seorang gadis yang juga memiliki kecantikan diatas rata-rata itu memiliki gelar Sang Mawar Berduri.
Gadis cantik yang tidak sinkron dengan usianya yang saat ini pun dirinya sudah berumur 27 tahun namun memiliki paras serta tubuh gadis usia 16 tahun itu di samping memiliki kecantikkan diatas rata-rata, dia juga memiliki sifat yang kalem dan juga anggun, namun memiliki kekuatan yang sangat mengerikan. Bahkan dirinya bisa saja menghancurkan sebuah kota kecil dengan kekuatannya uniknya yaitu Ri Ning Mawar.
__ADS_1
Suatu keindahan tidak selamanya indah, namun juga memiliki sebuah racun yang sangat mematikan yang terdapat dibalik keindahan itu sendiri. Itulah yang bisa digambarkan pada Mawar, Sang Mawar Berduri.
Dia juga dapat berkamuflase menjadi bunga Mawar untuk melakukan misinya. Memerintahkan semua bunga mawar untuk membantu dirinya seperti mengeluarkan racun atau membuat pohon mawar itu sendiri melilit lawannya sampai mati, perkara mudah baginya.
Namun bukan itu yang ditakuti oleh semua orang termasuk saudara seperguruannya bahkan Ragil sendiri. Kengerian itu sendiri adalah jurus pamungkasnya yaitu mawar berduri itu sendiri.
" Hm... Ada apa guru, hanya aku yang tidak memiliki misi, jadi ya aku hanya berlatih saja...., " ucap Mawar dengan santai.
" Hahhh... Itu karena belum ada misi yang cocok untukmu, " ucap Ragil.
" Baiklah kita tutup saja untuk laporan ini, oiya aku merasa kalian perlu reflesing untuk beberapa saat..., " ucap Ragil mengakhiri pertemuan itu.
Saat hendak berdiri, Ria tiba-tiba mengatakan sesuatu yang bahkan bisa memulai adanya perang.
" Guru... Bagaimana dengan Sang Dukun, Winga? Semalam saat aku di perjalanan pulang kemari, aku melihat dan merasakan kekuatan dari seorang kajinan yang sangat luar biasa kuat, sampai-sampai aku batuk darah karena itu... Aku juga melihat pusaran aura seorang kajinan yang meledak di tanah Pandeglang... Aku menebak jika itu adalah ulah Winga..., "
Seketika semua orang yang berada disana menegang termasuk Ragil sendiri. Baginya, Winga adalah seorang kajinan legendaris yang selevel dengan Aji Samudra.
" Ini masalah serius... Yang jelas kalian jaga diri kalian dengan baik dan laporkan segala sesuatu yang mengancam akan adanya perang didunia persilatan... Setelah ini, aku akan membahas masalah ini kepada bapak, "
" Lebih baik kalian tidak usah memikirkan hal ini karena kalian belum mampu untuk masalah ini... Kalau begitu, aku pergi dulu..., " ucap Ragil dengan serius.
Setelah Ragil meninggalkan ruangan tertutup itu, mereka langsung menghela nafas.
" Hahhhh... Padahal kita sudah menjadi jawara sempurna bahkan abnormal namun kita bahkan tidak mampu untuk menahan tekanan dari aura guru..., " ucap Ria sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan kursinya.
" Guru memang luar biasa kuat, " ucap Amir sambil menghisap rokoknya.
" Kalian enak mendapatkan misi jauh dari guru... Lah aku? Tiap hati bertemu dengannya... Bagaimana tidak tekanan mental? " tanya Imam.
" Wahahaha.... Itu deritamu mam...., " ucap Warok tertawa.
" Hm... Bagaimana jika kita jalan-jalan di padepokan... Sudah lama kita tidak jalan-jalan di sana... Hehehe, " ucap Mawar sambil tersenyum.
Semua orang langsung menatap Mawar.
__ADS_1
" Benar juga, sekali-kali reflesing lah kita..., " ucap Ria setuju.
Sedangkan yang lain pun ikut setuju. Lalu mereka pun keluar dari ruangan itu bersama.