Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Artefak Kuno dan Sempurnanya Pedang Bai Hu


__ADS_3

Kakek Jin bahkan tidak merasa iri ataupun ingin merebut cincin dimensi itu tapi kakek Jin juga kasihan pada Guntur karena Guntur bukanlah seorang kultivator.


" Coba kau keluarkan salah satunya nak, " ucap kakek Jin.


" Hah? Bagaimana aku melakukannya kek? Aku tidak mengerti, " tanya Guntur bingung.


Kakek Jin mengerti dengan kebingungan Guntur karena Guntur bukan kultivator yang pernah mendengar atau menggunakan harta cincin dimensi.


" Pertama kau harus mengingat apa saja yang ada pada cincin dimensi itu... Setelah itu kau bayangkan jika kau ingin mengeluarkan barang apa saja yang ada pada cincin tersebut, dengan begitu barang yang kau inginkan akan keluar dengan sendirinya, " jelas kakek Jin singkat.


" Contohnya seperti ini, kakek juga punya cincin dimensi... Perhatikanlah, " ucap kakek Jin.


Dengan cepat kakek mengingat dan menginginkan barang yang ada di cincin dimensi miliknya itu keluar.


Lalu, secara ajaib barang itu keluar dengan sendirinya yang mana barang yang diinginkan kakek Jin untuk keluar itu adalah sebuah pedang Bai Hu miliknya.


Guntur yang melihat itu sangat takjub dan juga berbinar.


" Masya Allah... Kuasa Sang Hyang Tunggal kang Agung memang tanpa batas, " gumam Guntur lirih.


Sementara itu kakek Jin yang mendengar itu tersenyum tipis.


" Inilah yang kakek maksudkan nak, nah untuk mengembalikan atau memasukan kembali cukup bayangkan saja barang itu masuk ke dalam cincin, seperti ini, " ucap kakek Jin.


Setelah itu, pedang Bai Hu itu kembali menghilang yang ternyata pedang itu masuk kembali ke dalam cincin dimensi milik kakek Jin.


Lagi-lagi Guntur takjub dengan itu, lalu dengan cepat Guntur membayangkan jika barang yang ada di cincin dimensinya itu keluar.


Benar saja, barang itu keluar dan langsung berada di genggaman tangannya.


Kakek yang melihat itu langsung terkejut dan bergetar di seluruh tubuh tubuhnya.


Benda yang dikeluarkan oleh Guntur adalah sebuah artefak kuno berbentuk kotak kecil seperti kotak cincin berwarna merah namun dihiasi dengan ukiran aksara cina berwarna putih kehijauan dan dua ekor naga berwarna emas.


Artefak itu adalah artefak pengumpul Qi yang dapat membuat aliran Qi disekitarnya menjadi 50 kali lebih padat dari pada biasanya dan hanya ada satu didunia.


Tentu Guntur tidak tahu akan hal itu dan Guntur sendiri hanya mengeluarkan benda secara acak saja yang dia ingat.


" I-ini..., " ucap kakek Jin terbata-bata.


Guntur yang melihat jika kakek buyutnya sangat terkejut itu mengerutkan keningnya.


" Kenapa kek? " tanya Guntur penasaran.


" Bu-Bun'er... I-ini adalah artefak kuno yang dapat mengumpulkan aliran Qi disekitarnya menjadi lebih padat dan hanya ada satu didunia, " ucap kakek Jin tergugup.


" Hm... Kalau begitu buat kakek saja.... Aku kan bukan kultivator jadi aku tidak membutuhkan ini, terimalah kek, " ucap Guntur sambil menyerahkan artefak itu.


Kakek Jin yang menerima artefak kuno itu tidak bisa lagi untuk tidak bahagia.


Pasalnya di jaman yang sudah sangat maju lagi modern ini, tentu sebuah artefak akan sangat langka dan juga sangat berguna bagi mereka yang membutuhkan.


Juga, kalaupun sebuah artefak itu ditemukan lalu dijual di pelelangan maka harganya pun akan sangat fantastis.


Maka dari itu kakek Jin sangat bersyukur dan juga beruntung mendapatkan artefak kuno itu dari buyutnya, apalagi itu secara cuma-cuma.


" Bun'er... Kakek sangat berterima kasih kepadamu karena sudah memberikan artefak ini kepada kakek, dengan begini keluarga Jin akan menjadi keluarga kultivator terkuat dimasa depan, " ucap kakek Jin sambil menangis haru.


Keluarga Jin memanglah keluarga kultivator nomor 2 terkuat setelah keluarga Ling yang mana keluarga Ling memiliki seseorang yang sudah mencapai ranah Immortal sedangkan keluarga Jin hanya mempunyai ranah High Saint saja itu pun hanya kakek Jin selaku kepala keluarga.


Tapi untungnya, keluarga Ling tidak mempunyai masalah dengan keluarga Jin bahkan bekerja sama dengan keluarga Jin, jadi keluarga Jin merasa sangat aman dengan hal itu.


Kerjasama mereka dimulai dari generasi ke 500 dari keluarga Jin dan generasi pertama untuk keluarga Ling dan berjalan sampai sekarang.


Itu dikarenakan keluarga Jin adalah keluarga yang bisa dikatakan klan kuno dari negeri Tirai Bambu.

__ADS_1


" Amin... Insya Allah kek... Oh iya kek, terima kasih sudah mengajarkan aku untuk menggunakan cincin dimensi ini, " ucap Guntur dengan tulus.


Kakek Jin pun tersenyum " Bun'er... Sudah kewajiban orang tua untuk membimbing anak cucu bahkan buyutnya untuk menjadi lebih baik, " ucapnya sambil memeluk buyutnya itu dengan erat.


" Oh iya kek... Tolong keluarkan pedang Bai Hu kek, karena aku ingin memperbaiki pedang itu, secara dulu aku belum sempat memperbaiki pedang itu karena kejadian yang tidak terduga itu, " ucap Guntur.


Kakek Jin yang mendengar itu pun langsung mengeluarkan pedang Bai Hu dari dalam cincin dimensinya lalu menyerahkannya kepada Guntur.


Guntur yang melihat pedang Bai Hu yang rusak parah itu tertawa saat melihat itu.


" Jangan tertawa... Itu gara-gara toya sialanmu itu! " ucap kakek Jin kesal.


" Ahh maaf-maaf kek... Tapi memang lucu sih wahahahaha, " tawa Guntur yang langsung pecah.


Kakek Jin hanya diam saja mendengar ejekan dari buyutnya itu.


Setelah itu, Guntur segera membuat pola aksara jawa berwarna putih kebiruan yang sangat rumit di udara kosong didepannya.


Setelah selesai membuat pola aksara jawa, tiba-tiba pedang Bai Hu langsung melepaskan diri dari genggaman tangan kiri Guntur dan langsung melesat ditengah pola aksara itu.


Guntur tersenyum melihat itu karena pedang Bai Hu seperti mengerti jikalau dirinya akan disempurnakan.


Sedangkan kakek Jin langsung terkejut dengan hal itu.


" Apa pedang Bai Hu memiliki kesadaran tersendiri? " tanya kakek Jin dalam hati.


Namun setelah beberapa saat berlalu, pedang Bai Hu tersebut belum juga menyerap pola aksara itu.


Guntur pun heran dengan itu dan berfikir jikalau pedang Bai Hu tidak bisa untuk menjadi sempurna dengan mudah dan membutuhkan material lainnya.


" Hahhh, jadi begitu ya... Baiklah, " ucap Guntur yang mengerti akan hal itu.


Setelah itu, Guntur langsung mengeluarkan tujuh pedang yang berada di dalam cincin dimensinya.


Ketika ketujuh pedang itu keluar, langsung saja tujuh pedang itu melesat cepat ke arah pedang Bai Hu.


Ini adalah pertama kalinya dirinya melihat kejadian ini, bahkan kakek Jin juga tidak menyangka jika tujuh pedang yang dikeluarkan oleh Guntur itu memiliki level surgawi.


Level surgawi itu memiliki kualitas dan tingkat tinggi yang tidak semua penempa bisa untuk membuat senjata dengan level itu.


Bahan materialnya pun juga sangat susah untuk didapatkan.


Dengan sangat cepat, pedang Bai Hu tersebut menyerap ketujuh pedang itu lalu memancarkan cahaya keemasan dengan terang.


Sementara pola aksara jawa itu pun langsung merespon akan hal itu lalu dengan cepat mengunci pedang Bai Hu dan berputar dengan sangat kencang.


Proses itu membutuhkan sekitar 10 menit untuk menjadi sempurna.


Ketika proses itu selesai, cahaya keemasan yang dipancarkan oleh pedang Bai Hu tersebut meredup.


Namun tiba-tiba pedang Bai Hu meledakkan gelombang kejut yang sangat besar.


Bahkan semua orang yang sedang terlelap di kediaman kakek Jin itu terlempar dan berhenti setelah menabrak tembok kamar mereka, karena saking kuatnya.


" Uuaaaaahhhhh, "


" Ada apa ini? "


" Adoooohh.... "


Seketika semua orang langsung keluar dari kediaman itu dan langsung terkejut saat melihat sebuah pedang besar yang sedang melayang yang memiliki aura yang sangat kuat dan bersinar keemasan.


" I-itu? "


" Astaga, "

__ADS_1


" Hahh? "


Nampak wajah bertanya-tanya dengan apa yang mereka lihat.


Sementara Guntur pun langsung tersenyum melihat pedang Bai Hu itu tengah sempurna.


" Sampai kapan kau akan memamerkan kekuatanmu itu, Bai Hu? " tanya Guntur sambil tersenyum.


Bak seperti mengerti akan ucapan Guntur, pedang itu langsung mengecilkan bentuknya lalu melesat cepat ke arah kakek Jin yang sedari tadi hanya terdiam saja.


Setelah itu, pedang yang kini hanya berukuran 10 centi meter itu langsung menancap tepat di sanggul rambut panjang yang kakek Jin gelung itu.


Saat pedang itu menancap dengan sempurna, pedang itu langsung menekan aura dan kekuatannya sampai di angka 0, supaya tidak ada yang tahu dan menyadari jika pedang yang sekarang menjadi hiasan rambut kakek Jin itu adalah sebuah pedang yang memiliki aura dan kekuatan yang sangat mengerikan.


Guntur yang menyadari jika ada beberapa orang yang melihatnya dan pedang Bai Hu, dengan segera dia menggunakan kekuatan aksaranya.


" Ayah! " Teriak Jin Shu dengan tiba-tiba sambil berlari ke arah kakek Jin dan Guntur yang nampak terdiam.


Begitu juga dengan yang lainnya, yang juga ikut berlari di belakang Jin Shu.


Mereka itu adalah si kembar Jin, Jin Fang, dan beberapa ajudan keluarga Jin.


Sementara kakek Jin langsung tersenyum cerah kepada mereka semua yang datang kepadanya.


" Ahh, kalian.... Ada apa? " tanya kakek Jin sambil tersenyum.


" Ayah..., " ucap Jin Shu yang langsung menceritakan apa yang terjadi kepadanya dan yang lainnya beberapa saat yang lalu.


Kakek Jin yang mendengar itu langsung meminta maaf kepada mereka.


" Maafkan ayah... Itu semua karena ayah dan Bun'er sedang menyempurnakan pedang warisan keluarga kita supaya lebih baik lagi... Bukan begitu Bun'er... Ehhh, " ucap kakek Jin yang langsung melirik Guntur yang harusnya ada di belakangnya namun tiba-tiba menghilang.


" Ehh... Kemana Bun'er? " tanya kakek Jin sambil menyapu pandangannya untuk mencari buyutnya itu namun tidak menemukannya.


" Hah? Ayah bicara apa? Mana ada Bun'er disini? Dari tadi kami tidak melihat Bun'er disini dan pedang? Pedang apa maksudnya? Dari tadi kami tidak melihat apapun kecuali ayah yang sedang berdiam diri saja! " ucap Jin Fang yang mengerutkan keningnya.


" Hah? Kalian jangan mengada-ada... Ayah disini dari tadi bersama Bun'er..., " ucap kakek Jin dengan heran.


" Lebih baik ayah segera beristirahat... Ini sudah malam... Kami tidak mau jika ayah jatuh sakit karena bergadang! " ucap Jin Shi dengan tegas.


" Aneh... Kenapa tiba-tiba Bun'er menghilang secara tiba-tiba? Kemana anak itu? " tanya kakek Jin dalam hati.


Setelah membatin seperti itu, kakek Jin terkejut dengan suara telepati dari buyutnya itu.


" Kakek tenang saja aku masih berada dibelakang kakek... Aku menggunakan kekuatan aksaraku untuk menghilangkan semua tentangku disini supaya mereka tidak melihat dan merasakan kehadiranku disini dan juga aku telah menghapus ingatan mereka beberapa menit yang lalu karena aku tidak mau jika mereka melihat pedang Bai Hu yang sekarang untuk saat ini.... Kakek pasti tahu maksudku kan? " ucap Guntur dengan telepati.


Kakek Jin hanya menghela nafas panjang karena mengerti maksud dari buyutnya itu.


" Baiklah kakek mengerti maksudmu nak, kalau begitu kakek istirahat dulu, jangan tidur menjelang pagi nak, " ucap kakek Jin melalui pikirannya.


Jin Shu yang memang sangat peka terhadap apapun disekitarnya itu mengerutkan keningnya saat melihat ayahnya tiba-tiba terdiam sambil memasang wajah serius.


" Entah kenapa aku seperti melupakan sesuatu yang sangat penting dan percaya dengan ucapan ayah tentang Bun'er," gumam Jin Shu dalam hati.


" Aku juga seperti merasakan jika ada satu orang lagi disini tapi aku tidak tahu orang itu dimana... Apakah itu Bun'er? " imbuhnya dalam hati.


" Iya-iya ayah istirahat sekarang, " ucap kakek Jin lalu berjalan masuk kedalam kediamannya yang disusul dengan yang lainnya kecuali Jin Shu.


" Cici Shu... Kenapa kau hanya diam saja? Ayo istirahat, " ucap Jin Shi yang melihat kakak kembarnya yang masih berdiri dan terdiam.


" Kau duluan saja aku masih ingin disini sebentar, " ucap Jin Shu yang terkejut dengan ucapan adik kembarnya itu.


Setelah itu, Jin Shi meninggalkan kakak kembarnya itu untuk beristirahat di dalam kamarnya.


" Keluarlah bocah nakal, "

__ADS_1


Tiba-tiba Jin Shu mengatakan sesuatu yang membuat Guntur tersenyum dan menampakkan dirinya di belakang neneknya itu.


__ADS_2