Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Setitik Cahaya Untuk Padepokan Kerambit Hitam


__ADS_3

Setelah Guntur menyembuhkan Umar dan Ridwan, Guntur segera keluar dari rumah sakit. Tentunya dengan menghapus semua ingatan metrka para dokter itu tentangnya dan memanipulasi ingatan palsu tentang Umar dan Ridwan yang telah sembuh dari usaha mereka yang menangani mereka berdua.


Ketika sampai di pintu masuk rumah sakit, Guntur kembali melihat Manto dan Imam yang berjaga disana. Guntur pun menyapa mereka sambil tersenyum.


" Hai bang Manto, bang Imam..., " sapa Guntur.


Kedua orang itu melambaikan tangan mereka.


" Sudah? " tanya Manto yang merasa tidak enak dengan Guntur.


" Sudah kok bang... Aku mau ke kantin dulu, laper, " ucap Guntur lalu berlari menjauh dari rumah sakit.


Sedangkan Manto dan Imam terdiam melihat kepergian Guntur.


" Bro... Kau serius kan kalau dia itu cucu dari para legenda? " tanya Manto yang masih belum percaya dengan Guntur.


Imam pun mengangguk " Apa untungnya aku berbohong... Aku melihat langsung saat identitasnya terbongkar oleh keluarga Jin dulu dan aku juga baru tahu jika dia itu juga buyut dari kepala keluarga Jin... Yahh tapi biarlah bro yang penting kita jangan sampai menyinggung atau membuat masalah dengan anak itu, " jelas Imam.


Manto pun mengangguk setuju dengan Imam. Saat kejadian itu, Manto sedang menjalankan misi, jadi dia tidak tahu akan siapa Guntur.


Sesampainya di kantin, Guntur langsung memesan singkong rebus dan sambal bawang, namun menu yang ingin Guntur pesan sedang kosong jadi dari pada tidak makan apa-apa, Guntur memesan nasi padang.


Saat ini, keadaan kantin yang selalu ramai tidak umum itu nampak sepi dari murid ataupun guru. Bahkan Guntur tidak melihat sama sekali orang yang mengambil makan.


Kenapa kantin padepokan selalu ramai? Itu dikarenakan semua yang ada di padepokan itu gratis. Entah itu makan ataupun jajan bahkan sampai biaya rumah sakit pun gratis.


Jadi, mereka para murid ataupun guru yang ada di padepokan pancanaka selalu senang dan semangat untuk menjadi penduduk padepokan.


Maka dari itu, setiap pendaftaran murid padepokan pancanaka dibuka akan selalu ramai bahkan membludak saking banyaknya orang yang mendaftar untuk menjadi murid.


Dari sekian ribu pendaftar, yang dapat lolos ujian masuk hanyalah beberapa puluh orang saja bahkan sering hanya mendapatkan kurang dari 10 orang karena saking susahnya ujian masuk untuk menjadi murid padepokan.


Siapa yang tidak mengenal padepokan pancanaka yang namanya sudah mendunia itu. Contohnya Ridwan yang bahkan harus mengalami kegagalan 3 kali untuk bisa menjadi murid padepokan ini.


Padepokan sendiri tidak memandang derajat ataupun kasta seseorang. Entah itu bangsawan, anak presiden, mentri bahkan rakyat jelata sekalipun. Selama mereka mampu menghadapi ujian masuk yang super ketat dan susah maka akan diterima. Padepokan pancanaka memiliki sistem kesetaraan jadi semua orang itu sama dan yang membedakan mereka hanyalah pintu jawara mereka dan juga kelompok guru.


Jika ada diantara mereka para murid yang memandang kasta didalam padepokan maka akan ada hukuman berat untuk mereka yaitu dikeluarkan dari padepokan.


Apakah hukum rimba juga berlaku? Jawabannya tentu saja berlaku bagi mereka yang memiliki kelompok guru atau kekuatan, namun itu hanya berlaku didalam latihan dan juga arena peringkat. Jika diluar itu, mereka akan berbaur akur satu sama lain dan berteman baik.


Hal itu dilakukan untuk menghindari konflik antar murid atau guru dan juga pertumpahan darah yang membuat mereka menjadi seorang jawara yang bersifat gelap.


Guntur yang sedang menikmati nasi padang itu dikejutkan oleh suara ledakan yang cukup keras dari arena pertandingan.


Ternyata pertandingan final sudah dimulai dan sorakan dan riuhnya penonton terdengar jelas sampai di kantin padepokan.


" Hahh... Sudah dimulai ya... Tapi biarlah, " gumam Guntur yang terus melahap makanannya.


Setelah Guntur selesai dengan makan siangnya, Guntur kembali mendengar suara teriakan penonton yang riuh dan ramai karena pertandingan final dari turnamen itu telah selesai.


Pemenang dari turnamen ini adalah Yuni. Guntur sebenarnya tidak tertarik dengan turnamen. Jika bukan karena tugas menjadi pelindung bayangan dan juga Ridwan, Guntur lebih memilih berlatih atau tidur siang.


" Akhirnya selesai juga namun masih ada beberapa hal lagi yang harus aku lakukan..., " gumam Guntur dalam hati sambil menghela nafas berat.


Walaupun Guntur sendiri merasakan lelah yang teramat tapi Guntur tidak mengeluh dan terus melakukan tugasnya sebaik mungkin.


Beberapa saat kemudian, Guntur kembali ke arena untuk melihat situasinya kembali.


Setelah sesampainya di arena, nampak Aji berdiri akan memberikan suatu pengumuman kepada semua orang.


" DENGAN INI TURNAMEN TAHUN INI SELESAI... WALAUPUN ADA SEDIKIT KENDALA NAMUN SAYA SEBAGAI PENDIRI PADEPOKAN PANCANAKA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH KEPADA SEMUA YANG HADIR DI SINI... TERLEBIH KEPADA SEMUA TAMU UNDANGAN, PARA WALI PESERTA, PENONTON DAN SELURUH PESERTA TURNAMEN DAN SELURUH PANITIA PENYELENGGARA TURNAMEN ANTAR MURID PADEPOKAN PANCANAKA... MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA SEMUANYA JIKA ADA KESALAHAN ENTAH ITU SENGAJA ATAU TIDAK SENGAJA... "


" UNTUK ACARA PEMBERIAN HADIAH KEPADA PEMENANG DAN SELURUH PESERTA YANG IKUT DALAM TURNAMEN TAHUN INI AKAN DISELENGGARAKAN BESOK PAGI KARENA MENGINGAT BEBERAPA PESERTA YANG TERLUKA BAHKAN SAMPAI CIDERA PARAH... SEKALI LAGI KAMI MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA DAN TERIMA KASIH.... TURNAMEN ANTAR MURID PADEPOKAN PANCANAKA... RESMI DI TUTUP, "

__ADS_1


Dengan adanya pengumuman yang di ucapkan oleh Aji Samudra, semua orang nampak sangat bahagia. Disamping mereka bisa melihat pertarungan yang sangat seru dan epic mereka juga bisa mendapatkan hikmah dan juga ilmu dari itu semua. Terlebih saat para kajinan menyerang padepokan.


Semua kejadian itu mereka simpan didalam hati mereka terlebih Alisa yang melawan para kajinan seorang diri dan pertarungan epic Umar melawan Ridwan.


Sore harinya padepokan pancanaka masih sangat ramai. Hanya ada sebagian kecil dari para tamu undangan dan wali peserta yang pulang karena suatu hal yang tidak bisa mereka tinggalkan.


Disuatu ruangan tertutup, ada beberapa orang yang sedang duduk berhadapan. Mereka adalah keluarga Ridwan, Aji, Lastri, Anisa, Ragil bahkan Wara dan juga Guntur.


Mereka tentu bukan untuk bersenang-senang, akan tetapi membahas sesuatu yang sedang mereka luruskan.


" Nah sesepuh Daeng, sesepuh Dalu dan ketua Gani, apakah kalian bisa menjelaskan semuanya? Kenapa kalian menyerang padepokanku? Padahal kita sudah berdamai, " tanya Aji dengan serius dan menatap mereka dengan tajam.


Lalu sesepuh Dalu langsung menjawab pertanyaan Aji dengan sedikit keras.


" Hoe Aji... Apakah kau itu buta? Lupa? Atau berpura-pura? " ucapnya.


" Apa kami pernah menyinggungmu sesepuh Dalu? Apakah kami pernah mempunyai konflik dengan padepokan gagak hitam yang kau pimpin? " tanya Aji sambil tersenyum misterius.


" Kau... Urusan adikku juga urusanku... Kami akan libas siapapun yang mengganggu kami! " Teriak sesepuh Dalu.


" Mengganggu? Apa kalian bercanda? Siapa yang mengganggu kalian? Dan kami hanya mempunyai konflik dengan padepokan kerambit hitam bukan gagak hitam, berani sekali kau menyampuri urusan ini? Apa kau ingin padepokanmu terhapus dari bumi nusantara ini? " ucap Aji dengan santai.


" Kau... Apa maksudmu? " tanya sesepuh Dalu yang marah.


" Warok... Jelaskan keadaan sekarang di padepokan mereka! " ucap Aji dengan santai.


Warok atau Wara yang sedari tadi terdiam itu langsung membuka suara.


" Baik tuan... Saat ini, Sang Mawar Berduri sudah berada di padepokan Gagak Hitam dan Sang Penggoda juga sudah berada di padepokan Kerambit Hitam... Mereka menunggu perintah dari tuan untuk menghapus kedua padepokan itu dari bumi nusantara, " ucap Warok dengan tegas.


Sontak hal itu membuat keluarga Ridwan sangat terkejut. Pasalnya, Warok adalah kaki tangan sesepuh Daeng yang sangat dipercaya namun kenapa sekarang malah berada di pihak Aji.


" Sekarang jelaskan siapa dirimu kepada mereka warok, " ucap Aji sambil tersenyum.


" Maafkan aku sesepuh Daeng... Aku sebenarnya seorang murid padepokan pancanaka yang mendapat misi untuk menjadi mata-mata di padepokan kerambit hitam... Perkenalkan nama asliku adalah Warok bukanlah Wara atau orang memanggilku Si Seribu Wajah...., " ucap Warok yang tanpa ekpresi di wajahnya seolah olah tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada keluarga Ridwan.


Mendengar nama Si Seribu Wajah, sontak keluarga Ridwan sangat terkejut. Siapa yang tidak tahu nama itu terlebih di dunia persilatan. Si Seribu Wajah adalah salah satu orang yang ditakuti oleh semua padepokan atau perguruan di bumi nusantara. Namanya sudah menyebar di bumi nusantara. Disamping dia sangat licin bagai belut karena dapat berubah wajah tapi juga seorang jawara sempurna yang sangat kuat.


Keluarga Ridwan benar-benar marah dengan semua ini, namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena semua rencana bahkan semua pasukan yang mereka bawa tidak tahu kabar mereka.


Disamping itu mereka juga sudah tertangkap basah dan disidang oleh orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang sangat kuat.


Namun, mereka menyadari salah satu orang yang berada disana yang sedari tadi hanya duduk diam. Walaupun nampak lemah dimata keluarga Ridwan, namun entah mengapa mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka sangat ketakutan dan dengan orang itu.


Siapa lagi jika bukan Guntur. Sengaja Guntur hanya diam namun dalam diamnya, dia mengamati jalannya persidangan untuk keluarga Ridwan atas kesalahannya.


" Kalian sudah tidak bisa lagi untuk melarikan diri atau memberi pembelaan lagi... Apakah kalian akan menyerah? " tanya Aji dengan serius.


" Kami menyerah..., " ucap Gani.


Mendengar Gani yang berkata seperti itu, sesepuh Dalu langsung saja menggebrak meja dengan keras.


" Brakkkk "


" Gani... Apa maksudmu? Aku tidak sudi untuk tunduk kepada mereka, " ucap sesepuh Dalu dengan marah dan langsung mengeluarkan aura jawaranya sampai maksimalnya. Namun tiba-tiba aura itu lenyap entah kemana.


Sesepuh Dalu mendadak merasakan panas pada ulu hatinya namun hanya sebentar beberapa detik saja.


Setelah merasakan itu, sesepuh Dalu terduduk lemas di kursi dan secara tiba-tiba dari hidung, telinga dan mulutnya mengeluarkan darah.


" Aarrgghh..... A-apa yang kau--, " ucap sesepuh Dalu yang terpotong lalu secara berlahan sesepuh Dalu terdiam dengan pandangan kosong.


Gani yang melihat itu sangat ketakutan sedangkan sesepuh Daeng menghelakan nafasnya.

__ADS_1


" Innalillahi... Semoga kau tenang dan diberikan jalan yang terang, kakang Dalu, " ucap sesepuh Daeng.


Tidak ada yang bersuara setelah itu. Ruangan itu menjadi sunyi. Semuanya tahu jika sesepuh Dalu tewas karena Lastri.


Lastri yang memiliki gelar Dom Menik itu mengendalikan senjatanya yaitu jarum. Namun jarum yang digunakan Lastri sangatkah kecil dan sangat tipis.


Lastri mengendalikan jarum itu untuk menusuk sesepuh Dalu tepat pada ulu hatinya. Setelah itu, Lastri langsung mengendalikan kembali jarum kecil itu untuk terus merusak organ dalam sesepuh Dalu seperti jantung, hati bahkan sampai di ginjal.


Siapa yang tidak akan tewas jika diserang dengan itu yang mana menyerang langsung di organ dalamnya. Siapapun akan langsung tewas karena itu.


" Jadi, bagaimana sesepuh Daeng? " tanya Aji.


" Haaahhhhh.... Jujur, sebenarnya aku sudah bisa menerima dan melupakan dendamku kepadamu Aji... Apalagi aku juga tidak tahu nasib murid-muridku itu... Namun ada satu hal yang membuatku sangat marah saat ini, " ucap sesepuh Daeng.


" Apa? " ucap Aji.


" Aku marah dengan diriku sendiri karena aku sudah menelantarkan Ridwan... Bukan masalah api hitam, namun saat melihat Ridwan bertarung tadi, aku melihat betapa kerasnya dia dalam berlatih, perjuangannya yang telah sampai di titik ini itu membuktikan bahwa dia sudah bekerja sangat keras dalam meraih impiannya... "


" Dulu aku pernah mendengar secara tidak sengaja jika dia ingin menjadi orang yang berguna yang dapat melindungi orang dia cintai dan sayangi dengan kekuatannya sendiri... "


" Aji... Aku sangat berterima kasih kepadamu yang telah mendidik Ridwan dan melatihnya dengan sepenuh hati... Mungkin setelah ini aku akan pensiun dari dunia persilatan dan aku sekarang sudah tidak peduli lagi tentang kerambit hitam itu, " Jelas sesepuh Daeng.


Semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia atas kesadaran sesepuh Daeng yang telah diberi hidayah oleh Sang Hyang Tunggal kang Agung melalui cucunya, Ridwan.


" Lalu bagaimana denganmu ketua Gani? " tanya Aji dengan serius.


Gani yang mendapatkan pertanyaan dari Aji menghela nafasnya.


" Ketua Aji... Jika ayahku berkata seperti itu maka aku bisa apa? Aku hanya bisa mendukungnya walaupun aku sendiri merasa keberatan dengan itu tapi aku juga harus mengambil keputusan yang tepat bukan? "


" Aku juga merasakan apa yang ayahku rasakan tentang Ridwan... Mungkin Ridwan tidak akan memaafkan kami tapi aku sangat yakin suatu hari nanti dia akan pulang menjenguk ibunya yang sekarang ini sedang sakit-sakitan... "


" Dan keputusanku adalah aku akan mundur dan terus melanjutkan apa yang harus aku lakukan sebagai ketua dari padepokan kerambit hitam, " jelas Gani.


Seketika semua orang merasa bersyukur atas semua itu. Lalu, Aji segera menghubungi tim medis untuk mengurus jenazah sesepuh Dalu namun mendapatkan penolakan dari sesepuh Daeng dan Gani. Mereka ingin jenazah sesepuh Dalu mereka sendiri yang mengurusnya karena semua itu adalah kesalahan mereka.


" Sesepuh Daeng dan ketua Gani... Murid-murid kalian semuanya selamat tapi mereka mendapatkan serangan mental yang cukup kuat dari kubah ilusi empat elemen padepokan ini... Maka dari itu biarlah mereka untuk tetap berada disini untuk sementara waktu sampai mereka sehat kembali dan siap untuk kembali ke padepokan kalian... "


" Aku ingin ketua Gani memimpin padepokan gagak hitam dan menyatukan padepokan itu menjadi lebih kuat dan besar lagi... Aku juga ingin padepokan kalian berjalan di jalur yang benar maksudnya tidak lagi menerima misi pembantaian dan teror... Berjalanlah di jalan yang benar maka kalian akan hidup dalam kenyamanan dan keberkahan, " ucap Aji.


Sesepuh Daeng mendengar itu langsung setuju dengan usul Aji. Karena selama ini padepokan kerambit hitam dan gagak hitam berjalan di jalur gelap.


" Aku setuju dengan usulmu Aji, namun itu sangatlah sulit mengingat padepokan kami memanglah berdiri untuk itu dan berjalan di jalur gelap, " ucap sesepuh Daeng.


Aji tersenyum mendengar itu " Aku tahu, jika begitu.... Warok... Siapkah kau membantu mereka? " tanya Aji.


" Siap tuan, saya akan berusaha untuk membantu semampu saya, " ucap Warok dengan cepat.


Mendengar itu betapa senangnya keluarga Ridwan karena mendapatkan secerah harapan untuk masalah mereka demi kelangsungan padepokan mereka. Aji juga menyuruh Ragil untuk menarik kedua murid Ragil untuk kembali ke padepokan pancanaka karena misi mereka sudah selesai.


" Satu lagi... Aku juga akan mengembalikan ini... Sebenarnya aku mengambil ini bukan untuk menjadikan kompensasi kala itu namun aku mengambil ini untuk kebaikan kalian, " ucap Aji yang langsung mengeluarkan sepasang kerambit hitam itu dari balik bajunya.


Sontak mereka merasa sangat senang dan bahagia karena icon dari padepokan kerambit hitam telah kembali.


" Terima kasih Aji... Terima kasih, " ucap sesepuh Dalu menangis bahagia.


" Terima kasih ketua Aji, " ucap Gani meneteskan air matanya.


Kebahagian terpancar dari raut wajah mereka karena icon padepokan mereka telah kembali. Apalagi mendapat bantuan yang bisa menuntun mereka di jalur kebenaran dan juga semua murid mereka telah selamat dan sedang di masa penyembuhan di padepokan pancanaka.


Setelah urusan itu telah selesai dengan damai, mereka segera kembali ke padepokan mereka bersama Warok dan juga untuk mengurus penguburan sesepuh Dalu.


Mereka yakin jika akan terjadi konflik yang cukuo besar dalam hal ini tapi dengan adanya bantuan dari padepokan padepokan pancanaka yaitu Warok, mereka menjadi optimis jika kedua padepokan itu akan bisa bersatu dan keluar dari jalur gelap ke jalan kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2