
Setelah pertarungan epic yang dilakukan Umar dan Ridwan bahkan sampai menghancurkan arena, pertandingan akan dilanjutkan setelah 1 jam untuk beristirahat.
Umar dan Ridwan juga sudah dibawa ke rumah sakit padepokan untuk segera mendapatkan penanganan atas luka-luka yang mereka derita.
Nampak di arena 4 orang aksara sempurnya sedang memperbaiki arena yang telah rusak parah.
Semua orang masih membicarakan pertarungan Umar dan Ridwan yang sangatlah epic itu.
Orang yang berada di samping kanan Guntur bertanya kepadanya soal pertarungan epic itu.
" Bro... Tebakanmu benar-benar tepat, tapi saat pertarungan mereka berakhir, aku tidak melihat senjata keduanya, " ucap orang itu.
" Hancur... Senjata mereka hancur saat keduanya saling bertabrakan... Bola energi itu adalah luapan dari bentrokan kekuatan yang berbeda jadi senjata kelas tinggi seperti itu akan hancur saat itu terjadi, " jelas Guntur.
" Astaga... Padahal pedang Umar itu sangat kuat dan tajam tapi bisa sampai hancur... Apa senjata tombak Ridwan juga kelas tinggi juga? " tanya orang itu.
" Benar bro... Senjata tombak Ridwan itu juga memiliki kelas yang sama dengan pedang angin milik Umar..., " ucap Guntur.
" Darimana dia dapat senjata kelas tinggi itu ya bro? " tanyanya lagi.
" Dia mendapatkan tombak itu dari seseorang bro... Walaupun tombak itu bisa dibilang produk gagal tapi tombak itu memiliki kualitas dengan kelas tinggi dan tidak mudah hancur..., " ucap Guntur berbohong.
" Jika aku mengatakan kebenarannya tentang tombak itu pasti akan terjadi kehebohan..., " gumamnya dalam hati.
" Apa? Produk gagal? Apa orang yang memberikan tombak itu buta? Jika aku yang diberi tombak itu pasti aku tidak akan pakai dan akan aku pajang di dinding kamarku..., " ucap orang itu dengan kecewa.
Guntur hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban. Lalu berdiri dari tempat duduknya.
" Mau kemana bro? " tanya orang itu lagi.
" Aku disini hanya ingin melihat pertarungan Ridwan... Walaupun dia gugur sekarang tapi itu sudah cukup membuktikan jika Ridwan sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya... Aku ke rumah sakit dulu untuk menengoknya..., " ucap Guntur sambil berjalan keluar dari tribun penonton.
Setelah itu Guntur tiba-tiba menghilang dari kerumunan, bahkan orang yang tadi berbicara dengannya itu sangat terkejut namun sedetik kemudian dia merasa linglung dan melupakan semua tentang Guntur.
Guntur sengaja melakukan itu karena tidak mau mencolok dan keberadaannya diketahui. Maka dari itu, Guntur menghapus ingatan jangka pendek kepada orang itu, apalagi melihat Guntur yang tiba-tiba menghilang.
Teleportasi, itulah yang Guntur gunakan untuk berpindah dengan cepat menuju rumah sakit. Salah satu temuan Guntur yang lain karena Guntur berhasil membuat pola aksara itu.
Tidak ada yang melihat kejadian itu kecuali istrinya, Anisa yang sedari tadi menatapnya dengan serius, menghiraukan semua orang yang sedang sibuk membicarakan Umar dan Ridwan. Setelah melihat Guntur yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak itu, Anisa sangat terkejut.
" Melesat dengan cepat? Tidak... Jangan-jangan...? " gumamnya dalam hati dan baru mengetahui jika itu adalah teleportasi.
Dihalaman Rumah Sakit padepokan yang sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang berjaga disana tidak menyadari jika Guntur yang tiba-tiba muncuk dari kekosongan menggunakan teleportasi.
Guntur muncul tepat dibalik pohon beringin yang lumayan besar dan segera berjalan ke pintu masuk rumah sakit.
" Alhamdulillah mereka tidak menyadarinya... Bisa repot jika mereka menyadari kalau aku tiba-tiba muncul begitu saja, " gumam Guntur dalam hati.
" Permisi bang... Ruangan Ridwan dimana ya? " tanya Guntur ramah kepada dua orang yang berjaga di pintu masuk rumah sakit padepokan.
Rumah sakit padepokan tidak terlalu besar namun memiliki total 200 ruangan dan fasilitas yang sangat memadai. Bahkan alat-alatnya oun sangat lengkap dan modern.
Dokter-dokter rumah sakit padepokan pun bukan dokter sembarangan. Semua dokter di rumah sakit padepokan adalah dokter ahli bahkan beberapa diantara mereka sudah menjadi profesor dan juga seorang aksara sempurna.
Rumah sakit padepokan juga memiliki beberapa alkemis ahli yang membuat semua obat atau pil untuk padepokan, jadi padepokan sendiri sangat jarang mensuplay obat-obatan dari luar.
Semua itu diancang oleh Aji dan Lastri sendiri mengingat misi yang dilakukan murid-murid atau guru yang berbahaya. Mereka tidak mau jika murid atau guru di padepokan tidak mendapatkan obat-obatan atau pil untuk kesejahteraan mereka.
__ADS_1
" Hmm... Kau siapa? " tanya salah satu dari mereka yang bernama Manto sambil menatap Guntur dengan tajam.
" Ahh... Aku teman dekatnya... Aku hanya ingin melihat kondisinya sekarang setelah pertarungannya dengan Umar, "
" Maaf... Untuk saat ini kau tidak diperbolehkan untuk berkunjung karena mereka berdua sedang ditangani oleh para dokter..., " ucap Manto. Sedangkan orang yang satunya lagi hanya melihat Guntur dengan raut wajah bingung.
" Aku sepertinya pernah melihat anak ini... Tapi dimana ya..., " gumam orang yang terdiam itu yang bernama Imam.
Lalu secara tidak sengaja Imam melihat gelas yang berada di tangan kanan Guntur " Gelang itu..., " gumamnyan dalam hati.
Tiba-tiba terlihat beberapa dokter berlari sambil mengatakan sesuatu yang membuat Guntur sangat terkejut.
" Gawat... Pasien tunamen Ridwan kritis... Kita harus cepat..., "
" Pasien turnamen Umar juga sedang kritis..., "
Guntur yang mendengar itu langsung saja berlari menyusul mereka. Sontak hal itu membuat Manto geram dengan Guntur dan ingin mencegah Guntur. Namun, Imam langsung mencegah Manto.
" Jangan Man..., " ucap Imam.
" Kau... Kita harus mencegah orang itu..., " ucap Manto yang sedikit emosi.
" Tidak... Aku baru ingat jika anak itu tidak bisa disinggung..., "
Lalu Imam membisikkan sesuatu kepada Manto.
" Dia adalah...., "
Manto yang mendengar itu langsung saja terkejut " Kau serius? " tanyanya.
Imam pun menganggukkan kepala untuk menjawab Manto.
Dia memiliki julukan Sang Djarum Rembulan. Julukan itu bukanlah tanpa sebab karena Imam sebenarnya adalah seorang jawara dan juga seorang kultivator ranah High Saint yang bersenjatakan jarum-jarum akupuntur.
Adapun tingkatan kultivator yaitu...
- ranah kelahiran
- ranah penyempurnaan
- ranah tianzhu
- ranah tyran
- ranah high tyran
- ranah saint
- ranah high saint
- ranah imortal
- ranah absolud
Dari semua murid Ragil, hanya Imam yang memiliki kemampuan kultivator dan pengobatan namun dirinya menyamarkan semua data tentang dirinya yang sebenarnya dihadapan semua orang.
Imam yang sebenarnya memiliki nama asli Chen Xiang itu mendapatkan tugas dari gurunya itu untuk menjadi murid biasa dan memata-matai semua penduduk di padepokan pancanaka.
__ADS_1
Jadi dengan begitu Ragil dapat mengetahui semuanya di padepokan ini. Sebagai kaki tangan Aji Samudra di padepokan pancanaka, Ragil dituntut harus bisa mengetahui semuanya tentang padepokan pancanaka dalam hal apapun dan sekecil apapun itu.
Dengan adanya Imam, Ragil sangat terbantu untuk menyelesaikan semua masalah di padepokan pancanaka.
Semua murid Ragil sudah mengetahui jika bertemu atau melihat seorang murid yang memiliki gelang toya maka jangan sekali kali menyinggung atau mengganggunya.
Guntur pun lekas berlari menyusul para dokter itu. Saat berlari, Guntur melihat sebuah masker di meja reseosionis lalu mengambil satu book yang berisikan masker dan kaus tangan karet yang biasa digunakan oleh tim medis.
Setelah mengambil itu, Guntursegera memakainya dan berlari mengikuti kedua dokter yang sedang berlari ke IGD.
Sesampainya disana, tanpa membuang waktu Guntur langsung mendobrak pintu IGD tersebut dan mendapati 8 orang yang sedang melakukan tindakan medis.
" Brakkkk "
Terlihat juga Umar dan Ridwan yang sedang terbaring bersimpah darah yang terus keluar dari luka-luka yang berada di tubuh mereka.
" Siapa kau... "
" Tunggu saja diluar, mereka sedang kami tangani. "
" Jangan ganggu kami. "
Berbagai komentar yang mereka ucapkan saat melihat Guntur yang tiba-tiba masuk tanpa ijin.
" Tidak usah hiraukan aku... Mereka sedang sekarat dan kritis... Hanya tindakan cepat dan tepat saja yang mereka perlukan... "
Guntur pun langsung berjalan cepat ke arah Umar dan Ridwan. Namun kembali di cegah oleh seorang dokter yang ada disana.
Namun sebelum dokter itu melakukan pencegahan terhadap Guntur, tiba-tiba ada seorang dokter yang terlihat sudah berumur mencegah dokter muda itu, lalu menggelengkan kepalanya.
Guntur yang tidak peduli dengan itu terus berjalan dengan cepat.
Sesampainya di tengah ranjang mereka yang memang memiliki sedikit celah, Guntur melihat kondisi mereka sejenak.
" Masya Allah... Mereka benar-benar tidak peduli dengan diri mereka sendiri... "
Lalu kedua tangan Guntur dia letakkan di dahi mereka, Umar di tangan kiri sedangkan Ridwan di tangan kanan.
Sambil memejamkan matanya, Guntur kembali memanjatkan doa untuk mereka agar diberi kesembuhan kepada Sang Hyang Tunggal kang Agung.
" Ya Allah... Jika umur mereka masih panjang maka sembuhkanlah mereka... Namun, jika tidak dan ini adalah suatu jalan untuk menghadap-Mu maka berinkanlah mereka jalan yang terang dan khusnul khotimah kepada mereka... Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, " ucap Guntur berdoa.
Setelah itu Guntur membuat pola aksara untuk mengobati mereka berdua. Beberapa detik kemudian, pola aksara putih kebiruan dengan aksara rumit muncul secara tiga lapis yang tersusun diatas tubuh Umar dan Ridwan sedangkan kedua tangan Guntur masih berada di dahi mereka berdua.
Semua orang yang ada di ruang IGD itu terkejut bukan main karena pola aksara rumit yang tiba-tiba muncul di atas tubuh pasien bahkan tiga lapis.
Diantara 8 orang itu 3 diantara mereka adalah seorang aksara sempurna yang hanya berfokus kepada pengobatan.
Pola-pola itu dengan berlahan masuk kedalam tubuh Umar dan Ridwan. Setelah masuk dengan sempurna, beberapa detik kemudian nampak luka-luka yang mereka alami dengan berlahan menutup bahkan darah pun berhenti mengalir dari luka-luka itu.
Setelah menutupnya semua luka-luka di tubuh mereka berdua entah itu luka sayatan atau luka bakar, kini mereka nampak jauh lebih baik dan wajah yang semula pucat kini berganti cerah dan nampak bugar. Luka-luka itu juga menghilang tanpa meninggalkan bekas luka apapun bahkan bekas luka yang mereka alami selama bertahun-tahun pun ikut menghilang.
Keduanya kini terlihat baik-baik saja, alat pendeteksi detak jantung yang awalnya mendeteksi jika detak jantung mereka melemah, sekarang menjadi normal kembali.
" Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah sudah menjawab doaku, " ucap Guntur pelan.
Setelah itu Guntur menarik kedua tangannya kembali dan berbalik melihat kedelapan orang dokter yang melihatnya dengan terbengong juga linglung.
__ADS_1
" Huh.... Ada apa? Kenapa kalian bengong begitu? "