Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Jin Shi


__ADS_3

Guntur yang sudah selesai dengan makannya itu terkejut saat pundaknya ditepuk oleh seseorang.


" Pluk "


Sontak saja Guntur menoleh dan melihat jika kakek buyutnya yang menepuk pundaknya.


" Kakek, " ucap Guntur yang langsung berdiri dan mencium tangan kanannya.


" Astaga Bun'er... Kenapa kau tidak menghubungi kakek dulu? " tanya kakek Jin.


" Sengaja kek soalnya aku kangen sama kakek, hehehe, " ucap Guntur sambil cengengesan.


" yasudah sekarang kita pulang, " ucap kakek Jin.


" Eh sebentar dulu kek, aku belum bayar makanannya dan aku mau beli makanan juga buat dua satpam itu, " ucap Guntur yang bergegas membayar makanannya.


Kakek Jin hanya mengangguk saja.


Setelah itu Guntur pun naik ke mobil kakek Jin untuk kembali ke kediaman keluarga Jin.


Namun saat jarak mereka beberapa meter lagi sampai di pintu gerbang komplek, Guntur segera menghentikan kakeknya yang sedang menyetir.


" Berhenti dulu kek, " ucap Guntur tiba-tiba.


" Lah... Kenapa? " tanya kakek Jin dengan heran.


" Aku mau kasih makanan ini ke mereka, " ucap Guntur sambil menunjuk ke dua satpam yang berjaga.


" Tapi kenapa berhenti disini? Kenapa tidak berhenti dihadapan mereka? " tanya kakek Jin penasaran.


Kakek Jin tahu jika terjadi sesuatu pada Guntur yang berhubungan dengan kedua satpam itu.


" Nanti kakek akan tahu sendiri, " ucap Guntur sambil tersenyum.


Setelah itu Guntur pun lekas turun dari mobil dan berlari ke dua satpam yang berjaga di pintu gerbang komplek.


Kakek Jin hanya memperhatikan saja apa yang akan Guntur perbuat kepada kedua satpam itu.


Namun setelah beberapa saat, kakek Jin melihat jika kedua satpam yang diberi makanan oleh Guntur itu melakukan sesuatu yang membuat kemarahan kakek Jin memuncak.


Pasalnya, kedua satpam itu kembali menghina dan memaki Guntur apalagi sampai membuang makanan yang Guntur berikan kepada mereka.


Dengan segera, kakek Jin keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah mereka sambil menahan kemarahannya.


Disamping itu, kedua satpam yang melihat kakek Jin yang berjalan ke arah mereka itu langsung tegak berdiri dan hormat kepada tuan mereka.


" Selamat siang tuan, " ucap kedua satpam itu secara serempak.


" Ada apa? " ucap kakek Jin yang berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang baru saja dia lihat.


Sedangkan Guntur sendiri hanya diam saja sambil tersenyum tipis.


" Begini tuan, orang ini sudah membuat masalah dua kali disini tuan, " ucap Hadi.


" Masalah? " tanya kakek Jin.


" Begini tuan, tadi pagi dia sudah datang kemari dan ingin masuk ke dalam komplek, kami sempat beradu mulut dengannya tapi untunglah nona Shi datang dan menyelesaikannya... "


" Dan sekarang orang ini kembali kesini sambil membawakan kami makanan guna menyuap kami agar kami membolehkan dia untuk masuk... " Jelas Hadi dengan percaya diri.


" Lalu? " tanya kakek Jin.


" Kami tidak terima dengan itu tuan, lalu kami kembali mengusirnya dan mengatakan kepadanya agar tidak lagi datang kesini jika tidak kami akan laporkan kepada tuan dan pihak yang berwajib, " ucap Arto sambil melirik Guntur dengan tajam.


" Lantas makanannya? " tanya kakek Jin kembali.

__ADS_1


" I-itu... Kami langsung membuangnya tuan karena itu adalah suapan untuk kami dan kami tidak menerimanya, " ucap Hadi sedikit gugup.


" Hmm..., " ucap kakek Jin yang hanya berdehem saja sambil mengelus-elus janggutnya.


" Tuan, " ucap Arto yang penasaran dengan tuan mereka kenapa hanya berdehem.


" Mulai detik ini kalian aku pesat tanpa gaji dan uang pesangon!, " ucap kakek Jin sambil menatap mereka berdua dengan tajam.


" Ehh tu-tuan, " ucap mereka berdua ketakutan karena mereka tidak tahu atas kesalahan mereka.


" Asal kalian tahu jika dia bernama Jin Bun dan aku adalah kakek buyutnya.... Aku juga tidak suka kalian membuang-buang makanan... Segera angkat kaki dari sini dan jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian lagi! " ucap kakek Jin tegas.


Seketika itu juga, kakek Jin segera menghubungi Jin Fang untuk mencarikan dua orang untuk mengganti satpam yang sebelumnya.


Sementara kedua orang itu dengan sangat menyesal atas kesalahan mereka.


" Tu-tuan Bun... Ma-maafkan kami, kami tidak tahu jika tuan Bun adalah buyut dari tuan kami, " ucap Hadi dan juga Arto.


" Tidak apa-apa... Lebih baik besok ketika kalian bekerja di tempat lain jangan sekali-kali memandang rendah seseorang yang hanya dari sampulnya saja... Etika dan adab kalian juga harus diperbaiki jangan seperti tadi... Aku sudah memaafkan kalian tapi anggap saja ini sebagai pembelajaran untuk kalian supaya lebih baik lagi kedepannya, " ucap Guntur panjang lebar.


" Kami mengerti tuan, " ucap mereka berdua.


" Bun'er... Biarkan saja mereka.... Aku sudah tidak ingin melihat mereka, " ucap kakek Jin dengan geram lalu berjalan ke arah mobilnya.


Guntur yang melihat itu tersenyum lalu mengambil sesuatu didalam tas miliknya.


" Ini sedekahku yang aku atas namakan untuk bapakku, lillahita'ala... Terimalah, " ucap Guntur sambil menyerahkan dua gepok uang yang masing-masing dari nominalnya sekitar 3 juta rupiah yang mana uang itu adalah uang pemberian dari ibu dan neneknya dulu.


" Ehh... Ta-tapi tuan- " ucap Hadi terpotong.


Sementara kakek Jin tidak tahu dengan apa yang Guntur lakukan karena kakek Jin sudah keburu untuk pergi meninggalkan mereka.


" Aku pergi dulu... Assalamualaikum, " ucap Guntur sambil berlari menyusul kakek buyutnya itu.


" Wa'alaikum salam, " jawab Hadi dan Arto bersamaan.


***


" Bun'er, kenapa kau tidak bilang dari awal jika mereka membuat masalah denganmu? " tanya kakek Jin dengan kesal sambil menyetir mobilnya.


" Kakek, sudahlah... Toh mereka sudah diberi pelajaran dengan kejadian ini, semoga saja mereka menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya, " ucap Guntur mencoba untuk menenangkan kakeknya yang sedang tersulut api amarah.


" Kau tahu, jika itu bukan karena dirimu, sudah kakek buat mereka itu tinggal nama! " ucap kakek Jin dengan geram.


" Lah untuk apa kek? Jangan sampai kakek mengotori tangan kakek dengan orang seperti itu... Mungkin setelah ini kakek butuh liburan untuk menenangkan hati dan pikiran kakek, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Hahhhhhh.... Sepertinya begitu, kakek juga tidak pernah liburan setelah berpulangnya nenek buyutmu.... Selama ini kakek hanya berkutat dengan pekerjaan kakek saja, " ucap kakek Jin sambil menghela nafas panjang.


" Kalau kata orang, hmm.... Apa ya namanya itu... Hi... Hi... Apa sih kek namanya? " tanya Guntur yang lupa-lupa ingat dengan nama yang ingin dia ucapkan.


Kakek Jin yang mendengar itu langsung tertawa mendengar celotehan buyutnya itu.


" Hahaha.... Healing maksudnya? " tanya kakek Jin.


" Ahh iya itu healing... Duh susah kek nyebutnya secara lidahku lidah medok jadi ya keseleo mengucapkan kata itu, " ucap Guntur dengan kesal.


" Hahaha.... Ada-ada saja... Yasudah kita hampir sampai dan kali ini kau harus menginap disini walaupun hanya semalam, " ucap kakek Jin memaksa.


" Lah Anisa bagaimana? " tanya Guntur terkejut.


" Apa kau itu sutari? " tanya kakek Jin sambil mengerutkan keningnya.


" Hah? Sutari? " tanya Guntur kebingungan.


" Suami takut istri, " ucap kakek Jin sambil menahan tawanya.

__ADS_1


" Lah... Mana ada! " ucap Guntur spontan.


" Wahahahaa, " pecah sudah tawa kakek Jin mendengar Guntur berkata seperti itu.


Setibanya mereka di kediaman utama keluarga Jin, Guntur dan kakek Jin turun dari mobil dan berjalan untuk masuk kedalam rumah itu.


Namun siapa sangka jika Jin Shi masih duduk di teras depan rumah sambil bermain handphone miliknya.


Melihat kakeknya sudah pulang dan Guntur, Jin Shi langsung berdiri karena terkejut.


" Kau! " ucap Jin Shi sedikit berteriak.


" Huh... Shi'er.... Ada apa? " tanya kakek Jin sambil mengerutkan keningnya.


" Ayah, gembel itu ayah yang tadi buat masalah di gerbang komplek dan sekarang kenapa ayah membawanya kemari? " ucap Jin Shi dengan kesal.


" Jin--" ucap kakek Jin terpotong oleh Guntur.


" Ahh... Maaf-maaf, apakah kau yang bernama Jin Shi? " tanya Guntur yang mendapatkan sebuah ide untuk mengerjai neneknya itu.


Sedangkan kakek Jin pun langsung mengerutkan keningnya.


" Memangnya kenapa? " ucap Jin Shi yang tidak suka dengan kedatangan Guntur.


" Hm... Begini, aku datang kemari karena aku ingin melamarmu, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Apa!? "


Sontak saja Jin Shi dan juga kakek Jin terkejut dengan apa yang Guntur ucapkan.


Namun saat Guntur ingin melanjutkan ucapannya, dari arah samping kanannya terdengar suara seorang gadis yang sangat mereka kenali.


" Ooohhh... Jadi begitu! " ucap gadis itu sambil mempercepat langkahnya ke arah Guntur.


Setelah sampai, dengan cepat gadis itu langsung menjewer telinga kanan Guntur dengan keras.


" Aaahhh... Aduhhh kak sakit, sakit, " ucap Guntur sambil meringis kesakitan.


" Biarin.... Kau ini bener-bener jail ya, " ucap gadis itu dengan geram.


" Shu'er " ucap kakek Jin.


" Cici Shu " ucap Jin Shi.


Ternyata gadis itu adalah Jin Shu yang mana saudara kembar Jin Shi.


" Kak... Aduh, lepasin... Ahhh... Sakit, " ucap Guntur ang masih meringis kesakitan.


" Heleh... Mana ada orang sepertimu merasakan sakit hanya karena diginiin, " ucap Jin Shu yang semakin mempererat menjewer telinga Guntur.


" Hahahaha..., " Pecah tawa kakek Jin secara tiba-tiba yang membuat semuanya menatap kakek Jin heran.


Sementara itu, Guntur yang merasakan jika jeweran Jin Shu itu mengendur, dengan cepat Guntur melepaskan jeweran Jin Shu lalu berlari ke arah taman.


Jin Shu yang merasakan dan melihat jika Guntur telah kabur itu langsung berteriak dan segera mengejar Guntur.


" Bun'er! " teriak Jin Shu berteriak.


Sementara kakek Jin semakin pecah tawanya bahkan semakin terpingkal dan memegangi perutnya.


Sedangkan Jin Shi sendiri hanya menatap semuanya dengan heran dengan kejadian ini.


" Siapa sebenarnya orang itu, kenapa ayah malah tertawa sampai seperti itu dan juga kenapa cici Shu terlihat sangat akrab dengannya? "


" Tapi eh tu-tunggu dulu.... Tadi cici Shu berteriak Bun'er, jangan bilang kalau orang itu adalah..., " gumam Jin Shi yang langsung menatap kakek Jin.

__ADS_1


Sedangkan kakek Jin sendiri yang sudah berhenti tertawa dan melihat Jin Shi itu langsung tersenyum.


" Dia adalah cucumu Shi'er... Jin Bun atau lebih dikenal dengan nama Guntur Samudra, " ucap kakek Jin sambil mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2