Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Ujian Untuk Yuni


__ADS_3

Pagi harinya, terlihat Guntur sedang berjalan berkeliling padepokan guna untuk mencari Ridwan.


Disaat Guntur melewati taman padepokan, Guntur mendengar suara seorang gadis yang memanggilnya.


" Mas Gun... Mas Gundra, sini!"


Dengan cepat Guntur langsung menoleh ke arah gadis tersebut yang ternyata itu adalah Yuni yang sedang duduk sendirian dibawah pohon kelengkeng yang cukup rindang.


" Ada apa, " ucap Guntur sembari berjalan menghampiri Yuni.


" Tidak apa-apa... Mas Gun apa kabar? Sudah lama aku tidak melihatmu mas, " tanya Yuni sambil tersenyum menatap Guntur.


" Alhamdulillah baik... Kau sendiri gimana? Ih iya selamat ya sudah memenangkan turnamen kemarin, " ucap Guntur sambari tersenyum.


Yuni yang melihat Guntur tersenyum semakin salah tingkah dibuatnya. Sudah sejak lama setelah pertemuan pertama mereka Yuni sudah menyukai Guntur.


" Te-terima kasih mas Gun..., " ucap Yuni sambil tersipu malu.


" Hehe... Kau harus banyak latihan jika ingin lebih kuat lagi, " ucap Guntur menasehati.


" Baik mas... Aku akan berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi, " ucap Yuni sambil tersenyum.


Guntur yang melihat Yuni tersenyum langsung mengalihkan pandangannya karena melihat keindahan milik Yuni.


" A-ahhh.... Hmm... Yu-yuni... Apa kau melihat Ridwan? " tanya Guntur gugup.


Yuni yang melihat Guntur gugup entah kenapa menjadi gemas dengan Guntur dan ingin menggodanya.


Dalam benaknya disamping Yuni sangat penasaran dengan Guntur, dia juga gemas dengannya karena Guntur selalu mengalihkan pandangannya jika melihatnya tersenyum.


" Gemasnya... Hihihi, " gumam Yuni dalam hati.


Namun saat Yuni ingin beranjak dari duduknya, tiba-tiba Ridwan memanggil Guntur tepat beberapa meter dibelakangnya.


" Mas Gun..., "


Sontak Guntur dan juga Yuni menoleh ke belakang Guntur. Ridwan yang sedang berjalan bersama dengan Umar menghampiri Guntur dengan santai.


Semenjak turnamen kemarin berakhir, Umar dan juga Ridwan kerap berjalan bersama dan terkadang mereka juga bersama dengan Singgih dan juga Julian.


Keakraban mereka semakin hari semakin dekat bahkan terlihat seperti saudara.


Namun, tetap Ridwan tidak melupakan Guntur yang telah melatih dan juga membesarkan namanya di padepokan pancanaka.


" Ahh kebetulan kau datang.... Aku sudah membuatkan pemberat tubuhmu yang baru... Kau harus pakai itu jika tidak tubuhmu akan semakin melemah.. Ayo ikut aku ke gubuk, " ucap Guntur sambil berlalu.


Ridwan yang mendengar itu langsung saja berbinar dikedua matanya dan nampak semakin bersemangat karena itu.


Umar yang berada disampingnya itu merasa heran dengan Ridwan. Begitu juga dengan Yuni, entah kenapa dia semakin penasaran dengan Guntur.


" Hehe... Bro Mar, aku ke gubuk mas Gun dulu ya..., " ucap Ridwan sambil berjalan cepat menyusul Guntur.


Umar yang memang orang yang sebelumnya sangat penasaran dengan Guntur ikut mengejar Ridwan dan juga Guntur.


" Hoe aku ikut.... Tunggu...., " teriak Umar.


Namun siapa sangka jika Yuni juga ikut berjalan mengejar mereka dari belakang.


Beberapa saat kemudian, Guntur, Ridwan dan juga Umar telah sampai di gubuk. Sedangkan Yuni hanya melihat mereka dibalik pohon rambutan beberapa meter samping kanan gubuk milik Guntur.


" Sebentar aku akan mengambilnya di dalam, " ucap Guntur lalu berjalan masuk ke dalam gubuk.


" Hei bro... Aku masih tidak percaya kau berlatih dengan dia..., " ucap Umar mengerutkan keningnya.


Ridwan yang mendengar itu tersenyum " Wajar bila kau ragu dengan mas Gun tapi semua yang aku katakan dan aku lakukan itu adalah kebenaran... Memang benar mas Gun itu seperti orang aneh dan selengekan tapi dibalik itu semua menyimpan sejuta misteri yang bahkan aku sendiri tidak bisa menebak apapun darinya..., " jelas Ridwan sambil menatap gubuk milik Guntur.


Saat Umar ingin mengatakan sesuatu lagi, Guntur berjalan keluar dari dalam gubuknya sambil membawa sebuah peti dari kayu yang terlihat cukup besar.


" Brukkkk "


Suara peti yang dijatuhkan oleh Guntur tepat didepan Ridwan.


" Nah bukalah, semua ada di dalam peti itu dan aku menambahkan 50 kg lagi, hehehe, " ucap Guntur sambil cengengesan.


Ridwan yang mendengar itu langsung saja bersemangat dan segera membuka peti itu. Sedangkan Umar hanya mematung karena syok dengan apa yang ia dengar dari Guntur.


Begitu peti itu terbuka, nampak satu set pemberat tubuh yang berwarna hitam dengan garis-garis merah yang menyala. Logam itu terlihat sangat elegan dan juga terlihat sangat kuat, lebih kuat dari sebelumnya.


" Waaahhhh... Kereeennn... Mas Gun, beneran ini untukku? " tanya Ridwan kesenangan.


" Lah untuk siapa lagi kalau bukan untukmu, mana ada penduduk di padepokan ini yang sanggup membawa pemberat tubuh dengan berat lebih dari 200 kg di setiap detiknya setiap hari? " ucap Guntur.


Umar yang mendengar itu serasa ingin pingsan dibuatnya.


" 200kg? Apa kau bercanda? " ucap Umar terkejut.


Seketika Guntur dan Ridwan langsung menatap Umar dengan raut wajah rumit.


" Angkat saja salah satu dari pemberat tubuh itu, " ucap Guntur sambil menunjuk peti itu.


Dengan segera, Umar langsung mengangkat pemberat tubuh bagian tangan, namun saat mengangkatnya, terlihat Umar sangat keberatan dengan itu.


" Nah kan... Kau hanya mengangkat salah satu dari pemberat tubuh itu saja kau keberatan apalagi semuanya? Padahal yang kau angkat itu hanya 60kg..., " ucap Guntur sambil cengengesan.


Umar langsung merasa malu dengan itu, namun saat melihat Ridwan yang langsung memakainya, betapa terkejutnya Umar melihat itu.


Ridwan yang sudah memakai pemberat tubuh itu langsung tersenyum senang.


" Hehehe... Kereeennn... Aku seperti hidup kembali wahahaha..., " ucap Ridwan sambil melompat-lompat kegirangan.


" Syukurlah jika kau suka... Oh iya Umar... Apa kau juga mau? " tanya Guntur sambil menatap Umar yang masih menunjukan raut wajah rumit.


" Bro Mar... Bagaimana jika kau juga berlatih bersamaku? Aku yakin jika kau mau berlatih dengan mas Gun kau akan jauh lebih kuat lagi dari sekarang..., " ucap Ridwan sambil tersenyum.


Umar langsung merenung sambil menunduk. Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan untuk Umar namun dia juga berfikir apakah dirinya bisa dan juga diterima, mengingat Guntur adalah seorang cucu dari Guru besar. Dia merasa tidak pantas dengan semua itu.

__ADS_1


" Bro Mar... Bagaimana? Tidak ada kesempatan kedua lho..., " ucap Ridwan tersenyum.


Beberapa detik kemudian, Umar menatap Guntur dengan tegang, sedangkan Guntur langsung tersenyum dan mengangguk.


Betapa senangnya Umar saat Guntur menerimanya, sedangkan Guntur hanya tersenyum saja melihat Umar yang mau bergabung dengan Ridwan.


Bisa saja Guntur langsung mengajak Umar untuk bergabung mengingat Guntur akan membuat sebuah kelompok namun Guntur melakukannya karena dia yakin jika mereka semua kelak akan datang dengan sendirinya untuk bergabung.


Betapa senangnya Ridwan saat Guntur menganggukkan kepalanya, itu berarti mulai sekarang Ridwan tidak lagi sendirian untuk berlatih bersama Guntur.


Disaat mereka merasa senang, tiba-tiba dari balik pohon rambutan muncul seorang gadis lalu berkata.


" Aku juga ikut bergabung..., "


Sontak mereka semua langsung menatap gadis itu yang berjalan ke arah mereka.


" Yu-yuni?! " ucap Ridwan dan juga Umar.


" Kenapa? Memangnya kalian saja yang boleh bergabung? Mas Gun, aku juga ingin bergabung dengan kalian! " ucap Yuni dengan serius.


Guntur langsung menatap Yuni dengan serius, namun Guntur dan mereka semua kembali terkejut dengan suara seorang gadis yang Guntur sangat kenal.


" Apa dengan kekuatanmu yang sekarang kau memiliki kesempatan untuk bergabung dengan mereka? " ucap suara gadis tersebut yang ternyata adalah Anisa.


Anisa yang tengah terduduk diatas genting gubuk milik Guntur itu menatap Yuni dengan tajam.


Sedangkan Guntur yang langsung menoleh ke sumber suara itu mengerutkan keningnya. Guntur melihat dari sorot mata istrinya itu bukan karena kekuatan yang dimiliki oleh Yuni melainkan lebih ke arah rasa cemburu.


Umar dan juga Ridwan langsung bergetar hebat melihat Anisa begitu juga dengan Yuni, yang mereka kenal dengan nama julukannya, Srikandi Bercadar.


" Ahh... Kau rupanya Srikandi Bercadar..., " ucap Guntur yang memulai aktingnya.


" Astaga... Bisa gawat jika aku sampai keceplosan... Belum waktunya semuanya tahu jika dia adalah istriku, " gumamnya dalam hati.


Anisa yang tengah duduk diatas genting gubuk miliki Guntur itu berdiri dengan cepat lalu melompat turun kebawah.


Mendarat dengan mulus beberapa meter di depan Yuni yang masih mematung melihat Anisa. Keringat yang jatuh bercucuran dan juga gemetar sangat terlihat pada diri Yuni.


" Kenapa kau sekarang diam? Mana sikap manja dan paksaanmu tadi? Apa karena kau menjadi juara turnamen kemarin sopan santunmu menjadi tumpul? " tanya Anisa sambil menatap Yuni dengan tajam.


Sorot mata yang sangat tajam dan ada sembirat rasa ketidaksukaannya terhadap Yuni itu sangat jelas terlihat.


" A-aku... A-aku..., " ucap Yuni yang terbata-bata sambil meneteskan air matanya.


Tubuh Yuni bergetar bahkan sangat sulit untuk digerakkan. Apalagi, untuk pertama kalinya Yuni mendengar suara dari Srikandi Bercadar. Begitu juga dengan Umar dan Ridwan.


" Huh... Sudahlah tidak usah marah-marah... Istighfar... Istighfar..., " ucap Guntur mencoba menenangkan Anisa.


Anisa pun masih menatap Yuni dengan tajam. Lalu, Guntur langsung berjalan mendekati Yuni.


Setelah jarak mereka mencapai 2 meter, Guntur langsung mengatakan sesuatu yang membuat adanya sedikit harapan untuk Yuni.


" Apa kau sangat ingin bergabung? " tanya Guntur dengan lembut.


Yuni yang masih ketakutan itu langsung menganggukkan kepala dengan pelan.


Guntur tidak meneruskan kata-katanya beberapa detik hanya untuk melihat ketetapan dan keteguhan niat di hati Yuni. Sedangkan Yuni yang sejak awal sudah merasa yakin dengan keputusannya menjadi bertambah keyakinannya.


Guntur bisa melihat semua keteguhan yang sangat kuat dari dalam diri Yuni.


" Gadis bermental baja... Hmm... Kurasa tidak apa-apa walaupun dia bukan termasuk dari kriteria namun aku berharap untuk kedepannya dia tidak mengecewakan..., " gumam Guntur dalam hati.


" Hahhhh.... Baiklah... Jika kau bisa menahan tekanan da- "


" Dariku... Aku yang akan melakukannya, jika kau bisa menahan tekanan yang aku keluarkan selama 30 detik maka kau akan lolos dan aku ijinkan kau bergabung dengan kami... " ucap Anisa yang langsung memotong kata-kata dari Guntur.


Anisa sebenarnya tidak tega dengan Yuni, namun Anisa dapat melihat dengan jelas disamping Yuni ingin bergabung dia juga menyukai Guntur. Maka dari itu Anisa sangat marah dan cemburu kepada Yuni.


" Lahh... Aku belum selesai.... Tapi baiklah, Yuni... Kau sudah dengar bukan apa yang dia katakan tadi? " tanya Guntur dengan serius.


Yuni yang mendengar itu mengangguk dengan keyakinan tinggi walaupun didalam hatinya dia sangat ragu tapi demi orang yang disukainya dia akan melakukan apapun untuk bisa selalu dekat dengan Guntur.


" Baiklah... Sekarang bersiaplah..., " ucap Guntur sambil tersenyum.


Baru saja Guntur menyelesaikan kata-katanya, Anisa secara mendadak memulai dengan mengeluarkan aura jawaranya langsung di pintu ke 3 nya.


Sontak semua orang terkejut dengan itu, namun mereka kembali lega karena Anisa langsung memusatkan auranya kepada Yuni.


Yuni yang merasakan aura dari Anisa langsung bergetar hebat. Tekanan yang dikeluarkan oleh aura itu menekan kuat tubuh Yuni.


10 detik telah berlalu dan Anisa membuka aura jawaranya di pintu ke 5 nya. Tekanan dari aura yang dikeluarkan oleh Anisa semakin menekan kuat Yuni.


Yuni sendiri langsung bertambah gemetar pada tubuhnya. Kakinya yang sudah gemetaran itu sekuat tenaga dia menahan tekanan dari Anisa.


Baru berjalan 3 detik, dimulai dari hidung dan juga mulut Yuni langsung mengucur cucuran darah dengan deras.


Namun dengan kegigihan dan tekatnya yang kuat bagai sebuah baja, dia sekuat tenaga menahan tekanan itu.


Umar dan juga Ridwan langsung bergidik ngeri melihat pemandangan yang mereka lihat. Darah yang mengucur deras dari hidung, mulut bahkan dengan berlahan keluar juga dari telinganya.


Disamping itu, mereka juga salut dengan kegigihan Yuni yang bahkan dirinya masih menahan tekanan yang dikeluarkan oleh Srikandi Bercadar.


" Su-sudah Yuni.... Menyerahlah...., " teriak Umar yang tidak tega melihat Yuni yang sedang kesakitan.


" Kak Yun..., " ucap Ridwan yang bahkan dirinya sampai tidak tega melihat pemandangan cukup mengerikan didepan matanya.


Ingin rasanya mereka menghentikan Srikandi Bercadar, namun apalah daya mereka yang hanya seekor semut dimatanya.


" Tidak... Aku tidak boleh nyerah... Aku ingin menjadi bagian dari mereka.... Aku kuat, kuat, kuat...., " gumam Yuni dalam hati.


" Uuuaaaaaaaarrrhhhhh..... "


Teriakan Yuni terdengar sangat kencang dan bersamaan dengan teriakannya, aura jawara pintu ke 5 Yuni langsung meledak sangat kuat untuk meringankan tekanan dari tekanan aura yang diberikan oleh Anisa.


10 detik berlalu, Anisa langsung membuka aura pintu terakhirnya dengan cepat.

__ADS_1


" Wusshhh.... Bangg.... Ngiiiing.... "


Tekanan yang benar-benar kuat menekan Yuni dengan keras. Yuni yang merasakan itu seperti tertimpa sebuah batu yang sangat besar.


Tubuhnya langsung ambruk berlutut, namun dengan tumpuan lututnya, Yuni mencoba untuk terus bertahan sekuat tenaga.


Tiba-tiba terdengar suara tulang patah terdengar cukup keras.


" Krakk... Krakkk.... "


Dua tulang rusuk Yuni seketika patah karena tidak mampu menahan dari tekanan hebat yang dia terima.


Darah menyembur dengan deras dari mulutnya. Air mata mengalir deras, namun tidak ada teriakan menyerah darinya yang ada hanyalah teriakan penuh dengan semangat juang yang sangat tinggi.


" Aaaaaarrggghhhh..... Hiiiiggghhhhh.... "


" 5 detik lagi..... Aku kuat, aku kuat, aku kuat.... Aaarrrgggghhhh.... " gumamnya dalam hati.


Umar dan Ridwan pun tidak tega melihat Yuni yang seperti tersiksa dengan kejam. Mereka juga seperti merasakan betapa sakitnya bila posisi mereka berada di posisi Yuni saat ini.


" Sri-srikandi Bercadar benar-benar over power, " ucap Umar sambil bergidik ngeri.


" Bahkan aku saja yang dikatakan abnormal semakin menjadi sampah bila dibandingkan dirinya.... Ehh... Tu-tunggu, bro Mar setahu kita Srikandi Bercadar itu kan berada di jawara pintu ke tiga tapi ini..., " ucap Ridwan terkejut menyadari jika Srikandi Bercadar sebenarnya adalah seorang jawara sempurna.


Umar yang mendengar itu juga langsung terkejut.


" Ehh... Kau benar... Ja-jadi dia sebenarnya adalah jawara sempurna dan menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya..., " ucap Umar sambil bergidik ngeri.


" Pantas saja di padepokan dia sangat kuat dan ditakuti bahkan namanya sampai menyebar di bumi nusantara akan kekuatannya..., " ucap Ridwan.


Disaat detik-detik terakhir Yuni menerima tekanan aura dari Anisa, Guntur melihat dengan jelas bagaimana masa lalu Yuni.


Seorang anak yatim yang bahkan orang tuanya tidak diketahui. Sejak bayi, dirinya berada di sebuah panti asuhan sampai dia usia 10 tahun.


Setelah itu, Yuni diadobsi oleh salah satu keluarga kaya. Namun, saat pertama kali Yuni menginjakkan kaki dirumah itu, Yuni mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh orang yang mengadopsinya.


Terus menerus seperti itu sampai berumur 13 tahun. Saat diumur 13 tahun penderitaannya berhenti karena keluarga angkatnya berpulang karena sebuah kecelakaan yang menewaskan semua orang yang berada di sebuah mobil itu.


Yuni adalah satu-satunya orang yang selamat karena kecelakan itu dikarenakan Yuni saat itu sedang membuka pintu mobil.


Namun, tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil pick up melaju sangat kencang dan hilang keseimbangannya lalu menabrak mobil milik orang tua Yuni.


Yuni saat itu langsung terlempar keluar beberapa meter karena pintu mobil yang terbuka dan anehnya Yuni tidak mengalami luka sedikitpun.


Guntur yang melihat sepenggal masa lalu Yuni itu tiba-tiba melihat jika tepat di kening Yuni terlihat sebuah pola aksara segel.


Tidak ada yang menyadari itu semua kecuali Guntur.


" Wuunnggg..... Wuushhhhh.... "


Akhirnya, 30 detik telah selesai, Anisa langsung menarik kembali auranya. Tekanan yang diberikan kepada Yuni langsung menghilang begitu saja.


Yuni yang menyadari sudah selesai itu tersenyum walaupun keadaanya sangatlah buruk. Dua tulang rusuk patah, kedua gendang telinga pecah dan tiga jari kanan patah.


Karena saking tidak kuatnya lagi, tubuh Yuni langsung ambruk terlentang namun kesadarannya masih terjaga.


" A-aku berhasil, hihihi..., " ucap Yuni sebelum tidak sadarkan diri.


Seketika itu, Umar dan juga Ridwan langsung menghampiri Yuni yang tergeletak tidak sadarkan diri.


" Kak Yun.... Kak..., " ucap Ridwan memanggil.


" Yun, Yuni.... Bangun.... Aaahhhh siallll, " ucap Umar geram bercampur sedih.


" Kalian tenang saja, dia hanya pingsan...., " ucap Anisa dengan santai.


" Srikandi.... Kau sangat berlebihan...., " ucap Ridwan dengan kesal.


" Sudah-sudah... Hmm... Srikandi, berapa persen yang kau keluarkan untuk memberikan tekanan pada Yuni? " tanya Guntur.


" Hanya 3% saja..., " ucap Anisa dengan santai seolah-olah tidak bersalah dengan apa yang dia lakukan.


Begitu mendengar ' hanya 3% saja ' tubuh Umar dan Ridwan bergidik ketakutan.


" Apa! 3%? " ucap Umar sambil melebarkan kedua matanya karena terkejut.


Anisa hanya mengangguk saja untuk memberikan jawaban. Sedangkan Ridwan langsung lemas mendengar itu.


" Ridwan... Berikan ini untuknya, " ucap Anisa sembari melemparkan sebuah botol kecil yang berisikan satu butir pil.


Ketika Ridwan membuka botol pil tersebut. Ridwan begitu terkejut melihat pil yang berada di dalam botol pil itu.


" I-ini...., " ucap Ridwan.


" Sudah cepat berikan kepada Yuni sebelum terlambat..., " ucap Anisa.


Setelah Ridwan memasukan pil tersebut ke mulut Yuni, beberapa detik berikutnya, Yuni terlihat begitu lebih baik. Semua tulang yang patah segera menyambung kembali dengan sempurna, kulit yang pucat kini kembali cerah seperti tidak mengalami suatu kejadian apapun.


" Alhamdulillah, " ucap Guntur sambil tersenyum.


Begitu juga dengan Ridwan dan Umar.


" Lalu bagaimana srikandi? " tanya Guntur sambil menatapnya dengan serius.


" Baiklah, tapi aku tidak mau jika dia terlalu dekat denganmu, " ucap Anisa sambil berjalan masuk kedalam gubuk.


" Hei.... Apa kau cemburu? " tanya Guntur sedikit berteriak lalu segera tersadar dengan apa yang dia katakan.


Benar saja saat Guntur menoleh ke arah Ridwan yang langsung menatap Guntur dengan tajam. Sedangkan Umar sendiri hanya menatap Guntur dengan keheranan.


" Mas Gun.... Apakah dia itu...? " tanya Ridwan yang menggantung.


" Ahhh... Hmm... Hehehehe.... Kau menyadarinya ya...., " ucap Guntur sambil cengengesan.


Seketika Ridwan langsung terkejut bukan main sedangkan Umar masih belum menyadari semuanya.

__ADS_1


" APAAAAA!!!!!!!! "


__ADS_2