
" Sraakkkk... Booomm.... Blaaarrr "
Kedua tinju dari Sang Macan Merapi bertemu dengan tapak ilahi milik Guntur. Terpaksa Guntur menggunakan jurus Tapak Ilahi Gelandang Butanya untuk menghentikan kakeknya.
Setelah kedua tinju itu bertemu, Guntur terpental beberapa meter kebelakang sedangkan Aji sendiri hanya lima langkah kebelakang dan nampak baik-baik saja seolah+olah tidak mengalami luka sedikitpun .
Guntur tidak sempat untuk menyerap energi alam untuk melakukan jurus itu. Dimana jurus itu memerlukan waktu paling tidak beberapa detik untuk bisa menggunakan kekuatan penuhnya.
Guntur yang terpental itu walaupun tidak mengalami luka, namun Guntur tertegun dengan kekuatan dari kakeknya.
" Benar-benar kuat... "
Sedangkan Aji yang sudah gelap mata langsung melesat untuk pergi. Namun tiba-tiba sebuah rantai yang terbuat dari elemen cahaya mengikat kuat tubuhnya dengan kuat dan kencang.
Ternyata Guntur menyadari jika kakeknya akan melesat pergi dan dengan segera Guntur menciptakan sebuah rantai dengan elemen cahayanya untuk mengikat kuat kakeknya.
Setelah rantai itu mengikat kuat Aji, Guntur lekas melemparkan kakeknya itu ke tembok rumahnya.
" Srett... Booomm "
Tembok yang awalnya terlihat kokoh itu jebol setelah Aji terlempar ke tembok tersebut.
Lastri yang sedang menolong Ragil langsung saja terkejut melihat tiba-tiba tembok rumahnya jebol karena suaminya terlempar dengan tubuhnya terlilit oleh rantai elemen cahaya.
" Astaghfirullah..... Kang maaaasss.... "
Lastri berteriak sangat kencang. Aji sendiri langsung berdiri dengan keadaan baik-baik saja namun rantai itu masih melilit tubuhnya.
Namun, dengan kekuatan penuh, Aji dapat menghancurkan rantai yang melilit tubuhnya.
" Uuuaaaarrggghhh.... "
" Pllaaarrrr.... "
Setelah telepas dari lilitan rantai, Aji langsung melesat cepat keluar dari rumah menuju Guntur yang tengah bersiap.
Guntur yang sudah siap dengan apapun yang terjadi itu langsung menciptakan sebuah palu yang cukup besar untuk menghantam kakeknya.
Palu yang terbuat dari elemen tanah itu langsung menghantam Aji saat melesat dengan cepat ke arah Guntur.
Aji yang mengetahui akan hal itu langsung meninju palu tersebut hingga hancur.
" Boomm "
Setelah palu tersebut hancur, Aji melesat dengan cepat ke arah Guntur dengan tinju yang sudah siap menghantam Guntur.
Guntur yang menyadari itu, langsung membuat pola aksara pelindung berbentuk seperti tembok namun sangat tipis untuk melindungi dirinya.
Ketika tinju itu bertemu dengan penghalang, nampak terdengar seperti suara granat yang sedang meledak.
" Boom "
Namun, siapa sangka jika penghalang itu tetap berdiri kokoh tanpa rusak sedikitpun.
__ADS_1
Guntur tersenyum melihat itu, sedangkan Aji sendiri semakin dibuat kesal oleh Guntur.
Setelah itu, Aji mundur beberapa langkah kebelakang dan langsung mengeluarkan senjatanya.
Senjata legendaris yang sangat luar biasa kuat dan tajam. Senjata yang menjadi lambang dari padepokannya, Kuku Pancanaka.
Sepasang senjata berupa kuku yang mirip dengan taring macan itu terpasang sudah si sela jari Aji.
Dengan sekuat tenaga, Aji menghantam kuat penghalang itu. Tapi...
" Duaaangg "
Sebelum kuku pancanaka mengenai penghalang, sebuah toya langsung menghantam tubuh Aji dengan cukup keras. Aji yang hanya fokus dengan penghalang itu tidak menyadari akan datangnya sebuah toya. Alhasil, Aji terlempar beberapa meter ke samping kanan dan berhenti setelah menabrak pohon kelengkeng sampai pohon tersebut roboh.
" Bbrrrruuuuaaakk.... Booom "
Sebuah toya yang baru saja menghantam Aji itu melayang sambil berputar-putar itu berhenti dan menancap tepat di samping Guntur.
" Maaf kek, tapi aku ingin kakek lampiaskan saja dengan cara ini, jika kakek nekat untuk membalas dendam, itu akan membuat kita semua semakin terancam bahaya, pasti ada waktunya untuk melawannya tapi bukan sekarang, " ucap Guntur sedikit berteriak.
Lalu, toya aksara milik Guntur itu langsung mengecil dan membengkokkan dirinya menjadi lingkaran, terbang melesat ke arah tuannya. Toya tersebut langsung bertengger di kepala Guntur untuk menjadi ikat kepalanya.
Tiba-tiba, atmosfer di sekitar rumah Aji menjadi sedikit pengap serta suhunya pun melonjak naik menjadi lebih panas.
Guntur tahu jika kakeknya itu akan serius langsung menoleh ke arah Anisa yang masih memegangi dadanya. Cadar yang ia kenakan pun telah basah dengan darah yang dia keluarkan melalui mulutnya.
Segera Guntur membuat pola aksara teleport untuk memindahkan Anisa ke tempat lebih aman. Lalu, Guntur juga membuat pola aksara penyembuhan untuk Anisa.
Guntur melakukan semua itu dengan sangat cepat. Terlihat juga Lastri dan Ragil keluar dari dalam rumah dengan keadaan Ragil yang tampak lebih parah dari Anisa. Segera, Guntur melakukan hal yang sama kepada mereka.
Benar seperti dugaan Guntur yang hanya dalam beberapa detik berikutnya, Aji melesat dengan sangat cepat bagaikan sebuah roket yang sudah mengincar lawannya.
Guntur yang mengetahui itu langsung menjentikkan jarinya untuk membuat dimensi cerminnya supaya tidak menimbulkan kekacauan yang lebih parah di dunia nyata.
Setelah itu selesai, Guntur langsung membuat rantai-rantai dengan elemen cahayanya lagi untuk mengikat kakeknya sama seperti sebelumnya yang keluar dari dalam tanah.
Rantai-rantai itu jauh lebih kuat dari yang sebelumnya, mengejar Aji dengan cepat.
Saat jarak mereka hanya tinggal satu langkah lagi, Guntur segera menghilang dari pandangan kakeknya dan muncul kembali melayang di ketinggian beberapa meter keatas. Menatap kakeknya dengan perasaan sedih dan juga khawatir.
Aji yang melihat itu sedikit gelagapan, namun dirinya yang masih dikuasai oleh nafsu amarah yang sedang memuncak, Aji langsung menengok keatas dan melihat Guntur yang sedang melayang.
Segera rantai-rantai itu langsung mengikat Aji dengan kuat. Ratusan rantai itu mengikat Aji, namun Aji masih nampak baik-baik saja.
" Uuaaaaaaarrrggggghhhhh "
Tiba-tiba Aji teriak dengan keras dan meledakkan kekuatannya kembali sampai semua rantai yang mengikatnya hancur lebur.
" Plaarrrr "
Guntur yang melihat itu menggelengkan kepalanya.
" Seorang legenda memang sangat kuat... Bahkan rantai-rantaiku saja tidak sanggup untuk menjeratnya, " gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Segera Guntur membuat pola aksara kembali dengan tangan kanannya dia angkat keatas.
Sebuah pola aksara tercipta sangatlah besar diatas langit. Lalu, tiba-tiba ribuan tombak keluar dari dalam pola aksara tersebut.
Tombak-tombak itu yang diselimuti berbagai jenis elemen telah siap untuk dikerahkan.
Aji yang melihat itu bukannya tersadar malah semakin menggila dan mengeluarkan seluruh kekuatan kanuragannya.
Sedangkan Lastri, Ragil dan Anisa terkejut dengan apa yang dilakukan Guntur terhadap kakeknya.
" I-ini.... To-tombak Langit... Salah satu jurus aksara terkuat yang pernah menghancurkan pasukan penjajah dimasa lalu, " ucap Ragil terkejut.
" Tombak Langit hanya bisa dipelajari oleh seorang aksara pintu ke 5, sangat sulit untuk mempelajari jurus aksara itu karena harus mengontrol semua tombak itu supaya melesat ke arah musuh dengan tepat sasaran..., " ucap Lastri.
Anisa yang mendengar itu terkagum oleh suaminya yang bahkan melebihi apa yang dipikirkannya. Namun juga khawatir akan keselamatan keduanya, karena keduanya adalah keluarganya.
" Mas... "
Guntur yang telah siap untuk melepaskan ribuan tombak itu mengayunkan tangan kanannya kebawah. Seketika semua tombak langsung melesat dengan cepat ke arah Aji.
Aji yang sudah siap dengan serangan itu menarik nafas sangat dalam lalu dia berteriak dengan kencang. Teriakan Aji berubah seperti auman seekor harimau yang sedang marah.
" Ggrrrooooaaaaaahhhh "
Salah satu jurus terkuat Aji Samudra dikeluarkan, Auman Harimau Merapi.
Seketika, ribuan tombak yang melesat cepat ke arah Aji langsung saja tertahan bahkan hancur setelah menerima jurus auman harimau merapi milik Aji.
Beberapa detik berikutnya, Guntur tersenyum melihat semua tombak itu hancur setelah menerima jurus kakeknya.
" Kakek memang sangat kuat tapi ini belum berakhir, semoga dengan ini kakek bisa merasa lega akan pelampiasannya, " ucap Guntur yang mengangkat tangan kanannya lagi.
Pola aksara yang Guntur buat itu belum juga menghilang namun tiba-tiba dari pola aksara tersebut mengeluarkan sebuah pedang yang sangat besar berwarna hitam keemasan.
Pedang yang panjangnya bahkan sampai 500 meter dengan lebar 50 meter itu keluar dengan sempurna dan melayang di udara tepat di atas Guntur yang siap untuk melepaskan pedang itu.
Pedang yang sangat besar itu terlihat sangat indah namun mempunyai aura dan tekanan yang sangat kuat.
Lagi-lagi Ragil merasa sangat terkejut melihat pedang raksasa itu.
" I-itu.... P-pedang Tunggal Kolosal.... Astaga anak itu, apa dia benar-benar ingin membunuh kakeknya sendiri dan menghancurkan kota ini dengan jurus aksara pedang itu? " ucap Ragil sambil bergidik ngeri.
" Lihatlah baik-baik Ragil..., " ucap Lastri sambil menunjuk suaminya yang sedang bersiap.
Aji yang sudah bersiap itu mengerahkan seluruh kekuatan kanuragannya dengan maksimal. Nampak siluet berbentuk seekor harimau api biru yang memiliki sebuah mahkota emas di kepalanya.
Siluet itu berasal dari aura dan kekuatan Aji sendiri yang berbeda dengan kekuatan seorang kajinan yang mendapatkan kekuatan dari bangsa lain.
Tekanan dan aura yang dikeluarkan dari masing-masing jurus itu menekan kuat area sekitar. Tapi karena mereka berada di dalam dimensi cermin, di alam nyata tidak akan berpengaruh sama sekali.
" Jurus ini..... Cepat kalian berlindung! " teriak Lastri panik melihat jurus suaminya.
Jurus yang sangat sakral untuk dilakukan oleh seorang legenda. Jurus yang dapat menghancurkan sebuah kota besar dan daerah disekitarnya. Bukit-bukit jika terkena jurus ini sudah dipastikan akan kehancurannya. Jurus pamungkas dari seorang legenda Sang Macan Merapi...
__ADS_1
JURUS MACAN KENCANA