
" Pak Presiden, di..., " ucap seorang jendral yang terpotong oleh lambaian tangan pak presiden.
Kini, pak Presiden yang tengah duduk terdiam didalam ruang kerjanya menghadap jendela.
Dengan raut wajah serius, Wicak segera memutar kursinya menghadap anak buahnya.
" Bagaimana dengan evakuasi penduduk? " tanya wicak dengan serius.
" Siap, kami sedang melakukan evakuasi sampai jarak 2 km dari lokasi, " ucap jendral itu dengan tegas.
" Apakah ada korban? " tanya Wicak kembali.
" Untuk saat ini belum ada korban pak, " ucap jendral.
" Syukurlah, " ucap Wicak lega.
" Pak, apa kita akan membantu mereka? " tanya jendral.
" Tidak... Biarkan mereka menyelesaikan pertarungan mereka sendiri, katakan kepada panglima untuk tidak ikut campur urusan mereka, " ucap Wicak dengan tegas.
" Ta-tapi pak...? " ucap jendral ragu.
" Jendral Somad, apa kau tahu sebenarnya itu pertarungan apa? " tanya Wicak.
Jendral somad pun hanya menggelengkan kepalanya karena dirinya sendiri adalah orang awam dan tidak tahu apa-apa dan saat ini jendral Somad tengah bertugas di istana negara.
" Apakah kau tahu apa itu jawara, aksara bahkan kajinan? " tanya Wicak.
Sontak saja jendral Somad kebingungan dengan nama-nama itu.
Itu hal yang sangat wajar jika orang awam seperti dirinya tidak mengetahui akan hal itu.
" Jendral... Bumi Nusantara memiliki para pamong untuk menopang negara itu sendiri, dengan kata lain, bayangan dari perwujudan pilar penyangga negara..., "
" Pamong-pamong tersebut bernama Jawara dan Aksara seperti halnya para legenda... Mereka bukanlah orang-orang seperti kebanyakan orang... Terlahir sebagai seorang petarung yang memiliki kekuatan yang diluar nalar dan juga sihir memaksa mereka untuk hidup di kehidupan berbeda seperti kita sekarang ini..., "
Sontak jendral Somad melebarkan matanya karena mendengar kata para legenda yang bahkan orang awam pun tahu akan hal itu tapi tidak banyak orang awam tahu kekuatan mereka.
" Sedangkan untuk kajinan adalah musuh bagi mereka bahkan kita, hal itu karena para kajinan memiliki sifat perusak, haus darah bahkan kanibalisme, " jelas Wicak sambil mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat.
" Hah? Ka-kanibal? " ucap Jendral Somad terkejut.
" Hmm... Mereka melakukan itu untuk memperkuat kekuatan mereka karena mereka harus mengikat kontrak dengan para Jin, jadi sumber kekuatan mereka terdapat dari kontrak mereka, semakin kuat Jin kontrak mereka maka semakin kuat pula kekuatan mereka, " ucap Wicak.
Jendral Somad hanya bisa terdiam saat mengetahui semuanya dari Wicak dengan kata lain didunia yang modern yang bahkan kekuatan dan hal-hal berbau mistis sekalipun sudah dianggap tahayul dan tidak di benarkan.
Tapi setelah mengetahui semuanya, jendral Somad dapat mengetahui sisi lain dari dunia itu sendiri.
" Pak, aku sudah tahu akan garis besarnya masalah ini jadi aku mohon pamit untuk segera menghubungi panglima akan perintah pak presiden, " ucap Jendrak Somad lalu meninggalkan ruang kerja pak presiden.
" Aku tidak bisa hanya duduk seperti ini... Aku juga harus membantu guru, " ucap Wicak yang bisa merasakan aura gurunya dan langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju lokasi.
***
Disalah satu perguruan pencak silat yang mana adalah non jawara, terdapat seseorang yang tiba-tiba terdiam mematung saat dirinya sedang melatih puluhan murid.
Murid-murid tersebut terheran dengan guru besarnya itu yang tiba-tiba terdiam cukup lama.
" Gu-guru..., " ucap salah satu murid seniornya.
Namun, sang guru masih terdiam sampai beberapa saat kemudian baru tersadar kembali.
__ADS_1
" Gu-guru..., " ucap murid senior itu.
" Kang, kau lanjutkan mengajar menggantikanku... Aku harus pergi sekarang, " ucap orang itu dengan raut wajah serius.
" Eh... Tapi guru..., " ucap murid itu.
" Ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang jadi kau gantikan aku, " ucap orang itu sambil melangkah pergi dari perguruan.
Hal itu menjadi sebuah pertanyaan besar untuk semua muridnya yang mana setahu mereka guru besarnya itu adalah orang yang murah senyum dan juga ramah, sangat baik bahkan dalam mengajar pun sangat sabar dan telaten.
Namun melihat raut wajah guru besar mereka yang nampak serius bahkan belum pernah mereka lihat, mereka mengerti bahwa terjadi sesuatu walaupun mereka masih dalam pertanyaan besar kepada mereka.
" Guru...., " gumam orang itu sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari perguruannya.
Setelah cukup jauh, dirinya langsung mengeluarkan kilatan-kilatan petir dari tubuhnya lalu melesat dengan kecepatan kilat menuju lokasi dari aura gurunya yang meluap-luap.
" Semoga aku tepat waktu, " gumamnya yang sangat mengkhawatirkan orang yang telah menjadi guru sekaligus ayah untuknya.
***
Di padepokan pancanaka, Ragil yang sedari tadi merasakan perasaan tidak enak dan kekhawatiran itu tersentak ketika merasakan aura gurunya yang meluap-luap.
Dirinya sudah mengetahui jika sedang ada pertempuran di batas kota bagian barat namun tidak menyangka jika gurunya itu ikut dalam pertempuran itu.
" Aaarrgghhh.... Sialan, bapak semoga aku tidak terlambat, " ucapnya sambil menghilang di kegelapan malam.
***
Diatas bukit dimana kediaman mbah Pahing, mbah pahing yang sudah tertidur bersama dengan Anjani dan Husna mendadak tersentak dari tidurnya karena terkejut merasakan aura dari Aji meluap-luap.
" I-ini..., " ucap Mbah Pahing.
" Nenek..., " ucap Husna.
" Astaghfirullah..., " ucap Husna sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
" Husna ada apa? " tanya Anjani penasaran.
" Pertarungan, Guntur dan semuanya ada disana..., " ucap Husna.
" Nenek..., " ucap Husna kembali sembari menatap Mbah Pahing.
" Mungkin sudah waktunya kita turun gunung lagi Husna, " ucap Mbah Pahing yang nampak sangat khawatir karena mengetahui pertarungan itu bukanlah pertarungan biasa.
" Baik nek, " ucap Husna yang langsung bersiap.
Sedangkan Anjani hanya terdiam merasakan kekhawatiran akan Guntur.
" Anjani, kau tetaplah di rumah saja, biarkan aku dan Husna saja yang pergi, " ucap Mbah Pahing dengan tegas.
" Baiklah... Pastikan tidak terjadi apa-apa dengan Guntur, " ucap Anjani khawatir.
" Tenang saja, " ucap Mbah Pahing yang menghilang bersama dengan Husna dengan teleportasi yang diajarkan oleh Guntur kepada Mbah Pahing dan Mbah Pahing juga mengajarkannya kepada Husna.
" Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa kepada mereka semua, " ucap Anjani.
***
" Sriiing "
" Booom "
__ADS_1
" Booom "
Nampak pertarungan epic antara Aji dan kakek Jin melawan Winga yang mengakibatkan lokasi tersebut rusak total.
Bangunan besar bahkan pemukiman penduduk pun tidak luput menjadi dampak akibat pertarungan mereka.
" Sialan, kekuatan mereka benar-benar mengerikan, " gumam Winga yang tengah menjadi bulan-bulanan oleh Aji dan kakek Jin.
" Tapi bagaimana mungkin mereka tidak merasakan lelah bahkan kekuatan mereka tidak berkurang? " gumam Winga yang merasa heran.
Dengan memikirkan itulah Winga nampak sedikit lengah yang mengakibatkan terkena serangan yang begitu telak di bagian dada dan perutnya.
" Uuaaaaggghhh "
Terpental 30 meter kebelakang dan berhenti setelah dirinya menabrak bongkahan beton dari gedung yang rubuh.
" Sialan, ugh sakit sekali... Aku harus mengganti perubahan ini sebelum jin ini mati karena tidak mampu lagi untuk bertarung, " gumam Winga sembari berkomat kamit.
Tiba-tiba semua dibuat terkejut karena langit yang tadinya cukup cerah tiba-tiba menjadi mendung bahkan muncul kilatan-kilatan petir diatasnya.
Aura pekat berwarna merah darah muncul dari dalam kumpulan debu tempat dimana Winga saat ini.
" Ggrrroooaaaahahahahahahaa, akhirnya aku masuk di dunia manusia! "
Terdengar suara yang begitu menggelegar dipenjuru lokasi pertempuran.
" I-ini..., " ucap Anisa yang tidak asing dengan aura itu.
" INDRAJIT...., " ucap Guntur singkat.
Sontak semua yang ada disana terkejut pasalnya mereka tahu bahwasanya Indrajit adalah sosok yang sangat kuat dan anak dari Raja Angkara yaitu Dasamuka.
Dengan suara yang menggelegar, Indrajit terus tertawa akan kesenangannya karena dengan ini dirinya akan banyak menemukan tumbal untuk memperkuat kekuatannya.
Berlahan debu mulai menghilang yang menampilkan seseorang dengan tubuh besar dan juga tinggi serta aura yang sanga kuat, membuat siapapun yang merasakannya akan terimidasi dan ketakutan luar biasa.
Aji dan juga kakek Jin pun sempat tertegun melihat pemandangan yang menjadi lawannya saat ini.
Indrajit pun langsung menatap kedua orang yang ada didepannya itu dengan senyum misterius.
" Seorang kanuragan dan huh? Apa ini? Hahahahha baiklah-baiklah aku akan menemani kalian bermain dan kau Winga.... Hmm... Mereka bagianku, wuahahahahah, " ucap Indrajit yang langsung menghilang dari pandangan.
Ternyata Winga tidak bersatu dengan Indrajit walaupun Indrajit juga Jin kontraknya.
Winga sengaja melakukan itu supaya dirinya dapat beristirahat dan memulihkan kekuatannya.
" Dengan begini aku bisa untuk memulihkan kekuatanku, hehehe selamat menemui dewa yama, saudaraku..., " ucap Winga yang langsung menjauh dari lokasi pertempuran.
Namun hal yang tidak diketahui oleh Winga adalah dirinya malah mendekati Alisa yang sudah selesai menyerap dari bola energi dengan 300 tumbal yang dikeluarkan oleh Winga sebelumnya.
Begitupun juga Guntur yang mengetahui kelicikan Winga namun Guntur tersenyum dengan itu.
" Skak matt, " gumam Guntur.
Disisi Alisa yang melihat bahwa Winga yang hanya berjarak beberapa meter disamping kanannya itu tersenyum penuh kemenangan.
Dengan senyum misterinya, gadis cantik itu menghilang dari pandangan untuk mendekati Winga yang tengah bersemedi.
" Bismillah...., "
" Srriiiing "
__ADS_1
......