Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Jangan Menjadi Sebuah Gelas Yang Kosong


__ADS_3

Sore hari dimana Ridwan, Yuni dan juga Umar sedang berada di kantin untuk sekedar makan makanan ringan sambil menongkrong dan juga mengobrol.


Mereka diberi waktu satu jam untuk itu sebelum memulai kembali latihan dengan Guntur.


Mereka bertiga mengobrol betapa kerasnya pelatihan mereka.


" Yuni, bagaimana latihanmu? Kau nampak sedikit pucat setelah beberapa hari berlatih dengan srikandi bercadar, " tanya Umar.


" Ahhh... Neraka, aku hanya diberikan waktu istirahat 4 jam saja setiap harinya... 3 hari pertama aku ingin sekali menyerah namun aku juga ingin menjadi kuat seperti srikandi bercadar jadi aku tahan dan sekarang aku sudah bisa untuk beradaptasi dengan pelatihan srikandi bercadar, " jelas Yuni sambil mengaduk-aduk es teh miliknya.


" Sama... Aku juga begitu, tapi sekarang juga aku mulai bisa merasakan efeknya, tubuhku terasa lebih kuat dari sebelumnya, " ucap Umar sambil menunjukkan otot tangannya yang semakin berkembang sedikit lebih besar.


" Hehehe.... Ingat bro Mar... Kau baru memakai pemberat tubuh 15 kg, dulu awal pertama kali aku berlatih dengannya aku langsung memakai 20 kg dan terus bertambah 5 kg disetiap minggunya...., " ucap Ridwan sambil menunjukkan raut wajah rumit.


" Iya tapi itu berapa bulan yang lalu bukan? Sekarang kau bahkan mampu membawa pemperat tubuh seberat 250kg disetiap detiknya sepanjang hari..., " ucap Umar sedikit iri dengan Ridwan.


" Hehehe.... Itu menunjukkan aku lebih kuat darimu bro Mar.... Wahahahaha, " ucap Ridwan sambil tertawa.


" Helleeehhhh.... Oh iya Yuni pelatihan apa yang kau jalani? " tanya Umar penasaran.


" Untuk saat ini srikandi bercadar melatih insting dan panca indraku... Apa kau bisa membayangkan betapa susahnya itu ketika mata kalian ditutup lalu sebuah selang sepanjang setengah meter tiba-tiba mengenai tubuhmu dan tugasku adalah menghindar tidak boleh menangkis? Jangankan menangkis bahkan menghindar saja aku sangat kesusahan... Dalam 1 detik saja bisa 2 sampai 3 kali cambukan, " jelas Yuni yang ingin menangis.


" Sabarlah kak Yun... Aku dulu juga begitu kok... Nahh bro Mar siap-siap saja jika nanti juga mendapatkan pelatihan itu, wahahaha...., " ucap Ridwan.


Tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara dari seseorang yang mereka sangat kenal.


" Astaga.... Ternyata kalian disini? Beberapa hari ini kalian kemana? Kenapa aku tidak melihat kalian beberapa hari ini? " tanya orang itu yang ternyata dia adalah Julian.


Sontak saja mereka bertiga langsung menoleh ke arah Julian. Sedangkan Julian sendiri langsung duduk di samping Yuni.


" Hm... Kemana? " tanya Julian kembali.


" Hmm... Berlatih, " ucap Umar.


" Ehh, berlatih? Dimana? Kenapa aku tidak tahu? " tanya Julian penasaran.


" Apa kau ingin ikut juga? " tanya Ridwan sambil menahan tawanya.


" Hmm... Jika itu meyakinkan aku ikut..., " ucap Julian ragu.


" Hehehe..., "


Ridwan, Umar dan Yuni langsung tertawa penuh arti. Julian yang melihat itu semakin penasaran dengan apa yang dilakukan teman-temannya beberapa hari ini tapi disisi lain dia juga seperti mendapatkan perasaan tidak enak kepada mereka.


Julian juga melihat melihat Umar dan juga Yuni nampak sedikit berbeda dengan sebelumnya. Perbedaan paling menonjol dari mereka adalah tubuh mereka yang sedikit lebih padat dan berisi.


" Kak Lian... Ikut kami, " ucap Ridwan sambil menggeret tangan kanan Julian, sedangkan Umar dan Yuni menahan tawanya.


Mereka berjalan menuju tempat latihan mereka yaitu gubuk milik pelatih mereka, Guntur.


Didepan gubuk, Guntur dan juga Anisa sedang berdiri dengan saling menatap tajam. Mereka berdua bukan bertengkar ataupun terjadi sesuatu kepada mereka, melainkan mereka juga ingin latih tanding satu sama lain.


Sudah lama mereka tidak berlatih tanding dengan lawan yang cocok dengan mereka. Guntur sendiri hanya latih tanding dengan Ridwan saja dan yang terakhir dengan kakeknya itu pun menggunakan kekuatan aksaranya bukan jawaranya.


Guntur ingin latih tanding menggunakan kekuatan jawaranya untuk melihat sampai mana dia berkembang.


Sedangkan Anisa sendiri juga sudah lama tidak latih tanding dengan seseorang. Biasanya dia hanya latih tanding dengan Ragil saja atau gurunya, namun sudah beberapa bulan ini dia tidak melakukan itu mengingat kesibukan dan aktifitas mereka yang cukup padat.


Akan tetapi, siapa juga yang ingin latih tanding dengan Anisa? Mengingat keabnormalannya apalagi sudah menjadi jawara yang sempurna.


Maka dari itu, Guntur meminta Anisa untuk menemaninya berlatih tanding agar tubuh mereka tidak kaku dan juga kekuatan mereka tidak tumpul.

__ADS_1


" Kau siap Nisa? " ucap Guntur yang menatapnya tajam.


" Hehh... Seharusnya aku yang bilang begitu mas, " ucap Anisa sambil tersenyum dibalik cadarnya.


Hening, bahkan detak jantung mereka pun bisa mereka dengarkan walaupun pelan.


Saat mereka mendengar suara ranting yang patah entah karena apa, mereka langsung melesat satu sama lain untuk saling menyerang.


Keduanya saling bertukar tinju, tendangan bahkan jurus-jurus mereka walauoun tanpa menggunakan kekuatan jawara mereka namun itu sudah cukup untuk membuat latih tanding mereka terlihat seru.


Guntur sendiri yang hanya memiliki satu jurus saja yaitu Gelandang Buta itu terus menyerang dan juga bertahan.


Berbeda dengan Anisa yang memiliki 7 jurus, Anisa terus memggunakan jurus-jurusnya untuk melawan Guntur.


Setiap kali memyerang, Anisa selalu mengganti jurusnya untuk dapat mengelabuhi Guntur.


Namun Guntur yang melihat itu tetap saja tenang dan terus menyerang dan juga bertahan. Latih tanding mereka itu membuat tanah disekitar mereka menjadi sedikit berlubang walau tidak dalam karena hentakan kaki dan juga terkena jurus mereka.


Disisi lain, nampak Ridwan, Umar, Yuni dan juga Julian terdiam mematung melihat pemandangan yang sangat langka didepan mereka dengan jarak beberapa puluh meter dari Guntur dan Anisa.


Mereka bahkan tahu jika Guntur dan juga Anisa yang sedang bertarung itu tidak menggunakan kekuatan jawara mereka namun mereka melihat banyak sekali tanah yang berlubang walau tidak dalam.


" Apa aku masih tidur? " tanya Umar sambil mengucek kedua matanya.


" Astaga, mereka sedang latih tanding walaupun tidak menggunakan kekuatan jawara tapi lihat tanah disekitar mereka, " ucap Yuni.


Sedangkan Ridwan dan Julian terdiam sambil memperhatikan Guntur dan Anisa sedang bertarung.


Mereka berdua sebenarnya juga terkejut melihat latih tanding mereka, namun yang lebih membuat mereka terkejut adalah srikandi bercadar.


Apalagi Julian yang selama ini tidak menganggap bahwa srikandi bercadar itu ada di padepokan ini karena sosoknya yang bagai kulkas dan juga sering menghilang entah kemana.


" Argh... Srikandi Bercadar benar-benar kuat... Bahkan Langkah Netra tidak bisa untuk melihat apapun.... Tapi aku juga heran dengan orang itu, siapa dia? Kenapa aku juga tidak bisa melihat apa-apa apda orang itu? " tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara dentuman sesuatu yang membuat mereka terkejut.


Sebuah energi kejut yang cukup kuat akibat benturan tinju dari keduanya yang cukup keras dengan menggunakan kekuatan jawara mereka.


Kini, mereka telah menggunakan kekuatan jawara pintu pertama mereka.


Guntur dan juga Anisa sudah membuka pintu pertama jawara mereka itu menandakan jika latih tanding mereka semakin serius.


" Mas, apa lebih baik ke dimensi cermin saja? " tanya Anisa.


" Hm... Baiklah, " ucap Guntur yang langsung menjentikkan jarinya.


Tidak ada yang menyadari jika mereka sudah berada di dalam dimensi cermin termasuk Ridwan, Umar, Yuni dan juga Julian.


Hanya saja Julian sedikit terkejut setelah melihat Guntur menjentikkan jarinya tanpa tahu apa maksudnya.


" Apa mereka mulai serius? " tanya Yuni.


" Sepertinya begitu, " ucap Ridwan.


Langsung saja Guntur dan juga Anisa melesat dengan kecepatan yang sangat cepat. Hanya Ridwan dan Umar saja yang dapat melihat kecepatan mereka sedangkan Yuni dan Julian hanya melihat kelebatan bayangan hitam yang tidak terlalu jelas.


Dentuman demi dentuman mereka dengar dan hembusan angin yang terkadang mereka rasakan akibat energi kejut dari benturan kekuatan Guntur dan juga Anisa.


Beberapa menit telah berlalu dan mereka semakin meningkatkan serangan dan keceoatan mereka.


Masih dalam jawara pintu pertama mereka sudah membuat banyak kawah kecil namun tidak dalam di atas area gubuk.

__ADS_1


" Gelandang Buta : Sukma Manggilang tingkat pertama, " gumam Guntur dengan pelan.


Tiba-tiba Guntur terdiam namun beberapa detik berikutnya nampak Anisa teroental beberapa meter ke belakang lalu berhenti saat senjatanya langsung keluar dan menancapkan bilah sabitnya pada tanah sedangkan Anisa sendiri langsung memegangi gagang sabitnya dengan kuat.


" Uhukkk.... "


" Astaghfirullah.... Jurus Gelandang Buta sangat mengerikan, " gumamnya dalam hati sambil memegangi dadanya.


Sukma Guntur yang langsung kembali pada tubuhnya itu setelah melakukan serangannya dan mengenai dadanya itu melihat jika Anisa terbatuk langsung merasa khawatir.


Namun, Guntur sangat yakin jika Anisa baik-baik saja. Guntur hanya menggunakan kurang dari 1% saja dari kekuatannya untuk menggunakan jurus Gelandang Butanya.


Walaupun begitu, dirinya melakukkannya dengan lembut tapi tetap saja jurus Gelandang Buta masih sangat mengerikan.


Setelah itu, Anisa berdiri sambil mencabut senjatanya serta mengayunkannya dengan lihai.


Guntur tersenyum melihat Anisa baik-baik saja, lalu mengayunkan tangan kanannya dengan cepat. Tiba-tiba sebuah tongkat melesat ceoat ke arah Guntur.


Guntur yang melihat itu langsung menangkapnya lalu dihentakkannya pada tanah.


" Dukkkk "


Menatap satu sama lain dengan tajam tanpa bersuara sedikitpun.


Sementara itu Ridwan, Umar, Yuni dan juga Julian tercengang melihat apa yang baru saja mereka lihat.


" A-apa aku masih bermimpi? " tanya Umar sambil melebarkan kedua matanya.


" Astaga... Srikandi bercadar terpental..., " ucap Yuni.


" Tapi aku lebih penasaran dengan jurus mas Gun, " ucap Ridwan yang berbinar-binar.


" Benar, jurus apa yang hanya terdiam namun lawannya tiba-tiba terpental begitu? " tanya Julian.


Disaat mereka saling bertanya-tanya satu sama lain mereka kembali dikejutkan dengan senjata milik Anisa.


" I-itu..., " ucap Yuni tercengang.


" Astaga.... Aku baru kali ini melihat senjata milik srikandi bercadar, " ucap Umar.


" Selama aku jadi seorang jawara, aku belum pernah melihat seorang jawara memakai sabit sebagai senjatanya dan sabit itu sangat besar, " ucap Julian.


" Benar... Jadi itu ya senjata milik srikandi bercadar, " ucap Yuni.


Sedangkan Ridwan juga sama terkejutnya dengan mereka namun hanya diam saja. Dia lebih penasaran dengan darimana senjata itu muncul padahal mereka bukanlah seorang aksara.


" Apa senjata milik kakak ipar sama dengan milikku yang bisa berubah bentuk? " gumamnya dalam hati.


Baru saja Ridwan memikirkan hal itu, dirinya dan juga yang lainnya terkejut dengan Guntur yang terpental sampai dihadapan mereka secara tiba-tiba.


" Astaghfirullah...., " teriak Ridwan terkejut.


Guntur langsung menoleh kearah mereka berempat.


" Perhatikan baik-baik pertarungan ini, ambil ilmunya jangan hanya menjadi sebuah gelas yang kosong, " ucap Guntur.


Setelah mengatakan itu, Guntur langsung melesat dengan kecepatan tinggi untuk melawan Anisa kembali.


Sedangkan mereka berempat mengangguk mengerti dan mulai serius memperhatikan pertarungan Guntur dan Anisa.


Belajar dari suatu kejadian apa yang dilihat itu juga suatu anugrah tersendiri untuk mereka. Menjadikan mereka semakin memahami dan juga merasakan akan suatu serta menambah pengalaman mereka, entah itu di medan pertempuran ataupun kehidupan sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2