
Tiga hari berlalu begitu cepat. Selama itu juga Guntur dan Anisa belum juga untuk tidur dalam satu kamar. Mereka masih malu untuk melakukan itu. Guntur tidur di kamar tamu atau di sembarang tempat asal nyaman untuknya tidur. Bahkan sering juga Guntur tidur di kursi panjang yang terdapat di bawah pohon beringin. Walaupun Guntur sering mendapatkan teguran untuk tidur di tempat yang layak tapi Guntur tidak mendengarkan teguran tersebut.
Hari ini adalah hari dimana Guntur dan Anisa akan kembali ke padepokan pancanaka karena beberapa hari lagi turnamen antar murid akan diselenggarakan.
Saat ini dimana jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, nampak Guntur dan Anisa sudah membawa bawaan mereka untuk mereka kembali ke padepokan. Mereka akan di antar oleh salah satu sopir keluarga Ma, agar perjalanan mereka cepat untuk sampai tujuan.
Guntur dan Anisa sudah berada di depan rumah milik keluarga. Sambil menunggu mobil, Anisa mengobrol dengan Nada dan adik-adiknya sedangkan Guntur duduk di lantai bersama dengan Ma Duan dan Ma Lin.
" Guntur, jaga Yue'er baik-baik, " ucap Ma Duan.
" Tentu kek, " ucap Guntur.
Beberapa saat kemudian mobil yang akan mengantar mereka pun datang. Tidak ingin berlama-lama lagi mereka pun berpamitan kepada semuanya dan segera masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil itu meninggalkan kediaman keluarga Ma, nampak Nada yang masih berdiri mematung. Ma Lin yang melihat istrinya seperti itu segera menghampirinya.
" Sayang, tidak usah kau berpikir terlalu jauh, mereka bukan lagi anak kecil yang selalu kita awasi dan memberikan pengarahan, lagi pula ada Guntur yang selalu ada buat Nisa, jadi tenangkan dirimu, " ucap Ma Lin sambil memeluk Nada dari belakang.
" Iya ko, semoga mereka selalu diberi perlindungan dan keselamatan oleh Yang Maha Kuasa, " ucap Nada sambil tersenyum.
" Amin.... Yasudah yuk kita masuk, " ucap Ma Lin yang melepaskan pelukannya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Nada hanya mengangguk dan mengikuti suaminya itu dari belakang.
Sementara itu diperjalanan, Guntur dan Anisa mengobrol untuk mengiai waktu mereka. Berbagai obrolan mereka bicarakan. Tiba-tiba Anisa menanyakan masalah turnamen mendatang " Mas, bagaimana menurutmu turnamen besok? " tanyanya.
Guntur yang mendengarkan istrinya bertanya seperti itu, Guntur menjawab " Entahlah Nisa, yang jelas di turnamen besok mungkin akan sedikit berbeda, karena akan ada pendatang baru yang tidak pernah ada seorang pun yang menyangka jika orang itu akan ikut dalam turnamen, " ucapnya.
Mendengar jawaban Guntur membuat Anisa penasaran " Huh, pendatang baru? Siapa mas? " tanyanya.
" Seorang murid terlemah di padepokan, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Sontak jawaban suaminya itu membuat Anisa terkejut " Ma-maksud mas? Ri-Ridwan? " tanyanya.
__ADS_1
Guntur mengangguk " Benar, tapi Ridwan yang sekarang bukanlah Ridwan yang dulu... Bahkan untuk melawan murid peringkat 15 teratas pun Ridwan sangatlah mampu, " ucapnya.
Anisa pun merenung sejenak. Dia tidak percaya dengan kenyataan itu. Bagaimana mungkin seorang Ridwan yang lemah itu lolos seleksi turnamen dan perkataan suaminya bahwa Ridwan mampu untuk melawan murid oeringkat 15?.
Guntur yang melihat istrinya seperti kebingungan dan tidak percaya akhirnya menceritakan semuanya dari awal sampai menjadi Ridwan yang sekarang. Anisa mendengarkan cerita tentang Ridwan dengan seksama.
Setelah Guntur selesai menceritakannya batulah Anisa percaya " Aku tidak menyangka jika Ridwan memiliki niat, tekat dan semangat juang yang begitu tinggi, aku tahu tidak mungkin kau melatih Ridwan tanpa alasan mas, apa alasanmu melatih Ridwan? " tanyanya.
Guntur pun tersenyum " Aku melatih Ridwan karena aku menganggap dirinya itu saudaraku dan aku juga ingin dia menjadi orang pertama yang berada di belakang kita... Hmm, bisa dibilang untuk menjadikannya kaki tanganku kelak, tapi walaupun begitu aku tidak ingin mengikat dia jadi dia bebas untuk melakukan apapun yang dia mau asalkan masih di jalan kebenaran... Anisa, kita juga membutuhkan orang-orang seperti dia di masa depan, aku merasa perjalanan kita setelah ini akan cukup sulit, " jelasnya.
" Tapi kau tidak memanfaatkan dia kan mas? " tanya Anisa sambil menatap suaminya dengan tajam.
" Tentu saja tidak, aku sudah mengatakannya bukan? Jika dia sudah aku anggap saudaraku sendiri, mana mungkin aku akan melakukan itu! " ucap Guntur tegas.
Anisa pun menjadi lega mendengar berkataan suaminya itu. Lagipula mana mungkin suaminya itu akan melakukannya, Anisa sangat tahu suaminya itu seperti apa jadi Anisa percaya kepada suaminya itu.
Tanpa terasa 5 jam sudah berlalu akhirnya mereka sampai di depan gerbang padepokan. Dengan perlahan mereka pun turun dari mobil dan mengeluarkan bawaan mereka.
Setelah selesai sopir itu pun mengatakan akan langsung kembali ke Cirebon. Anisa pun mengiyakan sopir tersebut dan berpesan untuk beristirahat jika merasa lelah.
Setelah Anisa menghilang dari pandangannya dan merasakan jika tidak ada orang yang melihat mereka, Guntur dengan berjalan santai menuju Gubuknya.
Tanpa halangan Guntur pun sampai pada gubuknya dan mendapati Ridwan sedang bersemedi di bawah pohon rambutan. Guntur hanya melihatnya dengan senyuman dan masuk ke dalam gubuk.
Guntur melihat jika Gubuk masih sama seperti sebelumnya yang nampak rapi dan bersih " Ternyata dia juga selalu membersihkan gubuk, tidak salah aku mempercayainya," gumamnya.
Setelah itu Guntur masuk ke dalam kamarnya dan mendapati kamar yang sangat rapi dan bersih bahkan tercium bau aroma terapi yang ternyata Ridwan menaruh dupa aroma terapi dengan harum lavender di meja kamar Guntur.
" Entah apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu bro, " gumam Guntur dalam hati.
Namun tiba-tiba Ridwan masuk ke dalam kamar dan mendapati Guntur yang berdiri mematung di depan ranjangnya " Mas Gun! " teriak Guntur yang langsung memeluk Guntur dengan erat.
" Woe, woe, woe.... Lepaskan aku, aku laki-laki normal, " teriak Guntur sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Ridwan.
__ADS_1
Tapi di satu sisi Guntur mengetahui jika Ridwan semakin kuat dibanding terakhir bertemu.
Setelah terlepas nampak Ridwan dengan tampang bodohnya tersenyum aneh " Mas Gun, bagaimana? Mana kakak iparku? " tanya Ridwan.
Guntur yang mendengar itu ingin sekali menonjok muka bodohnya itu tapi dia urungkan " Hahhhh, kau ini, tidak usah terburu-buru, lagipula dia juga sedang istirahat di kamarnya setelah perjalanan yang cukup jauh, aku juga baru saja sampai, " ucap Guntur sambil keluar dari kamar dan berjalan ke teras depan gubuknya.
Ridwan pun mengikuti Guntur dari belakang tapi saat sampai di depan pintu gubuk, Ridwan segera kembali ke dalam untuk mengambilkan minum untuk Guntur.
Beberapa saat kemudian Ridwan menaruh air putih itu di kursi panjang yang terbuat dari bambu " Mas, minum dulu, " ucapnya.
Guntur yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang dan terkejut oleh Ridwan yang mengambilkannya minum " Bro, tidak usah seperti itu! Kau itu saudaraku bukan orang lain! " ucapnya kesal dengan itu.
" Mas, aku hanya sekedar mengambilkan minum, apa itu salah? " tanya Ridwan dengan heran.
" Tidak salah bro, kau tidak usah repot-repot melakukan itu, aku bisa ambil sendiri, " ucap Guntur tegas.
" Baiklah mas, eh mas kau tadi bilang kalau kakak ipar sedang beristirahat dikamarnya, apa kakak ipar itu murid padepokan ini juga? " tanya Ridwan sangat penasaran.
Guntur yang mendengar itu langsung berjalan kearahnya lalu duduk di samping Ridwan " Kau benar bro, dia adalah murid padepokan ini, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Ridwan semakin penasaran dengan siapa istri dari Guntur, ingin dia bertanya lebih lanjut tapi dia urungkan.
Guntur pun menyadari hal itu tapi Guntur mendiamkannya pura-pura tidak tahu.
Akhirnya Guntur menanyakan bagaimana kesiapannya untuk ikut turnamen beberapa hari ke depan " Bro, bagaimana kesiapanmu untuk turnamen? " tanyanya.
" Insya Allah aku siap mas, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menang melawan mereka, " ucap Ridwan yang dipenuhi tekat dan semangat yang tinggi.
Mendengar itu Guntur tersenyum " Optimis saja bro tapi kau juga harus ingat lawanmu besok itu bukan sembarang murid, apalagi murid-murid peringkat atas juga ikut dalam turnamen ini, jadi tidak usah dipaksakan bila kau sudah tidak mampu lagi, kau lebih tahu batasanmu sendiri bro, " ucapnya.
Ridwan yang mendapatkan wejangan dari Guntur pun tersadar. Dia merasa sombong karena sudah kuat sekarang " Astaghfirullah... Kau benar mas, aku sudah sombong dengan kekuatanku sekarang, aku lupa diatas langit masih ada langit, " ucapnya menyesal.
Guntur mengangguk " Ada kalahnya kita bersikap sombong bro tapi itu kepada orang-orang tertentu, ummm.... Lebih baik kita latih tanding saja bro, aku ingin melihat sejauh apa kau sekarang, " ucapnya sambil berdiri.
__ADS_1
Tentu saja Ridwan mendengar itu sangat kegirangan, sudah cukup lama dia tidak latih tanding dengan Guntur maka dari itu Ridwan langsung mengiyakan " Ashiaaaaapppppp, " ucapnya penuh semangat.