
Suara dentuman terus mereka dengar. Debu-debu beterbangan namun entah kenapa debu-debu itu tidak menutupi arena seperti sebelumnya.
Nampak diatas arena hanya terlihat kosong bagi mereka yang masih berada di level yang rendah atau awam. Tapi tidak bagi mereka yang sudah membuka pintu ke 5 jawara atau aksara mereka.
Kecepatan mereka telah melebihi ekspektasi semua orang, apalagi untuk Ridwan. Mereka mengira Ridwan akan kalah dengan cepat tapi setelah 5 menit mereka bertarung, mereka masih belum menghentikan pertarungan mereka.
Setelah wasit menyatakan mereka mulai bertarung. Mereka yang siap kapan pun itu menghilang dari semua mata.
Itu karena mereka langsung saling menyerang dengan kecepatan tinggi. Mereka bertarung dengan tangan kosong, sedangkan senjata mereka, mereka tancapkan di atas arena.
Dalam waktu 5 menit saja, mereka sudah saling bertukar jurus. Jika diperhatikan lagi dengan teliti mereka akan menampakkan diri mereka walaupun hanya 1-3 detik saja, itupun selalu berpindah tempat.
Terkadang mereka muncul ditengah arena lalu menghilang lagi lalu muncul di pinggir arena. Terus menerus seperti itu.
Suara dentuman itu terjadi karena benturan dari jurus-jurus mereka. Tempat mereka bertarung pun terlihat banyak retakan kecil yang mereka ciptakan dengan jurus-jurus mereka saat jurus mereka meleset atau menghindarinya.
" Wahahahaha.... Ternyata kau itu sangat kuat Ridwan! " ucap Umar disela pertarungan mereka.
" Kau juga Umar... Yahh setidaknya aku menemukan orang yang pantas untuk aku lawan selain dia, " ucap Ridwan sambil bertarung.
" Huh? Dia? Siapa? " tanya Umar.
" Jika kau bertarung dengannya kau pasti akan kalah dalam satu kali sentil saja... Wahahahaha, " ucap Ridwan sambil tertawa.
" Apa maksudmu? " tanya Ridwan.
" Dia adalah sosok yang sangat aku kagumi bahkan rasa kagumku melebihi rasa kagumku kepada para legenda..., "
" Aku sudah menganggapnya lebih dari seorang teman, tapi keluarga dan juga guru untukku..., "
" Aku bisa bangkit dari diriku yang dulu dan menjadi seperti ini karena dia... Dia yang melatihku, mengajariku, banyak hal yang aku dapatkan darinya..., " jelas Ridwan.
Umar sekarang mengerti kenapa Ridwan yang sangat lemah menjadi sosok yang kuat.
" Jadi seperti itu... Pantas saja beberapa bulan kemarin aku sangat jarang melihatnya, ternyata dia berlatih tapi siapa orang yang dia maksud itu?, " tanyanya dalam hati.
" Lalu, apa kau pernah menang melawannya? " tanya Umar.
" Menang? Jangan bercanda... Bahkan aku sudah melawannya dengan kekuatan penuhku berulang kali tapi aku selalu kalah telak dengannya... Hahahah, " ucap Ridwan sambil tertawa.
" Ehh... Sekuat itukah dia? " tanya Umar tidak percaya.
Lalu mereka menghentikan pertarungan mereka. Keduanya sekarang berada di samping senjata mereka masing-masing.
Sejenak mereka saling menatap satu sama lain dan melempar senyum. Senyuman misterius mereka dapat dilihat semua orang yang menjadi penonton di arena. Mereka bertanya-tanya, apa maksud dari semua ini? Kenapa Ridwan sanggup mengimbangi Umar yang mana Umar adalah murid peringkat pertama. Tentunya kekuatannya sudah tidak diragukan lagi.
Selain itu, mereka heran dengan pertarungan mereka yang seperti bermain-main saja. Padahal, pertarungan mereka sempat membuat semuanya terkejut yang menghilang secara tiba-tiba.
Umar yang berdiri sambil menatap dan tersenyum dengan Ridwan pun bertanya kepadanya.
" Ridwan... Apakah kau sudah berkeringat? " tanyanya.
" Huh... Berkeringat? Jangan bercanda Umar... Pemanasan seperti itu belum bisa membuatku berkeringat, " ucap Ridwan.
" Begitu ya... Kalau begitu, kita lanjutkan pemanasan kita, " ucap Umar yang langsung mencabut pedang miliknya dari sarung pedangnya yang tertancap di atas arena.
Ridwan yang melihat itu tersenyum dan berkata " Baiklah..., " ucapnya sambil mencabut tombak miliknya.
__ADS_1
Setelah mereka mencabut senjata mereka, mereka langsung menghilang kembali dari pandangan semua orang.
Kali ini semua penonton dibuat tegang oleh mereka. Bagaimana tidak merasa tegang bila mereka bertarung menggunakan senjata mereka yang membuat arena menjadi banyak sekali retakan bahkan beberapa bagian yang sudah rusak.
Suara-suara dentuman dari bentrokan jurus mereka terus menerus mereka dengar.
" Bommm.... Boommm... Bommm... "
Beberapa menit saja merek sudah banyak sekali bertukar jurus-jurus yang sangat mematikan dan kuat.
Ragil yang menjadi wasit salam turnamen itu mengawasi mereka dengan serius.
" Ini bukan lagi turnamen tapi seperti berperang... Hanya saja tidak ada niatan membunuh dari mereka... Herannya, mereka belum mengeluarkan kekuatan pintu jawara mereka dan hanya mengunakan fisik saja...., "
" Sepertinya padepokan ini telah mendidik para monster..., "
" Tapi... Kata monster itu sendiri belum bisa disatukan dengan mereka berdua karena saat ini monster itu sendiri adalah mereka..., "
Ragil langsung menoleh ke arah tribun khusus lalu menoleh lagi ke arah tribun penonton biasa.
Lalu, Ragil dikejutkan oleh suara dentuman yang cukup keras di arena.
" Sepertinya mereka akan memulai pertarungan dengan serius..., " gumam Ragil dalam hati.
Benar saja, Umar dan Ridwan tengah menampakan dirinya kembali. Kini, mereka hanya berjarak 5 meter saja. Mereka seperti merasakan kepuasan tersendiri.
" Huahahaha... Aku sangat bersemangat, " ucap Umar senang.
" Hehehe... Benar, aku juga..., " ucap Ridwan.
" Sepertinya pemanasan kita sudah cukup..., " ucap Umar sambil menatap Ridwan dengan serius.
" Kau benar Umar... Saatnya kita untuk serius, " ucap Ridwan.
" Aku setuju, " ucap Umar sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, semua orang merasakan luapan energi yang sangat kuat yang dikeluarkan oleh mereka berdua.
Aura dan tekanan mereka begitu kuat. Semua orang bergidik ngeri merasakan semua itu.
Umar dan juga Ridwan telah memakai aura jawara mereka, sehingga nampak juga gelombang kejut yang dihasilkan dari energi mereka.
Para penonton dibuat terdiam dan tegang. Mereka hanya bisa menebak siapakah diantara mereka yang akan memenangkan pertarungan.
Sementara itu di tribun khusus, para tamu dan wali peserta pun juga merasakan hal yang sama.
" Wah... Wah... Wah... Sepertinya mereka sudah serius..., " ucap sesepuh Werang.
" Pertarungan yang sesungguhnya akan segera dimulai, " ucap sesepuh Tamrin.
Tidak lama setelah itu, Umar dan Ridwan melesat dengan cepat dan kuat untuk bertarung.
Saat senjata mereka berbenturan, suara ledakan dari energi mereka yang bertabrakan itu menggema seantero arena.
" Wushhh... Booommmm... ".
Lantai arena yang kuat dan kokoh itu langsung retak sampai terbelah menjadi empat bagian.
__ADS_1
Satu detik kemudian mereka langsung menghilang dari semua mata.
Hanya terdengar suara dentuman dan retakan lantai arena yang bisa dilihat oleh mereka para penonton yang belum membuka pintu ke 5 mereka.
Pergerakan dan kecepatan mereka sangatlah cepat dan kuat. Semua jurus dan kekuatan mereka kerahkan untuk saling bertarung.
Tidak hanya itu, bahkan bongkahan-bongkahan kecil dari lantai arena itu terus melesat ke sembarang arah. Jika Guntur tidak memasang pelindung, sudah bisa dipastikan jika akan ada korban atas pertarungan mereka.
Semua orang yang melihat pertarungan mereka dibuat tegang dan terkejut. Pasalnya belum pernah ada yang bertarung sampai seperti mereka, sampai-sampai arena rusak cukup parah.
Keduanya bertarung dalam diam. Tidak ada obrolan atau mengeluarkan suara. Mereka sangat fokus bertarung bahkan tidak menyadari jika arena telah rusak cukup parah.
Terus bertarung, bertukar jirus, saling tusuk, ayun, menghindar, menangkis semua mereka lakukan.
Beberapa saat kemudian nampak salah satu diantara mereka terpental beberapa meter.
Semua penonton sangat penasaran siapa dia yang terpental. Setelah mereka tahu siapa itu sontak teriakan dan sorakan penonton riuh dan ramai.
Ridwan yang sedikit lengah mendapatkan sebuah tendangan di dadanya hinga membuatnya terpental beberapa meter kebelakang.
Tampak Ridwan yang terpental itu mendapatkan beberapa sayatan di tubuhnya. Hingga baju yang dia kenakan sudah tidak beraturan lagi karena sobekan akan sayatan sebuah pedang.
Nampak tubuh kekar Ridwan yang membuat para gadis berteriak histeris, apalagi melihat perut roti sobeknya.
" Uaaagghhhh..., "
" Wahahahaa... Bagaimana? Apa kau sanggup meneruskan pertarungan... Ridwan? " tanya Umar sedikit menyombongkan dirinya.
Ridwan yang mendengar itu berdiri dengan berlahan yang bertumpu pada tombaknya. Rasa sakit yang dia rasakan dari sayatan pedang itu tidak membuat dirinya gentar dan goyah.
" Hehehe... Umar... Aku akui kau itu sangat kuat tapi pertarungan ini belum berakhir karena aku belum mengakui kekalahanku, " ucap Ridwan tersenyum.
Sejenak Umar terdiam dan merenung " Dengan luka-luka itu dia seperti tidak merasakan sakit... Ehh... Tu-tunggu... I-itu kan..., " gumamnya dalam hati dan terkejut melihat besi-besi yang dikenakan oleh Ridwan.
Ridwan yang menatap Umar dengan tajam itu tahu jika Umar sedang berfikir dan terkejut dengan besi-besi yang ia kenakan.
" Kau akhirnya sadar Umar... Inilah latihanku... Dia memberikanku pemberat badan ini untukku berlatih dan aku membawanya disetiap detiknya..., " ucap Ridwan.
" Pem-pemberat badan? Tu-tunggu... Jadi kau belum mengeluarkan kekuatan maksimalmu? " tanya Umar.
" Hehehe... Belum... Sepertinya sudah waktunya aku melepas semua besi-besi pemberat ini, " ucap Ridwan yang menoleh dan melihat Guntur yang menganggukkan kepalanya dan mengangguk.
Umar yang melihat Ridwan melepas satu persatu dari pemberat tubuh itu semakin bersemangat. Dia juga sebenarnya masih belum mengeluarkan kekuatan maksimalnya untuk melawan Ridwan.
" Sepertinya aku harus merubah pemikiranku tentang dia... Ahhh aku semakin bersemangat..., " gumam Umar dalam hati.
" Trang... Trang... Booom... "
Suara besi yang memiliki total berat 200kg itu terlepas dari tubuh pemiliknya dan terjatuh di atas arena sampai berbunyi seperti bom molotop yang meledak.
Setelah semua terlepas, Ridwan seperti terlahir kembali dengan tubuh yang sangat ringan bagai segumpal kapas.
" Aku akan benar-benar serius kali ini Umar... Aku tahu kau juga belum benar-benar serius..., " ucap Ridwan sambil tersenyum.
" Baiklah Ridwan... Kita mulai dengan serius..., " ucap Umar bersiap.
Begitu juga dengan Ridwan. Lalu mereka menggerakkan senjatanya didepan tubuh mereka.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak sambil memejamkan kedua mata mereka. Mereka menarik nafas panjang lalu membuka kedua mata mereka. Tiba-tiba....
" Wuusss.... Ngiiiiiinggg..... Booooommmm "