
Satu minggu telah berlalu, di pagi hari yang tidak mendukung karena langit mendung, di aula lapangan padepokan pancanaka terlihat wajah-wajah baru yang sedang berkumpul dan berbaris rapi didepan semua murid padepokan pancanaka yang masih tinggal di padepokan.
Hanya sembilan orang saja yang lolos menjadi murid padepokan pancanaka dari sekian ribu orang yang mendaftar. Mereka semua rata-rata telah membuka pintu ke 2 jawara mereka dan salah satu diantara mereka telah membuka pintu ke 3 jawaranya.
Jenius? Benar, semua murid padepokan pancanaka terdiri dari orang-orang kuat lagi jenius. Hanya Ridwan lah yang terlihat biasa-biasa saja namun karena kegigihan, semangat dan juga sifat pantang menyerahnya itu yang membuat Ridwan melonjak naik menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Semua orang berkumpul di aula lapangan. Ragil yang mana sebagai wakil dari Aji Samudra selaku guru besar di padepokan pancanaka memberi sambutan selamat datang kepada para murid baru.
Mereka yang lolos dari ujian menjadi seorang murid akan diberikan ujian lagi untuk menentukan guru mereka.
Jelas guru terkuat di padepokan pancanaka adalah Ragil sendiri tapi ujian dari Ragil sendiri tidaklah mudah dan juga ringan. Ujian kejeniusan, mental, fisik bahkan spiritual akan menanti mereka para murid baru.
Semua murid baru bermimpi bisa menjadi murid dari Ragil namun semua itu tidaklah mudah. Ragil sendiri mempunyai spekulasi tersendiri jika ingin mengangkat seorang murid.
Disaat para murid baru itu mendengarkan sambutan, mereka dikejutkan dengan Srikandi Bercadar yang sedang melesat ke arah samping belakang padepokan.
Anisa melesat dengan pelan di belakang Ragil yang sedang memberikan sambutan. Ragil sendiri hanya menggelengkan kepalanya saat mengetahui Anisa melesat dibelakangnya.
Semua murid dan para murid baru tahu jika di padepokan pancanaka memiliki beberapa sosok yang sangat kuat dan juga tidak bisa disinggung, salah satunya adalah Srikandi Bercadar.
Seorang jawara yang sangat khas dan juga sangat kuat. Satu-satunya jawara yang memakai pakaian Syar'i lengkap dengan cadarnya di bumi nusantara.
Disamping itu, Anisa yang tengah melesat itu tidak peduli dengan semua orang yang sedang berada disana, bahkan seniornya sendiri yaitu Ragil pun dia acuhkan. Ragil yang sudah sangat mengenal bahkan menganggap Anisa adalah adiknya sendiri, memakluminya dan tidak mempermasalahkan itu. Bukan masalah takut tapi jika mereka bertarung sekalipun hasilnya akan tetap seimbang. Kekuatan mereka seimbang apalagi mereka mempunyai guru yang sama yaitu Aji. Namun Ragil tidak tahu jika sebenarnya Anisa jauh lebih kuat dari padanya.
Terus melesat hingga sampai tujuannya yaitu gubuk milik suaminya.
Terlihat suaminya itu sedang melebur beberapa logam yang terlihat sangat kuat.
" Assalamualaikum... "
Guntur yang mendengar salam dari istrinya itu langsung menjawabnya " Waalaikum salam warrohmatullah... "
" Mas... Sedang apa? Kenapa banyak logam disini? " tanya Anisa yang penasaran dengan logam-logam yang tertumpuk dengan rapi.
Guntur yang masih melebur logam itu menjelaskannya " Aku sedang melebur logam-logam ini untuk membuat senjata, " ucapnya.
" Senjata? Senjata siapa? Bukannya mas sudah punya toya aksara? " tanya Anisa yang duduk di lincak.
Posisi Guntur yang berada di depan gubuknya untuk melebur semua logam-logam itu.
" Untuk Ridwan... Aku sudah berjanji akan memberikan sesuatu kepada Ridwan jika masuk 8 besar saat turnamen, heehehe, " ucap Guntur sambil cengengesan.
" Oohh..., " ucap Anisa singkat.
__ADS_1
Waktu terus berjalan sampai dimana Guntur sudah selesai membuat suatu tombak yang masih terlihat polos dan berwarna putih silver polos.
" Mantaapp... Tinggal dipoles sedikit sudah selesai, hehehe " ucap Guntur sambil mengayun-ayunkan tombak itu.
Anisa yang melihat tombak itu mengerutkan keningnya. Tombak yang terlihat biasa saja dan malah seperti anak panah namun sangat kokoh. Pasalnya tombak itu memiliki panjang 2 meter dengan diameter 3 cmn.
Dengan mata tombak berbentuk segitiga memanjang seperti selayaknya sebuah pedang bermata dua yang terlihat sangat tajam. Panjang mata tombak mencapai 20 cmn dengan lebar 10 cmn.
Terdapat sebuah lobang berbentuk lingkaran di mata tombak tersebut. Dibawah mata tombak tersebut, terdapat siku-siku berbentuk lingkaran yang tersusun dengan sangat rapi. Gagang tombak yang sangatlah kuat. Pada ujung bawah gagang tombak sendiri memiliki pembatas berbentuk sebuah bola.
" Mas... Apa tombak itu akan diberikan pola aksara juga? " tanya Anisa penasaran.
Guntur yang sedang mengayun ayunkan tombak tersebut pun berhenti mengayunkan tombak itu.
" Iya... Aku sudah memiliki satu helai rambut Ridwan... Rambut itu akan aku satukan dengan tombak ini supaya tombak ini hanya Ridwan yang bisa memakainya dan mengakui penggunanya... "
" Anisa... Bisa tolong ambilkan kain putih disampingmu itu? " tanya Guntur.
Anisa pun mengangguk dan mengambil kain putih itu lalu membawa dan memberikannya kepada Guntur.
Setelah Guntur menerima kain putih itu, Guntur lekas membuka kain tersebut dan mengambil satu helai rambut milik Ridwan.
" Nah sekarang kita mulai proses penyatuannya, " ucap Guntur.
Setelah selesai, Rambut itu Guntur letakkan ditengah susunan pola aksara itu. Seketika, pola aksara yang berwarna putih kebiruan itu berubah warna menjadi hitam pekat.
Guntur segera menggabungkan pola aksara itu dengan tombak Ridwan. Pola aksara itu lekas menyatu dengan tombak itu. Setelah pola aksara itu masuk kedalam tombak, tombak itu seketika melayang dan bersinar terang.
Beberapa detik kemudian, tombak yang terlihat polos itu berubah menjadi tombak yang sangat mengagumkan.
Bentuk dari tombak itu tidaklah berubah, namun warna dari tombak yang semula berwarna silver selayaknya sebuah logam menjadi hitam pekat dan terdapat ukiran pola aksara yang memenuhi tombak itu berwarna merah terang.
Aura yang dikeluarkan tombak itu langsung terasa dan menyebar menekan area sekitar. Tekanan dari aura tombak itu bahkan sampai terasa ditempat upacara penyambutan murid baru.
" Nah sekarang kau sudah sempurna... Jadi, pergilah ke tuanmu lalu berubahlah menjadi sesuatu yang dapat menyembunyikanmu dari semua orang, jadilah pelindungnya dari semua hal yang membahayakannya, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Lalu tombak itu langsung melesat cepat ke arah tuannya yaitu Ridwan.
" Nisa, ke kantin yuk... Laper, " ucap Guntur sambil meraih tangan kanan Anisa lalu mereka berjalan bersama menuju kantin dengan santai. Guntur tidak tahu jika hal itu akan menghebohkan orang-orang di aula lapangan sedangkan Anisa sendiri menggelengkan kepalanya.
" Hahh... Sepertinya akan ada kehebohan lagi, " gumamnya dalam hati.
Sementara itu, semua orang yang berada disana merasakan betapa ngerinya tekanan dari aura tombak itu.
__ADS_1
" Aura ini...? " gumam Ragil yang teringat dengan aura itu lalu melihat ke arah Ridwan yang juga ikut berkumpul disana.
Sedangkan Ridwan sendiri sangat kebingungan merasakan auranya sendiri.
" Ini kan auraku, kenapa aku merasakan auraku sendiri di tempat lain? " gumam Ridwan dalam hati.
Semua orang merasa bergidik ngeri merasakan aura itu. Bahkan semua orang langsung menatap Ridwan dengan tatapan menyelidik, terlebih Umar.
Umar yang berdiri disamping Ridwan langsung menoleh ke arahnya.
" Hei bro Ri... Tutup auramu, apa kau ingin anak-anak baru itu pingsan? " tanya Umar menasehati dan sekarang Umar memanggil Ridwan dengan sebutan Bro Ri.
" Heh.... Aku tidak mengeluarkan auraku... Aku juga tidak tahu kenapa auraku meledak tapi aku merasa itu di tempat lain, " ucap Ridwan.
Beberapa detik berikutnya seorang gadis salah satu murid baru itu mimisan lalu terduduk lemas sambil memegangi hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
" Aahhh... "
Ragil yang melihat itu langsung melompat dan menyelamatkan murid baru tersebut dengan auranya.
" Ridwan.... Tarik auramu! " teriak Ragil yang menatap Ridwan dengan tajam.
Ridwan yang mendapatkan tatapan tajam dari Ragil langsung membela diri.
" Guru... Aku tidak meledakkan auraku... Aku juga tidak tahu kenapa auraku meledak dan---" ucap Ridwan yang terpotong karena aura itu semakin kuat sampai-sampai semua orang yang berada di tempat itu mengeluarkan aura mereka untuk melindungi diri.
Mereka juga dikejutkan adanya suara yang cukup nyaring berada di ketinggian beberapa meter diatas mereka.
" Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing "
Saat mereka semua menaikan pandangan mereka ke atas , mereka kembali dikejutkan dengan adanya sebuah tombak yang mengeluarkan auranya yang sangat kuat dan juga terbakar api hitam yang berkobar-kobar.
Sontak semua orang menyingkir dari Ridwan bahkan Umar juga ikut menyingkir.
Setelah itu, tombak yang terbang di atas mereka itu turun dari ketinggian dengan berlahan.
" Wung wung wung wung.... "
Setelah tombak itu sampai dan berada di depan tuannya, dengan cepat tombak itu mengecil dan berputar-putar membentuk suatu lingkaran dan melesat ke arah leher Ridwan.
Ridwan yang melihat itu masih terdiam dalam kebingungan. Sementara tombak yang melesat ke arah leher tuannya itu dengan cepat menjadi sebuah kalung saat menyentuh tuannya.
Bersamaan dengan menjadinya tombak itu sebuah kalung yang melingkar di leher Ridwan, aura yang ditimbulkan oleh tombak itu menghilang begitu saja.
__ADS_1
Tentu kejadian itu menghebohkan semua orang yang ada di sana. Tidak lama setelah itu, semua murid membubarkan diri karena acara telah selesai dan Ragil membawa Ridwan untuk diberi keterangan.