Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
TURNAMEN : SANG API PANDAWA


__ADS_3

Pertarungan Umar dan Ridwan menjadi sejarah baru bagi padepokan pancanaka, pasalnya kekuatan mereka sudah melebihi kapasitas jawara seperantara mereka. Terlebih Ridwan yang sanggup mengimbangi Umar.


" Final battle " ucap Guntur sambil tersenyum melihat keduanya.


Ditribun penonton sesepuh Tamrin mengatakan hal yang sama.


" Final battle " ucapnya sambil tersenyum.


Begitu pula di ruang istirahat peserta, Julian mengatakan kata yang sama.


" Final battle "


Sontak Yuni, Cristian dan Singgih terkejut lalu menatap Umar dan Ridwan dengan serius.


Nampak Umar meledakkan kekuatan terakhirnya untuk melawan Ridwan.


Tiba-tiba muncul pusaran angin yang begitu besar dan kuat menjulang keatas. Angin yang sanggup menerbangkan beberapa kerikil kecil.


Setelah pusaran angin itu sampai di ukuran maksimalnya. Umar langsung menyerap pusaran angin tersebut.


" Ssyyyuuuuutttt.... Wuuusssshhhhh.... Ngiiiiiiing "


Umar yang menyerap pusaran angin itu sampai habis. Dibawah kakinya muncul pusaran angin tipis namun sangat tajam dan kuat.


Seluruh tubuh Umar diselimuti angin yang sangat tajam dan kuat.


Disisi lain Ridwan memejamkan matanya " Maafkan aku mas Gun... Aku harus menggunakan Api Hitam dengan maksimal untuk melawan Umar... Aku akan berusaha mengendalikannya dengan sisa dari kekuatanku..., " gumam Ridwan dalam hati.


Ridwan langsung meledakkan kekuatannya dengan kuat. Terlihat pusaran api berwarna merah itu semakin membesar.


Setelah pusaran api itu sampai di ukuran maksimalnya, Ridwan lekas menyerap pusaran api merah itu sampai habis.


" Ssyyuuuutttt.... Wuuussshhh... Ngiiiiinnggg "


Nampak juga pusaran api merah dibawah kaki Ridwan namun beberapa detik kemudian warna merah itu telah berganti warna menjadi hitam yang kuat dan sangat panas.


Seluruh tubuh Ridwan diselimuti api hitam yang berkobar.


Lalu Ridwan dengan cepat melempar tombaknya keatas. Lemparan Ridwan cukup tinggi sampai-sampai melebihi bangunan penonton di tribun arena. Tombak itu melesat ke atas begitu cepat.


Lalu, dengan segera Ridwan membungkukkan badan dan kakinya. Setelah itu Ridwan melompat dan melesat cepat dan kuat ke atas untuk menyusul tombaknya.


Umar yang melihat itu juga langsung bersiap dengan pedang anginnya yang ia genggam dengan kuat. Setelah itu, melompat ke atas menyusul Ridwan.


Disaat Ridwan berhasil menangkap tombak miliknya, Ridwan dengan segera menggunakan jurus ciptaannya sendiri.


Sontak tombak yang berada di genggamannya itu membesar dan terus membesar sampai seukuran panjang 100 meter dengan lebar 50 cmn. Tidak hanya itu, tombak milik Ridwan juga diselimuti api hitam yang berkobar-kobar.


Bersamaan dengan itu, Umar yang melompat menyusul Ridwan pun mengeluarkan jurus terakhirnya. Jurus warisan dari keluarga Maruto itu Umar kerahkan.


Pedang angin milik Umar seketika membesar dan memanjang dengan panjang 50 meter dan besar mencapai 30 cmn. Pedang itu juga diselimuti oleh angin yang nampak jelas bewarna biru muda.


Ridwan pun langsung melesat turun dari ketinggiannya sambil mengarahkan tombaknya ke arah Umar


Begitu juga dengan Umar yang melesat keatas dengan cepat sambil mengarahkan pedang angin miliknya.


Seketika saat jarak mereka hanya tinggal 2 meter, mereka berteriak mengucapkan jurus masing-masing.


" TOMBAK PANDAWA "


" MARUTO DEWATA "


Seketika kedua senjata itu langsung mengeluarkan aura yang begitu kuat sampai- sampai tekanannya sampai ke bawah dan menekan semua orang yang melihatnya.


Ketika kedua ujung senjata mereka bertemu. Muncul percikan kilat yang cukup kuat menyambar ke sembarang arah. Sedetik kemudian, terciptalah bola energi dari bentrokan dua kekuatan yang berbeda.


Bola energi itu berwarna hitam kebiruan dan semakin membesar sampai melahap Umar dan Ridwan. Akan tetapi bola energi itu masih terus membesar.


Beberapa saat kemudian bola energi itu berhenti membesar namun muncul kilatan-kilatan berwarna hitam kebiruan menyambar kesegala arah.


Jika Guntur tidak memberikan pelindung tingkat maya di arena dan juga Ragil, pasti sudah banyak sekali korban dari kejadian ini dan Ragil sendiri akan mengalami luka walaupun hanya luka ringan.


Semua orang terdiam. Mereka seolah-olah menyaksikan pertarungan antar jawara tingkat sempurna. Kekuatan mereka sangat abnormal dan diluar batas kemampuan jawara biasanya di pintu masing-masing.


" A-apa yang terjadi? "


" I-ini sungguh mengerikan "

__ADS_1


" Kekuatan mereka sangat abnormal "


" Kuat sekali... Apakah mereka masih manusia? "


Berbagai macam pertanyaan dan komentar dari penonton. Guntur nampak sangat serius melihat bola energi itu. Dengan mata aksaranya, Guntur dapat melihat bagaimana situasi di dalam bola energi itu.


" Ehh... I-ini...., " ucap Guntur terkejut.


Di tribun khusus semua orang sangat terkejut kecuali Aji, Lastri, Werang dan Tamrin. Bahkan Anisa sendiri juga terkejut melihat bola energi itu.


" Kekuatan yang luar biasa, " ucap Lastri.


" Mereka benar-benar diluar ekspetasiku..., " ucap Aji.


" Huhuhu... Anak bodoh itu selalu membuatku hidup kembali, " ucap sesepuh Werang sambil terharu.


" Hentikan Werang.... Hahhhh.... Kakek dan cucu sama-sama membuatku ingin muntah.... Hmm... Tapi memang benar, mereka berdua benar-benar sudah membuat kita terkejut dengan bakat mereka yang abnormal... Apalagi yang bernama Ridwan itu, " ucap sesepuh Tamrin.


Keluarga Ridwan melihat Ridwan mengeluarkan api hitam itu terkejut bukan main. Api hitam bukanlah sembarang api. Mereka langsung saja lemas karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dari Ridwan.


Leluhur pertama mereka adalah orang yang sangat dihormati dan di kagumi oleh banyak orang karena ketegasan dan kekuatannya yang sangat hebat. Leluhur mereka juga mendapatkan jabatan seorang Senopati di kerajaannya. Banyak sekali kemenangan yang leluhur itu menangkan di kanca peperangan.


Leluhur itu juga untuk pertama kalinya di dunia yang memiliki kekuatan unik bahkan langka yaitu api hitam. Namun setelah dia menikah dan mempunyai keturunan, tidak ada yang mampu atau tidak ada keturunannya untuk menggunakan api hitam sampai sekarang. Kebanyakan dari mereka hanyalah elemen kegelapan dan juga elemen angin.


Karena itulah mereka sangat terkejut saat mengetahui jika Ridwan, anak yang mereka sia-siakan bahkan mereka tidak anggap dan menganggapnya sampah tidak berguna namun memiliki kekuatan unik bahkan langka yaitu api hitam yang mana itu adalah kekuatan unik atau langka dari leluhur mereka.


Di ruang istirahat peserta nampak Yuni, Cristian dan Singgih yang bergetar hebat. Mereka tidak menyangka jika kekuatan keduanya begitu mengerikan.


" Jika Umar, aku tidak terkejut karena aku sendiri pernah melihat Umar menggunakan kekuatan penuhnya tapi kalau itu Ridwan? Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, " ucap Singgih dengan lesu.


" Mereka berdua benar-benar berada di level yang berbeda dengan kita, " ucap Cristian.


Sedangkan Yuni langsung bertanya kepada Julian " Julian... Inikah yang kau maksud? Bola energi itu sangat mengerikan... " tanya Yuni.


" Inilah kekuatan mereka yang sebenarnya... Umar sejatinya memiliki kekuatan unik yaitu Angin Alam sedangkan Ridwan memilikinya juga tapi buka seperti Umar melainkan Api Hitam... Sebenarnya kekuatan mereka bukanlah counter dan mereka bisa menyatukan kekuatan untuk menyerang musuh yang susah untuk dikalahkan, keduanya sama-sama kuat dan seimbang akan tetapi jika kekuatan mereka digunakan untuk bertarung satu sama lain maka hasilnya akan seperti ini..., " jelas Julian yang sedang menggunakan kekuatan uniknya yaitu Langkah Netra.


Dari penjelasan Julian mereka semua mengerti. Mereka merenungkan kembali apa saja yang selama ini mereka buat sambil terus melihat bola energi itu yang terus menerus mengeluarkan kilatan-kilatan yang menyambar ke segala arah.


Didalam Bola Energi...


Umar terus melindungi mukanya dengan kedua tangannya itu melihat Ridwan yang nampak sangat berbeda. Umar melihat jika tubuh Ridwan terbakar oleh api hitam yang terus berkobar.


Ingin sekali Umar menyelamatkan Ridwan tapi dia tidak bisa. Disamping dirinya kelelahan ia juga harus melindungi dirinya sendiri dari pisau angin dan hawa panas yang menyakitkan.


" Ridwan.... Bertahanlah...., " teriak Umar sedikit serak.


" Ternyata Ridwan belum mampu mengendalikan kekuatan uniknya.... Jika dia tidak kuat maka akan sangat fatal untuk dirinya bahkan kematian yang menantinya, " gumam Umar dalam hati sambil terus meringis kesakitan.


Bagaimanapun, ini hanyakah pertandingan. Dia tidak memiliki masalah apapun dengan Ridwan dan hanyalah sebuah pembuktian siapa diantara mereka yang kebih kuat. Namun, siapa sangka jika Ridwan akan menjadi seperti ini.


Ridwan nampak terdiam namun memiliki ekspresi wajah yang sangat kesakitan.


Didalam alam bawah sadarnya, Ridwan bertemu dengan seseorang yang nampak sudah tua, namun memiliki kharisma dan wibawa yang sangat mencolok.


Orang tua itu tersenyum melihat Ridwan yang kebingungan dengan semua yang dia alami.


" Tidak usah heran cucuku..., " ucap orang tua itu.


" Kakek siapa? Dan dimana ini? " tanya Ridwan.


" Namaku adalah Ganang... Tempat ini adalah alam bawah sadarmu dan aku adalah leluhurmu... Aku sengaja berada disini karena api hitam, " ucap Ganang sambil mengeluarkan api hitam di tangan kanannya.


Sontak hal itu membuat Ridwan sangat terkejut terlebih mengetahui jika orang tua didepannya itu adalah leluhurnya.


" Dengar Ridwan, aku hanya sebentar saja disini karena aku hanya ingin memberikan ini untukmu, " ucap Ganang yang melayangkan sebuah api hitam itu kepada Ridwan.


Ridwan yang masih kebingungan itu hanya bisa terdiam saat bola api hitam itu masuk kedalam tubuhnya melalui dadanya.


Beberapa saat kemudian, Ridwan merasakan panas yang luar biasa didalam tubuhnya.


" Uuuaaaaaaaggghhhh.... Panaassss.... Panaasss..... Aaaaarrrgghhhh...., " teriak Ridwan dengan kencang.


Kakek Ganang tersenyum tenang melihat Ridwan seperti itu.


" Tahanlah sebentar lagi... Dengan apa yang aku berikan itu kau bisa mengendalikan api hitam dengan sempurna, " ucap kakek Ganang.


Benar saja, beberapa saat kemudian Ridwan kembali tenang dan tidak merasakan sakit lagi namun tubuhnya sangatlah lemas.

__ADS_1


" Syukurlah kau berhasil menahan dan bersatu dengan itu nak..., " ucap kakek Ganang.


" Kek... Tadi itu apa? " tanya Ridwan penasaran.


" Itu adalah inti dari api hitam milikku nak... Kau memiliki kekuatan api hitam namun tidak memiliki intinya, karena itu kau tidak bisa mengendalikannya dengan sempurna... Maka dari itu dengan inti api hitam milikku, kau akan bisa mengendalikannya dengan sempurna, "


" Teruslah untuk menjadi kuat untuk orang-orang yang kau cintai dan kau sayangi... Tulislah legendamu sendiri..., "


" Satu hal lagi nak... Teruslah untuk tetap berada di belakang orang itu, " ucap kakek Ganang panjang lebar.


Ridwan yang belum sepenuhnya faham itu bertanya kepada kakek Ganang.


" Orang itu? Apa maksud kakek? Dan siapa dia? " tanyanya penasaran.


" Kau kelak akan tahu sendiri siapa dia, apa maksud kakek... Ridwan... Jaga baik-baik dirimu... Jangan kau memiliki dendam kepada orang tuamu.... Kakek pamit...., " ucap kakek Ganang sambil tersenyum dan menghilang.


Ridwan yang melihat itu hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya juga lemas dan kekuatannya sudah habis karena pertarungannya dengan Umar.


Dengan berlahan, Ridwan kembali sadar dan melihat kejadian yang sangat mengerikan didepan matanya yaitu Umar yang sedang kesakitan dan juga berteriak sangat kencang memanggil namanya.


" Ridwaaaaannnn.... Bertahanlah......, "


Sontak Ridwan langsung bereaksi dan ingin menggapai Umar namun kekuatan dan tubuhnya sudah tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


" Umar... Aku mengaku kalah..., " ucap Ridwan sebelum tidak sadarkan diri.


Umar yang mendengar itu pun langsung berteriak sangat kencang sambil meledakkan kekuatan uniknya hingga bola energi yang mengurung mereka itu meledak hebat.


" RIIIIDDDDWWWAAAAANNNNN......, "


Seketika meledak sudah bola energi itu dengan hebatnya.


Diluar bola energi itu, semua penonton terkejut karena bola energi itu berputar dengan kencang lalu meledak dengan hebat.


" Wussshhh.... Wuuuttttt..... BOOOOOOMM... "


Suara ledakkan yang memekakkan telinga dan juga cahaya dari ledakkan bola itu menyebar ke segala penjuru arena bahkan padepokan.


Semua orang menutup telinga mereka dan memejamkan mata mereka karena silau dengan cahaya itu.


Beberapa saat kemudian semua orang membuka mata mereka dan kembali terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.


Terlihat sebuah kawah seluas lingkup arena yang cukup dalam. Umar dan Ridwan nampak terlihat sangat menyedihkan.


Hanya ada satu yang tersisa dari arena yaitu tempat wasit yang berupa tiang dan juga wasit itu sendiri yang terlihat baik-baik saja dan tidak memiliki luka sedikitpun.


Ditengah kawah itu terlihat Umar yang merangkak dengan nafas yang terengah engah. Tenaga, kekuatan dan energinya sudah terkuras habis.


Sedangkan Ridwan terbaring lemah dan tidak sadarkan diri dengan penuh luka bakar dan sayatan disekujur tubuhnya.


Umar yang terdiam sambil merangkak itu langsung mengucapkan...


" A-aku... Menyerah..., "


Setelah mengatakan itu seketika Umar terjatuh tengkurap dan tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka sama seperti Ridwan.


Wasit langsung melompat ke arah mereka dan langsung melambaikan tangan kanannya sambil memegang kain putih.


" Mereka sudah tidak mungkin melanjutkan pertarungan dan mereka dinyatakan GUGUR! " teriak wasit dengan keras.


Sontak hal itu itu membuat semua orang terkejut. Lalu Guntur berdiri dari duduknya sambil bertepuk tangan.


" Prokk... Prookkk... Prookkkk "


Apa yang dilakukan oleh Guntur membuat semua orang menirukan Guntur yang bertepuk tangan. Bahkan mereka dengan riuh meneriaki nama mereka.


" UMAR... RIDWAN.... UMAR... RIDWAN...., "


Betapa ramai dan riuhnya para penonton. Walaupun mereka dinyatakan gugur karena tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan walaupun Umar menyatakan menyerah tapi kondisi mereka sudah sangat memperihatinkan.


Namun, pertarungan mereka begitu membius semua orang dan akan dikenang didalam hati dan ingatan mereka.


Kini semua orang sudah menganggap Ridwan sebagai murid terkuat yang menjadi rival dari Umar si Pedang Angin.


Bahkan mereka juga meneriaki sesuatu yang membuat Guntur tersenyum puas. Teriakan mereka begitu menggema karena Ridwan mendapatkan julukan dari semua orang. Entah siapa yang pertama meneriaki julukan itu tapi yang jelas semua orang ikut meneriakinya dan julukan itu adalah Ridwan.....


" SANG API PANDAWA "

__ADS_1


__ADS_2