
Satu bulan telah berlalu dengan begitu cepat tanpa ada sesuatu yang berarti pada padepokan pancanaka.
Terlebih setelah Panca Soka berlatih tanding dengan Ridwan cs, mereka Panca Soka menjadi lebih akrab satu sama lainnya.
Bahkan Panca Soka sendiri kerap berkumpul dengan Ridwan cs di base camp mereka yaitu gubuk milik Guntur.
Berkumpulnya mereka hanya untuk sekedar mengobrol bahkan berlatih bersama.
Semua anggota Panca Soka terkejut saat pertama kali melihat latihan Ridwan cs. Pasalnya, latihan Ridwan cs jauh lebih ekstrim dari pada Panca Soka itu sendiri.
" Pantas saja mereka menjadi monster di padepokan ini, " ucap Amir saat pertama kali melihat Guntur dan Anisa yang menggojlok semua anak didiknya.
Akan tetapi mereka belum tahu jika monster yang sebenarnya di padepokan pancanaka bukanlah Ridwan cs, melainkan guru mereka yaitu Guntur dan Anisa.
Bahkan Ragil sendiri mengakui jika kedua orang itulah yang sebenarnya monster.
Jika diukur dengan kekuatan, kekuatan keseluruhan yang dimiliki Ragil hanya 50 persennya saja dari pada kekuatan Anisa sedang kan Anisa sendiri hanya 30 persennya saja dari kekuatan Guntur.
Tapi hampir semua orang tidak mengetahui akan hal itu karena Guntur dan Anisa tidak pernah menunjukkan kekuatan mereka yang sebenarnya di depan umum dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui akan hal itu.
***
Saat ini Guntur sedang berada di luar padepokan karena dirinya sedang dalam perjalanan menuju kediaman kakek buyutnya yaitu Jin Juan karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan dan pelajari dari kakek buyutnya itu.
Dengan menaiki bus umum, Guntur merasa sangat senang dan juga lebih bebas karena hanya dirinya saja yang pergi keluar padepokan tanpa sang istri atau jemputan dari sang kakek buyut.
Dalam perjalanannya Guntur sering kali mendapatkan tatapan risih dari orang-orang yang melihatnya.
Hal itu dikarenakan dirinya saat ini hanya menggunakan pakaian seadanya saja.
Baju kaos hitam, celana sirwal hitam dan sorjan hitam serta membawa tas selempang hitam.
Rambut yang sudah mulai gondrong kembali dan juga brewok yang mulai tumbuh lebat menutupi wajah tampannya.
Guntur sangat menyukai warna-warna gelap terutama hitam karena menurutnya warna itu adalah warna netral dan enak dipandang dari pada warna lain apalagi warna cerah.
Setelah dirinya sampai di depan gapura komplek perumahan elit yang memang dikhususkan untuk keluarga Jin.
Guntur berjalan dengan santai dan tenang. Namun saat Guntur sampai gapura yang mana ada dua orang satpam yang mencegahnya sambil memberikan selembar uang kertas dengan angka 5000 rupiah.
Sontak saja Guntur mengerutkan keningnya karena heran dengan apa yang dilakukan oleh kedua satpam itu.
" Ini? " gumam Guntur pelan.
" Hoe bocah, terima dan segeralah pergi dari sini... Disini bukan tempat untuk gembel gelandangan sepertimu! " ucap salah satu satpam itu dan dianggukkan oleh temannya.
Kedua satpam itu bernama Hadi dan Arto yang memang mereka berdua orang baru untuk menggantikan orang lama karena pensiun.
Mereka juga belum pernah melihat Guntur sama sekali, apalagi dengan tampilan Guntur yang seperti ini.
" Lah pak, saya itu mau bertemu dengan seseorang di rumah itu, " ucap Guntur sambil menunjuk sebuah rumah inti dari semua rumah yang ada di perumahan itu.
" Jangan mengada-ada! Sudah sana pergi sebelum kami memberikan pelajaran untukmu! " ucap hadi dengan kesal.
__ADS_1
" Hah? Apa maksud bapak? Memangnya salahku apa? " tanya Guntur dengan heran.
" Gelandangan sepertimu tidak pantas untuk menginjakkan kaki disini, cepat pergi! " bentak Arto dengan geram.
" Astaghfirullah... Hmm... Pasti bapak-bapak ini orang baru dan tidak mengenalku, " ucap Guntur sambil menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik.
" Hah? Terus kenapa kalau kami orang baru? " tanya Hadi dengan sombongnya.
" Hahhhhhhhh "
Guntur hanya menghela nafas dalam. Dia tidak menyangka jika akan terjadi hal semacam ini dan juga heran kenapa kakek buyutnya memperkerjakan mereka berdua yang jelas memiliki etika dan adab yang sangat buruk.
Tidak mau memperpanjang masalah ini, Guntur segera untuk beranjak dari sana namun saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam datang dan berhenti di samping mereka.
Saat pintu mobil itu terbuka, nampaklah seorang gadis cantik dengan pakaian yang sangat modis dan elegan.
Dengan sigap kedua satpam itu langsung berdiri dengan tegak dan hormat kepada gadis itu.
" Selamat datang nona Shi, " ucap Hadi dan Arto dengan serempak.
" Ada apa? " tanya gadis itu yang ternyata adalah Jin Shi, saudara kembar dari Jin Shu.
Sedangkan Guntur sendiri langsung mengerutkan keningnya karena dia sempat mengira bahwa gadis itu adalah Jin Shu.
" Huh... Aku kira kakak Shu ternyata nenek Shi... Ehh, tapi dia mengenaliku tidak ya? Dia kan belum pernah melihatku sama sekali, " gumamnya dalam hati.
" Begini nona Shi, ini ada orang yang ingin masuk dan berkata jika dia ada perlu dengan kepala keluarga Jin, " ucap Hadi sambil melirik tajam Guntur.
" Benar nona Shi, kami sudah mengusirnya tapi dia tetap kekeh untuk masuk... Secara lihatlah apa yang dia kenakan, " ucap Arto menjadi kompor yang siap untuk meledak.
" Siapa dia? Kenapa dia ingin masuk? Tidak mungkin jika ayah dan semua kakakku ada urusan dengan orang ini, dan gelang apa itu? Kenapa sangat unik? " tanyanya dalam hati.
Guntur yang tahu dan mendengar apa yang Jin Shi katakan dalam hati itu tersenyum kecut.
Tebakan Guntur tepat jika Jin Shi tidak mengenalinya sama sekali.
Lalu, dengan berat hati dan tidak mau untuk membuat masalah, Guntur dengan berlahan melangkahkan kakinya untuk pergi dari lokasi itu.
Namun disaat Guntur baru melangkahkan kakinya, tiba-tiba Jin Shi berkata.
" Berhenti! Kau mau kemana? " tanya Jin Shi yang masih menatap Guntur dengan tajam.
Guntur pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah neneknya itu.
" Pulang, " ucap Guntur singkat, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Guntur bisa saja untuk langsung masuk menggunakan kekuatannya tapi Guntur malas dengan itu.
Guntur sendiri tidak merasa berkecil hati karena wajar bila mereka tidak mengenalinya. Secara mereka belum pernah melihat Guntur secara langsung.
Akhirnya, Guntur pun pindah haluan untuk berhenti di sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah merasa lapar.
Sementara itu, Jin Shi pun kembali masuk mobil mewahnya dan menjalankan kembali mobilnya.
__ADS_1
Setelah sampai di kediamannya, Jin Shi melihat jika ayahnya itu sedang bersantai di teras depan kediamannya.
" Kau sudah pulang Shi'er? " tanya kakek Jin sambil tersenyum.
Jin Shi pun langsung mencium tangan kanan ayahnya itu lalu duduk disampingnya.
" Iya ayah, " ucapnya singkat.
Kakek Jin yang melihat putri bungsunya itu menampilkan wajah kusut itu segera untuk bertanya.
" Ada apa? " tanyanya.
" Hahhh... Tadi di gerbang komplek ada seorang gelandangan yang ingin masuk, " ucap Jin Shi dengan kesal.
" Hah? Gelandangan? Kenapa bisa? " tanya kakek Jin penasaran.
" Iya ayah... Mana kusut begitu, aku risih lihat orang itu, " ucapnya dengan kesal.
" Memangnya orangnya seperti apa? Kenapa kau sampai segitunya? " tanya kakek Jin penasaran.
" Hahhhhh... Dia itu terlihat seperti orang gembel gelandangan ayah, rambut gondrong, wajahnya dipenuhi dengan brewok panjang dan pakaian serba hitam yang terlihat kusut dan kumal tapi aku tadi juga melihat kalau dia memakai gelang yang dangat unik, " jelas Jin Shi.
Mendengar kata gelang, kakek Jin langsung mengerutkan keningnya.
" Gelang? Gelang seperti apa? " tanya kakek Jin tiba-tiba.
Jin Shi yang mendengar dan melihat wajah ayahnya yang langsung berubah itu heran.
" Ayah kenapa sih? " tanya Jin Shi dengan heran.
" Katakan saja Shi'er, gelang seperti apa? " tanya kakek Jin tegas.
" Huh? Iya-iya... Gelang itu berwarna hitam dan ada ukiran-ukirannya berwarna emas... Kalau aku tidak salah lihat ukiran itu seperti aksara jawa... Memang kenapa ayah? " tanya Jin Shi yang juga penasaran.
" Astaga.... Ahhhhhh.... Lalu sekarang dimana dia? Katakan cepat! " ucap kakek Jin sambil bangkit dari duduknya.
" Ayah kenapa sih? Mana aku tahu dia kemana? Dia langsung pergi begitu saja, hanya saja dia tadi berkata jika ingin pulang saat aku bertanya mau kemana, " jelas Jin Shi dengan heran.
" Ya Tuhan..., " ucap kakek Jin yang langsung mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas meja sampingnya untuk duduk.
Setelah itu, kakek Jin segera untuk menelpon orang yang dimaksudkan oleh Jin Shi.
" Halo... "
" Kau dimana? "
" Bicara yang jelas jangan sambil makan... "
" Astaga... Kenapa kau tidak menghubungiku dulu... "
" Yasudah aku segera kesana... "
Setelah itu, kakek Jin segera melangkahkan kakinya ke garasi mobilnya.
__ADS_1
Sementara Jin Shi hanya mengerutkan keningnya karena sikap ayahnya yang tiba-tiba berubah serius.