
Pagi hari, dimana langit tampak mendung yang menandakan hujan akan segera turun membasahi Bumi Nusantara. Seseorang dengan tergesa-gesa berlari menuju sebuah Gubuk milik Guntur.
Guntur yang saat itu sedang sarapan bersama sang istri dan juga kelompoknya diteras depan gubuknya, melihat seseorang yang berlari kearahnya.
Namun sebelum orang itu terlihat, Guntur melihat jika pelindung di padepokan telah non aktif. Guntur sendiri merasa aneh melihat itu tapi dia mencoba untuk berfikir positif dan tidak memikirkan hal itu.
" Assalamualaikum... Mas Gun... Mas Guntur! " teriak orang itu yang bernama Salim.
" Waalaikum salam... Ada apa bang Salim? Kenapa kau terburu-buru seperti itu? " tanya Guntur sedikit terkejut.
" Gawat mas... Didepan gerbang padepokan... Terjadi pertarungan..., " ucap Salim panik.
Seketika itu juga Guntur dan yang lainnya terkejut.
" Pertarungan? Apa maksudmu Salim? " tanya Umar.
" Be-benar bang Umar... Ada sekitar 20 orang yang ingin membuat kekacauan di padepokan kita dan banyak dari murid yang terluka," ucap Salim.
" Ternyata benar, tapi bukannya hanya kakek saja yang bisa melakukan itu karena kakek mempunyai batu aray pelindung dari nenek Pahing? " gumam Guntur dalam hati.
" Lah, bukannya ada murid-murid senior dan juga para guru? Kenapa malah mencariku? " tanya Guntur Keheranan.
" I-itu karena hampir separuh dari mereka melakukan misi dan orang-orang itu sangat kuat, " ucap Salim yang masih ketakutan.
" Astaghfirullah... Baiklah, kami semua akan kesana..., "
" Kalian semua saatnya kalian menunjukkan hasil dari latihan kalian, " ucap Guntur.
" Siap mas Gun, " ucap mereka serempak.
Setelah itu, mereka semua termasuk Guntur dan Anisa segera untuk ke gerbang padepokan.
Benar saja, saat Guntur dan yang lainnya sampai disana, nampak banyak diantara murid dan beberapa guru yang terluka bahkan ada oula yang pingsan.
" Astaghfirullah.... Apa yang terjadi? Dimana guru Ragil? " tanya Guntur kepada guru Taufik yang sedang menahan pendarahan oada tangan kanannya yang tersayat sebuah pedang.
" Syukurlah kau datang, aku tidak tahu mereka itu siapa dan mereka mencoba untuk membuat kekacauan di padepokan, " ucap guru Taufik.
" Lalu, dimana Guru Ragil? " tanya Guntur.
" Aku juga tidak tahu..., " ucap guru Taufik.
" Hahhh... Baiklah... "
" BERHENTIIIIIII!!! "
Teriakan Guntur menggema diarea sekitar. Setelah itu pertarungan mereka berhenti.
" Kalian siapa? Kenapa kalian membuat kekacauan di padepokan ini? " tanya Guntur yang menatap mereka dengan tajam.
Tidak ada yang menjawab dari gerombolan orang yang menyerang padepokan, namun tiba-tiba salah satu diantara mereka melesat cepat ke arah Guntur sambil mengayunkan sebuah golok yang cukup besar.
Guntur yang melihat itu tetap tenang. Lalu, tiba-tiba Ridwan yang berada di samping kanan Guntur menghalau golok yang hampir mengenai Guntur.
" Trang... "
Orang tersebut langsung mundur beberapa langkah kebelakang dan menatap Ridwan dengan tajam. Tidak mau kalah, Ridwan pun juga menatapnya dengan tajam.
" Mas Gun... Dia bagianku, " ucap Ridwan yang langsung melesat cepat sambil mengambil sebuah pedang yang tertancap disampingnya. Walaupun Ridwan pengguna tombak tapi dirinya juga bisa untuk memakai pedang walau tidak selihai menggunakan tombak.
Umar dan yang lainnya juga tidak mau kalah dengan Ridwan, lalu dengan segera mereka semua menyerang balik gerombolan orang itu.
Pecah sudah antara segerombolan orang berjumlah 20 orang melawan 6 orang anak didik Guntur dan Anisa. Sedangkan semua murid dan guru yang sebelumnya bertarung dengan mereka langsung mundur karena mereka tahu jika 6 orang itu adalah murid-murid peringkat atas terlebih keberadaan Alisa Sang Betari Ayu.
" Hahhhh.... Haruskah terjadi pertumpahan darah? " ucap Guntur dengan lesu.
Namun disaat dimulainya pertarungan mereka, tiba-tiba 20 anak panah melesat cepat ke arah gerombolan orang yang menyerang padepokan, lalu anak-anak panah itu langsung mengenai tepat di kepala mereka. Anehnya, ke 20 orang itu menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.
__ADS_1
Tentu Guntur sangat terkejut melihat hal itu, begitu juga dengan semua orang yang berada disana.
" Apa yang terjadi? "
" Astaga... Hilang.... "
" Bayangan? "
Guntur pun langsung menyapu pandangannya ke seluruh area sekitar. Tidak lama setelah itu, Guntur melihat seseorang sedang berdiri di atas pohon mangga yang cukup tinggi di pojok kiri padepokan sambil membawa sebuah busur dan jarak orang itu sekisaran 200 meter dari tempat mereka berada.
" Ehh, gadis itu kan? " ucap Guntur sambil menatap orang itu.
Sontak saja Anisa dan juga yang lainnya langsung menatap apa yang Guntur tatap.
Begitu mereka menatap orang itu nampak jelas jika orang itu adalah seorang gadis dan yang membuat mereka terkejut adalah gadis itu memakai pakaian syar'i berwarna hitam lengkap dengan cadar bandana yang juga berwarna hitam sambil membawa sebuah busur.
***
Gea yang sedang bersantai sambil menatap padepokan pancanaka di sebuah batang pohon itu terkejut yang tiba-tiba pelindung padepokan non aktif.
Langsung saja, Gea menggunakan mata aksaranya yang berwarna hitam di sebelah kiri matanya itu untuk melihat ke dalam padepokan secara rinci.
Sebagai seorang boneka yang tercipta dari bagian tubuh tuannya, Gea juga memiliki kekuatan tuannya walauoun yang berada pada diri Gea hanya 10% dari kekuatan tuannya, Namun itu sudah cukup bagi Gea untuk dapat meratakan sebuah desa dengan kekuatan itu apalagi dirinya juga memiliki kekuatan seorang jawara.
Gea menyapu pandangannya di setiap sudut dan celah padepokan, namun alangkah terkejutnya Gea melihat seorang pria paruh baya yang mana seorang aksara di atas bangunan kantor pengambilan misi.
Seorang aksara dengan aura yang negatif tersenyum jahat lalu membuat pola aksara berwarna merah.
Tidak lama setelah itu didepan gerbang padepokan muncul 20 angin topan kecil lalu memunculkan seseorang dari setiap angin topan kecil itu.
Orang-orang itulah yang ingin membuat kekacauan di padepokan pancanaka namun para murid dan juga guru di padepokan segera mengetahui hal itu.
Sebenarnya Gea tidak ingin ikut campur masalah ini tapi dirinya juga tidak terima jika padepokan pancanaka diobrak abrik oleh mereka.
Lalu dengan cepat Gea melompat di atas pohon mangga yang cukup tinggi dan mengeluarkan busurnya lalu mengambil satu anak panah pada tas khusus anak panahnya dan membidik semua musuh yang berada di depan gerbang padepokan.
Menahan bidikannya karena Guntur dan kelompoknya datang dengan segera. Disaat pertarungan itu pecah, Gea langsung menggunakan jurus loka jemparingnya untuk membidik musuh-musuh itu yang berupa bayangan.
Setelah itu, Gea melepaskan satu anak panah yang sudah dia siapkan pada busurnya.
" Sring.... Suuuuuuuuttt "
Setelah jarak anak panah itu berada di 10 meter darinya, anak panah itu langsung mengeluarkan bayangan anak panahnya berjumlah 20 anak panah dan melesat dengan cepat lalu menancap tepat di kepala musuh.
Setelah itu, Gea melihat jika Guntur menatapnya dan beberapa detik berikutnya, semua orang menatapnya.
Gea tidak ambil pusing dengan itu dan langsung mengambil lagi satu anak panahnya lalu ia letakkan pada tali busurnya serta langsung membidik seseorang diatas bangunan kantor misi didalam padepokan.
Guntur yang melihat itu langsung melesat dengan cepat yang diikuti oleh Anisa. Sesampainya dibelakang Gea, Guntur menatap arah bidikan Gea begitu juga dengan Anisa.
Alangkah terkejutnya Guntur dan juga Anisa jika Gea membidik seseorang yang mana dia adalah seorang aksara salah satu orang kepercayaan kakeknya.
Namun mereka berdua langsung menyadari dan melihat bahwa aura yang dikeluarkan oleh orang itu adalah aura negatif.
" I-iblis aksara! " ucap Guntur begitu juga Anisa yang terkejut.
Gea yang membidik seorang aksara itu langsung menarik tali busurnya dengan kuat. Setelah itu beberapa detik kemudian, Gea melepas tali busurnya.
" Sriiing.... Wuuuuss "
Anak panah langsung melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan sangat sulit untuk dilihat dengan mata awam.
Namun, seorang aksara yang diketahui bernama Gondo itu langsung menyadari jika ada anak panah yang melesat sangat cepat ke arahnya. Lalu, tanpa membuang waktu lagi Gondo langsung menghalau anak panah itu dengan pola aksara yang dia buat dengan cepat.
" Wusss.... Traaaang "
Anak panah itu seketika berhenti tepat di tengah pola aksara.
__ADS_1
" Sialan, aku ketahuan! " gumamnya dalam hati.
Setelah itu, Gondo menyapu pandangannya di area depan lalu melihat tiga orang yang berdiri di atas pohon mangga.
Alangkah terkejutnya Gondo bahwa 2 orang yang dia lihat adalah orang yang dia kenal.
" Gu-Guntur, srikandi bercadar... " ucapnya terkejut.
Gea yang melihat bahwa Gondo sanggup menghentikan anak panahnya itu tersenyum dibalik cadarnya, lalu segera mengambil anak panahnya kembali.
Dengan cepat Gea memasangkan anak panahnya ke busurnya lalu menarik dengan kuat tali busurnya itu.
" Loka Jemparing : Panah Ayang-ayang tingkat tiga "
" Sriinngg.... Wuuussss "
Langsung saja anak panah itu melesat dengan sangat cepat, lalu anak panah itu terbagi menjadi ratusan anak panah yang melesat sangat cepat ke arah Gondo.
Gondo yang melihat itu langsung membuat pola aksara untuk menahan semua anak panah itu.
Guntur yang melihat itu diam-diam menggunakan teleportasi pada salah satu anak panah itu.
Benar saja semua anak panah itu tertahan oleh pola aksara pelindung milik Gondo, Gondo tersenyum dengan itu.
" Gadis naif yang berharap bisa mengalahkanku dengan panah busuk itu? Jangan bermimpi, " ucapnya sambil tersenyum mengejek.
" Jleeebbb "
Setelah mengatakan itu, sebuah anak panah yang asli tertancap dengan kuat bahkan sampai menembus kebelakang di dada kirinya tepat pada jantungnya.
Itu adalah anak panah yang asli yang sebelumnya Guntur pindahkan dengan teleportasi. Lalu Guntur munculkan kembali beberapa centi meter di bagian jantung Gondo.
" Ugh, sialan... "
Setelah mengatakan itu, Gondo langsung terjatuh dari atas gedung misi dengan menghantam tanah dengan cukup keras dan tewas dengan keadaan menjadi iblis aksara.
Semua orang yang berada disana dapat melihat semua kejadian itu. Mereka tidak percaya bahwa salah satu aksara yang dipercaya oleh guru besar mereka untuk menjaga padepokan pancanaka menjadi seorang iblis aksara dan ingin membuat kekacauan di padepokan sendiri.
Seketika itu juga semua orang yang berada di sana langsung berlari untuk melihat Gondo apakah tewas atau tidak kecuali 6 orang yang Guntur latih.
" Terima kasih, " ucap Guntur.
Gea yang melihat itu langsung berbalik lalu menghadap Guntur dan Anisa dengan tatapan penuh kerinduan.
Namun bersamaan dengan itu, betapa terkejutnya Anisa melihat mata gadis di depannya itu bahwasanya mata gadis itu sangat mirip dengan matanya dan orang yang sangat dia kenal yaitu srikandi aksara.
Tentunya Guntur tidak mengetahui hal itu karena Guntur belum pernah melihat srikandi aksara tetapi, Guntur menyadari satu hal yaitu mata gadis didepannya itu sangat mirip dengan istrinya yaitu Anisa.
" Ka-kau--"
" Maafkan aku karena membuat kekacauan di padepokan kalian karena jika orang itu tidak dibunuh maka akan membuat kerusakan yang semakin parah dan hanya cara dibunuh saja seorang iblis aksara dapat terbebas dari kekuatan iblis yang mengikatnya. "
" Dan terima kasih sudah membantuku untuk memindahkan anak panahku yang asli untuk dapat mengenai orang itu, " ucap Gea sambil berjalan.
" Tu-tunggu... Kau mau kemana? " tanya Guntur.
Gea berhenti sejenak lalu melirik kebelakang tepat ke arah Guntur. Beberapa detik berikutnya dirinya melangkahkan kakinya kembali.
" Tu-tunggu.... Siapa namamu? " tanya Anisa penasaran.
" Gea, " ucap Gea dengan pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh mereka berdua.
Langsung saja Gea melompat dari atas pohon dan melesat cepat menjauh dari mereka karena takut jika Guntur menggunakan mata aksaranya untuk melihat siapa dia sebenarnya.
" Hahhhh.... Aku tidak menyangka kalau gadis silat itu adalah seorang jawara.... Tapi aku juga baru melihat jika ada seorang jawara pengguna panah, " ucap Guntur.
" Mas... Apa kau tidak berminat untuk merekrut dirinya? " tanya Anisa dengan sepontan.
__ADS_1
Tentu saja Guntur yang mendengar itu langsung terkejut. Tidak biasanya istrinya itu mengatakan hal seperti itu.
" Ehh... "