Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
SAH


__ADS_3

Cukup lama mereka bertiga mengobrol bersama. Pada akhirnya mereka bertiga pun keluar dari kamar Anisa dan mendapati Mbah Pahing dan Anjani masih mengobrol dengan Ma Duan dan Ma Lin sedangkan untuk Ma Hua hanya duduk mendengarkan saja.


Anjani melihat kedatangan mereka bertiga pun tersenyum " Apakah sudah? " tanya Anjani yang melirik ke arah Husna.


Husna yang dilirik oleh Anjani pun langsung mengangguk " Sudah ibu, apakah sekarang? " tanyanya.


" Benar nak, kita tidak bisa berlama-lama meninggalkan Gubuk dan setelah ini kau juga harus berlatih lagi, " ucap Mbah Pahing sambil berdiri yang diikuti oleh Anjani.


Anisa mendengar Mbah Pahing mengatakan itu mengerutkan keningnya " Tu-tunggu, apa kalian akan segera pulang? Kenapa tidak setelah acara pernikahan dan menginap disini? " ucap Anisa terkejut.


Bagi Anisa hal itu sangatlah mengejutkannya. Anisa yang awalnya ingin mereka bertiga menemani sampai acara pernikahannya dengan Guntur selesai.


" Tidak nak, lagi pula Husna harus berlatih kembali sampai menjadi seorang aksara yang sempurna, dengan begitu Husna telah siap berada disisi kalian, lebih cepat lebih baik " ucap Mbah Pahing.


Mendengar itu Anisa langsung menjatuhkan air matanya. Anisa merasa jika dirinya tidak dianggap oleh mereka karena tidak menemaninya sampai acara selesai.


Melihat itu Anjani menghampiri Anisa dan memeluknya sambil berkata yang menyadarkan Anisa kenapa mereka melakukan hal itu " Anisa, apa kau tidak merasakan kasihan dengan Husna jika dia melihat acara pernikahan kalian sedangkan dirinya juga sama seperti dirimu yang sangat mencintai Guntur? Paling tidak kita juga harus menjaga perasaannya, " ucap Anjani.


Lalu Anjani melepaskan pelukannya terhadap Anisa " Selamat ya sayang, setelah kalian menikah, berjanjilah untuk terus berada disisinya senang maupun duka dan sehidup semati, " ucap Anjani.


Anisa yang telah tersadar pun mengangguk walau air matanya masihlah terjatuh dan membasahi cadarnya.


Lalu Mbah Pahing pun memeluk Anisa dengan erat " Jaga baik-baik Guntur nak dan cepatlah berikan nenek buyut, hehehe, " ucap Mbah Pahing yang setelah itu melepaskan pelukannya.


Anisa yang mendengar itu pun langsung memerah mukanya, jangankan memberikan buyut, berfikir untuk melakukan " Itu " saja tidak.


Setelah itu barulah Husna memeluk Anisa " Nisa, maafkan aku karena tidak bisa menemanimu, " ucapnya.


Anisa hanya memeluknya dengan erat sambil terisak. Berbeda dengan Husna yang tidak menangis karena hal itu. Yang dipikirkan Husna untuk apa menangis jika dia sendiri kelak juga akan bersatu dengan Anisa dan Guntur, tapi walaupun seperti itu hatinya serasa seperti diiris-iris oleh pisau yang sangat tajam.


Anisa tahu jika Husna merasakan itu, maka dari itu, Anisa memeluknya dengan erat.


Setelah itu Husna melepaskan pelukannya kepada Anisa dan membalikan badannya " Nenek, ibu, ayok kita pulang, " ucap Husna.


Dengan perasaan yang sudah lega dan mantap Anisa akhirnya merelakan keluarga Guntur pergi meninggalkan Anisa dan keluarganya. Nada yang melihat putrinya itu memeluknya " Teruslah untuk tetap melangkah nak, walaupun berat tapi semua akan ada hikmahnya, " ucapnya.


" Benar ma, Nisa akhirnya bisa menjalani semuanya dengan lega, " ucap Anisa sambil tersenyum dibalik cadarnya.


Waktu terus berlalu, tepat jam 5 pagi akhirnya rombongan keluarga Jin dan keluarga Samudra memasuki halaman keluarga Ma yang cukup luas itu.


Terlihat Guntur dengan ekspresi sulit untuk dikatakan itu turun dari mobil dan melihat bagaimana mewahnya kediaman keluarga Anisa yang akan menjadi keluarganya juga.


Semua keluarga Ma menyambut kedatangan Guntur dan semua keluarganya di depan pintu rumah kediamannya kecuali Anisa. Ma Duan langsung berjalan menghampiri rombongan dan langsung memeluk kakek Jin " Selamat datang sahabatku, " ucap Ma Duan dengan bahagia.


Kakek Jin pun juga membalas pelukan dari sahabatnya itu dengan erat " Terima kasih sahabatku, " ucapnya.

__ADS_1


Setelah memeluk sahabatnya itu Ma Duan langsung berpindah memeluk Aji dan yang lainnya. Dirasa sudah cukup Ma Duan mempersilahkan untuk masuk ke dalam kediamannya.


Guntur dan yang lainnya pun segera untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Nampak di dalam rumah mewah itu sangatlah meriah dipenuhi hiasan-hiasan pernikahan seperti dekorasi, bunga-bunga dan masih banyak lagi.


Disaat semuanya sedang merasa bahagia dan juga senang tapi terlihat Guntur semakin kacau melihat semua itu. Wajah yang kurang tidur dengan ekspresi sulit diartikan itu menunduk dan tubuhnya panas dingin.


Lalu dengan penuh percaya diri Ma Duan memegang tangan Ragil yang nampak sangat bahagia juga senang. Ragil yang tampak bahagia itu bukan karena pernikahan Guntur akan tetapi karena dirinya melihat orang yang selalu dia rindukan yaitu Ma Hua.


Begitu juga dengan Ma Hua yang juga tampak begitu berseri-seri dan menunduk malu melihat pujaan hatinya itu curi-curi pandang ke arahnya.


" Pelayan, cepat bawa orang ini untuk dirias dan membersihkan diri, akan sangat lama untuk merias seorang pengantin tapi pisahkan ruangannya dengan Yue'er, bagaimanapun juga mereka belum muhrim, " ucapnya dengan bangga.


Seketika nampak semua menatap Ma Duan dengan terkejut. Sedangkan Guntur yang terduduk diam bersama Lastri itu menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


" Eh " ucap semua rombongan Guntur tidak percaya.


Setelah beberapa detik semua rombongan itu tertawa terbahak-bahak " Ahahahaha...... "


Ma Duan pun heran dengan rombongan pengantin pria itu lantas bertanya kepada sahabatnya itu " Kalian kenapa? Sahabatku, apa yang terjadi? " tanyanya.


" Huahahaha, kau salah orang Duan.... Dia itu Ragil bukan Guntur, sedangkan Guntur itu yang ini, " ucap kakek Jin sambil menunjuk Guntur yang masih menutupi mukanya dengan telapak tangannya.


" Astaghfirullah... Ahahahaha maafkan aku, " ucap Ma Duan yang merasa malu.


" Ahahahha, tidak apa-apa, nah Guntur cepatlah ikut para pelayan itu, " ucap kakek Jin.


Segera untuk keluarga Guntur menyerahkan berbagai seserahan yang mereka bawa untuk keluarga Ma. Keluarga Ma juga menerima seserahan itu dengan senang.


Tepat jam 8 pagi semua berkumpul di ruang tamu. Nampak Guntur begitu berseri dan begitu tampan setelah dirias oleh para pelayan. Tidak lagi terlihat seperti sebelumnya yang penuh ekspresi tanda tanya bagi siapapun yang melihatnya. Semua terduduk dengan rapi sambil sambil menunggu penghulu itu datang.


Setelah menunggu beberapa saat, penghulu itu datang dan langsung duduk di depan Guntur bersama dengan wali dan saksi dari keluarga mempelai wanita. Wali itu sendiri adalah Ma Lin selaku ayah dari Anisa juga terlihat gugup. Sedangkan untuk Anisa sendiri masih berada di kamarnya yang ditemani oleh Nada serta adik-adiknya yang telah pulang dari pesantren untuk menemani kakaknya menikah.


" Apa kau gugup nak? " tanya Nada kepada putrinya itu.


Anisa yang mendengar itu pun mengangguk " Iya ma, sangat gugup sampai-sampai aku berkeringat, " ucapnya yang sudah nampak begitu cantik dan anggun yang memakai pakaian syar'i serba hitam yang begitu glamour dan mewah, tidak lupa juga cadarnya yang selalu menempel pada wajahnya cantiknya.


Dengan tersenyum Nada berkata " Wajar sayang, dulu mama juga merasakan itu nah sekarang mari kita dengarkan Guntur mengucapkan ikrar janji suci pernikahan, " ucapnya.


Tidak lama setelah itu terdengar penghulu yang memulai acara pernikahan itu. Setelah Guntur mengikuti penghulu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pernikahan lalu penghulu mempersilahkan Ma Lin untuk memulainya.


Ma Lin mengangguk mengerti dan langsung memulainya " Bismilah..... Saudara Guntur Samudra bin Panji Samudra dengan aku nikahkan engkau dengan putriku yang bernama Anisa Ambar Wati Binti Ma Lin, dengan mahar surah Alfatihah yang sudah ditetapkan secara tunai, " ucap Ma Lin dengan lancar sambil menjabat tangan Guntur.


Guntur pun mengangguk " Bismilah.... Saya terima nikahnya Anisa Ambar Wati binti Ma Lin dengan Mahar Surah Alfatihah, tunai, " ucapnya dan langsung menyambungkan dengan pembacaan surah alfatihah yang mana mahar dari pernikahan tersebut dengan mantap dan lancar.


Setelah selesai Guntur membacakan surah alfatihah itu dengan mantap dan jelas, penghulu tersebut langsung bertanya kepada para saksi " Bagaimana? Sah? " ucapnya dengan keras.

__ADS_1


Sontak semua orang yang menghadiri acara pernikahan tersebut mengucapkan " SAH " dengan keras pula.


" Alhamdulillah, " ucap Ma Lin dan juga Guntur.


Guntur merasakan begitu lega di hatinya " Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, " gumamnya dalam hati.


Begitu juga dengan Anisa yang mendengarkan dari dalam kamarnya yang berada di lantai 2 " Alhamdulillah, mama! " ucapnya sambil memeluk Nada dan menangis haru.


" Alhamdulillah, selamat ya sayang, " ucap Nada yang juga terharu.


Begitu juga dengan kedua adik Anisa yang menemaninya di dalam kamarnya yang langsung memeluk kakak tercintanya " Alhamdulillah, selamat ya cici, " ucap mereka serempak.


Beberapa saat kemudian mempelai wanita pun turun untuk menemui mempelai pria. Anisa yang ditemani Nada dan juga adik-adiknya pun berjalan menuruni tangga dengan anggun.


Guntur yang melihat itu pun tidak bisa lepas pandangannya kepada istrinya itu " Masya Allah, cantik sekali istriku, " gumamnya dalam hati.


Begitu juga dengan Anisa yang matanya menyapu seluruh ruangan mencari sosok Guntur yang dia kenal dengan rambut panjang serta acak-acakan. Tetapi Anisa tidak menemukan sosok itu malah yang dia temukan adalah sosok yang begitu tampan memakai setelan jas hitam dengan dalaman putih dan berdasi merah gelap. Rambut yang tertata rapi dengan songkok hitam polos, wajah yang begitu tampan dengan sedikit berewok tipis yang menambah ketampanan dan kharismanya.


Anisa yang melihat pemuda itu langsung teringat dengan pemuda yang pernah ditemuinya di padepokan saat dirinya berjalan usai pulang kampung " Di-dia, ti-tidak mungkin! " gumamnya. Akan tetapi dirinya terus berjalan mendekati Guntur yang duduk dengan tenang sambil melihatnya.


Begitu sampai, Anisa pun duduk di samping Guntur dan langsung duduk berhadapan. Dengan tersenyum Guntur mengatakan sesuatu yang membuat dirinya malu dan memerah mukanya.


" Kau terlihat sangat cantik dan anggun Nisa, " ucap Guntur pelan.


Dengan begitu penghulu menyuruh mereka menandatangani surat-surat nikah mereka. Setelah selesai Guntur memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis tangan kanan Anisa tapi entah kenapa Anisa menarik tangannya.


Sontak semua orang tertawa dengan kejadian itu dan mengerti akan maksud Anisa tapi berbeda dengan Guntur yang tidak faham atas kelakuan Anisa " Eh, Anisa ada apa? Kenapa kau menarik tanganmu kembali? " tanyanya.


" Em.. I-itu... Itu... " ucap Anisa gugup.


Lalu Nada menghampiri Anisa dengan tersenyum " Anisa, tidak apa-apa, lagipula kalian sudah menjadi sepasang suami istri dan lihat, bahkan kau sendiri memakai kaus tangan bukan? Bukankah kau seorang jawara yang selalu bertarung dengan laki-laki? Kenapa dengan Guntur suamimu sendiri kau malah seperti ini? " tanyanya.


" Em.. I-itu, a-aku, " ucap Anisa yang sangat gugup.


" Ayo cepat berikan tangan kananmu untuk Guntur pasangkan cincin di jari manismu, " ucap Nada sambil tersenyum.


Dengan sangat gugup, Anisa menggerakan tangan kanan tersebut didepan Guntur. Guntur pun tersenyum serta langsung memasangkan cincin tersebut di jari manis Anisa. Sontak begitu cincin itu terpasang, air mata Anisa terjatuh. Hatinya benar-benar tersentuh dengan keadaan itu.


Lalu Nada pun menyuruh Anisa juga memasangkan cincin di jari manis Guntur. Dengan gugup dan bergetar, Anisa memasangkan cincin tersebut.


Setelah itu barulah Guntur mendekati Anisa dan mencium kening Anisa dengan penih cinta dan kasih sayang. Anisa yang merasakan itu semua pecahbsudah tangis bahagia yang dialami oleh Anisa. Dalam hati Anisa terus berteriak terima kasih kepada Sang Hyang Tunggal kang Agung karena mendapatkan sosok suami yang selama ini dia tunggu dan idam-idamkan.


Guntur pun juga langsung memeluk Anisa untuk pertama kalinya dan tanpa terasa air mata bahagia pun juga terjatuh dari wadahnya.


Beberapa saat kemudian mereka berdiri dan berterima kasih kepada seluruh keluarga besarnya itu. Semua orang juga melihat momen epic itu pun terharu, lantas memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru tersebut dengan gembira.

__ADS_1


Ma Duan dan semua keluarga Ma juga mempersilahkan semua orang untuk mencicipi semua hidangan yang telah disiapkan oleh mereka dengan penih kebahagian dan juga rasa syukur yang tidak terlukiskan kepada Sang Hyang Tunggal kang Agung atas semua anugrah yang telah diberikan untuk keluarga Ma.


__ADS_2