Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Dikala Hujan Lebat


__ADS_3

Siang hari, nampak cuaca yang sedang meredup, langit kian mendung yang meteskan air hujan yang cukup lebat dan juga disertai petir yang cukup menggelegar.


" Jederrrr... Jeeddeeerrr.... "


Suara petir yang cukup keras membangunkan seseorang yang telah tertidur lelap.


Guntur, yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara petir yang cukup keras. Dengan lambat laun dia membuka kedua matanya. Mengumpulkan kesadaran dan juga nyawanya yang sedang melayang entah kemana.


Beberapa saat kemudian semua kesadaran dan juga nyawanya telah menyatu kembali dalam diri Guntur, dengar mengerutkan keningnya Guntur melihat jika dirinya tidak sedang tertidur di kasurnya.


" Astaghfirullah.... "


Guntur langsung saja terduduk diatas kasur empuk yang berukuran king size itu sambil memperhatikan sekitarnya.


Nampak kekaguman atas diri Guntur melihat kamar itu.


" Ini aku dikamar siapa? " ucap Guntur dengan pelan.


Setelah itu, Guntur bangkit dari kasur itu lalu berjalan keluar dari kamar. Saat Guntur berjalan keruang seperti ruang tamu, Guntur melihat seseorang yang sedang duduk sambil bermain handphone.


Saat Guntur mendekat, terlihatlah seorang gadis memakai kerudung terusan nan pendek bahkan tidak sampai menutupi bagian depan yang membahana, kerudung itu berwarna merah gelap juga memakai pakaian seperti baby doll dengan lengan panjang dan celana panjang berwarna biru polos.


Guntur yang melihat gadis itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Gadis itu yang sudah mengetahui Guntur berada beberapa meter didepannya itu langsung menatap Guntur lalu tersenyum manis.


Seketika jantung Guntur berdetak sangat cepat, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya sampai-sampai kedua tangannya bergetar hebat. Guntur dapat melihat betapa cantik dan manisnya gadis didepannya itu. Apalagi gadis itu tersenyum sampai memperlihatkan gigi gingsulnya dibagian gigi taringnya sebelah kiri, lesung pipi dikedua pipinya, kulit putih khas orang Tirai bambu yang terlihat seperti cerahnya batu giok tanpa cacat dari noda.


" Astaghfirullah.., manis sekali gadis itu... Ahh mikir apa aku ini, " gumam Guntur dalam hati sambil mengalihkan pandangannya kearah kaligrafi yang bertuliskan surah Ar-Rahman.


Selama hidupnya, Guntur baru kali ini melihat seorang gadis secantik dan semanis dirinya. Maka dari itu, Guntur langsung mengalihkan pandangannya agar tidak melihat gadis itu lagi.


Sementara itu gadis yang berada didepan Guntur dan yang dimaksudkan itu tidak lain adalah Anisa, istrinya sendiri. Namun karena Guntur belum pernah melihat wajah istrinya itu, Guntur tidak mengenali gadis itu.


Dengan bergetar Guntur mencoba untuk berbicara namun entah kenapa suaranya tidak bisa keluar.


Anisa mengerti maksud suaminya itu. Dengan berlahan berdiri lalu berjalan kearah suaminya itu. Setelah jarak mereka dekat hanya satu langkah saja Guntur dibuat semakin bergetar hebat.


Bahkan Guntur sendiri sampai memejamkan matanya karena ketakutan dan juga menjaga pandangannya. Mungkin jika orang lain akan biasa saja atau malah mencoba berkomunikasi dengan gadis di depannya itu. Tapi tidak dengan Guntur yang malah ketakutan luar biasa.


" Tunggulah sebentar... Aku akan membuatkan kopi panas untukmu, " ucap Anisa sambil tersenyum.


Deg...


" Su-suara ini..., "


Guntur yang mengenali suara Anisa itu langsung membuka matanya sambil terkejut lalu menatap Anisa dengan tatapan tidak percaya.


" Duduklah..., " ucap Anisa sambil tersenyum lalu berjalan kebelakang.


Sedangkan Guntur yang masih terkejut hanya bisa mematung dan termenung beberapa saat.


" A-anisa? " tanya Guntur sambil sedikit berteriak.


" Ya... Ada apa mas... Sebentar, aku baru aduk kopinya ini..., " teriak Anisa dari dapur.


Guntur yang kembali mendengar suara istrinya itu tidak tahu harus senang atau sedih tapi yang jelas didalam hatinya ada gejolak rasa bahagia dengan itu.


Guntur menebak jika Anisa secara berlahan kesiapannya untuk menjadi istri yang seutuhnya mulai tersusun, walaupun hanya melepas cadar dan juga berpakaian seperti itu. Namun sudah cukup bagi Guntur untuk melihat kesiapannya.


Setelah itu Guntur memutuskan untuk duduk di kursi tamu yang terlihat sangat nyaman. Sambil duduk dan menunggu istrinya itu selesai membuat minuman untuknya, Guntur kembali tertegun melihat keindahan rumah ini.


Sedangkan Anisa sendiri tidak jauh beda dengan Guntur. Didapur, Anisa sendiri merasa sangat malu, bahkan mukanya pun seperti udang rebus yang merah akibat rasa malu. Detak jantungnya yang terpacu hebat.


Seumur hidupnya, Anisa baru kali ini menunjukkan wajahnya kepada laki-laki lain kecuali keluarganya atau gurunya itupun hanya sekali saja namun mau tidak mau Anisa harus melakukan itu kepada suaminya.


Yang membuat Anisa bertambah malu adalah pakaian yang dia kenakan. Kerudung kecilnya dan juga pakaian tidurnya walaupun nampak sopan berlengan panjang dan juga celana panjang tapi...


Anisa langsung menurunkan pandangannya, mengepul sudah kepalanya itu bak mengeluarkan asap karena sangat malu.


Ya, kedua tonjolan besar itulah yang membuat Anisa merasa sangatlah malu. Apalagi dengan pakaian seperti ini maka akan terlihat jelas kedua tonjolan besar yang berukuran D-Cup menempel pada dadanya itu.


" Astaghfirullah... Dadaku.... Astaga Nisa dia itu suamimu bukan orang lain...., " gumamnya dalam hati sambil memegangi tonjolan besar di dadanya.

__ADS_1


Setelah itu, Anisa meraba bagian belakang bawahnya, tiba-tiba Anisa semakin memerah tidak karuan.


" Pa-pantatku... Astaga...., " gumamnya dalam hati.


Walaupun Anisa memiliki tubuh yang cukup mungil tapi Anisa memiliki aset yang sangat luar biasa menggiurkan. Depan ataupun belakang memiliki keindahan yang melebihi indahnya batu berlian. Siapapun laki-laki jika melihat Anisa dengan pakaian seperti ini pasti memiliki fantasi liar yang tidak bisa dibayangkan oleh pemilik tubuh itu.


Setelah Anisa menenangkan dirinya beberapa saat, tiba-tiba Anisa mendengar suara Guntur yang sedikit berteriak.


" A-Anisa...? "


Sontak Anisa sangat terkejut dengan itu, Anisa juga langsung menoleh kebelakang jikalau Guntur berada didepannya, namun Anisa kembali tenang karena bersyukur tidak ada Guntur dibelakangnya.


Betapa malunya Anisa jika ketahuan kalau dirinya merasa gugup dan sangat malu dengan semua itu.


" Ya... Ada apa mas... Sebentar, aku baru aduk kopinya ini..., " teriak Anisa dengan cepat.


" Duh... Aku sampai lupa membuatkan kopi... Astaghfirullah..., " gumamnya dalam hati.


Lalu, dengan cepat Anisa membuatkan kopi untuk suami tercintanya itu. Setelah selesai, Anisa langsung membawanya ke ruang tamu tempat suaminya itu menunggu.


Sesampainya disana, Anisa segera meletakkan kopi untuk suaminya itu di atas meja depan suaminya itu duduk sambil menahan rasa gugup dan malunya.


Sedangkan Guntur sendiri yang sudah tidak karuan itu hanya duduk terdiam dan juga menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh emaknya karena nakal.


Hening, itulah yang bisa digambarkan di gubuk milik Anisa. Keduanya tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya suara derasnya hujan dan juga petir yang cukup menggelegar di atas langit seolah petir itu sendiri sedang marah dengan penduduk bumi.


Beberapa saat kemudian, Anisa mencoba mencairkan suasana hening itu.


" Mas... Minumlah mumpung masih panas, kalau dingin nanti tidak enak, " ucap Anisa sambil menahan gugup dan malunya.


Guntur yang mendengar itu langsung menoleh ke arah istrinya itu.


" Te-terima kasih Nisa..., " ucap Guntur lalu mengambil gelas berisikan kopi panas diatas meja.


Dengan berlahan, Guntur meminum kopi buatan istrinya itu. Setelah itu Guntur letakkan lagi diatas meja.


" Alhamdulillah... Ni-nisa... Kopi buatanmu sangat enak..., " ucap Guntur namun arah pandangannya ke arah belakang Anisa.


" Alhamdulillah... Tapi mas... Kenapa mas tidak melihatku malah melihat belakangku, memang ada apa? " tanya Anisa.


" Aahhh... Tidak Nisa... Hmm... Sekarang jam berapa? " tanya Guntur.


" Hm.. Sekarang jam 11 siang mas dan mas tidur selama 2 hari..., " ucap Anisa.


Sontak Guntur sangat terkejut mendengar itu. Padahal Guntur merasa hanya tidur beberapa jam saja.


" Astaghfirullah... 2 hari? Kenapa kau tidak membangunkanku, " ucap Guntur sangat terkejut.


" Mas... Aku ingin membangunkanmu tapi aku tidak berani, " ucap Anisa sambil menunduk.


Guntur menyadari walaupun Anisa adalah seorang jawara yang sangat kuat dan sedikit tomboy namun entah kenapa jika bersama Guntur, Anisa seperti menjadi sosok lain yaitu feminim.


" Hah... Ya sudahlah... Nisa... Ini aku dimana? Kenapa rumah ini sangat berbeda dengan gubukku dan juga rumah ayah mertua? " tanya Guntur yang penasaran dengan rumah ini.


" Mas... Ini adalah gubukku di padepokan, " ucap Anisa sambil tersenyum.


" Apa? Gubuk? Astaga Nisa... Ini bukan lagi gubuk tapi ini rumah..., " ucap Guntur terkejut.


Lalu Anisa pun bangkit dan berjalan kearah Guntur dan langsung duduk disamping suaminya itu.


" Mas... Jangan pikirkan hal itu, entah itu gubuk ataupun rumah yang jelas ini juga milikmu... Rumahku juga rumahmu mas... Sekarang, lebih baik mas mandi lalu makan..., " ucap Anisa sambil tersenyum.


Guntur yang menatap istrinya itu entah kenapa hatinya seperti menemukan padang sahara di padang pasir. Rasa cinta dan juga sayang yang Guntur rasakan semakin besar.


Ketika tangan kanan Guntur dia angkat dengan maksud membelai pipi kiri istrinya dan saat hampir menyentuh pipi, tiba-tiba Guntur urungkan untuk melakukan itu. Entah kenapa dia merasa khawatir jika dirinya menyentuh pipi itu maka akan timbul noda.


Guntur menyadari jika dirinya belum mampu untuk membahagiakan istrinya itu dan juga merasa dirinya masihlah belum bersih. Apalagi keadaannya sekarang belum mandi.


Lalu dengan berlahan Guntur pun berdiri dan melangkahkan kakinya untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


Sedangkan Anisa yang sudah memejamkan matanya itu merasakan kesunyian diruang tamu. Dengan segera Anisa membuka kedua matanya itu dan tidak terlihat lagi suaminya.

__ADS_1


Anisa langsung mengerutkan kening dan bergumam sambil menyapu pandangannya mencari keberadaan suaminya. Namun setelah beberapa detik, dia tidak menemukan suaminya itu.


Tiba-tiba dari arah belakang tepatnya di kamar mandi, terdengar suara Guntur yang berteriak memanggil Anisa.


" Ahh... Nisaa.... Kenapa disini tidak ada ember atau kran air? Kenapa malah ada kolam dan juga selang-selang ini? " teriak Guntur.


Anisa yang mendengar itu langsung menepuk kepalanya dengan tangan kanannya.


" Astaga... Guntur.... Kenapa kamu selalu senang buat aku gregatan begini...., " gumamnya dalam hati.


Dengan cepat Anisa menyusul suaminya itu ke kamar mandi namun setelah sampai dan hendak masuk tiba-tiba Guntur melarangnya.


" Tu-tunggu jangan masuk dulu... Aku sudah telanjang ini... Sebentar aku pakai pakaianku dulu..., " teriak Guntur sambil menahan malunya.


Seketika wajah Anisa memerah bagai udang rebus. Fantasi liarnya mulai memasuki dan beraksi didalam otaknya. Bulu kuduknya pun juga langsung berdiri karena merinding.


Disaat merasakan itu semua, tiba-tiba Guntur keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati istrinya sedang berdiri mematung dengan wajah yang memerah.


" Ni-nisa..., " panggil Guntur sambil mengerutkan keningnya.


Seketika itu juga Anisa langsung tersadar dari lamunan fantasi liar yang merasuki dirinya.


" Astaghfirullah... Kaget..., " ucap Anisa.


Namun siapa sangka jika Guntur keluar hanya menggunakan celananya saja sedangkan perut sampai dadanya terbuka.


Nampak sudah dada bidang milik Guntur, otot-ototnya yang besar dan juga perut roti sobeknya itu didepan Anisa.


Anisa yang melihat itu pun langsung terdiam sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


" Lah... Nisa... Ada apa? Kenapa kamu terkejut dan juga melamun? Ada yang salahkah dengan tubuhku? " tanya Guntur dengan polosnya.


Anisa yang mendengar itu langsung saja masuk kedalam kamar mandi tanpa berbicara.


Guntur yang merasa aneh dengan istrinya itu hanya diam dan menyusul istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Anisa langsung menjelaskan semua alat yang ada di kamar mandi.


" Ma-mas... I-ini adalah sower, keran ini untuk menyalakan airnya nanti airnya akan keluar sendiri dari ujung atas itu dan ini untuk air dingin sedangkan yang ini untuk air hangat..., "


" Nah kalau kolam ini adalah bath up, fungsinya untuk kita berendam dan ini kerannya dan yang itu adalah closed duduk untuk kita buang air besar... Nah didalam kotak itu berisikan alat mandinya... Sedangkan lemari kecil ini adalah tempat handuk... Pilih saja handuk-handuk itu..., "


" Faham kan mas? " tanya Anisa sambil menatap mata Guntur.


" Hmm.... Iya aku faham..., " ucap Guntur sambil cengengesan.


" Yasudah aku akan mengambil pakaian ganti untuk mas... Nanti aku taruh di luar diatas lemari kecil samping pintu kamar mandi, "


Dengan segera Anisa keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya itu.


Sore harinya, hujan yang mengguyur bumi nusantara itu berhenti. Hanya menyisakan tapak tilas yang menggenang saja dari jatuhnya air hujan. Langit pun enggan untuk menampilkan kecerahan sore hari, yang ada hanyalah tumpukan awan mendung yang terus menghiasi.


Guntur yang masih berada di gubuk istrinya di kawasan khusus wanita padepokan pancanaka itu belum juga keluar dari balik pintu gubuk.


Terduduk sambil mengobrol hangat kepada sang istri yang masih setia menemaninya. Mereka membicarakan banyak hal bahkan pengalaman mereka pun mereka ceritakan. Sudah tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka, yang ada hanyalah rasa kasih sayang dan juga cinta mereka yang semakin tumbuh membesar dan meninggi.


" Mas... Sepertinya hujan sudah berhenti, " ucap Anisa yang tengah menengok dari balik kaca jendela gubuknya.


Guntur pun mengangguk " Iya Nisa... Hahhh aku ingin menjenguk Ridwan, apa kau mau ikut? " tanyanya.


Anisa menggelengkan kepalanya " Tidak mas... Aku di gubuk saja, " ucapnya.


" Hm... Baiklah... Kalau begitu aku pergi dulu ya..., " ucap Guntur.


Dengan segera Anisa salim dan tidak lupa untuk mencium tangan suaminya itu.


" Assalamu'alaikum..., " salam Guntur pamit.


" Um... Wa'alaikum salam warrohmatullah..., " ucap Anisa.


Beberapa detik kemudian Guntur lenyap dari pandangan Anisa. Anisa yang melihat itu kembali terkejut dengan Guntur yang tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


" Teleportasi... Ya benar... Aku bisa merasakan auranya yang sekarang berada di rumah sakit... Hahhhh.... Yasudahlah lebih baik aku tadarus saja..., "


__ADS_2